01
Des
08

“Al Faqir”

al-faqir_sang-agen

NAMANYA Al Faqir. Bukan tokoh terpandang. Bukan pemimpin agama. Ia cuma orang biasa yang bahkan nyaris buta huruf, kecuali huruf-huruf kitab suci. Ia tak bisa menimba ilmu lebih banyak karena keluarganya sangat miskin. Kedua orangtuanya meninggal saat Al Faqir masih sangat belia. Ia adalah orang lugu yang hanya punya satu pengetahuan, bahwa tugas manusia adalah ibadah. Titik.

Itulah yang dilakukannya sehari-hari di sela-sela kerja serabutan di sebuah dusun kering di sebuah negeri di Timur Tengah. Tempat favoritnya adalah sebuah goa di gunung batu.

Ia hidup terlunta, dan hampir-hampir tak dianggap orang waras oleh warga di sekelilingnya. Tapi dialah yang terpilih di antara sekian nama dan sosok yang dinominasikan. Bukankah pemimpin besar itu seringkali muncul dari orang kebanyakan?

Pemimpin? Ya, bertahun-tahun kemudian, Al Faqir menggemparkan dunia. Puncak kejutan itu terjadi di hari raya haji, persis pada Haji Akbar yang jatuh pada hari Jumat tahun dua ribu sekian.

Semua media menyiarkannya ke seantero penjuru bumi. Dan, hampir semua umat Islam meyakininya bahwa dialah ‘Al Mahdi’ sang pemimpin akhir zaman yang dinanti-nantikan itu. Umat Islam bangkit dengan gairah baru yang menderu-deru.

Dunia Barat menyambutnya penuh suka cita. Apa yang mereka risaukan dari sosok-sosok pemimpin Islam dari berbagai behalan dunia, dengan militansi dan modernitas masing-masing –yang kadang “merepotkan” mereka, kini teratasi dengan munculnya satu pemimpin. Pemimpin baru ini akan diakui dan diterima oleh segenap lapisan umat Islam di mana pun.

Singkatnya, kini sudah muncul seorang pemimpin umat Islam yang “sesuai” dengan skenario Barat.

Lho, kok?

Tunggu dulu. Uraian di atas memang cuma cuplikan dari sebuah buku. Novel berbau fiksi ilmiah itu berjudul Al Mahdi. Isinya mengenai spionase yang menunjukkan betapa canggihnya dunia intelijen bekerja.

Betapa sabar, telaten, terencana, terkoordinasi, terperinci sampai ke hal-hal paling kecil, dan menggunakan perangkat teknologi yang sebagian di antaranya betul-betul hanya diciptakan untuk keperluan itu. Tujuan akhir, menggiring dan membentuk opini publik ke arah yang dikehendaki.

Buku terbitan akhir tahun 1980-an itu menggambarkan, bagaimana jaringan intelijen Barat bersatu padu menyiapkan seorang tokoh menjadi pemimpin dunia. Bagaimana mereka merekrut orang macam Al Faqir tanpa yang bersangkutan sadar bahwa ia jadi alat. Bagaimana mereka merekrut dan menanam orang-orang di berbagai belahan bumi, tanpa orang-orang itu sadar telah jadi bagian dari sebuah operasi intelijen.

Bagaimana pula perangkat teknologi digunakan semaksimal untuk memasok berbagai informasi kepada orang, dan orang-orang, sehingga lambat laun menjadi opini kelompok, kemudian jadi opini publik. Bertahun-tahun mereka menanam orang-orang yang sudah mereka “rekrut” itu untuk melakukan tingkah laku sesuai skenario. Sekali lagi, tentu tanpa yang bersagkutan menyadarinya.

Sosok Al Faqir yang “bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa” dibangun melalui berbagai ‘pendekatan’ dan pasokan informasi dan jaringan yang kemudian mampu membangkitkan kepribadiannya. Mampu membuatnya ganti kepribadian dari seorang miskin papa dan bodoh, menjadi seorang yang berpengetahuan luas dan diapandang sebagai orang aulia yang arif bijaksana.

Bagaimana Al Faqir disiapkan menjadi “nabi” baru melalui “firman-firman” yang seakan-akan didengarnya di dalam goa tempat sehari-hari ia beribadah. Seakan goa –atau mahluk lain yang tak berbentuk– yang menyuarakan firman-firman itu langsung ke dalam otaknya. “Firman-firman” itu sejatinya adalah ayat-ayat yang dikutip dari kitab suci tulen.

Tentu saja goa itu sudah ‘disusupi’ dan ditata sedemikian rupa sehingga menjadi sistem suara yang demikian sempurna. Orang seperti mendengar suara langusung di dalam kepalanya, bukan lagi melalui perantaraan kuping. Begitu pula ketika Al Faqir dipertemukan dengan “malaikat” pembawa pesan. Tentu pula “malaikat” ini “dihadirkan” melaui teknik hologram tingkat tinggi.

Semua disiapkan sedemikian rinci, bahkan kambing yang dijadikan kurban pada puncak perayaan Haji Akbar di Arafah pun, sudah “direkrut” sejak dini yang kemudian dibawa oleh salah seorang anggota jemaah dari negara terdekat yang sama sekali tak menyadari bahwa kambing kurban itu sudah jadi bagian dari alat kerja intelijen.

Bagaimana kambing itu sedari kecil sudah ditanami chip yang memungkinkannya selalu terpantau di mana pun dia berada. Chip itu sekaligus jadi titik sasaran laser yang –pada saatnya– ditembakkan dari satelit.

Ketika kambing akan disembelih, ketika Al Mahdi baru mengangkat tangan, kambing yang diambil secara “acak” dari tangan seorang anggota jemaah itu tiba-tiba dihujam sinar hujau dari “langit”, lalu terpanggang lumat dalam skejap, seolah memang mukjizat yang menunjukkan bahwa kurban ini direstui.

Saya teringat kembali isi buku itu ketika bangsa Indonesia dikejutkan oleh kemunculan tiba-tiba seorang tokoh yang konon bernama Omar Al Farouq. Omar ditangkap oleh agen-agen CIA (Central Intelligent Agency — agen rahasia AS) di Cijeruk, Bogor, Jawa Barat, dan kini diamankan di “Rumah Tahanan” di pangkalan militer AS di Cuba — Negerinya Fidel Castro, musuh bebuyutan seluruh Presiden AS.

Ketika heboh Al Farouq agak memuncak pada polemik yang intinya menyangkal keberadaan jaringan atau anggota jaringan Al Qaeda di Indonesia, Bali terguncang. Bom meluluh-lantakkan Sari Club, tempat hiburan eksklusif –yang hanya terbuka untuk orang asing. Polemik ada-tidaknya jaringan teroris pun terbungkam. Kesimpulan segera meuncul: Teroris ada di sini.

Bahwa korban terbanyak adalah orang Australia, mungkin cuma “kebetulan” karena hari itu dan hari-hari lainnya orang-orang Australialah yang paling banyak berpiknik ke Bali, karena memang dekat. Kebetulan pula Australia selalu kritis dan terkesan sering ikut cawe-cawe urusan Indonesia, sehingga efek yang ditimbulkan dari akaibat ledakan ini akan jauh lebih besar jika –misalnya– meledakkan bom di Aceh atau Ambon.

Mungkin ‘kebetulan’ pula, sejak dua minggu sebelum terjadi ledakan, Kedubes AS berulang-ulang mengingatkan warganya yang ada di Indonesia agar menjauhi tempat-tempat hiburan, sehingga hampir tak ada korban berasal dari negeri Paman Bush itu.

Jelas, kasus Al Farouq sangat jauh berbeda dengan kisah Al Faqir dalam Al Mahdi itu. Al Farouq, dikesankan sebagai bagian dari sebuah operasi teror yang antara lain berbentuk seperti insiden yang terjadi di Bali. Sedangkan Al Faqir dalam novel fiksi ilmiah itu cumalah gambaran demikian canggihnya operasi intelijen dalam rekaan si pengarang.

Baik operasi teror maupun operasi intelijen, kadang-kadang menampilkan wajah yang sama: Sama canggihnya, sama kejamnya, sama kejinya, sama biadabnya, sama-sama tak pandang bulu, sama-sama tak berperikemanusiaan, sama-sama tak bermoral, dan …

Lalu, apa bedanya? **

Bandung, 201002


1 Tanggapan ke ““Al Faqir””


  1. Desember 26, 2008 pukul 6:48 pm

    BRAVO , ANALISA ANDA MENDEKATI NAMUN JUGA JGN PERNAH DILUPAKAN PERAN MALAYSIA KENTAL DALAM BOM BALI 2 SELANJUTNYA HARUS SGRA ADA CONTRA OPERASI INTELIJEN BUKTI KAN PD DUNIA BHW TILIK SANDI KITA MAMPU ………….! WASSALAM


Tinggalkan Balasan