Arsip untuk Desember, 2008

26
Des
08

Airmata Mega (2002)

airmatadarahmega

SUASANA di rongga utama Gedung Sultan Suriansyah tiba-tiba sesak oleh kepiluan. Malam itu, tim kesenian dari Nangroe Aceh Darussalaam (NAD) yang tampil dalam Festival Nasional Seni Pertunjukan tahun 2002, menyodorkan ‘pedihnya keindahan’ lewat untaian syair sebagai prolog bagi sebuah komposisi tari:

Siapa saja yang datang ke Tanah Rencong
kami sambut dengan tarian
dan syair perjamuan,
pertanda kemuliaan.

Siapa saja yang datang ke Tanah Rencong
kami kalungkan bunga
serta salam sepuluh jari.
Menjadi sebelas dengan kepala.

Berbilah-bilah rencong
dengan sarung dan tangkai berkilap,
tak lupa kami selipkan,
pertanda martabat dan keagungan.

Betapa pedih hati kami, dari pulau seberang,
kalian hujamkan mata rencong itu, tepat di jantung kami.
Sehingga kami harus tertatih-tatih,
untuk merajut jiwa kami yang terkoyak,
tercabik dan jauh terpendam di dasar bumi…..

Ya, “Hikayat Rencong” gubahan penyair Fikar W Eda yang mengawali tari top pade — komposisi tari yang menggambarkan semangat dan optimisme warga Aceh dalam mengelola lahan pertaniannya– itu seharusnya memang menyentak penonton, dan membuat mereka memalingkan perhatiannya sejenak dari keasyikan diri sendiri.

Pesta seni itu boleh jadi memang semarak, penuh warna, dan penuh irama. Ketika putra- putri dari Tanah Serambi itu menyajikan hasil olah cipta mereka di Tanah Banjar, bisa jadi darah sedang tumpah kembali di pojok-pojok dusun, di lereng-lereng gunung, di tepi hutan, bahkan di tengah sawah yang sedang menguning di Aceh.

Saat para pemuda-pemudi Tanah Serambi itu menyiapkan penampilan mereka di Banjarmasin, saudara-saudara mereka di Nagan raya Aceh Barat sedang menangisi enam lelaki sanak famili mereka yang bergelimpangan dengan tubuh dikoyak-koyak peluru.

Tiga perempuan, berusia 15, 18, dan 22 tahun, juga jadi korban pelecehan seksual. Belum lagi sekitar 20 warga tak bersalah disiksa, dipukuli, ditendang, dihina dan diperlakukan bak binatang, kata Tengku Amri bin Wahab, sebagaimana dikutip media.

Pada hari yang sama dengan tampilnya putra-putri Aceh di Banjarmasin, Megawati Soekarnoputri menginjakkan kakinya di Banda Aceh untuk sebuah muhibah sangat singkat –satu jam– dan sangat hemat. Ya, singkat dan hemat, jika dibanding lawatan yang baru saja diselesaikan Bu Presiden ono selama dua pekan lebih di negara-negara manca yang menghabiskan ongkos ratusan miliar rupiah.

Apakah Mega takut, sehingga hanya satu jam saja berada di Tanah Serambi? Bisa jadi. Beberapa jam sebelum pesawatnya mendarat di Bandara Sultan Iskandar Muda, Blang Bintang, Aceh Besar, dua ledakan menghebohkan aparat, (Ya, aparat. Kalau warga sih, sudah terlalu biasa bahkan mendengar yang jauh lebih dahsyat dari itu).

Sebuah bom meledak tak terlalu jauh dari sekitar bandara, pagi itu. Malam sebelumnya, satu bom meledak di Banda Aceh.

“Saya akan melakukan apa pun yang dapat saya perbuat untuk selalu bersama masyarakat Aceh dalam membangun kehidupan yang aman, damai, sejahtera dan maju dalam satu keutuhan keluarga bangsa tercinta ini,” kata Mega dengan suara tecekat, saat itu. Kalimatnya terputus-putus. Esoknya, media memberitakan kunjungan amat singkat itu dengan tajuk “Megawati Menangis.”

Mega hadir di Aceh untuk meresmikan penerbangan perdana pesawat Seulawah NAD Air dan pembukaan Kongres Adat Aceh. Peresmian pesawat itu penuh tekanan emosi mengingat setengah abad yang lalu, warga Aceh pernah menyumbang sebuah pesawat untuk republik yang juga diberi nama Seulawah 01.

Bedanya, dahulu Seulawah dibeli orang Aceh dan kemudian disumbangkan untuk republik sebagai modal perjuangan. Sumbangan itu diterima langsung oleh Presiden Soekarno. Kini Seulawah NAD Air adalah sebuah perusahaan komersial, layaknya perusahaan penerbangan swasta lain.

Seulawah adalah simbol, bgaimana rakyat Tanah Rencong bersedia menyisihkan dan mengorbankan harta kekayaannya demi tegaknya negara kesatuan. Bagaimana mereka dengan tulus bergabung bersama saudara-saudaranya dari daerah lain untuk bernaung di bawah Sang Merah Putih.

Namun dalam dua dekade terakhir –bahkan mungkin lebih — hanya merahnya darah mereka yang mewarnai bumi Aceh. Simak lagi syair yang tempo hari bergema di Gedung Sultan Suriansyah itu: Kami kalungkan bunga, kami hadiahkan Rencong –martabat dan keagungan — kami. Tapi kalian hujamkan rencong itu tepat di jantung kami!

Seulawah di masa silam juga ibarat Rencong Kehormatan. Ia adalah wujud dari kemakmuran Tanah Serambi. Kekayaan itu disumbangkan, dihibahkan, demi keutuhan republik, sebagaimana pada dekade-dekade berikutnya dolar dialirkan dari Arun, dari Lhokseumawe, dari hutan-hutan Aceh, ke Tanah Seberang, dan kembali dalam bentuk …. DOM (status Daerah Operasi Militer) yang berdarah-darah itu.

Status DOM sudah dicabut. Kini diganti Operasi Pemulihan Keamanan (Opslihkam). Tapi keadaan tidak berubah. Darah masih tetap tumpah. Para istri kehilangan suami. Suami kehilangan istri. Anak-anak kehilangan ayah. Para ayah kehilangan putra-putri mereka. Dari hari ke hari pada saat-saat sekarang ini, rakyat Aceh masih terus diharu-biru peperangan yang ditandai oleh aneka kekerasan.

Kehidupan aman, damai, dan sejahtera, sebagaimana disebut-sebut presiden dalam sambutannya –yang sambil menangis itu– tampaknya masih akan jadi angan-angan bagi saudara-saudara kita di Aceh. Dan, itu pula yang sesungguhnya jadi impian seluruh masyarakat Indonesia. Tidak di Aceh, tidak pula di Timika, Ambon dan Poso, melainkan di segenap pelosok negeri.

Harapan itu tentu tidak berlebihan, apalagi dalam konteks Aceh yang sama-sama kita tahu, tampaknya rasa aman, damai, tenteram –apalagi sejahtera– itu nyaris tak pernah lagi mereka nikmati hari-hari ini.

Mungkin betul, presiden menunjukkan kecintaan dan simpatinya pada rakyat Aceh dengan penuh perasaan sampai ia tak kuasa menahan tangis saat berpidato. Namun saudara- saudara kita di Aceh pun tentu bisa melihat dan menangkap kesungguhan dan ketulusan Presiden dengan kata-katanya itu. Ketulusan dan kesungguhan itulah yang sebenarnya hingga kini belum mereka rasakan.

Tak terlalu salah jika putra-putri Nanggroe Aceh Darussalam itu menyampaikan pesan perdamaian ketika mereka tampil pada hari kedua Festival Nasional Seni Pertunjukan di Banjarmasin tempo hari. Bahwa yang kemudian tersaji adalah kepedihan, memang begitulah adanya. Jika kepedihan itu dialirkan lewat seni pertunjukan, bisa jadi karena rakyat Aceh sudah kehabisan airmata.***
* Bandung, 290902

01
Des
08

“Al Faqir”

al-faqir_sang-agen

NAMANYA Al Faqir. Bukan tokoh terpandang. Bukan pemimpin agama. Ia cuma orang biasa yang bahkan nyaris buta huruf, kecuali huruf-huruf kitab suci. Ia tak bisa menimba ilmu lebih banyak karena keluarganya sangat miskin. Kedua orangtuanya meninggal saat Al Faqir masih sangat belia. Ia adalah orang lugu yang hanya punya satu pengetahuan, bahwa tugas manusia adalah ibadah. Titik.

Itulah yang dilakukannya sehari-hari di sela-sela kerja serabutan di sebuah dusun kering di sebuah negeri di Timur Tengah. Tempat favoritnya adalah sebuah goa di gunung batu.

Ia hidup terlunta, dan hampir-hampir tak dianggap orang waras oleh warga di sekelilingnya. Tapi dialah yang terpilih di antara sekian nama dan sosok yang dinominasikan. Bukankah pemimpin besar itu seringkali muncul dari orang kebanyakan?

Pemimpin? Ya, bertahun-tahun kemudian, Al Faqir menggemparkan dunia. Puncak kejutan itu terjadi di hari raya haji, persis pada Haji Akbar yang jatuh pada hari Jumat tahun dua ribu sekian.

Semua media menyiarkannya ke seantero penjuru bumi. Dan, hampir semua umat Islam meyakininya bahwa dialah ‘Al Mahdi’ sang pemimpin akhir zaman yang dinanti-nantikan itu. Umat Islam bangkit dengan gairah baru yang menderu-deru.

Dunia Barat menyambutnya penuh suka cita. Apa yang mereka risaukan dari sosok-sosok pemimpin Islam dari berbagai behalan dunia, dengan militansi dan modernitas masing-masing –yang kadang “merepotkan” mereka, kini teratasi dengan munculnya satu pemimpin. Pemimpin baru ini akan diakui dan diterima oleh segenap lapisan umat Islam di mana pun.

Singkatnya, kini sudah muncul seorang pemimpin umat Islam yang “sesuai” dengan skenario Barat.

Lho, kok?

Tunggu dulu. Uraian di atas memang cuma cuplikan dari sebuah buku. Novel berbau fiksi ilmiah itu berjudul Al Mahdi. Isinya mengenai spionase yang menunjukkan betapa canggihnya dunia intelijen bekerja.

Betapa sabar, telaten, terencana, terkoordinasi, terperinci sampai ke hal-hal paling kecil, dan menggunakan perangkat teknologi yang sebagian di antaranya betul-betul hanya diciptakan untuk keperluan itu. Tujuan akhir, menggiring dan membentuk opini publik ke arah yang dikehendaki.

Buku terbitan akhir tahun 1980-an itu menggambarkan, bagaimana jaringan intelijen Barat bersatu padu menyiapkan seorang tokoh menjadi pemimpin dunia. Bagaimana mereka merekrut orang macam Al Faqir tanpa yang bersangkutan sadar bahwa ia jadi alat. Bagaimana mereka merekrut dan menanam orang-orang di berbagai belahan bumi, tanpa orang-orang itu sadar telah jadi bagian dari sebuah operasi intelijen.

Bagaimana pula perangkat teknologi digunakan semaksimal untuk memasok berbagai informasi kepada orang, dan orang-orang, sehingga lambat laun menjadi opini kelompok, kemudian jadi opini publik. Bertahun-tahun mereka menanam orang-orang yang sudah mereka “rekrut” itu untuk melakukan tingkah laku sesuai skenario. Sekali lagi, tentu tanpa yang bersagkutan menyadarinya.

Sosok Al Faqir yang “bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa” dibangun melalui berbagai ‘pendekatan’ dan pasokan informasi dan jaringan yang kemudian mampu membangkitkan kepribadiannya. Mampu membuatnya ganti kepribadian dari seorang miskin papa dan bodoh, menjadi seorang yang berpengetahuan luas dan diapandang sebagai orang aulia yang arif bijaksana.

Bagaimana Al Faqir disiapkan menjadi “nabi” baru melalui “firman-firman” yang seakan-akan didengarnya di dalam goa tempat sehari-hari ia beribadah. Seakan goa –atau mahluk lain yang tak berbentuk– yang menyuarakan firman-firman itu langsung ke dalam otaknya. “Firman-firman” itu sejatinya adalah ayat-ayat yang dikutip dari kitab suci tulen.

Tentu saja goa itu sudah ‘disusupi’ dan ditata sedemikian rupa sehingga menjadi sistem suara yang demikian sempurna. Orang seperti mendengar suara langusung di dalam kepalanya, bukan lagi melalui perantaraan kuping. Begitu pula ketika Al Faqir dipertemukan dengan “malaikat” pembawa pesan. Tentu pula “malaikat” ini “dihadirkan” melaui teknik hologram tingkat tinggi.

Semua disiapkan sedemikian rinci, bahkan kambing yang dijadikan kurban pada puncak perayaan Haji Akbar di Arafah pun, sudah “direkrut” sejak dini yang kemudian dibawa oleh salah seorang anggota jemaah dari negara terdekat yang sama sekali tak menyadari bahwa kambing kurban itu sudah jadi bagian dari alat kerja intelijen.

Bagaimana kambing itu sedari kecil sudah ditanami chip yang memungkinkannya selalu terpantau di mana pun dia berada. Chip itu sekaligus jadi titik sasaran laser yang –pada saatnya– ditembakkan dari satelit.

Ketika kambing akan disembelih, ketika Al Mahdi baru mengangkat tangan, kambing yang diambil secara “acak” dari tangan seorang anggota jemaah itu tiba-tiba dihujam sinar hujau dari “langit”, lalu terpanggang lumat dalam skejap, seolah memang mukjizat yang menunjukkan bahwa kurban ini direstui.

Saya teringat kembali isi buku itu ketika bangsa Indonesia dikejutkan oleh kemunculan tiba-tiba seorang tokoh yang konon bernama Omar Al Farouq. Omar ditangkap oleh agen-agen CIA (Central Intelligent Agency — agen rahasia AS) di Cijeruk, Bogor, Jawa Barat, dan kini diamankan di “Rumah Tahanan” di pangkalan militer AS di Cuba — Negerinya Fidel Castro, musuh bebuyutan seluruh Presiden AS.

Ketika heboh Al Farouq agak memuncak pada polemik yang intinya menyangkal keberadaan jaringan atau anggota jaringan Al Qaeda di Indonesia, Bali terguncang. Bom meluluh-lantakkan Sari Club, tempat hiburan eksklusif –yang hanya terbuka untuk orang asing. Polemik ada-tidaknya jaringan teroris pun terbungkam. Kesimpulan segera meuncul: Teroris ada di sini.

Bahwa korban terbanyak adalah orang Australia, mungkin cuma “kebetulan” karena hari itu dan hari-hari lainnya orang-orang Australialah yang paling banyak berpiknik ke Bali, karena memang dekat. Kebetulan pula Australia selalu kritis dan terkesan sering ikut cawe-cawe urusan Indonesia, sehingga efek yang ditimbulkan dari akaibat ledakan ini akan jauh lebih besar jika –misalnya– meledakkan bom di Aceh atau Ambon.

Mungkin ‘kebetulan’ pula, sejak dua minggu sebelum terjadi ledakan, Kedubes AS berulang-ulang mengingatkan warganya yang ada di Indonesia agar menjauhi tempat-tempat hiburan, sehingga hampir tak ada korban berasal dari negeri Paman Bush itu.

Jelas, kasus Al Farouq sangat jauh berbeda dengan kisah Al Faqir dalam Al Mahdi itu. Al Farouq, dikesankan sebagai bagian dari sebuah operasi teror yang antara lain berbentuk seperti insiden yang terjadi di Bali. Sedangkan Al Faqir dalam novel fiksi ilmiah itu cumalah gambaran demikian canggihnya operasi intelijen dalam rekaan si pengarang.

Baik operasi teror maupun operasi intelijen, kadang-kadang menampilkan wajah yang sama: Sama canggihnya, sama kejamnya, sama kejinya, sama biadabnya, sama-sama tak pandang bulu, sama-sama tak berperikemanusiaan, sama-sama tak bermoral, dan …

Lalu, apa bedanya? **

Bandung, 201002