<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>CURAH BEBAS</title>
	<atom:link href="http://curahbebas.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://curahbebas.wordpress.com</link>
	<description>Kumpulan tulisan mengenai macam-mcam hal</description>
	<pubDate>Tue, 08 Jul 2008 03:24:27 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=MU</generator>
	<language>id</language>
			<item>
		<title>Angsa Gomora</title>
		<link>http://curahbebas.wordpress.com/2008/06/15/angsa-gomora/</link>
		<comments>http://curahbebas.wordpress.com/2008/06/15/angsa-gomora/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Jun 2008 14:19:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>curahbebas</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<category><![CDATA[agama]]></category>

		<category><![CDATA[AIDS]]></category>

		<category><![CDATA[angsa]]></category>

		<category><![CDATA[ballet]]></category>

		<category><![CDATA[budaya]]></category>

		<category><![CDATA[g spot]]></category>

		<category><![CDATA[gay]]></category>

		<category><![CDATA[gomora]]></category>

		<category><![CDATA[grafenberg]]></category>

		<category><![CDATA[heteroseksual]]></category>

		<category><![CDATA[homo]]></category>

		<category><![CDATA[lesbian]]></category>

		<category><![CDATA[luth]]></category>

		<category><![CDATA[munafik]]></category>

		<category><![CDATA[sodom]]></category>

		<category><![CDATA[sodomi]]></category>

		<category><![CDATA[swan lake]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://curahbebas.wordpress.com/?p=149</guid>
		<description><![CDATA[
LAMPU-lampu benderang menyorot ke tengah panggung. Balerina belia itu menekuk tubuhnya dengan cuma bertumpu pada ujung kaki kanan. Dadanya kembung-kempis mengatur napas. Perlahan kaki kirinya menjulur ke muka sejajar dengan dua lengannya yang juga dijulurkan dengan masing-masing punggung tangan bertemu dan jari-jarinya lentik menyeruak.
Latar belakang pangggung berbentuk kipas merekah, para &#8216;angsa&#8217; pendukung berlompatan lincah, potongan-potongan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://curahbebas.files.wordpress.com/2008/06/ballet2.jpg"><img class="alignleft alignnone size-medium wp-image-153" style="float:left;" src="http://curahbebas.files.wordpress.com/2008/06/ballet2.jpg?w=275&h=300" alt="" width="275" height="300" /></a></p>
<h3 style="text-align:left;"><span style="color:#666699;"><em>LAMPU-lampu benderang menyorot ke tengah panggung. Balerina belia itu menekuk tubuhnya dengan cuma bertumpu pada ujung kaki kanan. Dadanya kembung-kempis mengatur napas. Perlahan kaki kirinya menjulur ke muka sejajar dengan dua lengannya yang juga dijulurkan dengan masing-masing punggung tangan bertemu dan jari-jarinya lentik menyeruak.</em></span></h3>
<p style="text-align:left;">Latar belakang pangggung berbentuk kipas merekah, para &#8216;angsa&#8217; pendukung berlompatan lincah, potongan-potongan kertas perak bertabur dari atas panggung, kemer lip disambari cahaya dan efek lampu kilat. Uap es kering menggelegak dari dua pojok belakang panggung.</p>
<p>Adegan terakhir <em>Danau Angsa</em> dalam konsep gabungan balet - tari modern yang kami garap dan kami tampilkan dua malam berturut-turut itu usai. Sampai waktu yang sangat lama, saya masih membayangkan keindahan cerita legendaris itu. Danau Angsa!<br />
Bayangan itu buyar.</p>
<p><em>Menghitung Hari</em>, kumpulan cerita dari balik jeruji besi, sekaligus rekaman hari-hari Arswendo Atmowiloto di dalam penjara, melontarkan saya kepada kenyataan lain di pojok remang di balik benteng bui.</p>
<p>Angsa, unggas yang selalu jadi ilham para penyair romantis itu, ternyata bisa jadi mahluk yang begitu istimewa dan bisa membuat penghuni penjara adu jotos, bahkan hingga berdarah-darah.</p>
<p>Di mata para narapidana, angsa bisa jadi lebih berharga dibanding perempuan &#8212; paling cantik sekali pun&#8211; yang tak bisa mereka sentuh. Tak usah prihatin dengan anjloknya kesetaraan gender (sebab perempuan berada di bawah nilai angsa), karena di balik terali tak ada nilai itu.</p>
<p>Yang ada, bagaimana para penghuni menyalurkan hasrat seksual. Tak berhasil mendapatkan bokong sesama napi, ya lobang angsa &#8211;jantan atawa betina, tak soal&#8211; pun jadilah.</p>
<p>Karena itu, begitu kisah Wendo dalam <em>Menghitung Hari</em>, acap kali terjadi keributan ketika para napi yang tak bisa mengendalikan hasrat bawah pusar berebut kesempatan memaksa angsa melayaninya. Koang! kuik! koang, kuik&#8230;!</p>
<p>Kasihan benar binatang itu. Tapi, tentu lebih patut dikasihani lagi manusia-manusia yang sudah tak bisa lagi membedakan antara binatang dan dirinya.</p>
<p>Situasi dan kondisi telah membuat mereka menciptakan kepribadiannya sendiri-sendiri yang tak lagi memandang kepatutan. Mereka membiarkan diri dan tubuhnya dikendalikan oleh dorongan hasrat seksual ketimbang oleh akal dan pikirannya.</p>
<p>&#8220;Kamu bisa bilang begitu karena kamu hidup di dunia normal, tak pernah merasa bagaimana rasanya dipenjara,&#8221; ujar rekan saya, seorang bekas preman yang pernah bertahun-tahun mendekam di sebuah penjara di Bandung.</p>
<p>Hal senada juga ditudingkan rekan lain, di Yogya. Kedua orang ini saya kirimi <em>Menghitung Hari</em>, mereka sangat senang dan membenarkan isinya. &#8220;Sayang, aku bukan penulis. Kalau ya, mungkin tulisanku lebih hebat dari ini!&#8221; katanya sambil mengacungkan buku itu.</p>
<p>Orang normal, yang &#8211;menurut istilah kedua rekan ini&#8211; punya hari esok, punya masa depan, mungkin bisa mengendalikan hasrat birahinya, karena esok atau lusa toh bakal ketemu istri atau bakal punya kesempatan beli &#8217;sate&#8217; di pinggiran jalan atau di hotel-hotel yang berserak di kota.</p>
<p>Tapi para narapidana tidak. Betul, bahwa mereka punya masa hukuman, punya kemungkinan untuk keluar dari bui suatu hari nanti, tapi kapan? Sesuatu bisa saja terjadi dan mereka mungkin tak sempat lagi mengenyam hari kebebasan itu.</p>
<p>Artinya, setuasi itulah yang bisa membuat sejumlah &#8211;tidak semua narapidana&#8211; menyimpangkan perilaku seksualnya. Kalau tak dengan tangan sendiri, atau memaksa rekan sejenis, ya itu tadi angsa bahkan ayam piaraan mereka di penjara pun bisa jadi objek pemuas kenikmatan sesaat. &#8220;Yang penting, asal keinginan sudah memuncak dan khayalan sudah membubung, angsa pun bisa secantik Miss Universe,&#8221; ujar rekan itu lagi sambil terkekeh.</p>
<p>Betul. Perkara seperti ini tak mungkin dilakukan lelaki normal dalam situasi normal. Tapi, ketaknormalan macam ini tak hanya terjadi di dalam bui.</p>
<p>Dalam situasi normal di luar penjara pun, ternyata ada saja kasus-kasus ketaknormalan perilaku seksual yang bahkan bisa lebih gila dari yang terjadi di dalam penjara. Perilaku ini bukan lagi sekadar gejala atau fenomena, melainkan sudah jadi realitas yang ada di sela-sela kehidupan normal umat manusia.</p>
<p>Bukankah Luth pun nyaris kehabisan cara untuk menyadarkan umatnya di negeri Sodom dan Gomora yang memiliki kebiasaan menyimpang itu? Dari sinilah &#8216;peradaban&#8217; seks sesama jenis &#8211;yang kini jadi realitas itu&#8211; diyakini bermula.</p>
<p>Ketika perempuan tertarik perempuan, dan para lelaki hanya berhasrat pada sesamanya, maka buat apalagi lembaga perkawinan dan kehidupan heteroseksual terus dipertahankan, kecuali untuk melanggengkan keturunan?</p>
<p>&#8220;Mula-mula, kita ngeri. Bahkan membayangkannya saja bisa bikin mual. Tapi ketika kau dihadapkan pada hidup atau mati &#8211;atau paling tidak, bonyok dianiaya dan ujung- ujungnya ditobong (istilah sebagian napi untuk sodomi) juga&#8211; ya mendingan pasrah saja. Lama-lama, kita terbiasa, bahkan menikmati. Malah &#8230; ketagihan,&#8221; ujar Billy Phillips &#8212; lelaki tulen dan normal&#8211; dalam The Best Men.</p>
<p>Sangat boleh jadi, teori Grafënberg bahwa ada satu lagi titik yang bisa bikin lelaki mencapai puncak, yakni sekitar satu atau dua senti di dalam lubang (maaf!) anus. Titik itu, sebenarnya kelenjar prostat yang jika mendapatkan rangsangan terus menerus bisa menghasilkan sensasi yang sama dengan orgasme.</p>
<p>Jadi, mungkin karena menemukan kenikmatan pada titik inilah, lelaki bisa sama-sama mencapai puncak dalam persekutuan tubuh dengan sesama jenis.</p>
<p>Jadi, wajar saja kalau Phillips bisa berkoar seperti di atas setelah tiga tahun mendekam di penjara. Tak perlu heran pula jika ada lelaki tak normal macam Robot Gedek yang melahapi bokong bocah-bocah dan kemudian membunuhnya.</p>
<p>Tapi, tentu saja hal-hal ini bukan lantas jadi pembenar bagi kecenderungan perilaku model itu. Kita juga tak hendak mengatakan bahwa kelakuan macam itu normal-normal saja, meski pada kacamata para penganutnya justru kita-kitalah yang tidak normal.</p>
<p>Bahwa di sebagian kota besar sudah mulai tumbuh komunitas kecil yang hanya tertarik pada sesama jenis, itulah kenyataan yang memang terjadi, sebagaimana dilaporkan macam-macam media.</p>
<p>Penyebabnya pun tentu bisa aneka ragam. Ada yang karena memang pembawaan sejak lahir, ada yang karena meng anggap hal itu sebagai gaya hidup baru, ada juga yang terbawa karena ternyata memang ketagihan.</p>
<p>&#8220;Sesat! Itu bertentangan dengan agama dan budaya kita,&#8221; ujar seorang rekan saya, seorang santri. Persis! Komentar macam itu pula yang meluncur dari rekan saya yang satu lagi. Ia lupa bahwa ada saja unsur budaya kita &#8211;di Jawa misalnya&#8211; yang melegalkan pergemblakan, macam selir (tapi lelaki) bagi pria yang jadi tokoh utama kesenian rakyat.</p>
<p>Betul, memang. Kalau ditatap dari kacamata agama, apa pun bisa salah kecuali firman- firman. Ibarat santri dan biarawan baca <em>Playboy</em>, ya jelas bukan jurusannya. Tapi bumi ini tak cuma dihuni para santri dan para biarawan. Di dalamnya, juga ada maling, bandit, pelacur, lesbian, gay, dan kaum moralis.</p>
<p>Ada juga &#8211;dan ini yang terbanyak&#8211; kaum munafik yang bunyi mulutnya lain dengan suara hatinya. Misalnya, mereka yang mencaci dan melecehkan<em> Penthouse</em>, tapi diam-diam melahapnya di kamar, sendirian.</p>
<p>Jadi, saya bilang sama dua teman tadi. Tak perlu susah-susah menilai dan mengukurnya dari kacamata agama dan budaya. Terlalu rumit, dan pasti tak akan sampai pada titik temu. Kalau perilaku normal saja bisa memberi risiko, apalagi perilaku tak normal. Risikonya pasti jauh lebih besar.</p>
<p>Jauh-jauh hari isyarat itu sudah muncul dari Negeri Sodom dan Gomora ketika bumi terbelah dan para gay serta perempuan-peremuan lesbi ditelan hidup-hidup oleh tanah yang merekah dan mendadak menutup lagi: Kepunahan!</p>
<p>Kini, ancaman kepunahan itu tidak dari bumi yang mendadak rekah yang bisa menelan apa dan siapa saja, tapi dari dalam tubuh mereka sendiri. Ancaman itu bernama sindrom runtuhnya daya tahan tubuh alias AIDS (aquired Immunodeffisiency syndrome) yang menyeret para penderitanya ke jurang kepunahan dengan perlahan dan sangat menyakitkan.</p>
<p>Namanya manusia, meski ancaman ini sudah menampilkan bukti-bukti nyata lewat berbagai kasus, perilaku seksual menyimpang tetap saja terjadi.</p>
<p>Padahal sih, kalau hidup lurus saja bisa memberi kenikmatan berlimpah dalam berbagai hal asal kita menikmati dan menghayati setiap denyutnya, mengapa mesti simpang kiri dan serong kanan lagi.</p>
<p>&#8220;Kalau nggak begitu, bukan manusia,&#8221; kata teman saya yang lain. Betul juga. Hanya manusia yang bisa menjadikan angsa sebagai pemuas. Angsa bahkan kuda pun tidak bisa begitu pada manusia.</p>
<p>Pantas saja bumi Sodom dan Gomora merekah dan menghisap para penghuninya.</p>
<p>Hiyyyy&#8230;.! ***</p>
<p style="text-align:right;"><strong><span style="color:#00ccff;">Cempaka, 230400</span></strong></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/curahbebas.wordpress.com/149/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/curahbebas.wordpress.com/149/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/curahbebas.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/curahbebas.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/curahbebas.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/curahbebas.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/curahbebas.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/curahbebas.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/curahbebas.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/curahbebas.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/curahbebas.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/curahbebas.wordpress.com/149/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=curahbebas.wordpress.com&blog=1829565&post=149&subd=curahbebas&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://curahbebas.wordpress.com/2008/06/15/angsa-gomora/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/curahbebas-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">curahbebas</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://curahbebas.files.wordpress.com/2008/06/ballet2.jpg?w=275" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Sindrom Mei</title>
		<link>http://curahbebas.wordpress.com/2008/05/13/sindrom-mei/</link>
		<comments>http://curahbebas.wordpress.com/2008/05/13/sindrom-mei/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 May 2008 10:04:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>curahbebas</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<category><![CDATA[12 mei]]></category>

		<category><![CDATA[13 mei]]></category>

		<category><![CDATA[17 mei]]></category>

		<category><![CDATA[2 mei]]></category>

		<category><![CDATA[20 mei]]></category>

		<category><![CDATA[27 mei]]></category>

		<category><![CDATA[kampus]]></category>

		<category><![CDATA[makassar]]></category>

		<category><![CDATA[militer]]></category>

		<category><![CDATA[polisi]]></category>

		<category><![CDATA[politik]]></category>

		<category><![CDATA[UMY]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://curahbebas.wordpress.com/?p=147</guid>
		<description><![CDATA[
KATA seorang teman, Mei adalah bulan gejolak. Lantas ia menyebutkan tanggal-tanggal pada bulan itu yang menorehkan sejarah. Mulai dari 2 Mei yang kemudian dikenang sebagai hari pendidikan nasional, 20 Mei dianggap sebagai titik mula bangkitnya bangsa ini untuk melepaskan diri dari belenggu kolonial.
&#8220;Di Banjarmasin, 17 Mei adalah salah satu tonggak sejarah perjuangan yagn tak bisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><h3><span style="font-family:Arial;"><span style="font-family:Arial;"><span style="color:#ff9900;"><a href="http://curahbebas.files.wordpress.com/2008/05/unjukrasa-di-jakarta.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-148" style="float:left;" src="http://curahbebas.files.wordpress.com/2008/05/unjukrasa-di-jakarta.jpg?w=250&h=570" alt="" width="250" height="570" /></a></span></span></span></h3>
<h3 style="text-align:left;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-family:Arial;"><span style="color:#ff9900;">KATA seorang teman, Mei adalah bulan gejolak. Lantas ia menyebutkan tanggal-tanggal pada bulan itu yang menorehkan sejarah. Mulai dari 2 Mei yang kemudian dikenang sebagai hari pendidikan nasional, 20 Mei dianggap sebagai titik mula bangkitnya bangsa ini untuk melepaskan diri dari belenggu kolonial.</span></span></span></h3>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;"><span style="font-family:Arial;">&#8220;Di Banjarmasin, 17 Mei adalah salah satu tonggak sejarah perjuangan yagn tak bisa dilupakan. Makanya tanggal itu diabadikan sebagai nama stadion,&#8221; kata teman lain, seorang pengurus klub sepak bola setempat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;"><span style="font-family:Arial;">Lalu, 23 Mei 1997. Lebih dari 130 orang tewas dalam amuk massa yang mencabik Banjarmasin dan menorehkan luka sosial yang sangat dalam. Sudah tujuh tahun berlalu. Namun upaya penuntasannya tak pernah begitu jelas hingga kini. Siapa yang sesungguhnya bertanggungjawab, bagaimana hak-hak para korban dan para keluarganya diperjuangkan dan dikembalikan, dan sebagainya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;"><span style="font-family:Arial;">Adalah hari ke 12 bulan Mei ( 1998 ) pula aparat menembak mati empat mahasisiwa di Jakarta. Hingga kini, kasusnya pun seperti dibiarkan tenggelam dimakan waktu. Tanggal 21 Mei 1998 - Soeharto mundur. Enam tahun kemudian, putrinya maju sebagai calon presiden!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;"><span style="font-family:Arial;">Tahun 2004, Mei baru saja membuka hari pertamanya ketika tiba-tiba meletus insiden di Makassar yang sangat boleh jadi merupakan peristiwa paling brutal dalam era reformasi setengah hati ini. Polisi menyerbu kampus, mengobral peluru, dan menganiaya para mahasiswa, bahkan juga dosen.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;"><span style="font-family:Arial;">Paradoks dan ironis. Di tengah berkembangnya semangat mengembalikan militer ke baraknya &#8211;bukan ke panggung politik&#8211; justru meletus bentrokan yang dengan jelas menunjukkan bagaimana militerisme dipraktekkan secara membabibuta oleh aparat sipil.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;"><span style="font-family:Arial;">Kalaulah betul kekerasan aparat terhadap sipil, pengungkungan dan pemukulan mahasiswa, penculikan aktivis pro demokrasi, pembungkaman dan penyiksaan aktivis buruh di masa silam dianggap bentuk militerisme, lalu apa bedanya dengan penyerangan kampus dan penembakan civitas akademika Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu 1 Mei lalu itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;"><span style="font-family:Arial;">Adalah aksi Front Perlawanan terhadap Militer yang kemudian didukung mahasiswa UMI dan dari kampus lainnya di Makassar berakhir penyerbuan dan &#8216;perang&#8217; yang dikobarkan kepolisian. </span><span style="font-family:Arial;">Aparatur negara, yang seharusnya melindungi rakyat, justru menggunakan bedil negara melukai rakyatnya sendiri. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;"><span style="font-family:Arial;">Mungkin insiden ini merupakan dampak melonggarnya ketaatan personel terhadap disiplin dan tata tertib kesatuannya. Juga merupakan penyelewengan kekuasaan, dan bentuk baru pelanggaran hak asasi manusia (HAM). </span><span style="font-family:Arial;">Perspektif HAM menyebut, kalau sipil berbuat tindak kriminal, termasuk menyerang aparat, itu adalah pidana murni. Dan dijerat UU Pidana. Paling jauh makar. Tapi jika aparatur menindas rakyat sipil, inilah pelanggaran HAM. Kasusnya jadi lain dan menggelembung.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;"><span style="font-family:Arial;">Memang betul, mahasiswa over acting menyandera polisi. Memang ya, mahasiswa si penyandera itu harus disidik, bila perlu ditindak karena telah mengganggu hak hidup orang lain. Namun menyerang kampus dan menembaki mahasiswa beserta civitas<span> </span>akademika UMI bukanlah cara terbaik. Kan masih ada sore, malam, atau esok untuk negosiasi. <span style="font-family:Arial;">Rasanya tak mungkin mahasiswa kita membunuh polisi yang disanderanya. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;"><span style="font-family:Arial;">Kecerobohan ini tentu saja mencoreng citra polisi yang sudah lepas dari militer. Penyerangan kampus yang sebenarnya menjadi teritorial Resimen Mahasiswa itu, benar-benar menandakan aparatur kita buta membedakan musuh dengan rakyat. Mahasiswa kok seperti dianggap lebih jahat dari separatis GAM atau RMS.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;"><span style="font-family:Arial;">Di saat Polri gencar mengumandangkan paradigma baru sebagai pelindung warga sipil, pengayom dan pelayan masyarakat, meletup peristiwa yang sangat tidak mencerminkan ciri-ciri paradigma sang pengayom, dan pelayan rakyat itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;"><span style="font-family:Arial;">Mungkin betul tindakan tegas mencopot Kapolda Sulsel, setelah penon-aktifan Kapolwiltabes, Kapolres dan Kapolsek, memang menyakitkan. Namun bila tujuannya demi cipil empowerment, mengapa tidak. Hitung-hitung sekalian bahan pelajaran bagi yang lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;"><span style="font-family:Arial;">Namun ada juga yang curiga, persoalan tersebut diseret lebih jauh ke dalam wilayah politik, terkait &#8211;langsung maupun tidak langsung&#8211; dengan pra-kondisi menjelang pemilihan presiden Juli mendatang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;"><span style="font-family:Arial;">Contohnya saat Kapolri Jendral Pol Da&#8217;i Bachtiar mengumumkan penonaktifan Kapolda Sulsel, Irjen Pol Jusuf Manggabarani. Da&#8217;i menyebutkan, penonaktifan itu sesuai dengan permintaan Presiden Megawati Soekarnoputri. Selain itu, Da&#8217;i bilang, Ibu Presiden meminta maaf dan menyatakan keprihatinan kepada mahasiswa dan pimpinan UMI.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;"><span style="font-family:Arial;">Bila melihat pernyataan itu, jelas terlihat inisiatif pencopotan itu bukanlah dari Kapolri, melainkan datang dari presiden. Sesuatu hal yang jarang, tak biasa, dilakukan Megawati sebagai Presiden. Saat Ambon kembali membara, Megawati tak mengeluarkan pernyataan apapun, kecuali menyuruh anaknya, Puan Maharani, datang ke sana.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;"><span style="font-family:Arial;">Namun begitu konstelasi politik nasional berubah, terutama soal posisi calon wakil presiden yang kian membingungkan itu, Megawati &#8211;via Kapolri&#8211; segera bersuara. Bisa saja hal tersebut sebagai upaya meraih simpati rakyat dan mengubah citra &#8216;kurang tegasnya&#8217;.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;"><span style="font-family:Arial;">Selain itu, cermati pula suara yang dilontarkan mahasiswa, LSM, ormas, parpol, dan elemen masyarakat lainnya. Di tengah suara keprihatinan dan desakan agar Kapolri juga mengundurkan diri, ada pula tuntutan penolakan terhadap calon presiden dari kalangan mantan militer.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;"><span style="font-family:Arial;">Suara semacam itu hampir seragam terdengar di berbagai kota. Mereka mengkhawatirkan, bila capres mantan militer tampil memimpin negeri ribuan pulau ini, dikhawatirkan membangkitkan kembali militerisme di Indonesia. Bila aksi solidaritas mahasiswa kian meluas, dan bersatu dengan kekuatan elemen lain, bisa jadi akan tercipta atmosfer yang mendukung lahirnya sebuah momentum gerakan besar untuk perubahan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;"><span style="font-family:Arial;">Dari semua gejala itu, tentu yang lebih dikhawatirkan dan harus diwaspadai, adalah adanya pihak-pihak tertentu yang &#8216;bermain&#8217; dan memanfaatkan situasi panas ini. Dan itu bukan hal yang mustahil. Di negeri yang hukumnya tak berdiri tegak, sebuah kerusuhan,<span> </span>amuk massa, bisa dipicu oleh persoalan sepele, seperti halnya kerusuhan Ambon yang dipicu pemerasan terhadap seorang sopir angkot oleh preman.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;"><span style="font-family:Arial;">Karena hukum tak pernah betul-betul ditegakkan, insiden seperti itu berulang dan terus berulang. Yang terjadi, terjadilah, biarkan waktu menguburnya, dan kalau perlu menghapuskannya dari ingatan kolektif masyarakat.</span></p>
<p style="text-align:left;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;">Contohnya, insiden 23 Mei 1997. Insden 12-13 Mei 1998. Sebentar lagi insiden 1 Mei di Makassar pun dilupakan. Apalagi orang-orang kini lebih sibuk berrebut kekuasaan! ***</span><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></span></span></span></span></p>
<p style="text-align:left;"><span style="font-size:small;"><span style="color:#ffff00;"><span style="font-family:Arial;">Bandung</span><span style="font-family:Arial;">, 100504</span></span></span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/curahbebas.wordpress.com/147/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/curahbebas.wordpress.com/147/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/curahbebas.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/curahbebas.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/curahbebas.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/curahbebas.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/curahbebas.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/curahbebas.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/curahbebas.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/curahbebas.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/curahbebas.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/curahbebas.wordpress.com/147/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=curahbebas.wordpress.com&blog=1829565&post=147&subd=curahbebas&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://curahbebas.wordpress.com/2008/05/13/sindrom-mei/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/curahbebas-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">curahbebas</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://curahbebas.files.wordpress.com/2008/05/unjukrasa-di-jakarta.jpg?w=147" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Mei (Lagi)</title>
		<link>http://curahbebas.wordpress.com/2008/05/02/mei-lagi/</link>
		<comments>http://curahbebas.wordpress.com/2008/05/02/mei-lagi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 May 2008 13:23:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>curahbebas</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<category><![CDATA[Elang Mulya Lesmana]]></category>

		<category><![CDATA[hafidhin royan]]></category>

		<category><![CDATA[Hendriawan Sie]]></category>

		<category><![CDATA[Heri Hartanto]]></category>

		<category><![CDATA[peristiwa mei 1998]]></category>

		<category><![CDATA[rezim]]></category>

		<category><![CDATA[trisakti]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://curahbebas.wordpress.com/?p=144</guid>
		<description><![CDATA[
BULAN Mei sudah tiba lagi, hari-harinya merangkaki penanggalan, satu, dua, dan seterusnya sampai tanggal 12. Dan, rumah itu itu sunyi senyap. Penghuninya pergi ke Jakarta. Ya, pasangan Enus Junus dan Sunarmi menghadiri upacara peringatan 12 Mei di kampus anaknya, Universitas Trisakti.


Hafidhin Royan terlalu muda untuk mati.. Anak remaja kelahiran Bandung pada 28 September 1976, gugur [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://curahbebas.files.wordpress.com/2008/05/mei13-14-98.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-145" src="http://curahbebas.files.wordpress.com/2008/05/mei13-14-98.jpg?w=515&h=462" alt="" width="515" height="462" /></a></p>
<h3 class="MsoNormal" style="text-align:right;margin:0;"><span style="color:#33cccc;">BULAN Mei sudah tiba lagi, hari-harinya merangkaki penanggalan, satu, dua, dan seterusnya sampai tanggal 12. Dan, rumah itu itu sunyi senyap. Penghuninya pergi ke Jakarta. Ya, pasangan Enus Junus dan Sunarmi menghadiri upacara peringatan 12 Mei di kampus anaknya, Universitas Trisakti.</span></h3>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;">
<p style="text-align:right;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;"><span style="font-family:Arial;">Hafidhin Royan terlalu muda untuk mati.. Anak remaja kelahiran Bandung pada 28 September 1976, gugur di pelataran kampusnya sendiri, 13 Mei 1998. Jiwanya lepas diterbangkan peluru yang dimuntahkan aparat keamanan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;"><span style="font-family:Arial;">Rekan sealmamaternya, Elang Mulya Lesmana, Hendriawan Sie, dan Heri Hartanto, juga bertumbangan. Darah mereka tumpah. Nyawa mereka melayang mengibarkan bayang-bayang sosok kejam sebuah rezim. Minggu ( 12/5/02 ) sore, Mahasiswa Universitas Trisakti mengheningkan cipta untuk mengenang rekan-rekan mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;"><span style="font-family:Arial;">Peringatan empat tahun Tragedi Trisakti kembali digelar mahasiswa Trisakti di kampus mereka diikuti pembukaan selubung Monumen Trisakti oleh para pengajar dan orang tua empat mendiang mahasiswa di halaman kampus tersebut. Para mahasiswa menabur bunga sambil menggelar puisi dan berorasi diiringi nyanyian Gugur Bunga. Meriam bambu berdentum-dentum.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;"><span style="font-family:Arial;">Di Bandung, tempat tinggal orangtua Hafidhin Royan sunyi senyap. Di rumah inilah, keluarga itu menyimpan kenangan termanis dari anak mereka. Kamar pribadi Hafidhin di rumah di Jalan Sukagalih itu tak pernah diusik. Kamar itu dijadikan museum keluarga.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;"><span style="font-family:Arial;">Kamar itu berukuran 3×4 meter persegi, sebelumnya merupakan kamar tidur Hafidhin. Peninggalan di kamar itu bisa mencerminkan sosok dinamis penghuninya. Sebuah gitar tersandar ke dinding, ransel biru ukuran 45 liter tergelantung pada paku di atasnya, seikat edelweis sang bunga badi teronggok bisu di salah satu sudut. Tumpukan buku. Poster-poster protes. Dan, kesunyian.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;"><span style="font-family:Arial;">Ya, sepi. Sesunyi langkah rezim kini dalam menangani kasus tersebut dan kasus-kasus serupa yang beriringan silih berganti bersamaan dengan tumbangnya rezim lama dan munculnya tiga rezim berikutnya. Pantas kalau para mahasiswa marah dan menggertak akan mengadukan masalah ini ke mahkamah internasional.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;"><span style="font-family:Arial;">Prosesnya mungkin memang akan sangat panjang dan lama sebelum pengaduan itu bisa sampai ke meja mahkamah internasional. Namun, cukuplah berkasnya sampai diterima oleh mahkamah itu, sudah akan merupakan tekanan moral dan politik kepada pemerintah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;"><span style="font-family:Arial;">Mungkin memang betul, itu cuma sekadar gertakan, sebab mekanisme pengaduan ke mahkamah ini tidaklah sederhana. Apalagi negara kita belum termasuk pada deretan negara-negara yang sudah meratifikasi hak-hak sipil dan politik. Tapi langkah para mahasiswa itu bisa juga merupakan demonstrasi keputusasaan anak-anak bangsa melihat betapa lambannya rezim ini bergerak menangani proses hukum atas kasus yang menimpa rekan-rekan mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;"><span style="font-family:Arial;">Dulu, DPR pernah membentuk panitia khusus (Pansus) yang menyimpulkan terjadi ekses kekerasan sebagai akibat bentrok antara massa mahasiswa dengan aparat keamanan dalam insiden Trisakti, Semanggi I dan II. Lalu, Komnas HAM membentuk KPP HAM Trisaksi yang kemudian menyimpulkan adanya dugaan pelanggaran HAM. Komnas HAM mengirim kasus ini ke Kejaksaan Agung. <span> </span>Lalu? Beku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;"><span style="font-family:Arial;">Jika proses hukum membentur benteng baja, mungkin proses politis bisa menekan pemerintah. Tapi lagi-lagi para wakil rakyat itu pasang badan, mereka memberi perlindungan dan payung politik/hukum kepada para penembak jitu yang hanya jago mengincar ‘musuh’ tanpa senjata semacam para mahasiswa itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;"><span style="font-family:Arial;">Simak saja hasil sidang paripurna DPR yang memutuskan bahwa kasus Trisakti itu bukan pelanggaran HAM. Segera setelah itu, DPR membatalkan keputusan Pansus. Aneh? Inilah negeri antah berantah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;"><span style="font-family:Arial;">Para</span><span style="font-family:Arial;"> angota dewan yang terhormat itu lupa, bahwa mereka kini bisa duduk nyaman, bergaji besar, berfasilitas lengkap, dan warawiri studi banding itu, antara lain berkat darah dan peran para mahasiswa meledakkan reformasi. Kini, adakah para anggota dewan itu –baik yang di pusat maupun yang di daerah– ingat dan sedikit saja menaruh peduli pada para mahasiswa?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;"><span style="font-family:Arial;">Para mahasiswa di Jakarta mungkin sedikit lebih beruntung karena berada di pusat kekuasaan, sehingga gerak-gerik mereka bisa langsung menarik perhatian para penguasa. Setidaknya, lebih mudah dipublikasikan dan memancing opini. Tapi simaklah nasib rekanrekan serta saudara-saudara mereka yang senasib, jadi korban tindak kekerasan di daerah-daerah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;"><span style="font-family:Arial;">Mau contoh konkret? Warga Banjarmasin pasti masih banyak yang belum lupa pada peristiwa 23 Mei 1997, yang –jika dirunut– sebenarnya kejadian-kejadian macam itu masih saling bertaut dan berpuncak pada reformasi 21 Mei 19981. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;"><span style="font-family:Arial;">Saya tidak tahu, adakah para wakil rakyat di daerah ini –di sela hiruk-pikuk polemik Alur Barito dan Meratus– sempat mengingat bahwa masih ada urusan yang belum beres menyangkut lebih dari 130 manusia yang gosong dan hilang dipanggang api kerusuhan?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;"><span style="font-family:Arial;">Orangtua Hafidhin Royan dan ayah-ibu tiga mahasiswa lain yang gugur bersamanya, mungkin bisa disebut lebih beruntung karena banyak pihak yang masih ikut memperhatikan kasus anaknya. Tapi saya sangat yakin Pak Aswin di Banjarmasin tak pernah memperoleh sepotong pun kabar mengenai penuntasan kasus anaknya yang hilang sejak 23 Mei lima tahun lalu. Pernahkah dijenguk anggota dewan dan ditanyai perihal itu? Mimpi, kali.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;"><span style="font-family:Arial;">Jangan-jangan, memang ada peminggiran, diskriminasi, yang sistematis untuk mengubur para korban itu dari panggung ingatan sejarah. Kalau setarap DPR saja impoten menghadapi tembok-tembok tebal yang menutup dan memagari Tragedi Trisakti, apalah arti kekuatan pekerja kecil macam Pak Aswin –dan orangtua lain yang senasib dengannya– untuk menggugat atau sekadar mencari tahu tentang proses hukum mengenai kehilangan anggota keluarga mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;"><span style="font-family:Arial;">Mei sudah datang lagi dan segera berlalu bersama bergantinya hari. Rezim juga telah berganti. Tapi tak terlihat ada upaya serius untuk membuka kasus-kasus seperti itu, mengusutnya hingga tuntas dan jelas siapa yang harus bertanggungjawab secara hukum.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;"><span style="font-family:Arial;">Di lain pihak, hukum seperti apa pula yang dapat kita harapkan jika melihat rangkaian sandiwara hukum yang hari-hari ini sedang digelar dan dipancarluaskan jaringan televisi. Adegan-adegan itu hanya makin memperkukuh anggapan bahwa hukum adalah jaring laba-laba yang hanya bisa memerangkap serangga-serangga kecil.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;"><span style="font-family:Arial;">Serangga itu adalah rakyat kecil kelaparan yang terpaksa jadi maling kelas teri sekadar untuk bertahan hidup. ***</span></p>
<p><font size="3"><font face="Times New Roman"></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;"> </p>
<p></font></font></span><font size="3"></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;"> </p>
<p></font></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;"> </p>
<p><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="color:#ff0000;"><strong>Bandung, 130502</strong></span></span></span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/curahbebas.wordpress.com/144/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/curahbebas.wordpress.com/144/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/curahbebas.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/curahbebas.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/curahbebas.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/curahbebas.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/curahbebas.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/curahbebas.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/curahbebas.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/curahbebas.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/curahbebas.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/curahbebas.wordpress.com/144/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=curahbebas.wordpress.com&blog=1829565&post=144&subd=curahbebas&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://curahbebas.wordpress.com/2008/05/02/mei-lagi/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/curahbebas-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">curahbebas</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://curahbebas.files.wordpress.com/2008/05/mei13-14-98.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Mei</title>
		<link>http://curahbebas.wordpress.com/2008/05/01/mei/</link>
		<comments>http://curahbebas.wordpress.com/2008/05/01/mei/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 May 2008 15:36:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>curahbebas</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<category><![CDATA[13 mei 1988]]></category>

		<category><![CDATA[banjarmasin]]></category>

		<category><![CDATA[jakarta]]></category>

		<category><![CDATA[mei]]></category>

		<category><![CDATA[rusuh]]></category>

		<category><![CDATA[senayan]]></category>

		<category><![CDATA[yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://curahbebas.wordpress.com/?p=137</guid>
		<description><![CDATA[
ADA banyak peristiwa penting terjadi pada bulan Mei di samping Hari Pendidikan Nasional (2/5) dan Kebangkitan Nasional (20/5).
Pertama, 23 Mei 1997, ketika Banjarmasin berubah jadi &#8216;neraka politik&#8217; yang lukanya hingga kini belum tersembuhkan; Kedua, 12 Mei 1998 - ketika aparat menembak mati empat Mahasisiwa Trisakti; Ketiga, 13 Mei 1998 ketika kerusuhan meledak dan berbelok jadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://curahbebas.files.wordpress.com/2008/05/rusuh5.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-143" src="http://curahbebas.files.wordpress.com/2008/05/rusuh5.jpg?w=439&h=208" alt="" width="439" height="208" /></a></p>
<h3 style="text-align:right;"><span style="color:#ff0000;">ADA banyak peristiwa penting terjadi pada bulan Mei di samping Hari Pendidikan Nasional (2/5) dan Kebangkitan Nasional (20/5).</span></h3>
<p style="text-align:left;">Pertama, 23 Mei 1997, ketika Banjarmasin berubah jadi &#8216;neraka politik&#8217; yang lukanya hingga kini belum tersembuhkan; Kedua, 12 Mei 1998 - ketika aparat menembak mati empat Mahasisiwa Trisakti; Ketiga, 13 Mei 1998 ketika kerusuhan meledak dan berbelok jadi kerusuhan rasial paling memalukan;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;">Keempat, 20 Mei 1998 - demonstrasi mencapai puncaknya dan dua juta manusia larut dalam demo damai di Yogya, begitu juga di kota-kota lain, sementara ribuan mahasiswa menduduki MPR. Kelima, 21 Mei 1998 - Soeharto mundur dan Habibie naik, dan &#8230; begitulah, regulasi pers dilonggarkan sehingga media cetak bermunculan bak kecambah.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;">Tiap memasuki bulan Mei, saya selalu teringat kerusuhan di Banjarmasin. Saban kali mengantar anak bungsu saya main bombom car di sebelah Mitra Palaza, atau sekadar melintas di depan bangunan itu, saya selalu terusik. Kadang bahkan menggigil membayangkan horor politik itu, tiga tahun silam. Ya, 23 Mei 1977. Warga Banjar, dan siapa pun, yang punya rasa kemanusiaan, tentu tak akan melupakan tragedi itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;">Bayangkan, 70-an orang bersitumpuk, bergelung di satu sudut. masing-masing berusaha menyelamatkan nyawanya yang cuma seutas tipis itu, sementara api berkobar hebat dalam bangunan yang sesungguhnya dirancang bukan untuk tungku, tapi dibangun tanpa fasilitas penyelamatan darurat yang memadai.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;">Saya seakan mendengar pekikan, rintihan, lenguhan ketakberdayaan dari orang-orang yang tak saya kenal tapi saya yakin mereka adalah saudara saya sebangsa. Dinding-dinding masif yang kini telah dibangun lagi itu, seolah masih menyimpan gaung kepedihan mereka saat diperangkap dalam tungku raksasa yang dinyalakan tangan-tangan iblis kekuasaan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;">&#8220;Hampir sebagian besar tubuh korban ditemukan telah hangus menjadi arang sehingga yang tertinggal hanya tulang-tulang, itu pun dalam kondisi yang agak rapuh. Beberapa korban, terutama yang berada pada tumpukan paling bawah, ditemukan masih utuh beberapa bagian tubuhnya, terutama pada bagian perut dan pantat,&#8221; demikian berita yang dikirim rekan-rekan Banjarmasin Post. Ketika itu saya bertugas di Bernas.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;">Lebih dari 130 orang tewas dalam amuk massa yang mencabik Banjarmasin dan menorehkan luka sosial yang sangat dalam itu. Sudah tiga tahun berlalu. Luka itu masih menganga dan kadang terasa perih ketika mengingat upaya-upaya penuntasannya yang tak juga begitu jelas seluruhnya. Tentang siapa yang sesungguhnya bertanggungjawab, tentang bagaimana hak-hak para korban dan para keluarganya diperjuangkan dan dikembalikan, semua serba tak jelas seolah memang sengaja diserahkan kepada waktu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;">Sebagian besar mayat, tak bisa dikenali. Jasad-jasad yang sebelumnya berakal budi, bertatakrama, bercita-cita, berkeluarga,<span> </span>dan sebagainya ini, saat oitu berubah jadi onggokan-onggokan hangus atau setengah hangus yang cuma ditandai dengan nomor.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;">&#8220;Jenazah moro 81 sudah diambil. Juga jenazah nomor 45. Jenazah nomor 48 ditemukan dalam keadaan masih mengenakan kaos berbulu, jins biru muda, sabuk hitam, celana dalam merek Bontek&#8230;&#8221; dan seterusnya. Kerusuhan, telah mempersamakan mahluk berakal budi itu dengan benda-benda yang hangus bersamanya. Ia tak lagi berbeda dengan sabuk, bahkan dengan kolor merek Bontek.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;">Memasuki Bulan Mei, dengan sendiri melontarkan kembali ingatan pada 23 Mei. Mengundang kembali kepedihan sekaligus membangkitkan kemarahan menyaksikan betapa ambisi politik bisa menghalalkan segala cara termasuk membumihangus bangsa sendiri, mengorbankan rakyat yang lapar dan tak mengerti hukum sehingga mudah saja digebah untuk masuk ke pertokokan dan &#8216;menikmati&#8217; sesaat &#8211;sebelum tewas terpanggang&#8211; barang-barang yang selama ini hanya ada dalam mimpi mereka.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;">Di alam nyata, mereka tak mampu, sebab harta dan kekayaan buminya telah habis dijarah dan disedot lewat tentakel-tentakel gurita kolusi, korupsi dan nepotisme yang berpusat di satu tangan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;">Memang, ada celah-celah romantika di tengah Tragedi Mei Banjarmasin. Tak seluruhnya drama itu dihiasi dengan darah dan bau gosong daging hangus. Di sela-sela lain, satu dua orang menikmati suasana baru yang tercipta dari situasi tanpa kendali.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;">&#8220;Kalau nggak rusuh, mungkin saya nggak sempat merasakan romantika kencan di sela-sela situasi rusuh,&#8221; kata seorang rekan asal Barabai yang sempat terperangkap dalam situasi chaos. Ia terkekeh ketika menceritakan kembali kisah itu dua tahun kemudian.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;">Saya yakin, sukacita macam itu hanya muncul sebagai serpihan yang terpental dari situasi yang demikian kacau dan tak menentu. Situasi yang menjalarkan kepedihan dan keganjilan, mengapa mesti Banjarmasin? Persis seperti saat warga Tasikmalaya melolong-lolong karena kotanya dirusuh dan harta mereka dijarahi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;">Persis pula seperti yang dialami warga Kupang ketika digilas amuk massa yang sama dengan yang terjadi di Ketapang. Lalau, bagaimana pula lepedihan saudara-saudara kita di Sambas, ketika kepala-kepala orang bergelindingan di pematang dan di selokan tanpa ada yang bisa meratapi? Demikian pula saudara-saudara kita di Solo. Begitu adanya rekan-rekan kita di Ambon, dan Aceh yang bhakn hingga kini mereka masih dikoyak-koyak amuk kebencian antarsesama.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;">Ini memang penggalan terburuk dari sejarah kita bersatu dalam sebuah keluarga besar bernama bangsa. Kita tidak tahu persis, apa yang menyebabkan &#8211;bahkan hingga kini&#8211; orang demikian mudah kalap dan meluapkan amarah serta kebencian dengan cara (kalau perlu) menghabisi &#8216;lawan&#8217; hingga punah.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;">Pertanyaan-pertanyaan macam itu pula lah yang terasa yang menyeruak dari sela-sela gedung Plaza Mitra yang kini sudah kukuh kembali berdiri, bahkan kaca-kacanya sudah diganti beton, pejal dan kokoh sehingga tak mungkin dipecah &#8211;seperti kaca&#8211; jika terjadi keadaan darurat seperti dalam kerusuhan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;">Memang siapa sih yang ingin rusuh. Meski pada kenyataannya, selalu saja ada orang yang memang mendambakan situasi seperti itu agar perbuatannya bisa tersebunyi. Itu sebabnya, Glodok kembali<span> </span>terbakar 13 Mei lalu. Siapa mau? Tak seorang pun. Tapi toh, tetap terjadi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;">Kepedihan Mei tak hanya dialami warga Banjarmasin. Tahun berikutinya, pada bulan Mei pula kerusuhan yang mencabik-cabik rasa kemanusiaan manusia waras, meledak di Jakarta, mengkocarkacirkan saudara-saudara kita ke lembah mengerikan dalam sebuah horor keji yang bahkan dalam dunia binatang paling buas pun tak dikenal. Penjarahan, pemerkosaan, berlangsung dalam sebuah pesta pora kemarahan iblis tanpa hati nurani.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;">Begitu mahalkah harga yang harus dibayar untuk sebuah keruntuhan rezim lalim tanpa hati? Jika memang risiko itu yang harus terjadi, mengapa justru orang-orang yang tak ada urusan dengan politik dan kekuasaan yang selalu jadi korban paling menderita? Memang, 21 Mei 1998 Seoharto jatuh dan rezim berganti. Tapi tampaknya belum ada perubahan signifikan yang bisa memberi harapan besar kepada rakyat banyak.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;">Kita justru sedang terkaget-kaget menghirup atmosfir baru dari sebuah iklim demokrasi. Banyak di antara kita, entah itu ilmuwan, seniman, para pengamat, kaum politisi, para birokrat dan kalangan tentara, seperti sedang kehilangan orientasi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;">Bingung harus berbuat apa, sehingga akhirnya cuma saling baku lempar komentar, saling caci dan saling tuding bahwa pihak lain paling salah dan dirinya paling benar. Kalau perlu, paksa pihak lain menerima kebenaran versi dirinya dengan cara pengerahan massa, pendudukan, atau ancaman-ancaman. Beres.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;">Astaga! Saya ingin segera bangun dari mimpi buruk ini.***</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/curahbebas.wordpress.com/137/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/curahbebas.wordpress.com/137/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/curahbebas.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/curahbebas.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/curahbebas.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/curahbebas.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/curahbebas.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/curahbebas.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/curahbebas.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/curahbebas.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/curahbebas.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/curahbebas.wordpress.com/137/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=curahbebas.wordpress.com&blog=1829565&post=137&subd=curahbebas&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://curahbebas.wordpress.com/2008/05/01/mei/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/curahbebas-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">curahbebas</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://curahbebas.files.wordpress.com/2008/05/rusuh5.jpg?w=300" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Bor dan Bom</title>
		<link>http://curahbebas.wordpress.com/2008/03/26/bor-dan-bom/</link>
		<comments>http://curahbebas.wordpress.com/2008/03/26/bor-dan-bom/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Mar 2008 14:19:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>curahbebas</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<category><![CDATA[bom]]></category>

		<category><![CDATA[dangdut]]></category>

		<category><![CDATA[inul]]></category>

		<category><![CDATA[low exsplosive]]></category>

		<category><![CDATA[musik]]></category>

		<category><![CDATA[rhoma irama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://curahbebas.wordpress.com/?p=136</guid>
		<description><![CDATA[ 
PAK Haji marah besar. &#8220;Haram, lagu saya dibawakan Inul!&#8221; pekiknya berapi-api di depan kamera televisi. Ya, tampaknya Raja Dangdut Oma &#8211;yang menabahkan huruf R dan H sepulang dari Tanah Suci&#8211; Irama sangat teraganggu oleh putaran bor Inul, dan gemeletar tubuh Anisa Bahar saat berdangdut ria.

Semua orang tahulah. Gaya Inul dan Anisa tidak sekadar merunduk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p> <a href="http://curahbebas.files.wordpress.com/2008/03/bom2.jpg" title="bom2.jpg"><img src="http://curahbebas.files.wordpress.com/2008/03/bom2.jpg?w=443&h=295" alt="bom2.jpg" height="295" width="443" /></a></p>
<h3 align="left"><font color="#008080"><b><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">PAK</span></b></font><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"><font color="#008080"> Haji marah besar. &#8220;Haram, lagu saya dibawakan Inul!&#8221; pekiknya berapi-api di depan kamera televisi. Ya, tampaknya Raja Dangdut Oma &#8211;yang menabahkan huruf R dan H sepulang dari Tanah Suci&#8211; Irama sangat teraganggu oleh putaran bor Inul, dan gemeletar tubuh Anisa Bahar saat berdangdut ria.</font></span></h3>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">Semua orang tahulah. Gaya Inul dan Anisa tidak sekadar merunduk ke kiri, menengadah ke kanan, atau memutar dua tangan mirip gerakan menggulung benang layangan, seperti yang ditampilkan Pak Haji dalam klip <i>Euforia</i>. Inul dan Anisa <i>mah</i> werrrrrr!</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">Di mata Oma, eh Pak RH Oma, olah tubuh Inul yang muter bak gasing, dan getaran dada montok Anisa bahar yang seperti orang kesetrum itu amatlah mengumbar dan mengundang hasrat birahi. </span><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">Dan, memancing birahi di depan umum itu haram. Haram! Titik.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">&#8220;Penampilan mereka sudah mengarah kepada pendangkalan umat. Citra dangdut yang sudah dibangun, kembali terperosok masuk comberan,&#8221; ujar Oma yang lagu-lagunya selalu sarat dengan pesan moral dan religi.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">Maka beramai-ramailah para musisi dan para pencipta lagu mengancam mencekal Inul dan Anisa. Mereka melarang dua perempuan itu membawakan lagu-lagu ciptaan mereka. Pak Haji juga mendesak stasiun televisi untuk segera menghentikan acara-acara dangdut yang dinilai mengeksploitasi hasrat birahi.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">Dangdut memang identik dengan goyang, kata Oma, &#8220;tapi goyangan itu harus memiliki rujukan. Mau dibuat erotis atau artistik, tergantung pelakunya. Saya tidak rela lagu-lagu saya dinyanyikan mereka yang menceburkan dangdut ke dalam comberan,&#8221; kata Oma lagi.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">Dia pasti betul. Erotis atau tidak Inul, juga tergantung kacamata yang digunakan penontonnya. Kalau dari sononya sudah menggunakan kacamata nge-seks, jangankan goyang Inul, penari kuda lumping pun bisa-bisa dianalogikan dengan (maaf&#8230;!) adegan sanggama.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">Jika Pak Haji sempat menonton Duet Maut yang menampilkan Inul dan Ulfa Dwiyanti di SCTV, mungkin pandangannya akan sedikit berubah. Inul masih tetap dengan gayanya, memutar kencang bornya yang kenyal dan &#8211;pasti sangat&#8211; tumpul.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">Pada saat yang sama, Ulfa sangat cerdik &#8220;memecah&#8221; kacamata para menonton sehinhgga sajian itu sama sekali tidak terasa erotik, apalagi ngeseks. Kesan yang muncul malah jadi sangat karikatural, kocak, dan cair.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">Kami sekeluarga, termasuk anak-anak, menontonnya dan memperoleh kegembiraan, bukan rangsangan seksual, dari apa yang kata Oma cemoberan itu. Anak saya, lelaki, enam tahun, malah tergelak-gelak setiap Inul mulai memelinitir bor bundarnya.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">&#8220;Kayak <i>bayblade,</i> pak!&#8221; serunya berulang-ulang. Di mata dia, putaran pinggul dan bokong itu lebih mirip &#8216;gasing modern&#8217; yang saat itu <span> </span>digandrungi anak-anak. Dia sendiri punya tiga gasing model itu, warna-warni, yang sering diadunya dengan gasing teman-temannya di pekarangan.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">Apa boleh buat, Sang Raja Dangdut telah bertitah. Bahwa titahnya itu mencerminkan pemaksaan kehendak terhadap orang lain tentulah harus jadi catatan pula. Pantas kalah orang sekaliber KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) marah betul sama RH Oma.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">&#8220;Raja dangdut itu cuma julukan untuk. Bukan kekuasaan. Karena itu, Oma tidak bisa memerintahkan para penyanyi lain mengikuti kemauan dia. Dia dengan berlebihan telah meminta orang lain untuk mengubah ekspresinya. Siapapun yang membatasi kebebasan berekspresi seseorang harus kita lawan,&#8221; seru Gus Dur.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">Tampaknya urusan ini memang seru. Buktinya, cuma perkara <i>burit</i>, kok sampai melibatkan seorang raja bo&#8217;ongan dan mantan presiden betulan harus ikut bicara. Cuma urusan bokong, kok sampai membuat para kiai dan ulama jumhur bermukabalah. Cuma urusan bokong kok sampai jadi topik liputan media internasional sekaliber <i>Time</i> dan <i>BBC</i>.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">Saya yakin, Inul dan Anisa atau siapa pun yang mengikuti jejaknya, tak akan kandas hanya oleh pemberangusan yang sangat menyakitkan seperti itu.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">Oma Irama sendiri pernah melakukannya dan berhasil. Dulu, ketika media televisi cuma ada satu-satunya, TVRI &#8211;yang kini kisruh terus itu&#8211; dia dicekal tampil. Toh Oma tak kalah akal. Buru-buru ia menyatakan masuk Golkar &#8211;sebelumnya jadi ikon PPP. Maka jelan ke layar televisi pun terbuka lebar.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">Bahwa ketika kemudian peta politik berubah dan ia pindah lagi ke PPP, itu soal lain. Ketika masuk Golkar, ia bilang partai beringin berjanggut itu suah lebih islami. Logikanya, PPP kurang islami, dong. Ketika keluar dari Golkar dan masuk lagi ke PPP, boleh jadi ia beralasan PPP sudah lebih islami lagi.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">Jadi, jika Inul cs dibungkam dan dilarang oleh orang-orang di jalur dangdut, pindah saja ke jalur rock, pop, keroncong, dan lain sebagainya.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">Malah, siapa tahu ia bisa membangkitkan pula fenomena baru di jalur-jalur musik itu, sehingga yang muncul bukan lagi sekadar &#8216;ngebor&#8217; tapi mungkin ngebom. Toh, Oma sendiri menciptakan trend baru dangdut setelah mengkolaborasi konsep sajiannya dengan rock. Dan itu sah-sah saja.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">Sangat boleh jadi bor Inul memasuki babak kontroversi baru yang akan sangat panas, jika saja tidak ada insiden ledakan bom di Bandara Soekarno Hatta yang megalihkan perhatian pers dan publik. Soalnya, di tengah serunya orang berdebat (lagi) soal ngebor, tiba-tiba bom meledak.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">&#8220;<i>Low eksplosif</i>, kok!&#8221; kata polisi. Entah <i>low,</i> entah <i>high</i> yang jelas perhatian publik sempat teralih ke sana. Apalagi korban luka berjatuhan, bahkan seorang perempuan muda bernama Yuli tiba-tiba kehialngan sebelah kaki.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">Bayangkan, seorang perempuan pekerja &#8211;pengasuh bayi&#8211; tiba-tiba kehilangan kaki. Bagaimana ia akan bisa bekerja dengan baik? Bagaimana ia akan bisa membimbing bayi belajar jalan? Bagaimana dia akan mencari nafkah setelah itu?</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">Bom telah mengubah hidupnya, persis seperti &#8216;bor&#8217; mengubah hidup Inul. Jika kereativitas &#8211;atau entah apa pun namanya&#8211; Inul diberangus, dipotong, dan dibatasi pencekalan, samalah artinya dengan Yuli &#8211;coba kalau namanya Iyul!&#8211; yang terpaksa diamputasi kakinya karena bom.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">Di luar itu semua, dua peristiwa di atas &#8211;heboh bor dan bom&#8211; hanyalah makin menunjukkan bahwa selalu ada orang yang berusaha memaksakan kehedaknya kepada orang lain, tak peduli orang lain itu tersiksa dan tertindas seperti Inul atau bahkan celaka seperti Iyul, eh Yuli.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">Sekian puluh tahun merdeka, ruapanya bangsa ini belum juga belajar dewasa. <i>Kaciaaan</i>&#8230;. deh. </span></p>
<div align="left"></div>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"><span>           <font color="#ff0000"> </font></span></span></p>
<div align="right"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"><font color="#ff0000">* <b>Bandung 280403</b></font></span></div>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/curahbebas.wordpress.com/136/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/curahbebas.wordpress.com/136/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/curahbebas.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/curahbebas.wordpress.com/136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/curahbebas.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/curahbebas.wordpress.com/136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/curahbebas.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/curahbebas.wordpress.com/136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/curahbebas.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/curahbebas.wordpress.com/136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/curahbebas.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/curahbebas.wordpress.com/136/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=curahbebas.wordpress.com&blog=1829565&post=136&subd=curahbebas&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://curahbebas.wordpress.com/2008/03/26/bor-dan-bom/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/curahbebas-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">curahbebas</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://curahbebas.files.wordpress.com/2008/03/bom2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">bom2.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sang Raja</title>
		<link>http://curahbebas.wordpress.com/2008/03/26/sang-raja/</link>
		<comments>http://curahbebas.wordpress.com/2008/03/26/sang-raja/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Mar 2008 13:43:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>curahbebas</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<category><![CDATA[angel lelga]]></category>

		<category><![CDATA[duel]]></category>

		<category><![CDATA[god bless]]></category>

		<category><![CDATA[partai politik]]></category>

		<category><![CDATA[rhoma irama]]></category>

		<category><![CDATA[rock]]></category>

		<category><![CDATA[soneta]]></category>

		<category><![CDATA[William H Frederick]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://curahbebas.wordpress.com/?p=133</guid>
		<description><![CDATA[
&#8216;DUEL&#8216; belum selesai. Raden Haji (RH) Oma Irama mengadukan sebuah tabloid ke polisi. Tuduhannya, mencemarkan nama baik, menyebar fitnah, melakukan perbuatan tidak menyenangkan.

Gara-garanya, tabloid itu memberitakan bahwa Oma kepergok sekamar berdua dengan Angel, semalam suntuk sampai menjelang subuh. Angel adalah lawan mainnya dalam film yang sedang ia garap, Ibnu Sabil.

Baik Oma maupun Angel tentu saja [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;"><a href="http://curahbebas.files.wordpress.com/2008/03/rhoma_irama.jpg" title="rhoma_irama.jpg"><img src="http://curahbebas.files.wordpress.com/2008/03/rhoma_irama.jpg?w=421&h=251" alt="rhoma_irama.jpg" height="251" width="421" /></a></p>
<h3 align="left"><font color="#3366ff"><b><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">&#8216;DUEL</span></b></font><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"><font color="#3366ff">&#8216; belum selesai. Raden Haji (RH) Oma Irama mengadukan sebuah tabloid ke polisi. Tuduhannya, mencemarkan nama baik, menyebar fitnah, melakukan perbuatan tidak menyenangkan.</font></span></h3>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">Gara-garanya, tabloid itu memberitakan bahwa Oma kepergok sekamar berdua dengan Angel, semalam suntuk sampai menjelang subuh. Angel adalah lawan mainnya dalam film yang sedang ia garap, <i>Ibnu Sabil</i>.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">Baik Oma maupun Angel tentu saja menolak berita yang menurut mereka insinuatif itu. Oma bilang, ia datang ke apartemen &#8211;bukan kamar&#8211; tempat tinggal Angel untuk mengambil naskah skenario yang tertinggal di sana. Angel bertutur ia belajar mengaji.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">Apa yang mereka lakukan sesungguhnya? Hanya mereka yang tahu. Orang tak perlu usil mengusik dan mengintip-intip apa yang mereka perbincangkan &#8211;kalau pun memang sekadar berbincang. Orang juga tak perlu nyinyir menyoal bahwa pasangan bukan muhrim itu berada di ruang yang sama untuk kurun yang begitu panjang, malam sampai subuh.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><a href="http://curahbebas.files.wordpress.com/2008/03/180px-angel_lelga.jpg" title="180px-angel_lelga.jpg"><img src="http://curahbebas.files.wordpress.com/2008/03/180px-angel_lelga.jpg?w=135&h=211" alt="180px-angel_lelga.jpg" align="left" height="211" width="135" /></a><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">Ketika ada kabar Oma sedang berduaan di tempat tinggal Angel, kontan saja pers memburunya. Dan, kabar itu pun meledak, menjalar-jalar di setiap tayangan infotainment televisi swasta, dan jadi sajian utama media-media cetak yang haus sensasi.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">Ternyata cerita ke arah &#8216;pengungkapan&#8217; skandal Apartemen Semanggi itu juga berlika-liku, persis mirip opera sabun colek produksi rumah produksi lokal. Konon, kehadiran wartawan di apartemen itu atas info Pangky Suwito, yang juga tinggal di apartemen yang sama.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">Pangky adalah suami Yatie Octavia, aktris sensual pada masanya (tahun 1970-an) dan pernah jadi lawan main dalam film produksi PT Rhoma Film, yang disutradarai sekaligus diperanutamai Oma sendiri. Konon pula, Oma pernah naksir Yatie, sebagaimana ia menaksir &#8211;dan kemudian memperistri- Ricca Rachim, juga pasangan mainnya dalam film.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">Begitulah, Oma pun perang mulut dengan Pangky-Yatie, kemudian &#8216;duel&#8217; tuntutan dengan tabloid tadi. Disebut duel, ya karena memang ini perseteruan langsung antara dua pihak. Berhadap-hadapan. Oma di satu kubu, dan pihak lain di kubu seberang.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">Di mata Oma, apa yang menimpanya hari-hari itu, adalah sebuah upaya sistematis untuk memojokkan dia yang sedang gencar memerangi apa yang disebutnya sebagai melawan pornografi dan pornoaksi. Sebuah gerakan moral di tengah arus permisifisme yang kian menggejolak.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">Apa pun namanya, tahap-tahap peristiwa yang kemudian diliput luas media massa itu telah membuat Oma kembali jadi pembicaraan banyak orang. Selama pekan-pekan kemarin para penggemarnya bisa memuaskan kerinduan mereka pada Satria Bergitar ini karena hampir saban hari Oma terlihat di layar televisi.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">Di luar itu semua, Oma tetaplah Oma. Keberadaannya di tengah realitas kekinian, sebagai tokoh publik &#8211;dan karena itu segala tindak-tanduknya jadi perhatian&#8211; pun berangkat dari fenomena yang berkembang, diperkembangkan, dan memperkembangkan dirinya, bersamaan dengan kiprahnya di dunia musik.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">Keberadaannya di pentas musik nasional yang hingga kini tampaknya belum tergantikan siapa pun itu, juga dilaluinya dengan duel sungguhan yang menandai sejarah musik negeri ini.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">Dangdut. Ya, dangdut &#8211;bermula dari istilah sinis dan mengejek untuk irama musik Melayu yang menggelitik&#8211; kini bisa dibilang merajai musik di berbagai lapisan masyarakat di tanah air. Dulu, &#8220;Dangdut itu musik tahi kucing!&#8221; pekik seorang <i>rocker</i> saat itu (pertengahan 1970-an).</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">Kalau tak salah, yang menghujat musik Oma itu adalah pentolan Giant Step, grup <i>rock</i> ternama dari Bandung. Boleh jadi, Giant Step pun <i>rocker</i> sejati <i>made-in</i> republik. Sebab grup inilah yang pertama kali berani manggung dengan lagu-lagu<i> rock</i> gubahan sendiri ketika publik musik rock didemami Deep Purple, Led Zeppelin dan Rolling Stone.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">Polemik yang disulut &#8216;tahi kucing!&#8217; itu akhirnya berpuncak pada dialog yang memperhadapkan Benny Soebardja, pentolan Giant Step dengan Oma Irama, komandan Soneta.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">Dan, polemik itu berpuncak di Senayan dalam sebuah duel sungguhan antara dua kelompok musik. Saat itu tahun 1979. Inilah sesengguhnya duel maut pertama dalam pentas musik kita, dan hingga kini mungkin belum tertandingi.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">Itu terjadi di Istana Olahraga (Istora) &#8211;kini Gelora Bung Karno&#8211; 24 tahun silam. Berdiri di satu sisi adalah God Bless, dengan Achmad Albar sebagai komandan. Di kubu berlawanan, tegaklah Oma Irama memimpin pasukan Orkes Melayu-nya, Soneta.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">Seingat saya, ini duel paling spektakuler di ujung dekade itu, sekaligus sebagai puncak perseteruan panas dan tajam lewat polemik yang meluas di antara para seniman. Di situ pula revolusi musik dangdut di tanah air mencapai titik ledak, dan virusnya menjalar serta mendemami hampir setiap orang hingga saat ini.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">Kini, rasa-rasanya tak satu pun orang Indonesia tak kenal dangdut. &#8220;Sejak rapat‑rapat raksasa di masa Demokrasi Terpimpin, acara panggung yang paling banyak dibanjiri massa adalah panggung Oma Irama,&#8221; tulis William H Frederick, doktor sosiologi Universitas Ohio, AS, yang pada 1980-an meneliti Oma dan fenomenanya.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">&#8220;Kemampuannya&#8221; mengundang massa itu pula yang kemudian membuat Oma jadi rebutan partai politik, sampai kemudian ia jadi anggota parlemen. Ia juga loncat dari PPP ke Golkar dan balik lagi ke PPP, ketika angin perubahan mulai terasa.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">Kini, ia lebih sering tampil sebagai juru dakwah. Jemarinya hampir tak pernah lepas menggenggam tasbih. Kata-katanya pun selalu sarat dengan idiom, istilah, dan pesan-pesan agama. Boleh jadi, ini pula yang membuat orang-orang jadi penasaran, sehingga apa pun gerak-geriknya selalu diperhatikan dan diincar.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">Orang bilang, makin tinggi pohon tumbuh, kian kencang angin menerpa. Begitulah. <b>***</b></span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="right"><b><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"><span>                                                                                                                           </span><font color="#ff9900">Bandung, 260503</font></span></b><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><b><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"></span></b><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"></span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/curahbebas.wordpress.com/133/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/curahbebas.wordpress.com/133/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/curahbebas.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/curahbebas.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/curahbebas.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/curahbebas.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/curahbebas.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/curahbebas.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/curahbebas.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/curahbebas.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/curahbebas.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/curahbebas.wordpress.com/133/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=curahbebas.wordpress.com&blog=1829565&post=133&subd=curahbebas&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://curahbebas.wordpress.com/2008/03/26/sang-raja/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/curahbebas-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">curahbebas</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://curahbebas.files.wordpress.com/2008/03/rhoma_irama.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">rhoma_irama.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://curahbebas.files.wordpress.com/2008/03/180px-angel_lelga.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">180px-angel_lelga.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>&#8220;Drilling Company&#8221;</title>
		<link>http://curahbebas.wordpress.com/2008/03/26/drilling-company/</link>
		<comments>http://curahbebas.wordpress.com/2008/03/26/drilling-company/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Mar 2008 13:16:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>curahbebas</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<category><![CDATA[asereje]]></category>

		<category><![CDATA[dangdut]]></category>

		<category><![CDATA[hot]]></category>

		<category><![CDATA[inul]]></category>

		<category><![CDATA[kiai]]></category>

		<category><![CDATA[kontroversi]]></category>

		<category><![CDATA[las ketchup]]></category>

		<category><![CDATA[MUI]]></category>

		<category><![CDATA[poco-poco]]></category>

		<category><![CDATA[sms]]></category>

		<category><![CDATA[time magazine]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://curahbebas.wordpress.com/?p=128</guid>
		<description><![CDATA[            

            SEORANG teman terkekeh-kekeh ketika menerima pesan pendek (SMS) dari rekannya. Isinya singkat: Trhtng 7 Aprl saya tdk lg di Jkt. Pindah krj ke ID.Co (Inul Drilling Company). Guyon, tentu saja. Tapi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:12pt;"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"><span>            </span></span></p>
<div align="right">
<h3><b><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"><span>            </span><font color="#339966"></font></span></b><a href="http://curahbebas.files.wordpress.com/2008/03/drillingcompany_inul.jpg" title="drillingcompany_inul.jpg"><img src="http://curahbebas.files.wordpress.com/2008/03/drillingcompany_inul.jpg?w=262&h=350" alt="drillingcompany_inul.jpg" align="right" height="350" width="262" /></a><b><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"><font color="#339966">SEORANG</font></span></b><font color="#339966"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"> teman terkekeh-kekeh ketika menerima pesan pendek (SMS) dari rekannya. Isinya singkat: <i>Trhtng 7 Aprl saya tdk lg di Jkt. Pindah krj ke ID.Co (Inul Drilling Company)</i>. Guyon, tentu saja. Tapi canda lewat SMS itu diterimanya ketika teman saya tadi sedang suntuk memeloti pergerakan bursa saham</span></font></h3>
</div>
<h3></h3>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"><span>            </span></span><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">Masalahnya, Halliburton, jaringan bisnis pengeboran dan kontraktor, ternyata mendapatkan megaproyek untuk merehabilitasi kehancuran Irak, mulai dari pemadaman ladang-ladang minyak dan membuka ladang baru sampai pemulihan infrastruktur yang remuk redam akibat perang.</span></p>
<div align="left"></div>
<div align="left"></div>
<div align="left"></div>
<div align="left"></div>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"><span>            </span>Amerika sendiri sudah mencanangkan 600 juta dolar (kalikan Rp 9.000, berapa trilyun, tuh!) untuk membangun jalan-jalan, rumah sakit, sekolah dan proyek-proyek penting lainnya di Irak. </span><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">Kok bisa? Perang berlum selesai para kontraktor sudah berebut proyek.</span></p>
<div align="left"></div>
<div align="left"></div>
<div align="left"></div>
<div align="left"></div>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"><span>            </span>&#8220;Itulah <i>oke-</i>nya Amerika. Negara yang mengaku paling demokratis namun memaksakan kehendak kepada negara lain itu, ternyata juga tak kalis dari KKN, korupsi, kolusi dan nepotisme. </span><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">Halliburton itu misalnya, adalah milik Dick Cheney, Wakil Presiden AS!&#8221; gerutu teman saya tadi.</span></p>
<div align="left"></div>
<div align="left"></div>
<div align="left"></div>
<div align="left"></div>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"><span>            </span></span><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">Terbukti, katanya lagi, penyerangan ke Irak tidak semata karena Saddam punya senjata pemusnah massal, melainkan karena ekonomi AS sedang kacau. Bush perlu minyak, dan Iraklah negeri pemilik salah satu cadangan terbesar minyak di bumi. Bush mau mengebor Irak untuk keuntungannya sendiri.</span></p>
<div align="left"></div>
<div align="left"></div>
<div align="left"></div>
<div align="left"></div>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"><span>            </span>&#8220;Padahal, kalau cuma mau mengebor sih, kita punya bor yang pasti tak akan menyebabkan pertumpahan darah. Inul!&#8221; katanya ngakak. Dan terbukti, Inul menghipnotis ribuan penonton di Gelora Bung Karno, Senayan Jakarta 2 April lalu, ketika membuka Las <i>&#8220;Asereje</i>&#8221; Ketchup.</span></p>
<div align="left"></div>
<div align="left"></div>
<div align="left"></div>
<div align="left"></div>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"><span>            </span>Ya, kiprah Inul yang melejit sepanjang Maret lalu, tiba-tiba terlindas gemuruh berita perang. Padahal, penampilan satu panggungnya dengan tiga cewek Spanyol itu &#8211;di Jakarta 2 April dan di Surabaya 9 April&#8211; merupakan debut baru penyanyi yang &#8216;pengeboran&#8217;nya lebih <i>hot</i> ketimbang suaranya itu.</span></p>
<div align="left"></div>
<div align="left"></div>
<div align="left"></div>
<div align="left"></div>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"><span>            </span>Baik Ketchup maupun Inul sama-sama menjalarkan trend baru dalam dunia musik, tidak hanya di negaranya masing-masing melainkan di jagat musik dunia. Ketchup dan Inul sama-sama berangkat dari penyanyi biasa yang mendadak terkenal ke seantero penjuru dunia.</span></p>
<div align="left"></div>
<div align="left"></div>
<div align="left"></div>
<div align="left"></div>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"><span>            </span>Bedanya, Las Ketchup sudah menelurkan album dan laris bak kacang goreng, sementara Inul belum pernah. Yang terjadi, Inul telah membuat kaya raya para pembajak dan saudagar VCD bajakan yang mengedarkan rekaman penampilan panggungnya. Toh, VCD bajakan itu pula yang melontarkan inul ke panggung selebiriti berkelas, kini. Tak hanya di tanah air, tapi di penjuru dunia.</span></p>
<div align="left"></div>
<div align="left"></div>
<div align="left"></div>
<div align="left"></div>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"><span>            </span>Tentang Inul, misalnya, <i>Time</i>, majalah terkemuka bertiras global, menurunkan liputan khusus yang luar biasa bagus, terutama bagi para penyanyi dan komunitas dangdut di negeri ini. Inul disebutnya sebagai idola baru yang sedang memanaskan arena budaya (musik) pop Indonesia.</span></p>
<div align="left"></div>
<div align="left"></div>
<div align="left"></div>
<div align="left"></div>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"><span>            </span>Untuk membuat laporan itu, reporter <i>Time</i> menguntit perjalanan manggung Inul ke berbagai tempat, termasuk ke Pelaihari. Saat itulah Inul banyak curhat kepada sang reporter. Misalnya, mengapa kaum agamawan itu beraninya hanya sama dia, sementara soal korupsi seperti dibiarkan begitu saja.</span></p>
<div align="left"></div>
<div align="left"></div>
<div align="left"></div>
<div align="left"></div>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"><span>            </span>Awal Februari, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan pernyataan mengecam tarian dan mencekal Inul melakukan show. Sebab sesuai Fatwa MUI Juli 2002, apa yang dilakukan Inul termasuk aksi pornografi. Penampilan Inul dianggap tidak mendidik dan membahayakan moral generasi bangsa.</span></p>
<div align="left"></div>
<div align="left"></div>
<div align="left"></div>
<div align="left"></div>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"><span>            </span>Kabar tak kalah heboh kembali dialami Inul saat salah satu media memuat foto dan memberitakan suami Presiden Megawati Sukarnoputri, Taufik Kiemas tengah memeluk Inul seusai keduanya mengisi acara televisi. </span></p>
<div align="left"></div>
<div align="left"></div>
<div align="left"></div>
<div align="left"></div>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"><span>            </span>&#8220;Mengapa mereka begitu peduli padaku, sedangkan VCD porno dan pelacuran marak di jalan‑jalan. Mereka memilih aku karena aku sasaran yang mudah,&#8221; ujarnya. Pada laporan itu pula <i>Time</i> membandingkan Inul dengan Eminem yang tak peduli apa pun kata orang.</span></p>
<div align="left"></div>
<div align="left"></div>
<div align="left"></div>
<div align="left"></div>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:12pt;" align="left"><i><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"><span>            </span>Time</span></i><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"> menyimpulkan, Inul telah menjembatani kebebasan berekspresi yang lahir bersama munculnya era reformasi, dengan moral masyarakat yang tertutup dan munafik. Dia satu dan satu‑satunya yang bisa bertahan dalam persaingan keras industri musik Indonesia. Dia adalah sosok yang sebenarnya diinginkan banyak orang, namun orang-orang itu malu mengakuinya secara terus terang, tulis majalah itu.</span></p>
<div align="left"></div>
<div align="left"></div>
<div align="left"></div>
<div align="left"></div>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"><span>            </span>Dan, banyak di antara kita seringkali masih berperilaku seperti itu. Munafik. Menyatakan tidak, padahal iya. Menyatakan benci, padahal senang setengah mati. Inul, mungkin satu di antara sedikit orang yang berusaha tampil apa adanya.</span></p>
<div align="left"></div>
<div align="left"></div>
<div align="left"></div>
<div align="left"></div>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"><span>            </span>Bahwa kemudian muncul berbagai tanggapan, kecaman, pujian, bahkan sampai rekomendasi agar para ulama menerbitkan &#8216;fatwa haram&#8217; itu lain soal. Toh di kalangan para ulama pun tampak pandangan yang berbeda ketika melihat Inul.</span></p>
<div align="left"></div>
<div align="left"></div>
<div align="left"></div>
<div align="left"></div>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:12pt;" align="left"><a href="http://curahbebas.files.wordpress.com/2008/03/gus-mus-inul.jpg" title="gus-mus-inul.jpg"><img src="http://curahbebas.files.wordpress.com/2008/03/gus-mus-inul.jpg?w=207&h=143" alt="gus-mus-inul.jpg" align="left" height="143" width="207" /></a><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">KH Mustofa Bisri, misalnya, terang-terangan melawan arus dengan memamerkan lukisan karyanya tentang Inul, justru di mesjid besar Surabaya. KH Zaini A Ghoni, malah mengangkat wanita muda itu sebagai anak angkat, sekaligus mendoakannya agar Inul tetap sabar. Langkah kontroversi dua ulama kharismatik ini pula yang diam-diam mengangkat Inul ke panggung perbincangan global bernuansa politik dan budaya.</span></p>
<div align="left"></div>
<div align="left"></div>
<div align="left"></div>
<div align="left"></div>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"><span>            </span>Sayang, memang, &#8216;diskusi&#8217; publik mengenai fenomena Inul dengan ngebornya, terlindas hiruk pikuk berita penyerbuan Amerika ke Irak, yang ujung-ujungnya sih ingin merebut ladang minyak Irak dan mengebor sendiri demi kepentingan ekonomi Amerika. Dasar!</span></p>
<div align="left"></div>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:12pt;" align="right"><b><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"><span>                                                                                                                        </span>*<font color="#339966"> Bandung, 070403</font></span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:12pt;" align="right">&nbsp;</p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"><span>            </span></span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"><span>            </span></span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"><span>            </span></span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"><span>            </span></span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"><span>            </span></span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"><span>            </span></span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"> </span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:12pt;" align="left">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:12pt;" align="left"> <a href="http://curahbebas.files.wordpress.com/2008/03/inul2_jpg.jpg" title="inul2_jpg.jpg"><img src="http://curahbebas.files.wordpress.com/2008/03/inul2_jpg.jpg?w=384&h=186" alt="inul2_jpg.jpg" height="186" width="384" /></a></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"> </span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"> </span></p>
<div align="left"></div>
<h2 align="left"><font color="#ff00ff"><b><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">Mereka Menatap Inul</span></b></font><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"></span></h2>
<div align="left"></div>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"> </span></p>
<div align="left"></div>
<div align="left">
<address><i><font color="#00ff00"><b><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">The Straits Times</span></b></font></i><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"> </span></address>
<address><font color="#c0c0c0"><b><i><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">[19/3/2003]</span></i></b></font><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"></span></address>
<address><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">Inul Daratista yang jadi objek lukisan KH Mustofa Bisri, menyebabkan ulama itu jadi sasaran kritik. Ulama nyentrik ini menganggap protes dan kritik itu sebagai hal wajar.</span></address>
<address> </address>
<address><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"> </span></address>
<address><i><font color="#00ff00"><b><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">ABC Radio Australia News</span></b></font></i><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"></span></address>
<address><font color="#c0c0c0"><b><i><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">[14/03/2003]</span></i></b></font><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"></span></address>
<address><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">Inul jadi sorotan publik karena gaya panggungnya yang erotik. Ulama di beberapa provinsi mendesak pihak berwenang melarang Inul tampil di wilayahnya.</span></address>
<address> </address>
<address><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"> </span></address>
<address><i><font color="#00ff00"><b><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">NEWS 24 ‑ South Africa</span></b></font></i><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"></span></address>
<address><b><font color="#c0c0c0"><i><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">[05/03/2003]</span></i></font></b><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"></span></address>
<address><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">Ulama karismatik di Kalimantan Selatan, KH Zaini Abdul Ghoni (Guru Sekumpul) mengundang Inul dan mendoakannya agar penyanyi itu kuat dan sabar menghadapi berbagai kecaman.</span></address>
<address> </address>
<address><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"> </span></address>
<address><i><font color="#00ff00"><b><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">DAILY TIME ‑ Pakistan</span></b></font></i><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"></span></address>
<address><font color="#c0c0c0"><b><i><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">[05/03/2003]</span></i></b></font><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"></span></address>
<address><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">Inul Daratista yang dikecam oleh sejumlah ulama, justru diangkat sebagai anak oleh KH Abdul Ghoni, ulama besar di Martapura, Kalimantan Selatan.</span></address>
<address> </address>
<address><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"> </span></address>
<address><font color="#00ff00"><i><b><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">BBC ‑ London</span></b></i></font><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"></span></address>
<address><font color="#c0c0c0"><b><i><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">[06/03/2003]</span></i></b></font><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"></span></address>
<address><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">Ulama besar Kalimantan, Zaini Abdul Ghoni mengakui Inul sebagai anak angkat dan mengundangnya untuk mengikuti pengajian-pengajian di pesantren Sekumpul, Martapura, pimpinan kiai itu.</span></address>
<address> </address>
<address><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"> </span></address>
<address><i><font color="#00ff00"><b><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">South China Morning Post</span></b></font></i><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"> </span></address>
<address><b><font color="#c0c0c0"><i><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">[25/02/2003]</span></i></font></b><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"></span></address>
<address><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">Inul adalah gadis dusun yang melesat bagai roket, perjalanan karirnya mirip Jennifer Lopez yang secara tiba-tiba menuju puncak ketenaran.</span></address>
</div>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/curahbebas.wordpress.com/128/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/curahbebas.wordpress.com/128/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/curahbebas.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/curahbebas.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/curahbebas.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/curahbebas.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/curahbebas.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/curahbebas.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/curahbebas.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/curahbebas.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/curahbebas.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/curahbebas.wordpress.com/128/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=curahbebas.wordpress.com&blog=1829565&post=128&subd=curahbebas&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://curahbebas.wordpress.com/2008/03/26/drilling-company/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/curahbebas-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">curahbebas</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://curahbebas.files.wordpress.com/2008/03/drillingcompany_inul.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">drillingcompany_inul.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://curahbebas.files.wordpress.com/2008/03/gus-mus-inul.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">gus-mus-inul.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://curahbebas.files.wordpress.com/2008/03/inul2_jpg.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">inul2_jpg.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dangdut, Ja&#8230;!!</title>
		<link>http://curahbebas.wordpress.com/2008/03/26/dangdut-ja/</link>
		<comments>http://curahbebas.wordpress.com/2008/03/26/dangdut-ja/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Mar 2008 11:00:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>curahbebas</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<category><![CDATA[asereje]]></category>

		<category><![CDATA[dangdut]]></category>

		<category><![CDATA[denan]]></category>

		<category><![CDATA[devil]]></category>

		<category><![CDATA[diego]]></category>

		<category><![CDATA[gairah]]></category>

		<category><![CDATA[gereja]]></category>

		<category><![CDATA[gipsy]]></category>

		<category><![CDATA[inul]]></category>

		<category><![CDATA[las ketchup]]></category>

		<category><![CDATA[pemujaan setan]]></category>

		<category><![CDATA[spanyol]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://curahbebas.wordpress.com/?p=125</guid>
		<description><![CDATA[
            DUA virus menyebar dalam tempo hampir bersamaan sejak awal 2002 sampai memasuki 2003.  Jenisnya sama. Musik. Yang satu, dangdut. Satunya lagi latin. Keduanya juga menjalarkan demam yang sama sekaligus membangkitkan perlawanan yang menggunakan bingkai moral dan keyakinan.

      [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:12pt;"><a href="http://curahbebas.files.wordpress.com/2008/03/dangdut_je.jpg" title="dangdut_je.jpg"><img src="http://curahbebas.files.wordpress.com/2008/03/dangdut_je.jpg?w=565&h=412" alt="dangdut_je.jpg" height="412" width="565" /></a></p>
<h3 align="left"><b><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"><span>            </span><font color="#008000">DUA</font></span></b><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"> virus menyebar dalam tempo hampir bersamaan sejak awal 2002 sampai memasuki 2003.<span>  </span>Jenisnya sama. Musik. Yang satu, dangdut. Satunya lagi latin. Keduanya juga menjalarkan demam yang sama sekaligus membangkitkan perlawanan yang menggunakan bingkai moral dan keyakinan.</span></font></h3>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"><span>            </span>Di beberapa tempat, kalangan ulama dan rohaniwan gerah dan menyerukan agar masyarakat lebih arif memilih hiburan. Malah di satu dua tempat ada yang meminta polisi turun tangan untuk membersihkan Inul Daratista yang beredar dalam kepingan-kepingan cakram kompak video.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"><span>            </span>Di tempat lain, terutama di forum diskusi internet, para <i>mailist</i>, gentayangan seruan untuk mewaspadai <i>Las Ketchup</i> dengan lagu dan dansa <i>Asereje</i>-nya. &#8220;Itu pemujaan setan, dan provokasi untuk bersahabat dengan iblis!&#8221; demikian antara lain seruan yang menyebar lewat <i>e-mail</i> itu. Dan, polemik pun menjalar.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"><span>            </span>Seorang teman, aktor teater yang juga penata tari terkekeh-kekeh ketika obrolan kami memasuki dua &#8216;virus&#8217; yang dipompakan industri musik itu.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"><span>            </span>&#8220;Inul? mengapa harus diperangi? Ia cuma memperagakan gelinjang alami yang secara naluriah muncul sendiri dari diri setiap orang pada situasi tertentu. Mengapa harus ditepis, ditolak, dan disingkirkan. <i>Lha</i> kita sendiri sering sering melakukannya, kok..&#8221; katanya enteng.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"><span>            </span>Iya, sih. Tapi Taufik Kiemas menuai &#8220;badai&#8221; polemik politik ketika media mempublikasikan gambar-gambarnya sedang memeluk Inul, yang menurut Tjahjo Kumolo &#8211;orang dekat Kiemas&#8211; itu sekadar foto biasa, ibarat ayah dan anak.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"><span>            </span>Di Surabaya seorang ibu rumah tangga dilarikan ke rumah sakit gara-gara mencoba bunuh diri. Ia jengkel setengah mati karena suaminya yang <i>kepincut</i> habis goyang Inul. Sang suami tidak lagi pernah menyentuh dirinya. Saban malam, kerjanya cuma duduk di depan pesawat televisi menonton aksi panggung Inul, tentu saja lewat VCD bajakan!</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"><span>            </span>Teman saya itu terbahak. &#8220;Kalau itu <i>mah,</i> bukan salah Inul. Inul cuma mengekspresikan perasaannya saat menyanyi. Bahwa gerak-gerik, <i>gesture</i>, yang kemudian muncul itu kemudian membangkitkan birahi penonton, ya salah yang nonton. Birahinya kok encer banget, terangsang hanya oleh tampilan virtual elektronis!&#8221;</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"><span>            </span>Lagi pula, teman lain &#8211;yang ini pengajar di sekolah tinggi seni tari&#8211; menimpali, gerakan yang ditampilkan Inul maupun penyanyi lain, entah itu Alam, atau bahkan Liza Natalia si Ratu Joget, sesungguhnya tak menunjukkan banyak perbedaan.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"><span>            </span>&#8220;Perbedaannya kecil, cuma pada konsep gerak. Mereka tentu sudah punya konsep masing-masing yang disesuaikan dengan berbagai tuntutan. Antara lain pengaruh dari jenis lagu, musik, maupun acara dibawakan,&#8221; kata dia. </span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"><span>            </span>Inul misalnya, ia cuma mengangkat kembali gerakan-gerakan umum. Hanya saja lebih memberi titik berat penonjolan pada unsur sensualitas dan erotis. &#8220;Mungkin ini memang konsep yang sengaja dipilihnya untuk tampil di atas pentas.&#8221;</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"><span>            </span>Bahwa konsep itu pula yang kemudian dia gunakan saat pemuatan klip, itu soal lain. Di sini produser lah yang jeli melihat celah pasar. Tapi ia masih kalah jeli oleh para pembajak. Itu sebabnya, Inul menyebar lewat jutaan keping VCD yang murah meriah. Tiap orang bisa memperolehnya dengan mudah di tepi jalan, dan demam goyang bernuansa esek-esek itu tak bisa dibendung lagi.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><a href="http://curahbebas.files.wordpress.com/2008/03/las_ketchup_1.jpg" title="las_ketchup_1.jpg"><img src="http://curahbebas.files.wordpress.com/2008/03/las_ketchup_1.jpg?w=179&h=174" alt="las_ketchup_1.jpg" align="left" height="174" width="179" /></a><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">Hal sama terjadi atas trio <i>Las Ketchup</i>. Industri rekaman yang di Indonesia &#8220;diperlebar&#8221; oleh para pembajak, telah membuatnya mencapai puncak popularitas dalam waktu dekat dan kemudian menjalarkan demam yang sulit ditandingi. Di luar negeri, <i>Asereje</i> langsung melesat ke puncak <i>hits</i> lagu-lagu pilihan. Di Spanyol, bahkan dijadikan lagu maskot tim tim bola basket nasional.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"><span>            </span>Di tanah air, hanya dalam tempo kurang dari tiga bulanan sejak peluncurannya, <i>Asereje</i>, sudah mulai menggantikan demam <i>Poco-poco</i> yang sempat bercokol dalam diri penggemarnya terutama dalam dua tahun terakhir.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"><span>            </span>Jika Inul dipersoalkan karena goyangannya yang bisa bikin menggigil &#8216;lelaki gampang naik&#8217;, maka <i>Asereje</i> jadi polemik &#8211;konon&#8211; karena liriknya yang mengajak orang untuk memuja setan, iblis, dan melupakan tuhan.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"><span>            </span>&#8220;Simak liriknya. Di situ diceritakan seorang lelaki tampan, namanya Diego. Pesonanya menghipnotis siapa saja. Diego &#8211;dalam terminologi Gereja Setan&#8211; adalah nama panggilan bagi Devil, setan!&#8221; tulis seorang <i>mailist</i>.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"><span>            </span>Dan harus diingat, kata penulis itu, bahwa Lucifer adalah iblis yang rupawan dan ahli musik, termasuk dansa. &#8220;Perhatikan lirik awalnya tentang sebuah pesta Jumat Malam. Ini merupakan hari kramat bagi setan. Perhatikan pula kombinasi ras si Diego, yaitu Afro‑Gi</span><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">psy Rastafarian. Afro atau Afrika terkenal dengan tarian pemujaannya. Gipsy berbicara tentang peramal dan penyihir. Dan Rasta adalah sebuah mode yang lekat dengan pemberontakan dan Narkoba.&#8221;</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"><span>            </span>Belum yakin? Ayo simak refrein lagu yang dari segi melodi sebenarnya sederhana, manis, ringan, cair, dan sangat akrab itu:</span></p>
<div align="left">
<address><i><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"><span>            </span><font color="#ff9900"><b>asereje ja de je de jebe tu de jebere seibiunouva,</b></font></span></i></address>
<address><font color="#ff9900"><b><i><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"><span>            </span>majavi an de bugui an de buididipi,</span></i></b></font></address>
<address><font color="#ff9900"><b><i><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"><span>            </span>asereje ja de je de jebe tu de jebere seibiunouva,</span></i></b></font></address>
<address><font color="#ff9900"><b><i><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"><span>            </span>majavi an de bugui an de buididipi</span></i></b></font><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"></span></address>
</div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"> </span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"><span>            </span>Dalam bahasa Spanyol, ini nggak ada artinya, tapi bila dilagukan dengan ritme seperti itu, bagi orang Spanyol akan terdengar seperti, &#8220;Jadilah sesat, Tuhan itu tidak ada&#8230;, (atau bisa berarti; sesat bila mempercayai Tuhan) tinggalkan imanmu saat ini&#8230;. mereka akan datang ke bawah, dan mereka akan memandu kita&#8230;. <i>ja</i>!&#8221;</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"><span>            </span>Memang, kata Kathrine Marshal, dari Institut Paranormal South Hampton, AS, dalam bahasa sebuah suku di bagian barat laut Afrika, <i>asereje</i> mirip dengan dialek mereka dalam sebuah upacara pemanggilan arwah orang yang mati karena kecelakaan. Tapi, apa betul lagu itu merupakan ajakan untuk menyembah sesuatu selain Tuhan, masih belum ada yang bisa menjawab.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"><span>            </span>Lagi pula, sah-sah saja orang mengajak &#8211;dan tidak mengajak&#8211; orang lain untuk menyembah &#8211;atau tidak menyembah&#8211; sesuatu. Bahwa ajakan itu diikuti atau tidak, sepenuhnya tergantrung kepada pihak yang diajak. Jika ia tak punya pendirian dan tak punya keyakinan, tentu saja akn dengan mudah diajak melakukan apa saja, juga melakukan hal-hal yang baik dan bermanfaat bagi umum.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"><span>            </span>Begitu pula ketika para lelaki melihat goyangan Inul. Ia bisa tergiur dan terangsang, bisa sebal, bisa merasa lucu, bisa pula tidak merasakan sensasi apa-apa, tergantung kendali emosi dan rasa masing-masing. Jadi mengapa harus ribut?</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"><span>            </span>Padahal, siapa tahu heboh yang meledak-ledak itu sebenarnya sengaja diciptakan oleh para produser untuk memunculkan kontroversi. Dengan begitu, poduknya jadi bahan pembicaraan banyak orang. Makin banyak dibahas, kian banyak yang penasaran, semakin besar peluang pasar yang tercipta. </span><i><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">Ja!</span></i><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"> ***</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><b><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"><span>                                                                                                                   </span>Bandung, 07-13/02/03</span></b><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"></span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/curahbebas.wordpress.com/125/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/curahbebas.wordpress.com/125/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/curahbebas.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/curahbebas.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/curahbebas.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/curahbebas.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/curahbebas.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/curahbebas.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/curahbebas.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/curahbebas.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/curahbebas.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/curahbebas.wordpress.com/125/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=curahbebas.wordpress.com&blog=1829565&post=125&subd=curahbebas&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://curahbebas.wordpress.com/2008/03/26/dangdut-ja/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/curahbebas-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">curahbebas</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://curahbebas.files.wordpress.com/2008/03/dangdut_je.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">dangdut_je.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://curahbebas.files.wordpress.com/2008/03/las_ketchup_1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">las_ketchup_1.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Venus Boy, Siapa Mau?</title>
		<link>http://curahbebas.wordpress.com/2008/03/17/venus-boy-siapa-mau/</link>
		<comments>http://curahbebas.wordpress.com/2008/03/17/venus-boy-siapa-mau/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Mar 2008 11:46:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>curahbebas</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<category><![CDATA[bandung]]></category>

		<category><![CDATA[gigolo]]></category>

		<category><![CDATA[iklan]]></category>

		<category><![CDATA[jakarta]]></category>

		<category><![CDATA[jawa]]></category>

		<category><![CDATA[macho]]></category>

		<category><![CDATA[pijat]]></category>

		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>

		<category><![CDATA[surabaya]]></category>

		<category><![CDATA[venus]]></category>

		<category><![CDATA[viagra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://curahbebas.wordpress.com/?p=119</guid>
		<description><![CDATA[
IKLAN itu tak mencolok. Terselip di antara deretan iklan ba­ris yang padat. Hanya dua baris-dua baris di bawah kop &#8216;Pijat.&#8217;  Bu­­nyinya pun tak provokatif sebagaimana iklan-iklan lain. &#8220;Pria Macho; 24 jam, telepon 08xx xxxxxx&#8221;. Satunya lagi berbunyi; &#8220;Tam­pan &#38; Atletis, Jalan Anu, 24 jam tlp 08xx xxxxxx&#8221; atau ini, &#8220;Ve­nus Boy, siaga 24 jam, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://curahbebas.files.wordpress.com/2008/03/venus-boy1.jpg" title="venus-boy1.jpg"><img src="http://curahbebas.files.wordpress.com/2008/03/venus-boy1.jpg?w=549&h=300" alt="venus-boy1.jpg" align="top" height="300" width="549" /></a></p>
<h3 align="left"><font color="#008080"><b><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">IKLAN</span></b><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"> itu tak mencolok. Terselip di antara deretan iklan ba­ris yang padat. Hanya dua baris-dua baris di bawah kop &#8216;Pijat.&#8217;<span>  </span>Bu­­nyinya pun tak provokatif sebagaimana iklan-iklan lain.</span></font><font color="#008080"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"> <font color="#339966"><i>&#8220;Pria Macho; 24 jam, telepon 08xx xxxxxx&#8221;</i></font>. Satunya lagi berbunyi;<font color="#008000"><i> </i></font><font color="#339966"><i>&#8220;Tam­pan &amp; Atletis, Jalan Anu, 24 jam tlp 08xx xxxxxx&#8221;</i> </font>atau ini, <font color="#ffcc99">&#8220;<i><font color="#339966">Ve­nus Boy, siaga 24 jam, 08xx xxxxxx,&#8221;</font></i></font><i> </i>dan seterusnya.</span></font></h3>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"><span>            </span>Saya hitung, ada enam pengiklan jasa &#8216;pijat&#8217; istimewa ini. Mengapa &#8216;pijat&#8217; saya kasih tanda petik? Ya, maklumlah. Sementara ini tak mungkin ada surat kabar yang berani membuat kop iklan baris &#8220;gigolo&#8221; misalnya. Tapi, apakah mereka yang mengiklankan itu memang berprofesi gigolo? Bisa ya, bisa juga tidak salah.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"><span>            </span>Atas bantuan seorang wanita &#8211;rekan sekerja&#8211; yang coba me­ne­leponi para juru pijat itu, arah perbincangan pada akhirnya me­mang burujung pada soal ranjang. Dua juru pijat yang terkena pan­cingan, sempat menyebut beberapa nama yang menurutnya adalah lang­ganan tetap. Entah benar, atau cuma pengakuan, tak begitu jelas.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"><span>            </span>Yang agak jelas tentunya iklim keterbukaan akhir-akhir ini te­lah membuka keberanian para lelaki yang punya profesi khusus memijat para perempuan, mengiklankan diri. Hal ini juga membu­kakan satu lagi fenomena sosial, bahwa di sebuah kota besar di In­donesia, kaum perempuan pun sudah tak sungkan lagi membiarkan dirinya dijamah lawan jenis dan untuk itu ia rela membayarnya.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"><span>            </span>&#8220;Hari biasa, cukup 30 dolar sejam, minimal dua jam,&#8221; ujar sa­lah seorang di antara tiga Venus Boys, saat dikontak rekan saya<span>  </span>&#8211;sambil nyaris tak bisa menahan cekikik&#8211; yang wanita itu. Tem­­patnya, bisa di hotel (ia menyebut sebuah hotel yang cukup ter­kenal) bisa pula di rumah &#8216;pasien&#8217;. &#8220;Masnya lagi keluar kota kan?&#8221; kata Si Venus itu lagi. Bah, sudah tak percaya rupiah, sok tahu pula dia.</span></p>
<div align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"><span></span>Katanya sih, ia sudah punya pelanggan tetap yang minta &#8216;di­urut&#8217; saban Minggu. Karena itu, ia memasang tarif khusus jika di­panggil atau &#8216;digunakan&#8217; pada hari tersebut. &#8220;Yaa, untuk tambahan beli viagra, kan?&#8221; celotehnya dengan nada agak <i>lanji</i>.</span></div>
<div align="left"></div>
<div align="left"></div>
<div align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">Katanya la­gi sih, saat ditelepon itu dia sedang memelihara perkutut, eh per­­kakasnya, setelah dua malam lalu kerja keras di tiga pelang­gan. Kontan saja wajah rekan saya &#8211;yang saya minta bantuan untuk menelepon&#8211; itu memerah, sementara mulutnya berkerut ke­lisut berusaha me­nahan semburan tawa.</span></div>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"><span>            </span>Iklan seperti itu ternyata tak cuma saya jumpai di rurat ka­bar ternama di kota kelahiran saya ini. Tetapi juga pada sebuah surat kabar terbitan Jakarta dan terbitan Surabaya. Entahlah, pa­da surat kabar yang terbit di kota-kota lain.</span><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">  Tapi, menurut bi­sik-bisik rekan yang tahu betul alam remang-remang, prak­tek seperti di atas juga sudah terjadi di kota-kota di luar Jawa, bahkan sejak dua atau tiga tahun silam. &#8220;Cuma memang belum ada yang berani pasang ik­lan. Biasanya, iklan dari mulut ke mulut saja,&#8221; kata sang rekan.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"><span>            </span>Saya jadi teringat beberapa waktu lalu, ketika seorang teman yang baru pulang dari Darwin Australia membawa segepok surat kabar lo­kal. Pada kolom iklan baris dan iklan koloman, termuat iklan-ik­lan seperti di atas. Hanya saja mereka tampak lebih berani. Tak cuma mencantumkan nama dan nomor telepon, mereka juga memasang foto setengah badan, sekaligus tarif per jam.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"><span>            </span>Para lelaki, ada yang tampil mirip Rambo, ada juga yang me­ma­­merkan kekerempengan badannya, sedangkan para perempuan yang mengik­lankan diri rata-rata memasang foto mereka sangat atrak­tif, sensual dan hanya bisa ditandingi majalah porno. Mereka juga le­bih terbuka mengiklankan keterampilan khususnya dalam berolah ranjang.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"><span>            </span>&#8220;Anda jenuh? Teleponlah. Saya datang, dan kita bereskan se­muanya ditempat tidur,&#8221; tulis Camilla yang fotonya terpasang de­ngan buah dada menyembul mirip sepasang balon gas. Ia juga me­rinci ke­terampilan khusus apa saja yang siap diperagakan, eh di­prak­­tekannya pada pelanggan. Pembayaran? Beres. Bisa Master, Visa atau American Express!</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"><span>            </span>Saya membayangkan, boleh jadi dalam beberapa tahun ke depan, ma­jalah dan surat kabar kita pun bisa saja memuat iklan seperti itu tidak lagi sembunyi-sembunyi seperti yang saya te­mukan pada surat kabar terbitan Bandung, Jakarta, dan Surabaya itu. Entahlah di kota seperti Banjarmasin. Saya berharap, jangan dululah. Ma­sih banyak cara lain yang lebih santun untuk melepas birahi di luaran, atau se­kadar untuk &#8230; selingkuh. Heheheh.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"><span>            </span>Tapi lambat laun, bukan tak mungkin fenomena seperti ini ju­ga merambah ke daerah-daerah yang masing-masing memiliki kota be­sar dan kota itu berkembang sebagaimana hukumnya sebuah ha­bitat metropol dengan berbagai gejala ikutannya, termasuk ber­ubahnya pola perilaku individu dan kelompok masyarakat peng­huninya.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"><span>            </span>Perilaku seksual, misalnya. Kini makin terbuka saja. Seorang wartawati di Bandung yang &#8216;iseng&#8217; melakkan <i>polling</i> atas 30 perem­puan eksekutif di berbagai perusahaan di kota itu memperoleh gam­baran 18 di antaranya atau 60 persen, mengaku lebih dari se­kali ber­selingkuh sampai ke tempat tidur. Sisanya, mengaku se­sekali ber­selingkuh, dan kadang sampai bermain ranjang.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"><span>            </span>Sedangkan dari para &#8216;pria macho&#8217; dan lelaki-lelaki &#8216;venus boy&#8217;, rekan saya wartawati, mendapat pengakuan bahwa para pelang­gannya rata-rat bersuami dan suaminya tergolong sukses dalam bis­nis maupun karir birokrat. Malah di antara &#8216;pria macho&#8217; itu ada yang mengaku pernah dipertemukan dengan