19
Okt
07

Atambua, Negeri Para Sahabat

pero.jpg

PERO Simundza (30) lelaki gagah dari Kroasia — negeri pecahan Yugoslavia– di jazirah Balkan sana, mungkin tak pernah membayangkan bahwa pada hari kesembilan bulan Juni tahun 2000 hidupnya akan berakhir di Atambua, sebuah kota yang sangat boleh jadi tak pernah terbayangkannya ada tercantum dalam peta dunia yang dikenalnya.

Namun, kematian Simundza –bersama dua rekannya– secara dramatis telah membuat Atambua disebut bahkan oleh Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa Koffi Anan, juga oleh para pemimpin dunia. Tiba-tiba saja Atambua identik dengan kekerasan Indonesia. Tiba-tiba saja Atambua sama dengan ancaman bagi para pekerja lapangan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Ini membikin Presiden RI tampak betul-betul terpojok. Ketika itu, di dalam negeri ia sendang diuber-uber gosip ala Lewinsky, datang ke Sidang Milenium PBB ditonjok ancaman Clinton yang menyerukan dunia mengisolasi Indonesia gara-gara tewasnya tiga staf Komisi Tinggi PBB untuk Masalah Pengungsi (UNHCR) di Atambua.

Boleh jadi, Clinton pun baru dengar saat itu, ada kota bernama Atambua. Tapi toh ia mengutus Menteri Pertahanan, William Cohen ke Jakarta untuk mendesak Gus Dur.

“Imbauan” Clinton sang ‘sherif dunia’ itu direspon baik oleh PBB –yang memang seringkali lebih mendengar Amerika ketimbang anggota-anggota lain dalam serikat itu– yang dengan segera mengetukkan palu sidang untuk mengeluarkan resolusi bagi Indonesia.

Bayangkan, Atambua –yang semula tak terbayangkan ada dalam peta– ternyata terpapar di atas meja para wakil dunia di dalam majelis yang disebut PBB: Tok! Palu diketuk, dan Resolusi PBB No 1319 resmi dilayangkan ke meja penguasa Indonesia.

Isinya, semacam instruksi agar Pemerintah RI membubarkan milisi yang saat ini ada di Timor Barat, menyusul terjadinya serangan atas markas UNHCR yang menyebabkan tiga orang pekerja kemanusiaan PBB tewas, di Atambua.

Atambua?

Ya, Atambua adalah kota terbesar kedua di pulau kecil Timor bagian barat Letaknya kurang lebih 270 kilo meter sebelah timur Kupang, langsung berbatasan dengan ‘negara’ tetangga, Timor Timur. Luas kota ini, cuma tiga kilo meter persegi.

Tingkat keramaiannya, mungkin separo dari keramaian kota kecamatan di Jawa. Sebelum dibanjiri pengungsi, suasana kota berpenduduk 20.000 jiwa ini sunyi, tenteram dan damai. Mirip kota para pensiunan.

atambua.jpg

Bangunan paling menonjol di pusat kota adalah Katedral yang berhadap-hadapan dengan Masjid Raya, di samping Kantor Bupati dan Gedung DPRD yang sekaligus menunjukkan bahwa Atambua adalah ibu kota kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur.

Belu, dalam bahasa Tetun –bahasa lokal yang paling banyak digunakan penduduk Timor di bagian tengah hingga ke timur pulau itu, dan kini digunakan sebagai bahasa sehari-hari Timtim– berarti sahabat.

Penduduk asli Belu terdiri atas dua sub suku yang paling dominan, yakni Kemak dan Marae. Karakteristik umum orang-orang Kemak dan Marae ramah, terbuka, mudah akrab, lembut, dan menghindari konflik. Karena itu, mereka lebih sering memilih upaya damai untuk menyelesaikan berbagai persoalan.

Kalaupun ada masalah antartetangga atau antarkampung, para tetua dari kedua pihak akan segera berkumpul, semua yang terlibat juga diikutsertakan dalam rembukan adat yang akan diakhiri dengan acara bersulang, minum sopi (minuman keras tradisional yang dibuat dari sadapan pohon lontar, agak rasanya manis tajam dengan aroma agak menyengat).

Naluri bersahabat itulah yang juga menjalari segenap warga Atambua ketika menyambut dengan tangan terbuka ribuan tetangganya dari Timtim yang tersuruk-suruk mencari perlindungan, mencari tempat aman dari kemelut yang terjadi di tanah Lorosae itu, September 1999.

Hal sama terjadi pula 24 tahun silam, ketika Timtim melepaskan diri dari kekuasaan Portugal yang sudah menghisapnya habis-habisan selama 4,5 abad.

Para pengungsi Timtim mengalir ke Atambua karena kota ini dapat dicapai dengan menempuh jarak 30 km dari Kabupaten Balibo (Maliana) Timtim lewat Batugede (Matoain) atau lewat Desa Haikesak. Dari Kabupaten Kovalima (Suai) Timtim lewat Kecamatan Kobalima berjarak 65 km.

Lebih dari itu, warga di kedua wilayah ini memang masih satu nenek moyang dari satuan-satuan sub suku yang dominan menghuni jazirah Timor.

Persoalan jadi lain ketika para sahabat dari tanah seberang terus mengalir. Semua pendatang itu tiba dalam keadaan tertekan akibat perang saudara. Butuh sandang, pangan, dan papan serta –yang paling utama– perlu perhatian.

Persoalan jadi lebih rumit karena para sahabat itu lari dari ‘negara’ sebelah. Ini berarti masalah internasional. Masalah dunia. Masalah antarbangsa. Karena itulah negara-negara yang terikat persahabatan dalam persekutuan bernama PBB, menaruh perhatian besar pada ‘sahabat-sahabat’ warga Atambua – Belu, itu.

Tapi kedamaian dan semangat persahabatan tuan rumah mulai terusik dan tercabik-cabik, ketika keberadaan dan perilaku pengungsi –yang kini jumlahnya tiga kali lipat dari jumlah warga Atambua– mulai tidak terkontrol.

Ini, menyusul kerusuhan yang ditimbulkan ribuan pengungsi Timtim, yang antara lain menewaskan tiga staf asing UNHCR di Atambua. Selain itu, enam orang sipil, penduduk asli Atambua juga dianiaya dan dibunuh oleh para pengungsi Timtim yang kalap dan membumihanguskan 69 bangunan milik warga setempat itu.

“Pengungsi bertindak brutal dan membunuh staf UNHCR karena luapan kebencian mereka selama ini kepada badan dunia itu. UNHCR dinilai tidak hanya bekerja untuk kemanusiaan, tapi juga demi kepentingan politik tertentu,” pekik tokoh masyarakat Timtim di pengungsian, Nemecio Lopez de Carvalho.

Apa pun katanya, tindakan itu telah menyebabkan UNHCR angkat kaki. Pengungsi tak lagi ada yang mengurusi, dan akhirnya menyerang atau malah menjarah penduduk lokal untuk merebut makanan.

“Kami ini miskin semua, sekarang harus menanggung tambahan beban lebih 100 ribu jiwa. Sudah begitu, banyak pula yang tak tahu diri, merusak dan mengacau,” kata seorang warga Atambua yang dengan sedih harus mengungsi ke wilayah kabupaten tetangganya.

Kini, keadaan jadi berbalik, tuan rumah yang lelah, gelisah, dan ketakutan terkepung dan diteror pengungsi, mulai mengambil keputusan: Melawan atau mengungsi.

Ternyata, lebih banyak yang memilih alternatif kedua, tapi tak ada satu pun badan nasional –apalagi internasional macam UNHCR– yang mengurusi nasib para pengungsi baru ini.

Warga setempat masih menganggap saudara-saudara mereka dari Timtim adalah sahabat yang sedang kesusahan. Mereka mencoba memahami tekanan fisik dan psikologis yang dialami para pengugsi, sehingga memilih mengalah, hengkang untuk sementara.

Meski tentu saja tidak semua, sebab ada saja yang bereaksi keras mempertahankan hak-haknya yang mereka rasa makin terusik dan terancam oleh hadirnya para pengungsi, eh sahabat-sahabatnya itu.

Artinya, di samping telah membuat PBB sewot hingga dewan keamanannya menerbitkan resolusi –yang bisa berarti mengundang sikap antipati internasional– insiden Atambua juga merobek bungkus persahabatan yang selama ini menyatukan mereka dalam penderitaan yang sama.

Maklum rakyat NTT juga sama miskinnya dengan rakyat Timtim. Malah pada saat masih berintegrasi, Timtim (wilayah yang cuma sepotong itu) meperoleh anggaran dari pusat lima sampai enam kali lebih besar dibanding anggaran dari pusat untuk NTT (yang wilayah berpenghuninya terdiri atas lebih dari 52 pulau!).

Jika sudah begini, kecemburuan lama –Timtim dimanja pusat, NTT dibiarkan– bisa saja menjalar lagi di kalangan penduduk NTT, terutama warga Atambua yang menerima beban paling berat sebagai kantong terbesar bagi pengungsi Timtim.

Semangat dan nilai persahabatan yang selama ini coba dirawat dan menjadi ruh dalam pergaulan mereka dengan pengungsi, tercabik sudah. Tak mustahil, keretakan ini akan memicu konflik horisontal di antara mereka.

Bukankah sering terjadi, sahabat berbalik jadi musuh bebuyutan yang dibakar dendam. Dendam muncul karena satu di antara dua pihak yang bersahabat itu mengkhianati persahabatan.

Kalau urusannya sudah khianat, jangankan sahabat yang notabene orang lain, saudara sedarah pun bisa saja baku bunuh. (*)

Iklan

8 Responses to “Atambua, Negeri Para Sahabat”


  1. Februari 5, 2009 pukul 7:23 pm

    Saya terkejut mendapati tulisan anda tentang kejadian 6 september 2000 ini.
    Delapan tahun telah berlalu dan saat ini tulisan anda seakan membawa kembali semua kejadian saat itu dalam pikiran saya. yah … Saya ada disana. Saya berada di dalam kantor itu dan saya berhasil meloloskan diri.
    Saat itu saya bekerja sebagai Field Assistant di UNHCR FO Atambua dan Pero adalah atasan saya saat jam kerja dan ia juga sahabat saya setelah jam kerja.
    Pero adalah seorang yang sangat bersahaja. Walaupun kadang ia Keras Hati seperti rata2 orang Eropa Timur, bila merasa cocok, Ia bisa menjadi seorang sahabat yg menyenangkan.

    Terimakasih…, Tulisan anda ini telah membuat kejadian itu tidak berlalu seperti daun kering di tiup angin. Salam manis.

    NB : Siapakah anda ? apakah anda juga salah satu rekan di UNHCR FO Atambua?

  2. 2 curahbebas
    Februari 6, 2009 pukul 1:54 pm

    Aduh… salam kenal. Saya tersanjung ada yang sudi mengomentari tulisan ini. Sayang sekali, saya bukan siapa-siapa. Hanya pernah jadi murid para guru di Kupang, sekitar satu tahun. Tulisan itu memang saya tulis tahun 2000. Baru diposting setelah saya “punya” blog. Senang berkenalan dengan Anda. Tapi, kakarlak? Tidak kah anda gterlalu merendah? Salam. Tuhan memberkati.

    • 3 Kakarlak
      Juni 25, 2010 pukul 6:32 pm

      Salam ….;

      Nickname saya bluekakarlak … ^_^ … bukan utk merendah tp hanya agar bisa segera dikenali sebagai orang TIMOR ……

  3. 4 Andhy jho
    November 27, 2009 pukul 7:02 pm

    waduh..stlh baca tulisan ini jadi teringat saat2 susah wktu tu,menyedihkan saat itu tapi jadi kenangan indah saat ini,kebetulan saya warga atambua yang hampir setiap hari hampir terlibat konfik dengan saudara2 dari timor-timur akibat tekanan psikoligis yang membuat mereka jadi labil..
    tapi syukurlah sekarang semua sudah kembali normal,tentram dan damai..
    dan yang paling penting pabrik sopi belum ditutup,hehehe…
    terima kasih anda telah menulis tentang situasi di atambua,ini akan jadi memori yang tak trlupakan…GBU

    • 5 curahbebas
      Desember 28, 2009 pukul 3:18 pm

      Tedrima kasih sudi mampir ke halaman ini. Saya tersanjung. Betul, hari-hari situasi dikabarkan sudah relatif normal dan rukun. Aduh, beta su kangen betul sopi…. hahaha. Salam kenal.

      • Juni 6, 2011 pukul 3:03 am

        Semua kejadian yang ditulis diatas memang betul terjadi aduh…. setelah baca ulang barusan kejadian itu terasa baru saja lewat berapa menit yang lalu sumpah… bulu badan gw merinding…

  4. 7 jeje
    Juni 3, 2010 pukul 11:06 am

    Salam kenal…keren banget tulisannya. Saya blm pernah ke atambua, tp saya pernah mjd relawan di salah satu panti asuhan milik para suster di jawa tengah yg saat itu, november 1999, menampung anak2 pengungsi Timtim dari atambua. Memang saat itu saya merasakan dampak konflik di Timtim sgt mempengaruhi jiwa anak2 tsb. Tapi syukurlah para suster yang baik itu mengusahakan pemulihan pengalaman traumatis anak2 tsb. Dan kabarnya yg saya dengar (klo tdk salah thn 2005/2006) anak2 tsb dan para ortu mereka di pengungsian atambua sdh kembali ke tanah air mereka berkat upaya UNHCR, juga setelah ada pernyataan dari Presiden Xanana Gusmao bhw para pengungsi (mayoritas pro integrasi) tetap akan diterima dgn tangan terbuka bahkan dijamin keselamatannya jika berniat kembali ke tanah air mereka-Timtim. Syukurlah kalo begitu, berarti sekarang atambua sdh pulih n kondusif ya? dan mudah2an tahun depan saya bisa ikut suami yg akan bertugas di atambua. Jujur saya agak kawatir dengan diri saya sendri apakah saya bisa menyesuaikan diri dengan keadaan di sana krn blm punya gambaran tentang keadaan di atambua. Maklum selama ini info yg saya dengar banyak yg “serem2”, yg kekeringanlah, susah air, gersang, klo butuh apa2 susah dapatnya dll. Tapi paling ga setelah baca tulisan anda saya mendapat satu hal yang positif dan prinsip bahwa masyarakat atambua cinta damai, ramah dan bersahabat. Saya pikir kekawatiran yg lain jadi ga bgtu penting lagi deh. Tapi ngomong2 sopi itu apa sih?…JBU

    • 8 curahbebas
      Oktober 13, 2011 pukul 3:57 am

      salam kenal juga. maaf, saya baru bisa buka blog ini lagi. mudah-mudahan ibu sudah berada di Atambhua dan menikmatai suasana dan keindahannya. Mungkin sudah pula mencicipi sopi, minuman persahabatan. hehehe


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: