Halaman Arsip 3

11
Mar
08

Pil Kadal

OBAT apa yang manjur untuk kudis, kurap, panu, koreng, dan sejenisnya? Kalau soal itu ditanyakan pada tukang obat yang menggelar dagangan di terminal atai di emperan pasar kaget, jawabannya mungkin pil kadal.

Hiy!

Ya, maksudnya, pil yang dibuat dari kadal. Di beberapa daerah, reptil ini diyakini mengandung zat-zat penyembuh. Karena tak banyak yang sampai hati makan kadal mentah-mentah, atau kadal yang disate, digulai, dan lain-lain, maka tukang obat membuatnya sebagai ramuan.

Agar gampang dikonsumsi, ramuan itu dibentuk pil, kadang kapsul. Tentang apakah pil kadal itu manjur atau tidak, entahlah. Sebab, memang cuma berupa arang (entah betul-betul arang kadal, entah arang apa pula) yang diremukkan, lalu dicetak berbentuk butiran-butiran pil. Hitam. Mirip norit.

Bahwa ada orang yang merasa dikadalin karena penyakitnya tak kunjung sembuh meski sudah minum berbutir-butir pil kadal, ya salah sendiri. Berobat malah ke tukang obat jalanan di terminal.

Tapi kalau ada orang yang mendadak jadi rajin keluar masuk pesantren (dulu konon banyak santri sakit kulit), terminal dan pasar-pasar, menemui para santri, sopir dan pedagang yang sedang kerepotan menata ekonomi super mikronya, bisa dipastikan ia tidak sedang cari tukang obat penjual pil kadal.

Soalnya, ia sangat bugar. Urusan kesehatan, biasanya ia berurusan langsung dengan dokter pribadi. “Saya akan memperjuangankan kesejahteraan, sehingga mereka tidak akan kesulitan lagi bila ada anggota keluarga yang sakit. Begitu pula untuk biaya pendidikan anak‑anaknya, kalau saya terpilih,” begitu kira-kira kata sang tokoh.

Nah, jelas kan? Sekadar jani. Jual kecap. Mungkin malah cuma omong kosong untuk meraih simpati agar para santri, tua kampung, sopir, pedagang, warga kebanyakan, mendukung atau bahkan memilihnya saat ia beli –eh ikut– Pilkadal.

Benda macam apa pula Pilkadal?

kadal.jpgKata orang, pil yang ini sih bukan obat sakit kulit, melainkan –konon– obat mujarab bagi borok-borok demokrasi. Dengan Pilkadal, konon lagi, rakyat bisa langsung memilih kepala daerah mereka, sebagaimana ketika mereka memilih ketua rukun tetangga, rukun warga, atau kepala desa.

Itu kalau pemilihannya berlangsung jujur, adil, lurus, polos, tanpa tekanan, tanpa politik uang. Dan –sekadar diketahui– pola pemilihan kepala daerah secara langsung (entah itu bupati, entah itu gubernur) sangat membuka celah yang amat lebar bagi para pebisnis politik dan para politisi yang lebih suka membisniskan politik.

Kita tentu maklum, pemilihan kepala daerah secara langsung memerlukan dana sangat besar, mulai dari ongkos sosialisasi ketentuan, kampanye para calon, biaya penyelenggaraan, upah para penyelenggara, dan lain sebagainya.

Padahal pemerintah tidak cukup makmur untuk menggelontorkan dana tanpa batas bagi terselenggaranya demokrasi ala ketua RT ini pada daerah tingkat dua dan daerah tingkat satu.

Di Jawa Barat, misalnya. Hari-hari ini warga dan –terutama– para politisi sedang dilanda demam hebat untuk memperebutkan posisi nomor satu di pemerintahan provinsi. Selain itu, dalam waktu dekat beberapa daerah (baik tingkat I maupun tingkat II di seantero tanah air), juga menggelar pilkadal.

Pemerintah –pusat dan daerah– tentu saja sudah menyusun anggaran untuk membiayai perhelatan demokrasi ini. Namun sudah bisa dipastikan dana itu tidak akan mencukupi.

Lihat saja, daerah-daerah yang menyelenggarakan Pilkadal. Dari kas anggarannya sendiri, kalau dirata-rata hanya mampu menyiapkan dana Rp 2 milyar. Paling pol, Rp 5 milyar lah. Atau bisa lebih besar lagi, tergantung jumlah calon pemilih.

Nah, di sinilah celah itu terbuka. Orang atau pihak-pihak yang berkepentingan dengan kebijakan-kebijakan yang mungkin diambil oleh kepala daerah terpilih, tentu tak akan menyia-nyiakan celah itu.

Pihak-pihak yang selalu berlindung di balik bisnis “Spanyol” alias separo nyolong, pasti akan mengerahkan segala sumberdaya dan dananya agar kepala daerah terpilih merupakan orang yang tidak akan mengusik bisnis mereka.

Jika kalangan yang menguasai uang ini bisa mengongkosi seorang calon kepala daerah supaya terpilih, tentunya sang kepala daerah terpilih akan memihak mereka. Bagaimanapun, kebijakan mereka nanti tidak akan bisa terlepas dari “balas budi” sang pemodal.

Jika sudah sampai pada tahap demikian, semangat demokratisasi yang terkandung dalam pemilihan langsung kepala daerah ini, tentu akan sekadar jadi bungkus atau topeng yang akan membuat kita “seolah-olah” demokratis. Selebihnya, semata jadi ajang pemuas syahwat politik para petualang yang selalu haus kekuasaan.

Itu sebabnya banyak yang sangat khawatir bahwa Pilkadal akan jadi ajang pesta politik sangat berbau duit. Apalagi, meski samar-samar, aroma pesta pora politik uang itu terasa di berbagai pemilihan kepala daerah.

Setidaknya kalangan elite di daerah-daerah mulai menjadikannya sebagai bahan diskusi, spekulasi, bahkan ada yang sengaja mempersiapkan diri untuk jadi tim sukses bagi mereka yang bertarung habis-habisan di bursa pilkadal.

Sebagai contoh kecil, ada partai yang terang-terangan mematok harga bagi orang atau tokoh yang ingin menjadikan partai itu –tentu yang kedudukannya di parlemen lokal cukup signifikan– sebagai gerobak politik menuju kekuasaan.
Semua tentu sepakat, pemilihan langsung kepala daerah bisalah dianggap sebagai wujud sejati kedaulatan rakyat dalam menentukan pemimpinnya. Jika berlangsung secara tepat sesuai dengan semangatnya, momentum ini tentu merupakan peningkatan kualitas demokrasi.
Setidaknya, keinginan rakyat untuk memilih pemimpin mereka tidak lagi dialirkan melalui “wakil” yang selama ini justru tampak lebih sering ngadalin pihak yang diwakilinya.

Apalagi rakyat masa kini di mana pun sudah tidak sudi lagi terus menerus dikibuli. Mereka pasti akan memilih pemimpin yang paling sesuai aspirasinya, dan tidak akan menjatuhkan pilihan pada orang yang cuma berkoar-koar mengobral janji seperti tukang obat yang berbusa-busa jual pil kadal.

Kecuali kalau mereka memang senang dikadali. ***

Naskah ini telah direvisi ulang setelah disiarkan POS KUPANG 29027 dan BëBAS 150205

02
Mar
08

Al Zaanin

victim.jpg

DARAH mengalir dari lubang di dadanya. Menyebar merembesi bajunya bercampur debu padang pasir dalam ruap bau mesiu. Ia menggelepar sejenak. Mengejang. Lalu kaku.

Satu lagi hari itu nyawa melayang. Hassan Al Zaanin terlalu muda untuk mati. Tapi siapa peduli? Usianya baru 18. Siapa pula yang peduli, kecuali pencatat angka-angka korban konflik di Tepi Barat?

Dan, saban hari daftar korban tewas itu semakin panjang saja, seolah kematian tak berarti apa-apa. Sebelumnya, sudah lebih dari 5.000 remaja sebaya Zaanin kehilangan nyawa disambar kekejian peluru, roket, bahkan rudal, serdadu Israel.

Para remaja yang bertumbangan itu sebagian besar bukanlah para pemberontak dan orang-oran yang bergerak di bawah tanah untuk melawan kekuasaan Israel.

Jika pun mereka terlibat dalam intifadah, lebih karena terpaksa harus melawan –setidaknya mengusir– para serdadu Yahudi yang dengan keangkuhannya seolah merasa berkuasa atas seluruh jazirah Palestina. Keangkuhan yang kemudian membangkitkan perlawanan berlanjut dari bangsa Palestina.

Memang. Al Zaanin, bukanlah siapa-siapa. Hari itu di awal Juli di bawah terik sengangar di Beit Hanun, ia melihat gerilyawan garis keras Palestina memasang sebuah bom di tepi jalan untuk menghadang tentara Israel di Jalur Gaza.

Tentara Israel mengambil alih Beit Hanun setelah serangan roket para pejuang Palestina yang menewaskan dua orang di Israel selatan, tepat di seberang perbatasan. Dan, menyatakan akan menghancurkan gerilyawan garis keras di Beit Hanun.

Tentu saja para gerilyawan tak tinggal diam. Mereka menyiapkan penghadangan antara lain dengan memasangi bom di jalan-jalan yang diperkirakan akan dilintasi serdadu Yahudi. Namun warga tampaknya takut pengeboman di tepi jalan akan memicu serangan besar-besaran ke daerah yang diduduki kembali itu.

Hassan al‑Zaanin, bersama warga lain yang mungkin sudah bosan kekerasan, menyaksikan aksi penghadangan itu. Mereka melihat ketika sejumlah pria bersenjata memasang bom di tepi jalan, dan meminta itu untuk menghentikannya. Tentu saja permintaan itu ditolak.

Warga terus mendesak. Kaum gerilyawan tetap ngotot. Dua pihak yang sesungguhnya masih dalam satu kubu ini pun bersitegang, sampai para pria bersenjata itu melepaskan tembakan ke udara untuk mengusir warga. Dan, akhirnya menembak ke arah kerumunan.

Di situlah Zaanin. Ia tersungkur dengan dengan dada disarangi peluru. Ia tewas dalam perjalanan ke rumah sakit.

Zaanin bukanlah satu-satunya korban di pihak Palestina sejak perseteruan meletus kembali menyusul perangai Israel yang tetap memaksakan kehendaknya menguasai seluruh jazirah.

Sebelum Zaanin, ada 5.022 sebayanya telah gugur. Belum lagi 950-an madrasah hancur –dan 300 sekolah dijadikan markas militer Israel– sehingga 9.000-an pelajar tidak lagi dapat bersekolah.

Serdadu Yahudi juga menghancurkan 8.000 rumah, sehingga 70 ribu warga Palestina kehilangan tempat tinggal, sementara 26 ribu lagi warga cedera akibat kekerasan Zinonis.

Akibat lain –yang tak kalah mengerikan– adalah 3.000-an perempuan hamil terpaksa melakukan aborsi karena tidak memperoleh akses ke rumah sakit dari Israel, 40 persen dari 3 juta warga Palestina hanya makan sekali sehari dan 70 persen penduduk Palestina kehilangan lapangan pekerjaan.

Ya, Zaanin adalah salah satu korban, salah satu cermin tentang sosok yang terjepit di tengah konflik tak berkesudahan, karena masing-masing pihak tampaknya memang tidak ingin menyudahinya.

Ia juga menggambarkan bahwa di kalangan warga Palestina sendiri sudah berkembang pendapat untuk menyudahi saja kekerasan dalam mengekspresikan perlawanan terhadap musuh, dan mencari cara lain yang tidak terlalu mengalirkan darah warga sipil tak bersalah.

Jika di kalangan warga sipil biasa ada sosok seperti Zaanin, di tataran elite juga muncul berbagai organisasi dan faksi yang mulai menunjukkan pandangan berbeda, bahkan terkesan berseberangan satu sama lain, meski mereka tetap terikat pada satu tujuan utama: berjuang untuk memerdekakan Palestina.

Sebagai warga negara yang peduli dengan negaranya, seluruh warga Palestina harus terlibat dalam perjuangan kemerdekaan, walaupun masing‑masing caranya berbeda. Bisa lewat militer, politik dan sosial.

Jika kaum radikal tetap memilih perlawanan bersenjata lewat gerilya, intifada, bahkan aksi bom bunuh diri, maka kelompok lain memilih cara yang berbeda pula. Melalui diplomasi, aksi-aksi sosial, gerakan dinta damai antarbangsa. Termasuk antara bangsa Palestina dan Yahudi sendiri, karena di antara bangsa Israel pun ada yang lebih mencintai perdamaian dan hidup rukun bersama tetangga Arab-nya.

Tapi, Israel di bawah Ariel Sharon adalah Yahudi dalam karakternya yang se­ja­ti. Ia justru seperti sengaja menghapus jejak-jejak semangat perdamaian yang dipancarkankan warganya, bahkan pernah juga digalang pada masa Rabin dan Peres.

Sharon telah menempatkan diri sebagai puncak ke­­benaran dan keadilan itu sendiri. Orang lain, bangsa lain, ti­dak. Karenaya, dia tak peduli seluruh bangsa mengutuknya.

Dia tak melihat kecaman marak di mana-mana. Sharon adalah Sharon. Baginya, dunia ini hanyalah Israel dan (pas­ti) Amerika yang seolah jadi bapak moyangnya, dan kalau perlu dibangkanginya pula.

Kegelisahan dunia internasional, terutama Bang­­­sa Arab terbukti sudah. Sang Jenderal Haus Darah –demikian sa­lah satu julukannya– telah menancapkan taringnya mencabik per­damaian dan merobek-robek rasa kemanusian banyak bangsa di dunia.

Lihat saja, bagaimana ia tak mempedulikan hasil pemungutan suara sidang darurat Majelis Umum PBB belum lama ini yang menunjukkan bahwa sebagian besar negara anggota PBB mendukung resolusi yang mengharuskan Israel mematuhi keputusan Pengadilan Internasional bahwa pembangunan tembok pengaman di Tepi Barat, Palestina, adalah ilegal. Artiya, Israel harus membongkar tembok itu dan segera memperbaiki segala kerusakan fisik yang terjadi.

Apa yang terjadi? Tentu saja atas dukungan penuh Amerika Serikat –celakanya ia punjya hak veto di PBB– Israel menentang resolusi tersebut. Boro-boro menghentikan dan membongkar beenteng, mereka malah melanjutkan pembangunannya.

Bayangkan, 150 negara yang mendukung resolusi itu, ternyata kalah ’suara’ hanya oleh dua negara. Israel dan Amerika!

Mungkin betul kata Akram Adlouni, masalah Palestina, termasuk kemerdekaan negeri itu, sebenarnya bukan hanya milik rakyat Palestina dan urusan bangsa Arab. “Masalah Palestina adalah urusan umat Islam di seluruh dunia,” ujar Sekretaris Jenderal Yayasan Al-Quds yang berbasis di Beirut.

Ya. Dan –konon– lebih dari 90 persen penduduk Indonesia ini adalah muslim. Seperti Adlouni. Seperti Arafat.

Seperti juga Zaanin. ***

Bandung, 230804

02
Mar
08

Ramon

ilan_ramon.jpg

ILAN Ramon tersenyum lebar di dalam kabin penerbangan tiruan pesawat ulang-alik di tempat pelatihan di Houston Texas. Di sebelahnya Itzhak Mayo, rekan senegaranya, yang juga tengah mengikuti seleksi astoronot penerbangan ulang-alik. Mereka adalah dua di antara sedikit orang dari ribuan peserta seleksi calon astronot.

Adegan itu direkam 16 Juli 1998, tepat setahun setelah Ramon dinyatakan lulus sebagai calon astronot pesawat ulang-alik, 16 Juli 1997. Di antara dua tentara Yahudi itu, Ramon lulus dan jadi salah satu awak pesawat ulang-alik Columbia.

Bersama enam awak lainnya, Ramon bertolak menunuju angkasa luar pada 16 Januari 2003, dalam misi yang dijadwalkan berlangsung selama 16 hari (waktu bumi). Tapi, seperti yang kita saksikan bersama, pesawat itu terbakar dan meledak jadi serpihan-serpihan kecil, 16 menit sebelum mendarat.

Ilan Ramon (48) adalah kolonel Angkatan Udara Israel dan astronot pertama Israel yang tewas dalam ledakan Columbia, Sabtu (1/2/2003). Pada tahun 1981 ia dikenal sebagai salah satu penerbang tempur termuda yang dikirimkan Israel dalam misi pengeboman atas wilayah Ossirak di Irak.

Dalam latar belakang riwayat hidupnya yang dipublikasikan CNN Ramon disebutkan ikut pertempuran Yom Kippur tahun 1973 dan penyerbuan Lebanon tahun 1982. Kepergiannya ke Amerika untuk memasuki dinas astronot memperoleh dukungan kuat negaranya.

Ia jadi kebanggaan bangsa Yahudi, di tengah situasi yang kini memanas di Teluk menyusul perseteruan yang tak pernah habis antara Israel-Palestina, dan kini dalam bayang-bayang perang AS- Irak, di mana Israel menjadi sekutu utama yang paling dekat.

Sehari sebelum Columbia mengangkasa, media Israel menyiarkan secara lengkap riwayat hiudup Ramon. Dua pekan kemudian, warga Israel tersentak oleh kejutan di ujung lengkung atmosfer di atas Texas. Columbia celaka sebelum dijadwalkan mendarat di Pusat Antariksa Kennedy, Florida, pukul 09:16 waktu setempat.

Menurut NASA, pesawat itu hilang dari layar radar pukul 09:00 waktu setempat, Sabtu, saat melewati Dallas, Texas. Pesawat itu diperkirakan sudah pecah berantakan di ketinggian di atas bumi, dan jatuh sebagai hujan logam yang tercurah dalam radius ratusan kilometer.

Ada tujuh astoronot Columbia yang tewas bersama hancurnya pesawat ulang-alik itu. Namun Ilan Ramon lah yang paling banyak disebut pada berita-berita pertama mengenai insiden itu. “Mengerikan. Ada apa ini? Kenapa berita‑berita itu terus menyebut orang Israel itu, padahal ada enam astronot lain dalam pesawat itu,” kata seorang warga Queens, New York, sebagaiman dikutip media setempat.

Ya, mengapa? Apa karena Ramon adalah orang Yahudi pertama yang jadi astronot? Atau, ia sengaja disimbolkan oleh media Amerika –yang sebagian besar dikuasai jaringan Yahudi– untuk mencitrakan Israel yang kini sedang disorot karena kebijakannya menggasak habis Palestina tanpa peduli tata-krama internasional. Entahlah.

Yang jelas, di antara para astronot itu ada dua yang tak kalah istimewa dibanding Ramon. Mereka adalah Laurel Clark dan Kalpana Chawla, keduanya wanita. Tentu saja emosi publik akan lebih tergugah jika fokus peliputan diberikan kepada mereka, tentu tanpa mengesampingkan peran lima pria yang –ujung-ujungnya sih– sama-sama jadi debu di atas gurun pasir Texas.

Chawla, misalnya, juga jadi istimewa karena dia bukanlah asli urang Amrik. Wanita berusia 41 tahun ini kelahiran Karnal India, dan –seperti Ramon– jadi kebanggan negara itu meski yang bersangkutan sudah pindah jadi warga negara Amerika.

Chawla merupakan wanita pertama yang diterima di Perguruan Tinggi Keahlian Teknik Punjab, India. Tahun 1980‑an ia berangkat ke AS, dan memperoleh gelar doktor di bidang aeronautika dan bergabung dengan Badan Antariksa AS (NASA) pada 1988.

Ia terpilih jadi astronot pada 1994 setelah menjalani pelatihan dan evaluasi. Tiga tahun kemudian, ia mencapai mimpinya ketika terbang dengan pesawat ulang‑alik STS‑87. Chawla adalah wanita keturunan India pertama yang pernah pergi ke angkasa luar dengan Columbia. Penerbangan kali ini merupakan ekspedisinya yang kedua di angkasa luar.

Artinya, perempuan ini jauh lebih berpengalaman ketimbang Ramon. Ia sudah mengantongi ribuan jam terbang ke angkasa luar dalam misi sebelumnya. Tak heran jika majalah India Today menempatkan dia di sampul edisi khusus mengenai kemakmuran India, dengan tulisan “Buatlah Kami Bangga” untuk mengiringi kepergiannya.

Di kampung halaman Chawla, di negara bagian Haryana di India Utara, ratusan orang berkumpul untuk menonton siaran langsung kembalinya Columbia. Mereka tengah bersiap meledakkan pesta merayakan pendaratan pesawat ulang‑alik tersebut ketika mendengar malapetaka itu.

Hampir seluruh saluran berita India mengarahkan langsung ke tempat bencana di Texas ketika berita (mengenai hancurnya pesawat ulang‑alik Columbia) sampai di India Sabtu malam. Stasiun‑stasiun televisi itu mengulang lagi sketsa biografis yang menunjukkan kemunculan Chawla dari satu keluarga kelas menengah yang sederhana di satu kota kecil India menjadi anggota program angkasa luar elit Amerika. Meski berujung pada kematian.

Tapi, itu tadi, ketika pesawat itu ternyata menemui bencana, malah Ilan Ramon yang dielu-elu para pemberita di Amerika. Ramon terpilih sebagai astronot Columbia tahun 1997. Dalam misi 16 hari yang berujung ledakan itu, di samping tugasnya “cuma” sebagai awak penumpang dia membawa tugas tambahan dari Pusat Studi Antariksa Israel, yakni mengoperasikan sejumlah kamera supercanggih milik Israel.

Katanya sih, untuk merekam partikel-partikel pasir di atmosfir, sebagai bagian dari penelitian Israel terhadap kontaminasi debu gurun di pada atmosfir bumi. Tapi siapa bisa menjamin kebenaran penelitiannya itu? Siapa tahu Israel dan Amerika memang memotret lokasi-lokasi strategis di kawasan Teluk untuk kepentingan perang mereka.

Siapa pula bisa menjamin bahwa pesawat itu memang diledakkan untuk menutup kesaksian dari orang-orang yang sesungguhnya telah mengerjakan pekerjaan lain di luar misi yang sebenarnya? Bukankah segala kemungkinan bisa terjadi untuk menegakkan ambisi sekelompok orang, apalagi kelompok ini sadar betul pada kekuatan dan kekuasaan yang dimilikinya.

Sayang Ramon tak akan pernah bisa ditanyai lagi.***

Bandung, 030203

02
Mar
08

Ramallah 2003

arafat200311.jpg

ADEGAN itu begitu menggetarkan. Orang menyemut di seputar markas Yasser Arafat di Ramallah. Pintu-pintu besi yang berat dan kokoh dan biasa tertutup rapat, tiba-tiba terkuak lebar. Dari balik salah satu pintu itu menyeruak serombongan orang, keluar.

Arafat –dengan kefayeh khasnya membungkus kepala– melambai-lambaikan tangan. Ia duduk bergoyang-goyang di atas kursi yang diusung massa yang dengan emosional memekikkan dukungan.

“Kami akan mendukungmu dengan darah dan jiwa kami, wahai Abu Ammar!!” ratusan orang serempak dan silih berganti memekikkan kata-kata itu. Beberapa di antaranya tampak tak kuasa membendung perasaan.

Sambil menyapukan pandang kepada rakyatnya, Arafat mengangkat tangan. Satu tangan lain meraih mikropon, lalu ia berkata: “Dengan darah dan jiwa kami, kami akan mendukungmu, wahai Palestina,” katanya. Suaranya bergetar ditingkahi gemuruh massa yang riuh rendah memekikkan dukungan.

“Saya ingin katakan kepada pemerintah Israel: Inilah jawaban rakyat kami!” serunya. Lagi-lagi rakyat Palestina menyambutnya dengan gegap gempita. Mereka kembali meneriakkan dukungan, bersedia mengorbankan darah dan nyawa demi Sang Pemimpin, demi Palestina, tanah air tercinta.

Ya, reaksi spontan itu bangkit menyusul keputusan kabinet keamanan Israel yang dipimpin Perdana Menteri Ariel Sharon untuk mengusir Yasser Arafat –presiden sekaligus ruh perjuangan rakyat– dari Palestina, negeri yang dipimpinnya.

Belakangan, pengusiran saja dianggap belum cukup. Mereka bahkan membubuhkan rekomendasi, bahwa Arafat harus dihabisi. Masya Allah! Negeri macam apa Israel itu, sehingga merasa punya hak untuk mengatur hidup mati kepala negara lain?

Begitulah. Mungkin memang hanya Amerika Serikat dan Israel yang merasa boleh dengan semena-mena melakukan apa pun terhadap negara lain, seolah hanya merekalah yang patut mengatur pemerintahan di dunia.

Bayangkan, Irak yang adem ayem di bawah pemerintahan Saddam Hussein, tiba-tiba diserbu, dibumihanguskan. Presidennya diburu seperti seorang kriminal. Keluarganya dihabisi. Pemerintahannya dibekukan kemudian diganti pemerintah bentukan Amerika.

sharon_guardian_pix_martin_rowson.jpgBerikutnya, Israel terang-terangan mengusir –malah mnerekomendasi untuk membunuh– Arafat. Sharon menganggap Arafat menyabot proses perdamaian dan merestui serangan‑serangan yang dilakukan para pejuang Palestina. Padahal semua orang di dunia tahu, justru Israel yang mati-matian memberangus proses perdamaian itu dengan aksi‑aksi agresi yang terus dilakukan. Di bawah kendali Sharon, aksi-aksi tak masuk akal terus dilakukan serdadu Israel atas warga Palestina.

Sejak beberapa lama nama Sharon yang tenggelam. Namanya hampir tiap ha­ri disebut-sebut lagi di media massa seluruh dunia, sejak la­­­wat­annya ke Baitu Aqsha yang ke­mudian mem­bangkitkan kembali intifada, hingga sebagai Perdana Menteri.

Sharon pernah diberhentikan oleh Menachem Begin –ketika itu Per­da­­na Menteri Israel– dari jabatannya selaku Menteri Pertahanan ber­­kaitan dengan tragedi Sabra dan Shatila, kamp pengungsi Pa­les­tina di barat Beirut, Lebanon. Itu pun atas tekanan dunia in­terna­si­onal.

Orang tak akan per­nah lupa pem­bantaian 16 Sep­tember 1982 oleh pasukan milisi Fa­langis dukungan Sharon. Se­dikitnya 300 war­ga Arab, umumnya wa­nita dan anak‑anak, tewas ber­kuah darah di barak pengungsian Sabra dan Shatila.

Sharon mengomandokan penyerbuan besar‑besaran ke Libanon Se­latan tahun 1982 dengan dalih mengusir pejuang Organisasi Pem­be­bas­an Palestina (PLO) pimpinan Yasser Arafat. Katanya sih, ins­truksi penyerbuan ini disusun secara rahasia oleh Sharon tanpa kon­­sultasi ke Knesset, parlemen Israel.

Makanya –setelah korban bergelimpangan, dan dunia mengecam– kalangan anggota Knesset me­nentang keras penyerbuan ke Lebanon. Tapi akhirnya mereka toh me­nyetujui pencaplokan atas wilayah Lebanon Selatan.

Sejak Israel memproklamasikan kemerdekaannya tahun 1948, se­tidaknya tercatat empat peperangan dahsyat antara bangsa Arab dan Yahudi, yakni perang tahun 1948, 1956, 1967, dan tahun 1973. Pe­rang tahun 1967 Israel berhasil mencaplok Semenanjung Sinai dan Ja­­lur Gaza di Mesir; Jerusalem; Tepi Barat Sungai Yordan di Yor­dania; dan Dataran Tinggi Golan di Su­riah.

Pada Perang Oktober 1973 yang bertepatan dengan Yom Kipur, Hari Suci dalam kalender Yahudi, dan Bulan Suci Ra­ma­dan bagi umat Islam, giliran bangsa Arab (Mesir) mengungguli pe­rang besar yang mereka analogikan dengan ‘Perang Badr II’ itu.

Tak kurang dari 2.700 serdadu Israel tewas. Dan, Bar Lev, kawasan Me­sir di semenanjung Sinai yang dicaplok Israel tahun 1967, kem­bali ke pangkuan Mesir. Nah, ‘keunggulan’ Arab dan ‘kekalahan’ Israel pada perang 19­67 ini­lah yang akhirnya memaksa Israel bersedia maju ke meja pe­run­dingan damai.

Namun, itu pun memerlukan proses yang lama dan ber­belit –sekitar 12 tahun– sehingga baru diteken di Camp David (AS), tahun 1979. Meski, kita tahu semua, sesungguhnya Israel tak per­­nah konsisten. Akibatnya, konflik ber­darah te­rus melumuri Palestina, hingga hari-hari ini.

Itu pula yang bikin gregetan pihak mana pun yang selama ini men­­junjung tinggi perdamaian dan penghormatan penuh atas hak asa­si manusia. Di antara bangsa Yahudi sendiri, banyak yang lebih cin­­­ta kerukunan hidup dengan bangsa Arab ketimbang terus-menerus baku serang.

Demikian halnya di kalangan bangsa Arab. Sosok Yas­ser Arafat dan Shimon Perez –pada masanya– dianggap bisa mewakili dua kutub yang bertemu pada titik kepentingan sama itu: perdamaian.

Kini justru sebaliknya, suasana yang sempat berangsur mendingin itu justru seperti kembali jadi bara kebencian yang makin hari kian berkobar menyalakan kekejaman demi kekejaman dengan rakyat Palestina sebagai korban.

Sampai kapan Israel dan Palestina bisa rukun? tak seorang pun tahu. Malah ada yang bilang bahwa dua negara itu memang ditakdirkan untuk selalu berseteru sampai akhir zaman, dan Sang Pemilik Tadir sendiri sudah lupa bahwa ia pernah menyuratkan takdir demikian.

Jadi, pantaslah jika keadaan akan te­rus demikian. Perdamaian tak akan pernah terwujud selama hu­bungan antarumat manusia dilandasi kebencian dan balas dendam, seperti yang terus berkecamuk di Palestina-Israel. ***

Bandung, 160903

Pem­bantaian 16 Sep­tember 1982 oleh pasukan milisi Fa­langis dukungan Sharon. Se­dikitnya 300 war­ga Arab, umumnya wa­nita dan anak‑anak, tewas ber­kuah darah di barak pengungsian Sabra dan Shatila. sabra_shatila_70.jpg

01
Mar
08

Salma dari Haifa

salma_haifa.jpg

NABIL mungkin benar ketika mengatakan tak ada satu pun yang dapat menghalangi Arafat untuk maju kembali ke arena pe­milihan presiden. Arafat adalah Palestina, dan Palestina adalah Arafat.

“Ia memiliki semua syarat yang diperlukan untuk men­ca­lonkan diri sebagai presiden Palestina,” kata Nabil Shaath salah seorang ang­gota kabinet Palestina itu. Ya, Arafat adalah sosok yang tak bisa dipisahkan dari Pales­tina.

Darah dan dagingnya adalah darah-daging seorang anak bangsa yang mencurahkan seluruh hidupnya demi tegaknya kedaulatan sebuah bangsa, demi harapan dan masa depan mereka, yang –dari waktu ke wak­­­tu– terus dikoyak dan dicabik-cabik kerakusan dan kebiadaban bangsa lain, Yahudi.

Insiden Jumat (28/6/2002) menunjukkan, betapa Israel tak la­gi mengindahkan kedaulatan bangsa Palestina.

Bahkan markas besar Ara­fat –semacam istana kepresidenan– di di Al‑­Khalil alias Heb­ron, diluluhlantakkannya dengan bahan peledak dan belasan bul­do­ser lapis baja seperti meruntuhkan gedung tua untuk kepen­tingan pemugaran.

Sharon boleh saja membayangkan bahwa iman perjuangan para syu­hada Palestina akan pupus dengan cara-cara macam itu. Tapi, siapa bisa membendung bara cinta anak-anak sebuah bangsa atas tanah airnya? Mereka boleh terusir, tapi mereka akan kembali. Mereka bisa ditindas dan diberangus, tapi mereka akan bangkit dalam sebuah perlawanan tanpa rasa takut.

“Ya, kami akan kembali,” kata Abu Salma, lewat sajak yang ditulisnya tahun 1951, atau tiga tahun setelah ia terusir dari tanah tumpah darahnya saat Israel dengan bengis mencaplok juga Ha­ifa, tanah kelahirannya.

Salma tersingkir ke Akka, lalu ber­mukim di Damaskus sampai akhir hayatnya. Penyair yang di lingkungan komunitas sastra Timur Tengah di­kenal sebagai Salma dari Haifa itu wafat tahun 1980 dalam usia 73. Malah, mungkin tanpa sempat menginjakkan lagi kakinya tanah le­luhur di mana ia dilahirkan.

Padahal ketika memulai perjalan­an­nya, ia membawa kunci rumah dan kunci kantornya di Haifa dengan suatu keya­kinan bahwa suatu saat akan kembali.

Ya, Salma mungkin tak pernah bisa kembali ke Haifa, namun anak-anak bangsa Palestina, sebagaimana Arafat, akan muncul be­gi­tu yang lain binasa. Patah tumbuh hilang berganti. Sudah berapa ribu putra-putri mereka gugur, tapi perlawanan terhadap kelaliman Israel tak pernah kunjung surut.

Medan perjuangannya pun tak pernah kehilangan bentuk. Ketika in­ti­fada sudah tak lagi efektif melawan tank-tank dan meriam ser­ta senjata otomatis dan mesin-mesin pembunuh lain, anak-anak muda itu membulatkan tekad, menyatukan diri dengan bom dan mele­dak­kan se­buah perlawanan betul-betul sampai titik darah penghabisan.

Ma­­kin keras tekanan Yahudi, kian deras pula ak­si-aksi mati sahid itu. Perjuangan, juga bisa dilakukukan dengan cara seperti yang ditempuh Salma dari Haifa yang ketika lahir bernama asli Abdul Ka­rim Al‑Karmi itu. Ia berjuang dengan suara hati. Ya, itulah yang dipekikkan Salma ke seantero negeri. Dan, suara hati itu di­sampaikannya dalam bentuk larik-larik puisi.

O, kekasihku, Palestina.
Kami kan kembali
Akan kami kecupi ruap bau tanah
dengan rona merah
yang mengaliri bibir-bibir kami.
Ya, be­sok kami kan kembali,
dan anak cucu akan mendengar
de­rap langkah kami….

kata Salma lewat salah satu bait sajak yang ditulisnya pada 1951. Dan, 27 tahun kemudian Salma mendapat peng­hargaan inter­nasional, Anugerah Sastra dari Aso­siasi Sastra­wan Asia dan Af­rika. Sementara itu, dari waktu ke waktu dan de­ngan berbagai cara, Israel berusaha menindas Palestina. Tapi bersamaan dengan itu pula perlawanan demi perlawanan terus berlanjut. Ya, bangsa Palestina akan kembali, kata Salma ber­ulang-ulang.

Kami akan kembali bersama badai
bersama guntur dan hujan meteor
bersama harapan dan nyanyian
bersama kepak sayap rajawali
bersama fajar yang tersenyum menyapa gurun
bersama pagi di atas gelombang laut
: dengan panji-panji berdarah
dengan pedang-pedang megkilap
dan dengan tombak-tombak runcing menoreh langit!

Betapa, di balik kelembutan, keindahan, dan keteduhuan yang me­nyosok pada ung­kapan-ungkapannya itu menyeruak gairah un­tuk me­lawan. Gairah yang begitu keras dan tajam tak kenal ampun demi ter­­capainya sebuah harapan.

Semangat yang menggelora pada sa­jak-sajak Salma tampaknya tak kalah garang dengan ‘gairah’ intifada yang men­jalari sosok-sosok ring­kih pemuda-pemuda belia berwajah polos, put­ra-putri sang kekasih, Palestina.

Simak saja, selang sehari setelah ser­dadu Isra­el membumi­hanguskan markas Arafat, sebuah bom meledak di se­pan­jang rel kereta di Tel Aviv (Minggu, 30/6/2002), nyaris melumat satu gerbong berisi 500 penumpang.

Sebelumnya, awal Juni, dua kali aksi bom bunuh diri telah mene­­waskan 26 orang Yahudi. Aksi serupa, terjadi di ber­bagai tem­pat. Dalan kurun dua ta­hun terakhir saja, tercatat lebih dari 70 kali aksi bom bunuh di­ri di wilayah Israel yang dilakukan pejuang‑pe­ju­ang Palestina. Lebih dari 240 warga Yahudi binasa.

“Aksi bom bunuh diri itu merupakan bagian dari perjuangan su­­ci rakyat Palestina untuk merebut kembali hak‑hak mereka yang secara semena‑mena dirampas kaum Zionis Yahudi,” ujar Paus She­nuda III, Pemimpin kharismatik Gereja Koptik Mesir.

Israel –tentu saja dibantu sekutu paling karibnya, Amerika– mati-matian melakukan berbagai upaya membendung aksi-aksi jihad itu. Termasuk, membumihanguskan “istana” Arafat.

Israel boleh saja ngotot bahwa tindakan keras yang mereka la­­­kukan adalah untuk meng­hen­tikan aksi-aksi itu. Ia boleh mati-ma­tian memekik-mekik bahwa Palestina lah biang keladinya.

Seba­lik­nya, dunia pun tahu persis bahwa para syuhada Palestina ber­gerak jus­tru karena hak-hak bangsa mereka dirampas. Siapa pun ta­hu be­laka bahwa Israel memburuk-burukkan Palestina di mata dunia se­mata untuk menutupi keborokan perilakunya sendiri.

Namun perilaku Yahudi seperti itu memang tak cuma kepunyaan Israel di bawah kepemimpinan Sharon. Di lingkungan kita sendiri, masih se­ring kita temukan orang-orang macam itu. Se­lalu akan kita jumpai orang yang memburukkan orang lain demi menutupi bo­rok dirinya di mata umum.

Boleh saja ia bersuka cita sementara. Tapi tunggulah. Se­per­ti kata Salma dari Haifa:

Kami akan kembali bersama badai,
ber­sama guntur,
bersama tombak-tombak
runcing menoreh langit…

Lihat saja. ***

* Bandung – 300602

01
Mar
08

Atas Nama Kerukunan

MUHAMMAD lahir pada Hari Natal di Betlehem. Tak usah protes. Ini fakta human interest yang disiarkan kantor berita Perancis (AFP) untuk memberi ilustrasi perayaan Natal terakhir abad 2000.

rukun.jpgBayi laki-laki itu tak ada istimewanya dibanding ratusan mung­kin ribuan bayi yang dilahirkan pda hari yang sama, Sabtu (25/­12/1999) lalu di seluruh dunia. Ia diangap menarik karena dila­hirkan di Betle­hem, tempat Isa Almasih dilahirkan dua puluh tahun silam.

Sang ibu, Khitam Abdul Hafeiz (24) adalah muslim Palestina yang menghuni barak pengungsian di Aidah, Tepi Barat. Suaminya, Ju­ma’a Abdul Hafeiz (37), dan beberapa anggota keluarga menggotong Khi­tam ke Rumah Sakit Keluarga Suci di Betlehem, tepat di malam Natal ketika Khitam mulai merasakan jabang bayi ‘berontak’ ingin ke­luar.

“Saya namai dia Muhammad. Saya sangat bahagia melahirkan bayi ini tepat pada Hari Na­tal, sebab sama dengan saat lahirnya Nabi Isa, Nabi bagi perda­maian dan cinta kasih segenap umat manusia,” ujar ibu muda itu yang dida­ulat untuk berfoto bersama, menyemarakkan perayaan Natal umat Krisitani di Betlehem.

Itu saja. Tak ada yang istimewa. Sama dengan tidak istimewa nama seorang Marcelinus Ali, yang kakeknya –lalu dijadikan nama marga– bernama Ali, seorang muslim. Atau Irman Husein, yang –karena namanya– sering dikirimi kartu lebaran oleh klien dan relasinya, padahal ia seorang nasrani meski kakek-buyutnya dahulu beragama Islam.

Saya pun pernah ternganga –kagum– oleh ‘toleransi’ dan upaya merajut kerukunan saudara-saudara saya ketika tahun 1995-1996 lalau saya bermukim di daerah yang jelas-jelas mayoritas warganya pemeluk Nasrani.

Pada suatu undangan jamuan pengantin, saya mendadak ‘digiring’ men­jauh dari arena pesta saat waktu bersantap tiba, lalu saya di­antar ke sebuah rumah –100 meter dari tempat pesta.

Di sini telah ter­hidang santapan khusus yang menurut mereka tak tercemar oleh ba­rang haram bagi orang Muslim. Beberapa tamu la­in –terutama pejabat dari Jawa (maaf, mereka mengidentikkan Jawa de­ngan Islam, padahal nggak selalu, kan?)– juga sudah ada di sini, dijamu khu­sus oleh keluarga Muslim yang sengaja diundang oleh sohi­bul bait untuk melayani tetamu Muslim.

Di daerah ini warga setempat selalu begitu setiap menggelar pesta. Tak perdului apakah di antara undangan itu ada yang Muslim atau tidak. Intinya, berjaga-jaga, jika ternyata ada, sudah siaga. Jika pun tidak, tak ada ruginya sebab makanan halal bagi orang Muslim tidaklah haram bagi mereka, alias bisa disantap juga nantinya.

“Di antara kakek dan nenek saya, juga paman dan pakde saya, ada yang Muslim. Di kampung kami apalagi. Kami rukun bahu membahu, termasuk saat membangun atau memperbaiki gereja dan mesjid,” kata rekan saya dari Ende, Flores.

Bahkan di daerahnya, di setiap kampung pasti ada orang Muslim yang mereka percayai untuk me­mimpin –setidaknya menjadi penasihat– acara-acara tertentu yang melibatkan segenap warga. Bahkan acara pentahbisan seorang Uskup pun melibatkan seorang ulama setempat dalam panitia inti.

Tapi, suatu kali, menjelang perayaan Natal, seorang wartawan dari surat kabar terkemuka yang sedang ‘mudik’ dan nyekar ke makam ke­luarganya, pernah panik tak kepalang.

Di gerbang pemakaman itu ia disambut para preman berparang yang minta imbalan dengan dalih su­dah membersihkan makam, padahal ia tahu persis tak selembar pun rum­­­put liar terpapas di sana. Inti­nya, suasana Natal dimanfatkan untuk memeras orang-orang yang mera­yakannya dan hasil perasan itu digu­na­kan untuk pesta mabuk di malam Natal.

Saya mengulasnya di sini ti­dak dilandasi niat untuk mengis­ti­mewakan peristiwa-peristiwa itu, termasuk kelahiran Muhammad bin Ju­ma’a pada Hari Natal 1999. Saat menangani persalinan, pihak rumah sakit milik Yayasan Nasrani di Betlehem ini pun tak melihat istri Juma’a beragama apa. Mereka cuma melihat ada wanita dari barak peng­­ungsian warga Palestina yang mendesak harus ditolong agar bayi­nya lahir dengan selamat.

Jelas, tidak istimewa, karena setiap kela­hiran umat manusia ada­­lah buah keistimewaan Sang Maha Istimewa, Sang Maha Pemilik Segenap Kehidupan sekaligus Sang Maha Penguasa Segala Kematian.

Lho, mengapa kematian? Sebab, bersamaan dengan perayaan Natal (da­ri kata Yunani, natus — lahir) kita juga menyaksikan tragedi ke­­­­­matian di Ambon, juga di Aceh. Juga di tempat lain. Jika Ambon ter­cabik oleh perseteruan antara kelompok Mus­lim dan Kristen, maka Aceh dikoyak perseteruan politik yang mencecerkan penindasan hak asasi manusia — bahkan juga antara mereka yang seagama.

Persoalannya kini, mengapa orang begitu garang dan galak –me­minjam istilah Gus Dur– sehingga demikian gampang menyerang, mem­bunuh dan –kalau perlu– memusnahkan orang atau kelompok masya­ra­kat lain sam­bil berlindung di balik topeng keyakinan?

Masing-masing pihak bisa melontarkan argumen sampai berbuih-buih untuk membe­nar­kan tindakannya, tapi rasanya tak ada satu agama pun yang mem­be­nar­kan penganiayaan dan pembunuhan terhadap penganut agama lain.

Orang yang meyakini kebenaran agamanya, tentu tidak akan mera­sa terhalang untuk bersaudara dengan orang yang beragama lain, se­bab hubungan antaramanusia justru akan terasa lebih indah ma­nakala di sana tercermin adanya kebedaan.

Artinya, kebedaan –yang menjadi fitrah umat bumi– itulah yang membuat manusia harus saling ber­hubungan untuk menemukan per­sa­­maan. Dan, dengan cara ini kerukunan bisa dirangkai dan diresapi di tengah maraknya individualisme yang membelenggu setiap orang.

Kerukunan. Itu, inti persoalan yang mengemuka belakangan ini. Sa­ya heran, megapa orang sesuku dan seagama –apalagi beda suku dan beda agama– bisa baku bunuh. Padahal, sudah berabad‑abad kita hi­dup dalam suasana yang tenang dan bersama‑sama menciptakan keru­kunan yang jadi sesuatu yang khas dalam kehidupan bangsa.

Kini, mari tengok ke Jawa Timur. Pernah suatu ketika beberapa orang dengan beringasnya membantai orang-orang yang mereka anggap sebagi juru santet. Drama ini seolah mengulang insiden beberapa waktu lalu, ketika sejumlah guru ngaji juga dihabisi dengan tudingan yang sama.

Pada kesempatan lain, kita menyaksikan bagaimana para pe­muda Ansor yang tergabung dalam Banser (Barisan Serba Guna — NU) men­jaga dan turut mengamankan sejumlah gereja pada suatu perayaan Natal. Tapi tengok pula kompleks Yayasan Doulos di Cipayung, Jakarta yang pernah dio­brak-abrik dengan alasan jadi pusat pemurtadan (bagi warga muslim sekitar).

Kita juga menyaksikan, para pemuda PMKRI (Perhimpunan Mahasis­wa Katolik Republik Indonesia) menjaga mesjid-mesjid ketika kota Ku­pang terbakar kerusuhan beberapa waktu lalu. Tapi simaklah Ambon yang pernah terbelah jadi dua kabilah –Muslim dan Nasrani– yang saling serang dan baku bunuh, tanpa ada satu pun pihak yang berhasil meredamnya sampai padam betul.

Kerukunan yang telah lama terjalin, dan di beberapa tempat su­dah begitu sublim dalam kehidupan warga, mulai dirusak. Padahal, ba­­rang siapa membuat kerusakan dan mengganggu ketentraman orang la­in, sesungguhnya dia telah mengkhianati ajaran agama yang demikian mu­lia dan begitu menaruh tinggi-tinggi martabat serta kehormatan ma­nusiawi setiap manusia.

Kerukunan. Rupanya, inilah yang jadi pekerjaan rumah kita bersama. Saya langsung teringat undangan dari pengurus kampung ketika saya tinggal di Banjarmasin. Isinya, membahas Rukun Kematian. Mak­sud­nya, tentu saja bukan untuk bikin rukun orang-orang yang sudah mati. Tapi dengan kerukunan bersama mengupayakan car mengatasi masalah jika ada warga yang tertimpa musibah, kematian.

Bagi saya, ini penting sekali. Sebab kematian adalah satu di an­­­tara tiga titik babakan manusia di alam dunia. Titik pertama adalah natus alias natal atawa lahir, yang merupakan awal kehidupan manusiawi di titik kedua, yakni hidup di alam dzahir. Titik ketiga adalah mati sebagai akhir hidup.

Lihat, di sana ada lahir, ada akhir. Di antara lahir dan akhir ada kehidupan. Kematian alias akhir hidup, adalah awal dari kehi­dupan tanpa akhir. Persoalannya, apa sih yang sudah kita lakukan da­lam hidup itu yang sunguh-sungguh bisa jadi bekal kita pada ke­hidupan yang tanpa akhir (kekal) itu nanti jika kehidupan tak kekal cuma diisi dengan ketakrukunan? ***

Bandung, 16012000 

01
Mar
08

Gito Pergi, Ingat Harry

gito-rollies-pergi1.jpg

Setelah 3 Tahun Melawan

KAMIS (28/02/2008) malam datang berita, Bangun Soegito alias Gito Rollies sudah pergi. Perjuangannya melawan kanker getah bening sejak tiga tahun lalu, sudah berakhir. Inna lillahi wainna ilaihi rojiun. Segala yang berasal dari-NYA, semua kembali kepada-NYA.

Satu lagi, tokoh yang jadi ikon perkembangan musik di tanah air pergi. Sebelumnya Harry Roesli –musisi eksentik—pergi setelah bergelut dengan penyakitnya. Gito, dengan teman-temannya Uce F Tekol, Deddy Stanzah, Jimmy Manoppo, Benny Likumahuwa, dan Teungku Zulian Iskandar menggebrak panggung musik dengan The Rollies-nya.

Kiprah musik anak-anak Bandung di tahun 70- an itu tambah marak majalah Aktuil (Remy Sylado) yang khurus mengulas perkembangan musik dan “memprovokasi” kawula muda untuk melahirkan gerkan-gerakan baru di bidang musik.

Selain Rollies, saat-saat itu ada Rhapsodia (Soleh), Paramour (Djadjat Kusumahdinata - alm), dan Giant Step (Benny Soebardja) yang tak kalah garang jika tampil di panggung. Pada jalur lain, ada Bimbo yang bahkan tetap eksis hingga hari-hari ini.

Selain kelompok-kelompok itu, tentu ada tokoh-tokoh yang bergerak dengan jalurnya sendiri, seperti Harry Roesli sang legenda perkusi, kemudian ada nama-nama lain seperti Yan Hartland, Harry Sabar, Nicko-Nicke, Nikki Ukkur dan lain-lain yang marak pada peridode berikutnya.

Kepergian Gito, mengingatkan saya pada perginya Kang Harry (sapaan akrab Harry Roesli) 11 Desember 2004 yang saya tulis untuk Curah, BëBAS edisi minggu kedua Desember tahun yang sama:

Harry, Hakekat Bunyi

HARRY Roesli, adalah profesor musik yang lebih dikenal sebagai musisi bengal. Sebagian orang memandangnya sebagai pemusik paling ganjil. Ada lagi yang memujanya karena cucu pujangga besar Marah Roesli ini adalah pakar perkusi.

harryroesli.jpg

Ada yang menyebut Harry sebagai seniman komplet. Ada yang menjulukinya filsuf musik yang memperkenalkan hakekat bunyi. Bagi Harry, segala sesuatu yang (bisa) berbunyi dan dibunyikan pada dasarnya adalah musik.

Maka suara orang menyikat gigi, bunyi krupuk dikunyah, deru sepeda motor, jangkrik, gemerisik kertas, tetesan air, pompa, siulan angin, bahkan batuk, bisa disusun sebagai komposisi dan ditampilkan dalam orkestrasi yang spektakuler. Menggedor, menyentak, kadang meneror, tapi sekaligus menghibur.

Baginya, detak jantung pun adalah musik. Irama kehidupan. Tinggal kemudian, bagaimana kita memaknai dan membuatnya jadi bernilaiguna bagi orang banyak.

Bertahun lalu –teriinspirasi pengalamannya dirawat di ru­mah sakit akibat stroke– ia menyodorkan sebuah kom­posisi yang lebih tepat disebut musik jan­tung. Se­buah eksperimen yang luar bi­asa mencengangkan.

Ia menunjukkan betapa spektakuler sesungguhnya peran organ lembek-lem­bek kenyal yang tersembunyi di balik tulang iga itu. Betapa berartinya degup lembut ini bagi mahluk hidup. Sejumlah mikropon kecil yang amat sensitif di ditempelkan di bagi­an-bagian tubuhnya. Ia hubungkan ‘katoda-katoda mik­ropon’ ini dengan pe­rangkat penguat suara lalu disalurkannya ke unit-unit pengeras suara di sekeliling panggung.

Para musisi menghadapi partitur komposisi yang memandu mereka me­na­ngani alat masing-masing dan memainkannya dalam konser dengan suara jantung sebagai salah satu unsur.

Maka, jantung tidak lagi cuma degup lembut melainkan dentaman timfani yang menggelegar, menyentak, dan menggedor tidak saja mekanisme alat pendengaran, tetapi nyaris menggetarkan se­luruh jaringan tubuh. Mencekam sekaligus mencengangkan, juga menyentak dan meneror pikiran.

Orang yang menyimaknya tiba-tiba merasa sedang berada di dalam –dan jadi bagian– tubuh itu sendiri se­hingga dengan jelas mendengar gelegar irama jantung, ge­merisik darah mengaliri nadi, gemuruh udara keluar ma­suk paru-paru, dan decit licin organ-organ lembek berlemak yang saling bersinggungan menggelenyarkan ke­­hi­dupan.

Ya. Kehidupan. Dan, degup lembut jantung jadi tan­da­nya. Ber­degup berarti hidup. Berhenti, sama dengan mati. Namun karena lem­butnya, sering­kali degup itu tak disadari. Apalagi jantungnya.

Padahal kalau sa­ja kita selalu saksama meresapi de­gup lembut itu, mungkin kita tak akan membi­ar­kan hidup meng­alir sia-sia dengan berbagai perbuatan yang hanya mem­perce­pat­nya ber­henti.

Harry Roesli sangat menyadari komplikasi dan tingkat keparahan penyakit seperti yang dideritanya, namun ia menunjukkan semua itu bukan hambatan untuk terus berkarya agar hidup tetap bermakna. Tidak semata bagi diri sendiri, tapi bagi semua orang.

Karena itu, Harry tak hanya bermusik. Bagi orang yang mengaguminya sebagai kolomnis, Harry adalah penulis yang ungkapan-ungkapannya kadang sukar diduga dan melejit dari kelaziman namun menohok langsung ke sasaran sambil tetap jenaka sehingga kritik-kritiknya sukar ditepis.

“Persis seprti komposisi musiknya. Tulisannya aneh, ganjil, lucu, tapi menukik tajam dan menabrakkan kita pada realitas yang kadang menyakitkan tanpa kita merasa sakit,” kata seorang budayawan di Bandung.

Musik adalah aliran darah dan denyut nadi serta jantungnya. Menulis adalah ekspresinya yang lain sebagaimana demonstrasi, sementara mengasuh dan melayani serta menyenangkan orang lain, adalah sisi sosialnya yang sangat sulit dilupakan banyak orang.

Ketika warga kota Bandung dipusingkan para pengamen di simpang-simpang jalan, Harry justru meraih mereka, memberinya tempat berteduh, berlindung, dan belajar. Baginya, para pengamen dan para demonstran adalah sama, kelompok muda yang harus didampingi –bukan dihadapi dengan tangan besi.

Hingga kini sekitar 30.000 pengamen –baca tiga puluh ribu pengamen– yang bertebaran di berbagai kota di Jawa Barat tetap menganggap Harry sebagai bapak asuh. Bayangkan, bagaimana hari-hari itu ‘mengasuh’ anak jalanan sebanyak ini.

Boleh jadi karena ‘keganjilannya’ itu posisi uniknya di dalam dunia seni –terutama musik– Indonesia seakan tanpa padanan. Bagi Harry, musik dalam kerangka pengertian wacana estetika dengan segala trik‑trik formalitas bangunan artistiknya (bentuk komposisi, strukturisasi, harmonisasi dan sebagainya) bukanlah tujuan utama.

Dia bilang, musik hanyalah alat untuk menyampaikan seluruh pikiran dan pesan yang akan saya sampaikan. Musik –dengan demikian– hanyalah sebagian elemen saja dari seluruh karya yang bersifat tontonan. Tontonan itu harus mengandung makna lebih dari sekedar “hanya” musik.

Mungkin betul, Dieter Mack –dalam salah satu risalahnya tentang musik di Indonesia– menyamakan Harry Roesli dengan Frank Zappa. Di mata guru besar musik dari Jerman ini, Harry dan Zappa sama-sama banyak menggunakan bahasa musik “mixed media” (medium campuran).

Kritik sosial, sindiran politik, keprihatinan situasi, pesan‑pesan moral, pemutarbalikan logika, pelecehan takhayulisasi tata nilai, ukuran‑ukuran norma, guyonan ke(tidak)adilan, negasi, gugatan, cacian, humor, dan apa pun yang ingin disampaikannya akan ia luncurkan melalui ‘jalan tol’. Langsung, tanpa hambatan.

Harry telah pergi. Dan, Indonesia kehilangan (lagi) salah satu putra terbaiknya. Tokoh bernama asli Djauhar Zaharsjah Fachrudin Roesli yang lahir 10 September 1951 ini meninggal 11 Desember 2004 karena gagal jantung disertai gagal paru-paru dan ginjal.

Saat-saat sebelum ia tak sadarkan diri di tengah parawatan di RS Harapan Kita Jakarta, ia masih ‘berulah’. Dengan ujung telunjuknya yang sudah membengkak, ia menuliskan kata “Bosan” pada alat pacu jantung yang membantu mempompa agar darahnya terus mengalirkan kehidupan.

Entah itu berarti ia sudah menyerah –pasrah, tidak mampu memberontak lagi pada kehidupan– atau memang betul-betul bosan karena sekian lama tak bisa bergerak. Tubunya terbaring dengan saling-silang kabel dan selang penopang kehidupan.

“Ini kan Desember, kabel‑kabel ini kayak pohon natal saja,” ujarnya lagi melirik juntaian kabel dengan latar belakang kerlipan lampu-lampu digital perangkat elektronik penunjang rawat.

“Kalau Munir mati diracun, maka saya meracuni diri sendiri dengan makanan dan rokok,” ujarnya hanya beberapa saat sebelum ia menyerah pada sang maut. Pada saat-saat seperti itu pun, ia masih meluncurkan kritiknya, tidak saja pada dunia luar. Tapi juga pada diri sendiri, dengan tujuan mengingatkan orang lain.

Itulah Harry Roesli. ***

Bandung, 141204

27
Feb
08

Yerusalem 2000

rami1s.jpg

VERA sengaja dipilih untuk tampil solo membawakan in­tro seka­ligus kemudian sebagai lead vocal, dan solo pada chorus, tentu de­ngan beberapa alasan. Pertama, tentu vokalnya yang tipis dan ta­­jam bagai pedang akan cocok un­tuk ‘menjeritkan’ dramatika derita kor­ban-korban perang. Kedua, wajahnya yang cantik dengan hidung ba­ngir –mirip wa­jah khas Timur Tengah– dan resam tubuhnya yang jang­­­­kung, pas untuk membawakan lagu dengan tema inti pada konflik Timur Tengah itu.

Be­tul saja. Saya merinding ketika menyaksikan kembali tayangan Lingga Binangkit ini pada siaran televisi nasi­onal untuk menyemarakkan per­ingatan Isra Miraj. Adegan klimaks de­­­­ngan Vera (dan terutama vo­kalnya) sebagai ti­tik utama be­tul-betul menancapkan kesan yang men­dalam. Iringan Pur­watja­raka lewat orkestra ‘tunggal’nya yang nya­­ris tak kalah dengan sebuah simponi lengkap, memperkokoh ba­ngunan suasana haru-biru kemelut zona perang yang hendak dieks­­presikan.

……………..
Yerusalem,
Kota Suci Masa Silam
Yarusalem,
Seolah damai telah tiada.
Kisah panjang sebuah bangsa
terusir dari tanah-Nya,
berkelana penuh derita
entah kapan kan berakhir
……………….

Itulah nukilan dari syair yang saya gubah untuk lagu Yerusa­lem, yang no­­­­tasinya ditulis Djuhari –seorang komponis tua Ban­dung yang la­gunya pernah sangat terkenal di tahun 60-an Seuntai Manikam untuk melukiskan keindahan, kecemerlangan dan kedamaian Nusantara– dan aransemennya disusun Purwatjaraka, insinyur jebol­an ITB yang ‘tersesat’ di belantika musik.

Itu tahun 1988. Boleh jadi, saat itu Rami Al­durra dan Mohammed An‑Najjra, ba­­ru –atau bahkan belum– dilahirkan. Dan Vera, saat itu su­dah pas­­ti belum jadi nyonya Elfa Secioria.

Saya teringat kembali pe­nampilan Vera dalam Yerusalem itu, ke­tika menyaksikan tayangan te­le­visi Perancis awal Oktober. Rami –bocah 12 tahun– itu tersungkur tewas di pangkuan ayahnya yang meringkuk, beru­sa­ha berlindung dari hujan peluru. Tubuh ringkih bocah itu di­ko­yak-koyak peluru yang daitabur serdadu Yahudi di Yerusalem, (sekuen foto yang diambil dari rekaman videonya ini kemudian disiarkan secara luas oleh media cetak).

Sedangkan An‑Najjra, tewas dengan lubang di kening dan bela­kang kepalanya. Peluru tajam yang dilepas ser­dadu Israel, dengan mu­dah menembus tulang muda batok kepala anak itu di Khan Yunis, se­latan Jalur Gaza, dua minggu setelah Rami gugur dan dimakamkan lewat proses yang emosional.

Aldurra dan An-Najjra ser­­ta bocah-bocah tang­gung lainnya yang bergelimpangan itu, hanyalah sebagian di antara lebih 120 (sam­pai pekan ketiga Oktober) war­ga Palestina yang tewas ditem­baki ser­dadu Yahudi. Se­jak konflik meletus lagi menyusul provo­kasi bekas Menteri per­tahanan Israel Ariel Sharon, Yarusalem kini kem­bali diperciki darah para syu­hada.

Ya, Yerusalem. Kota Suci sepanjang masa, tonggak Mi­raj-nya Mu­­­ham­mad me­nuju Sidratul Muntaha, melanjutkan Isra dari tepi Ka­bah di bawah bimbingan Jibril. Disebut tempat suci, karena pada ti­tik –di mana kini berdiri Masjidil Aqsha– inilah, Muhammad sembahayang se­belum ‘bertolak’ menemui Sang Khalik, menyem­pur­na­kan kerasulannya.

Karena itulah, sangat bisa dipahami jika umat Islam marah ke­­­­tika Ariel Sharon ujug-ujug petantang-petenteng ke Baitul Maq­dis. Sejak beberapa lama nama Sharon yang tenggelam, kini hampir tiap ha­ri disebut-sebut lagi di media massa seluruh dunia, menyu­sul la­­­wat­annya Kamis 28 September yang menyulut amarah dan ke­mudian mem­bangkitkan kembali intifada yang berdarah-darah itu.

Sharon diberhentikan oleh Menachem Begin –ketika itu Per­da­­na Menteri Israel– dari jabatannya selaku Menteri Pertahanan ber­­kaitan dengan trgedi Sabra dan Shatila, kamp pengungsi Pa­les­tina di barat Beirut, Lebanon. Itu pun atas tekanan dunia in­terna­si­onal. Orang tak akan per­nah lupa pem­bantaian 16 Sep­tember 1982 oleh pasukan milisi Fa­langis dukungan Sharon. Se­dikitnya 300 war­ga Arab, umumnya wa­nita dan anak‑anak, tewas ber­kuah darah di barak pengungsian Sabra dan Shatila.

Sharon mengomandokan penyerbuan besar‑besaran ke Libanon Se­latan tahun 1982 dengan dalih mengusir pejuang Organisasi Pem­be­bas­an Palestina (PLO) pimpinan Yasser Arafat. Katanya sih, ins­truksi penyerbuan ini disusun secara rahasia oleh Sharon tanpa kon­­sultasi ke Knesset, parlemen Israel. Makanya –setelah korban bergelimpangan, dan dunia mengecam– kalangan anggota Knesset me­nentang keras penyerbuan ke Lebanon. Tapi akhirnya mereka toh me­nyetujui pencaplokan atas wilayah Lebanon Selatan.

Sejak Israel memproklamasikan kemerdekaannya tahun 1948, se­tidaknya tercatat empat peperangan dahsyat antara bangsa Arab dan Yahudi, yakni perang tahun 1948, 1956, 1967, dan tahun 1973. Pe­rang tahun 1967 Israel berhasil mencaplok Semenanjung Sinai dan Ja­­lur Gaza di Mesir; Jerusalem; Tepi Barat Sungai Yordan di Yor­dania; dan Dataran Tinggi Golan di Su­riah.

Sedangkan pada Perang Oktober 1973 yang bertepatan dengan Yom Kipur, Hari Suci dalam kalender Yahudi, dan Bulan Suci Ra­ma­dan bagi umat Islam, giliran bangsa Arab (Mesir) mengungguli pe­rang besar yang mereka analogikan dengan ‘Perang Badr II’ itu. Tak kurang dari 2.700 serdadu Israel tewas. Dan, Bar Lev, kawasan Me­sir di semenanjung Sinai yang dicaplok Israel tahun 1967, kem­bali ke pangkuan Mesir.

Nah, ‘keunggulan’ Arab dan ‘kekalahan’ Israel pada perang 19­67 ini­lah yang akhirnya memaksa Israel bersedia maju ke meja pe­run­dingan damai. Namun, itu pun memerlukan proses yang lama dan ber­belit –sekitar 12 tahun– sehingga baru diteken di Camp David (AS), tahun 1979. Meski, kita tahu semua, sesungguhnya Israel tak per­­nah konsisten. Akibatnya, konflik ber­darah te­rus melumuri Yerusalem serta kota-kota lain di jazirah itu.

Itu pula yang bikin gregetan pihak mana pun yang selama ini men­­junjung tinggi perdamaian dan penghormatan penuh atas hak asa­si manusia. Di antara bangsa Yahudi sendiri, banyak yang lebih cin­­­ta kerukunan hidup dengan bangsa Arab ketimbang terus-menerus baku serang. Demikian halnya di kalangan bangsa Arab. Sosok Yas­ser Arafat dan Shimon Perez bisa mewakili dua kutub yang bertemu pada titik kepentingan sama itu: perdamaian.

Semangat itu pula yang menggerakkan para tokoh politisi, aga­­­mawan, dan ilmuwan dunia, mau bergabung dalam yayasan untuk per­damaian yang diprakarsai Shimon Perez. Termasuk dalam barisan ini ada­lah KH Abdurrahman Wahid yang ketika itu sebagai cende­ki­awan Is­­lam terkemuka dari Indonesia, sekaligus pemimpin jutaan Nah­dliyin.

Namun di Indonesia, situasinya bisa lain lagi. Kedudukan Gus Dur pada yayasan itu belakangan dipersoalkan, malah dijadikan amu­­nisi untuk mem­be­rondong kedudukannya pada kursi presiden. De­ngan mengambil mo­men­tum kebiadaban Israel atas bangsa Palestina yang dipicu insi­den di Yerusalem, orang mendesaknya untuk keluar dari yayasan itu se­bagai pernyataan sikap keberpihakan Indonesia kepada pen­de­ri­ta­an rakyat Palestina.

Orang lupa, bahwa yayasan itu didirikan dengan tujuan meng­galang upaya-upaya perdamaian. Keluar dari organisasi itu, atau bahkan membubarkan sekaligus lembaga tersebut, tidaklah menjamin bang­sa Palestina akan bebas dari penindasan Israel.

Begitu pun, ji­ka ditakdirkan Palestina memenangkan perti­kai­an ini atas dukungan dan keberpihakan negara-negara lain, tak ada yang bisa menjamin bangsa Israel bebas dari pe­nindasan bangsa Arab, atau bahkan mungkin upaya pe­mu­nahan –karena di­anggap jadi biangkerok kekacauan– sebagaimana per­nah dilakukan re­­zim Hitler da­hulu akan terulang lagi.

Jika ini yang terjadi, maka keadaan akan te­rus demikian, se­bab hidup tidak lagi dilandasi cinta kasih se­jati sebagai sesama mah­­luk cipataan Tuhan. Perdamaian tak akan pernah terwujud selama hu­bungan antarumat manusia dilandasi kebencian dan balas dendam, seperti yang tengah terus berkecamuk di Palestina-Israel.

Di Tepi Barat, menjerit ribuan umat.
Siksa ganas membara di sepanjang Jalur Gazza
eperti Sabra dan Shatila, saat insan lupa sesama
Hidup dalam dendam membara,
antara darah darah dan ama­rah.

Yerusalem……,
Yerusalem……,
Yerusalem……!

(Nukilan –refrein– syair Yerusalem - 1988)

Bandung, 25 Oktober 2000

10
Feb
08

Musik Bawah Tanah

undergrounded.jpg
ORANG boleh saja bilang, tahun 2003 milik Inul Daratista. Bintang dari Jawa Timur itu mendadak melesat dari panggung-panggung kampung langsung ke puncak.

Yang lain, mungkin menganggap Project Pop sebagai ikon baru yang juga melejit. Kelompok ini dianggap memberikan warna baru dalam pentas musik dan hiburan di bumi pertiwi.
“Tidak lah. Inul itu fenomena biasa. Project Pop juga sama,” kata sepupu saya, seorang mahasiswa. Dia bilang, Inul dan pesohor-pesohor baru yang muncul belakangan ini lebih merupakan simbol keberhasilan bisnis dan industri musik. Bukan fenomena musiknya an-sich.
Jelas sekali, kata dia, media memegang peran besar dan sangat menentukan. Malah, boleh dikata mereka dijadikan bintang oleh media, bukan sebaliknya. “Bagi saya, Koil yang pantas dicatat sebagai ikon musik tanah air yang bisa menerobos manca negara,” katanya serius.
Koil?
Benda atau mahluk apa itu.
Saya baru pertama kali mendengarnya ya dari dia. Tapi dia bilang Koil itu sudah menerobos komunitas manca negara, terutama komunitas underground. Nah, apa pula ini? Koil, terus underground alias di bawah tanah?
Pusing saya. Jaka sembung bawa golok, alias “Nggak nyambung, goblok!” kata anak-anak sekarang. Tampaknya begitu. Kalau gurp musik semacam Padi, Gigi, Slank, Cokelat, dan sejenisnya masih lah sesekali dengar beritanya. Lha, Koil?
Mungkin saya termasuk di antara yang tertinggal dalam hal informasi dunia musik karena tidak intens mengikuti perkembangannya. “Om orang mana sih? Kalau ngaku orang Bandung terus tak tahu Koil, malu-maluin, tahu!” kata sepupu saya itu sambil menyodorkan Time, majalah paling berpengaruh di dunia itu.
Pada terbitan 23 Juni 2003, Time menyediakan halaman khusus untuk mengulas ‘perilaku musik’ sekelompok anak muda Bandung itu. Terus terang saya agak jengah. Sehari-hari bekerja di media, kok sampai luput mencermati Time edisi tersebut. Padahal tiap terbitan nyaris tak pernah terlewatkan.
Nah, laporan panjang –seperti ketika Time menurunkan Inul yang meledakkan kontroversi– itu menyebut bahwa Koil telah menerobos keberadaan musik yang telah membumi di Indonesia. Ia juga berhasil menembus oleh komunitas musik dunia (tentu saja komunitas musik bawah tanah).
Melalui seorang rekan yang sudah lama mengikuti gerak gerik perilaku musik anak-anak muda itu saya memperoleh gambaran ternyata Koil bukan band kemarin sore.
Setidaknya mereka telah eksis sejak sepuluh tahun lalu di Bandung. Setelah MTV (televisi khusus musik itu lho) kerap menayangkan video klip Mendekati Surga, karier mereka mulai berubah.
Hebatnya, kata teman saya itu, request (permintaan) pemirsa terhadap MTV agar menyiarkan Koil pernah melebihi Linkin Park — band alternatif yang mendunia.
Kini Koil dikenal di seluruh pelosok negeri, terutama tentu saja dikalangan penggemarnya. Kaset mereka diserbu orang, tawaran manggung di berbagai acara membludak. Namanya semakin melejit ketika majalah Time mengupas kehebatan grup underground ini.
“Ah, kita tidak sebesar itu. Kita besar di keluarga musik yang ekstrem. Sepuluh tahun hidup seperti ini. Ya mungkin cara kami survive itu yang dilihat Time,” kata Otong, salah seorang dari mereka.
Waktu mencetuskan ide untuk membuat band, Otong yang tidak bisa bermain instrumen musik, sempat ditertawakan habis-habisan oleh kawan-kawannya. Tak seorang pun percaya bahwa saat itu Otong serius. Termasuk adiknya sendiri, Doni, yang akhirnya rela bermain gitar guna mendukung ambisi sang kakak.
Awal 1990-an, Otong dan Doni mengajak tiga kawannya membentuk sebuah grup band. Sebagaimana grup anak-anak muda, mereka pun tak lama bersatru. Bubar. Barulah ketika tahun 1993 bertemu dengan beberapa orang yang satu hati, bendera Koil mulai dikibarkan.
Tahun 1994 mereka merilis album mini berisi empat lagu yang berjudul Demo From Nowhere. Album ini terjual 500 keping. Kemudian Koil bergulir dari konser kecil satu ke konser kecil lain di Bandung atau Jakarta.
Publik mainstream agaknya cepat lupa bahwa dulu sempat ada band bernama Koil. Baru, pada tahun 2001 mereka terhenyak, ternyata di Bandung ada grup band yang menjadi ikon musik underground. Label rekaman mereka Apocalypse Records merilis album bertitel Megaloblast.
Album ini mendapat respon besar dari publik underground lokal, dan terjual mencapai 15.000 keping. Puncak sukses mereka terjadi ketika Megaloblast terjual 30.000 keping.
Jumlah tersebut bisa jadi sangat kecil untuk ukuran industri musik.
Tapi buat band underground, ini jumlah yang luar biasa. Pasarnya bukan hanya di dalam negeri, melainkan juga ke luar negeri dengan cara pemasaran lewat internet.
“Dulu itu belum tren website. Kita sudah punya alamat website, www. koil.tv. Mungkin kita juga yang pertama, grup band yang punya website,” tutur Otong.
Lalu siapa mereka? JA Verdijantoro yang biasa dipanggil Otong, vokalisnya lahir di Bandung, 24 Juni 1988, punya hobi melakukan berbagai eksperimen musik. Lalu Donnyantoro, kelahiran 3 Agustus 1974 adalah sarjana Sastra yang menguasai alat-alat musik ’sulit’ seperti harpa dan biola.
Barikutnya Legoh Leon Ray (Leon), juga kelahiran Bandung, 14 April 1974. Sarjana hukum yang hobi melukis ini menguasai digital programing. Lantas Ibrahim Nasution, kelahiran Bandunr 16 Maret 1972. Sarjana akuntansi ini justru sedang merintis karir di bidang agrobisnis, di samping tentu saja menekuni musiknya.
Sehari-hari, kawanan ‘bawah tanah’ ini mangkal di sebuah rumah di kawasan Dago Bandung. Istimewanya, rumah itu dijadikan tempat bisnis. Di situ ada warnet, game station, distribution outlet (distro), dan kedai makanan dengan Leon sebagai koki sekaligus pengelola. Rupanya, drumer bertubuh tambun ini pintar masak.
Nah, dari penuturan teman itu saya mendapat kesan mendalam tentang Koil. Bahwa segala sesuatu akan memberikan makna jika ditekuni secara konsisten dan sepenuh hati, alias tidak tanggungtanggung.
Kelompok itu juga menunjukkan, asal disertai kesungguhan dan totalitas, manusia bisa bebas dan mengasilkan sesuatu yang bermakna, kapan dan di mana pun dia bergerak.
Juga di bawah tanah. (ë)
Bandung, 221203
08
Feb
08

Amplop

DERING telepon menyentak. Tengah malam baru saja lewat. Suara perempuan, kelu, terdengar di seberang, “Kaget, ya. Saya lagi mabuk. Hihihi. Terlalu banyak minum Chivas. Sialan. Kami sama-sama teler berat. Dia keburu lunglai. Ngorok tuh, di sofa,” katanya. Lalu terkekeh lagi. Agak terengah.

amplopgrey.jpg

Dia adalah Nadya –sebut sajalah namanya begitu– satu di antara sekian banyak orang yang semula coba-coba jadi wartawan, namun kemudian banting stir.

Hanya bertahan dua tahun sebagai wartawan, ia kemudian memutuskan ganti profesi setelah bibirnya robek dan giginya rompal. Sepeda motornya mencium pohon, dan ia terlontar, mukanya menyodok tunggul pohon di tepi hutan. Saat itu ia baru tiga bulan jadi wartawan dan ditempatkan di sebuah daerah di Sumatera.

Sejak itulah ia putus hubungan dengan dunia pers. “Terlalu berat. Saya tak cocok jadi wartawan,” kata sarjana fisika ini saat mengajukan pengunduran diri. Dan, tengah malam itu, ia menelpon dari kamar hotelnya di kawasan lampu merah Patpong, Bangkok. Entah dari mana ia memperoleh nomor telepon mess tempat saya tinggal di Kupang.

“Kan, saya bekas wartawan,” katanya kembali terkikik ketika saya tanya dari mana dia tahu nomor telepon saya. Dan, ia pun berceloteh tentang aneka pekerjaan yang sudah dicobanya –termasuk menjual asuransi– dan mengaku enjoy dengan kehidupannya kini. Ia menelepon di tengah liburan bersama rekan kumpul kebonya, seorang bule yang ditemukan (atau menemukan)-nya di Jakarta.

Saya langsung teringat sepucuk amplop yang sebulan sebelumnya tergeletak di celah di bawah pintu. Dikirim dari sebuah kecamatan di Kabupaten Sengkang. Surat itu dari –juga– ‘bekas’ wartawan yang kami rekrut di Bandung di akhir 1989, setahun kemudian keluar dan berdinas sebagai pegawai negeri pedalaman Sulawesi.

“Saya sudah berani pegang kebo dan menyuntiknya,” tulis dokter hewan yang pernah kesasar jadi wartawati, dan pernah menangis sesenggukan ketika pulang meliput lokalisasi pelacuran itu. Seperti Nadya, rekan satu ini juga merasa jurnalistik bukanlah dunianya.

Banyak orang yang ‘kesasar’ dan kemudian kepalang tanggung hidup di dunia pers, sebab memang pers termasuk wadah yang sangat terbuka menampung orang dengan aneka disiplin.

Banyak pula yang semula menganggap pers sebagai bidang kerja paling cocok, ternyata memutuskan sebaliknya. Karena ternyata menjadi wartawan yang profesional bukan saja sulit, tapi lingkungan industri bisnis persnya pun tampak tak terlalu siap.

Kini, ketika era keterbukaan terkuak lebar, bahkan setiap orang bisa jadi wartawan. Orang tanpa pengetahuan dan pengalaman jurnalistik pun malah bisa mendadak jadi pemimin redaksi. Padahal, menurut pengalaman saya sekitar 10 tahun terlibat dalam rekrutmen wartawan, mencari wartawan itu susah betul.

Jurnalis adalah profesi terbuka tapi tak semua orang bisa layak memikul tanggungjawab berkarya di dalamnya. Di beberapa tempat, kami bahkan terpaksa menurunkan kualifikasi dan bobot seleksi dan pelatihan, karena sulitnya mencari sumber daya manusia. Pelamar memang bejibun, tapi yang memenuhi kualifikasi standar, amatlah sedikit.

Pada kesempatan lain, pernah kami (saya dan tim) menguji lebih dari 200 pelamar (dari 400-an yang lolos seleksi awal), dan hanya menghasilkan 11 dari 15 yang dibutuhkan. Itu pun, yang bertahan hingga kini –empat tahun kemudian– hanya tinggal tujuh orang saja. Tapi, jumlah wartawan toh terus bertambah. Demikian pula jumlah penerbitannya. Begitu pula jumlah organisasi persnya.

Boleh jadi, hari pers kini ‘dirayakan’ oleh lebih banyak lagi insan pers dan oleh lebih dari 40 organisasi wartawan, setelah puluhan tahun didominasi satu-satunya organisasi wartawan yang telanjur pernah membiarkan diri dikooptasi penguasa. Bahkan, di beberapa daerah ada pengurusnya yang merasa dan bertingkah tak jauh berbeda dengan birokrat pemerintah.

Kini, jumlah wartawan pasti jauh lebih banyak lagi dengan banjirnya media. Pernah, seorang teman yang baru pulang dari Jakarta menyodorkan satu eksemplar Borneo, tabloid dari Kalteng yang dicetak di ibu kota dan saya mendapatkannya di Bandung.

Di Banjarmasin pun, muncul surat kabar baru, yakni Metro Banjar, BëBAS, Serambi Ummah dan Kalimantan Pos, di samping Banjarmasin Post, Media Masyarakat, Indonesia Merdeka, Gawi Manuntung, Gaung dan Wanyi, Mata Banua dan lain-lain, meski kehilangan Dinamika Berita.

Saya juga sempat kaget. Di tempat kelahiran saya di Jawa Barat, dulu cuma ada Bandung Pos, Gala, Mandala dan Pikiran Rakyat serta mingguan berbahasa Sunda Giwangkara (matahari) dan majalah Mangle (untaian kembang, ronce). Lalu ada satu dua tabloid eksklusif.

Sejak keran kebebasan pers dibuka, marak pula penerbitan surat kabar. Simak, yang berbentuk tabloid saja misalnya. Ada Deru, Deras, CAS, Forum Bandung, Fokus Bandung, Debat, Detail Pos, XPose, BOM, Ka’Bah, Zakaria, Hikmah, Mitra Bisnis, Cianjur Pos, Sukabumi Pos, radar Sukabumi, Bogor Pos, Radar Bogor, Puncak Pos, Gerage Pos, Cerbon Pos, Radar Cirebon, Mitra Dialog, dan majalah Mangle.

Sedangkan yang berbentuk surat kabar biasa, ada Suara Baru, Suara Publik, Galamedia, Bandung Pos, Pikiran Rakyat, Priangan Pos, Giwangkara (Sunda Post), Radar Bandung, Metro Bandung yang kemudian berubah jadi Tribun Jabar dan entah apa lagi.

Sementara di kawasan Banten –yang berhasil “memerdekakan diri” dari Jawa barat– ada Media Rakyat, Mingguan Pelopor, Banten Ekspres, Gema Banten, Banten Raya dan Banten Pos dan Fajar Banten serta Radar Banten.

Luar biasa. Di tengah serbuan koran, tabloid, dan majalah dari ibu kota, orang-orang di daerah dengan gairah besar membangun medianya sendiri. Mencoba peruntungan, atau memang didasari perhitungan bisnis yang matang, tak jadi soal.

Yang jelas, masyarakat makin diuntungkan sebab memperoleh kian banyak kesempatan memilih bacaan yang sesuai bagi dirinya dan bisa memperkaya gizi intelektualitasnya. Bersamaan dengan itu, berlangsung pula persaingan bebas –mudah-mudahan sehat– yang pada akhirnya menghasilkan media yang betul-betul cocok dengan kebutuhan rakyat.

Memang, ada di antara koran-koran dan tabloid baru itu yang masih bertahan hingga kini, tapi tak kurang pula cuma beberapa edisi, lalu tak pernah nongol lagi. Malah di Bandung ada harian yang cuma sempat terbit empat kali, setelah itu wes ewes ewes, bablas!

Ya, korannya boleh amblas, tapi wartawan –sebagai profesi yang bebas– mestinya tetap mengada dan bisa tetap berkarya untuk membuat bangsanya semakin cerdas, melalui kiprahnya sebagai freelancer.

Namun hal ini tak mudah dilakukan, sebab penghargaan para penerbit terhadap wartawan bebas (freelance) –eh jangankan wartawan freelance, yang organik pun– kadang jauh dari kelayakan.

Bahkan ada penerbit –pasti bukan di Banjarmasin– yang cuma ‘menggaji’ wartawannya dengan secarik kartu pers, dan membiarkan –kalaupun tidak menyuruh– sang wartawan mencari sendiri gajinya (kalau perlu, setor pula) dengan caranya sendiri.

Malah ada juga ‘organisasi jurnalis’ hanya sibuk tiap menjelang hari pers. Mereka ke sana ke mari menjajakan proposal hari pers, dan terus terang mengemis sumbangan. Hal yang mestinya tak mungkin terjadi di tatar Banjar ini.

Lepas dari itu semua, saya secara pribadi gembira melihat pesatnya pertumbuhan pers saat ini yang begitu cepat dan deras. Bayangkan, di Bandung, ada sebuah sebuah tabloid berita serius yang diterbitkan untuk lingkup masyarakat sebuah kecamtan.

Di Banjarmasin sendiri, tumbuh sekurang-kurangnya enam surat kabar baru. Bahkan Timika di Papua yang sunyi dan terpencil pun sebentar lagi akan disemarakkan dua surat kabar.

Makin banyak media massa diterbitkan dan didirikan, kian besar pula peluang banyak orang untuk memasuki dunia pers dan makin mempertinggi dinamika kita dalam berdemokrasi. Masyarakat yang demokratis ditandai oleh persnya yang tumbuh dan berkembang sehat karena menjadi bagian dari interaksi masyarakat itu.

Kian banyak koran, tabloid, majalah, radio dan televisi tumbuh, makin terbuka luas pula kesempatan masyarakat kita berkarya di dunia jurnalistik dan berbagai bidang kerja yang terkait dengannya. Namun, tak setiap orang yang bisa tahan dalam perjuangan menegakkan idealisme kemerdekaan berpendapat ini.

“Meski semangat saya besar untuk jadi wartawan, ternyata saya tak tahan,” begitu kata penutup pada surat yang ditulis rekan saya yang kini lebih memilih profesi mengurusi kesehatan hewan itu. Ya, apa boleh buat. Surat itu pun saya lipat lagi dan saya sisipkan ke dala amplop asalnya yang kumal.

Rupanya, di pedalaman tempat dia berdinas, cari amplop saja susah. **

Bandung, 08022000