SUASANA di rongga utama Gedung Sultan Suriansyah tiba-tiba sesak oleh kepiluan. Malam itu, tim kesenian dari Nangroe Aceh Darussalaam (NAD) yang tampil dalam Festival Nasional Seni Pertunjukan tahun 2002, menyodorkan ‘pedihnya keindahan’ lewat untaian syair sebagai prolog bagi sebuah komposisi tari:
Siapa saja yang datang ke Tanah Rencong
kami sambut dengan tarian
dan syair perjamuan,
pertanda kemuliaan.
Siapa saja yang datang ke Tanah Rencong
kami kalungkan bunga
serta salam sepuluh jari.
Menjadi sebelas dengan kepala.
Berbilah-bilah rencong
dengan sarung dan tangkai berkilap,
tak lupa kami selipkan,
pertanda martabat dan keagungan.
Betapa pedih hati kami, dari pulau seberang,
kalian hujamkan mata rencong itu, tepat di jantung kami.
Sehingga kami harus tertatih-tatih,
untuk merajut jiwa kami yang terkoyak,
tercabik dan jauh terpendam di dasar bumi…..
Ya, “Hikayat Rencong” gubahan penyair Fikar W Eda yang mengawali tari top pade — komposisi tari yang menggambarkan semangat dan optimisme warga Aceh dalam mengelola lahan pertaniannya– itu seharusnya memang menyentak penonton, dan membuat mereka memalingkan perhatiannya sejenak dari keasyikan diri sendiri.
Pesta seni itu boleh jadi memang semarak, penuh warna, dan penuh irama. Ketika putra- putri dari Tanah Serambi itu menyajikan hasil olah cipta mereka di Tanah Banjar, bisa jadi darah sedang tumpah kembali di pojok-pojok dusun, di lereng-lereng gunung, di tepi hutan, bahkan di tengah sawah yang sedang menguning di Aceh.
Saat para pemuda-pemudi Tanah Serambi itu menyiapkan penampilan mereka di Banjarmasin, saudara-saudara mereka di Nagan raya Aceh Barat sedang menangisi enam lelaki sanak famili mereka yang bergelimpangan dengan tubuh dikoyak-koyak peluru.
Tiga perempuan, berusia 15, 18, dan 22 tahun, juga jadi korban pelecehan seksual. Belum lagi sekitar 20 warga tak bersalah disiksa, dipukuli, ditendang, dihina dan diperlakukan bak binatang, kata Tengku Amri bin Wahab, sebagaimana dikutip media.
Pada hari yang sama dengan tampilnya putra-putri Aceh di Banjarmasin, Megawati Soekarnoputri menginjakkan kakinya di Banda Aceh untuk sebuah muhibah sangat singkat –satu jam– dan sangat hemat. Ya, singkat dan hemat, jika dibanding lawatan yang baru saja diselesaikan Bu Presiden ono selama dua pekan lebih di negara-negara manca yang menghabiskan ongkos ratusan miliar rupiah.
Apakah Mega takut, sehingga hanya satu jam saja berada di Tanah Serambi? Bisa jadi. Beberapa jam sebelum pesawatnya mendarat di Bandara Sultan Iskandar Muda, Blang Bintang, Aceh Besar, dua ledakan menghebohkan aparat, (Ya, aparat. Kalau warga sih, sudah terlalu biasa bahkan mendengar yang jauh lebih dahsyat dari itu).
Sebuah bom meledak tak terlalu jauh dari sekitar bandara, pagi itu. Malam sebelumnya, satu bom meledak di Banda Aceh.
“Saya akan melakukan apa pun yang dapat saya perbuat untuk selalu bersama masyarakat Aceh dalam membangun kehidupan yang aman, damai, sejahtera dan maju dalam satu keutuhan keluarga bangsa tercinta ini,” kata Mega dengan suara tecekat, saat itu. Kalimatnya terputus-putus. Esoknya, media memberitakan kunjungan amat singkat itu dengan tajuk “Megawati Menangis.”
Mega hadir di Aceh untuk meresmikan penerbangan perdana pesawat Seulawah NAD Air dan pembukaan Kongres Adat Aceh. Peresmian pesawat itu penuh tekanan emosi mengingat setengah abad yang lalu, warga Aceh pernah menyumbang sebuah pesawat untuk republik yang juga diberi nama Seulawah 01.
Bedanya, dahulu Seulawah dibeli orang Aceh dan kemudian disumbangkan untuk republik sebagai modal perjuangan. Sumbangan itu diterima langsung oleh Presiden Soekarno. Kini Seulawah NAD Air adalah sebuah perusahaan komersial, layaknya perusahaan penerbangan swasta lain.
Seulawah adalah simbol, bgaimana rakyat Tanah Rencong bersedia menyisihkan dan mengorbankan harta kekayaannya demi tegaknya negara kesatuan. Bagaimana mereka dengan tulus bergabung bersama saudara-saudaranya dari daerah lain untuk bernaung di bawah Sang Merah Putih.
Namun dalam dua dekade terakhir –bahkan mungkin lebih — hanya merahnya darah mereka yang mewarnai bumi Aceh. Simak lagi syair yang tempo hari bergema di Gedung Sultan Suriansyah itu: Kami kalungkan bunga, kami hadiahkan Rencong –martabat dan keagungan — kami. Tapi kalian hujamkan rencong itu tepat di jantung kami!
Seulawah di masa silam juga ibarat Rencong Kehormatan. Ia adalah wujud dari kemakmuran Tanah Serambi. Kekayaan itu disumbangkan, dihibahkan, demi keutuhan republik, sebagaimana pada dekade-dekade berikutnya dolar dialirkan dari Arun, dari Lhokseumawe, dari hutan-hutan Aceh, ke Tanah Seberang, dan kembali dalam bentuk …. DOM (status Daerah Operasi Militer) yang berdarah-darah itu.
Status DOM sudah dicabut. Kini diganti Operasi Pemulihan Keamanan (Opslihkam). Tapi keadaan tidak berubah. Darah masih tetap tumpah. Para istri kehilangan suami. Suami kehilangan istri. Anak-anak kehilangan ayah. Para ayah kehilangan putra-putri mereka. Dari hari ke hari pada saat-saat sekarang ini, rakyat Aceh masih terus diharu-biru peperangan yang ditandai oleh aneka kekerasan.
Kehidupan aman, damai, dan sejahtera, sebagaimana disebut-sebut presiden dalam sambutannya –yang sambil menangis itu– tampaknya masih akan jadi angan-angan bagi saudara-saudara kita di Aceh. Dan, itu pula yang sesungguhnya jadi impian seluruh masyarakat Indonesia. Tidak di Aceh, tidak pula di Timika, Ambon dan Poso, melainkan di segenap pelosok negeri.
Harapan itu tentu tidak berlebihan, apalagi dalam konteks Aceh yang sama-sama kita tahu, tampaknya rasa aman, damai, tenteram –apalagi sejahtera– itu nyaris tak pernah lagi mereka nikmati hari-hari ini.
Mungkin betul, presiden menunjukkan kecintaan dan simpatinya pada rakyat Aceh dengan penuh perasaan sampai ia tak kuasa menahan tangis saat berpidato. Namun saudara- saudara kita di Aceh pun tentu bisa melihat dan menangkap kesungguhan dan ketulusan Presiden dengan kata-katanya itu. Ketulusan dan kesungguhan itulah yang sebenarnya hingga kini belum mereka rasakan.
Tak terlalu salah jika putra-putri Nanggroe Aceh Darussalam itu menyampaikan pesan perdamaian ketika mereka tampil pada hari kedua Festival Nasional Seni Pertunjukan di Banjarmasin tempo hari. Bahwa yang kemudian tersaji adalah kepedihan, memang begitulah adanya. Jika kepedihan itu dialirkan lewat seni pertunjukan, bisa jadi karena rakyat Aceh sudah kehabisan airmata.***
* Bandung, 290902

0 Tanggapan ke “Airmata Mega (2002)”