SEBUAH mobil boks meluncur di keramaian lalu-lintas. Tak ada yang aneh. Di ruas-ruas jalanan Jakarta yang saban hari disesaki ribuan mobil dari berbagai jenis, kehadiran satu mobil boks tidaklah akan menarik perhatian.
Terlebih di kota bisnis. Pemandangan macam itu biasa saja. Kamera-kamera yang disimpan secara tersembunyi di gedung-gedung jangkung pun menangkapnya biasa pula. Bukan objek menarik bagi operator di balik monitor di pusat kendali sistem sekuriti.
Malah, jangan-jangan, kamera itu ditancap permanen di sudut- sudut strategis properti yang bersangkutan. Dibiarkan bergerak sendiri secara otomastis seuai pola waktu geraknya yang sudah dikunci, karena itu tak perlu ditongkrongi operator.
Itu pun lazim saja. Wong kamera tersebut dipasang bukan dengan maksud merekam aksi teror, kok.
Orang –terutama aparat keamanan– baru menyadarinya beberapa saat kemudian. Dan, opini pun terbentuk. Bahwa bom yang meledak di depan Kedutaan Besar Australia di Jakarta, Kamis (9/9) itu adalah bom mobil.
Ya, gambar hidup yang terekam sekilas itulah yang antara lain jadi petunjuk kuat di samping serpihan dan kepingan mobil yang belakangan diketahui dari jenis ternetu, keluaran pabrik tertentu.
Tapi, korban-korban telah jatuh. Tewas. Cedera. Tak bisa diperbaiki. Tak bisa dikembalikan, sebagaimana kita me-rewind tayangan rekaman dari kamera pengaman itu –dan menghentikannya pada saat tepat– agar mobil tadi tak meledak. Momentum itu sudah terjadi, sebagaimana Anton Sujarwo –Satpam Kedubes Australia– sudah menyatu dengan tanah dari mana ia berasal.
Ternyata, teroris –atau siapa pun mereka yang tindakannya menyebarkan kematian dan ketakutan– tak pernah kalis. Mereka masih berkeliaran di mana pun. Juga di tanah air kita.
Setidaknya, itulah kesimpulan awal yang ditarik aparat keamanan. Mereka bilang, insiden ini terkait dengan jaringan teroris Dr Azahari dan Noordin Moh Top, dua tokoh yang juga disebut-sebut dalam ledakan bom di JW Marriott Hotel Jakarta tahun 2003 dan di Bali 2002.
Yang jelas, insiden yang menghadirkan kekejamanh dan kekejian ini hanya berselang beberapa hari setelah Amerika Serikat dan Australia memperbarui peringatan mereka agar warganya tidak mengunjungi Indonesia bila tidak benar-benar perlu.
Konon, para intelijen negara itu sudah mencium adanya gerakan teroris yang akan beraksi terutama di daerah yang berkaitan dengan aktivitas warga asing di Indonesia.
Padahal –seperti kata Kapolri di depan Komisi II DPR RI, satu jam sebelum terjadi ledakan– situasi keamanan di Indonesia secara umum cukup kondusif menjelang pemilihan presiden putaran kedua.
Kapolri tentu tak perlu menarik kata-katanya. Tak perlu pula malu. Wong, fakta-fakta dan data-data tentang situasi kondusif itu diperolehnya sebelum terjadi insiden dan mungkin saja dikumpulkan tidak secara cermat oleh aparatnya, sehingga tak secuilpun keraguan untuk mengatakan situasi kondusif.
Dan, bum!
Situasi ternyata memang kondusif –juga– untuk orang-orang yang bermaksud jahat. Buktinya, mereka bisa dengan aman memeproleh bahan-bahan kimia untuk dijadikan bom. Bisa pula leluasa bergerak karena jaring-jaring intelijen mungkin kurang rapat.
Jika keadaan dianggap kondusif, lalu manusia macam apa yang datang mengacau jika bukan dari kelompok teroris? Okelah, satu pihak pihak menyatakan ini berkaitan dengan pemilihan presiden. Pihak lain menduganya sebagai peringatan tiga tahun Tragedi World Trade Center 11 September 2001.
Ada pula yang menyangkutpautkan hal ini dengan keangkuhan Australia, yang baru-baru ini memperkuat pertahanan dengan membeli rudal dengan dalih antisipasi ancaman dari luar. Selain itu, sikap mreka selama ini selalu tampak lebih Amerika dari Amerika sendiri dalam percaturan kawasan.
Analis lain menyebutkan, insiden ini sengaja dibuat supaya diopinikan sebagai bagian dari perlawanan kelompok Mujahidin Islam di Asia Tenggara, terhadap sasaran-sasaran Barat di Indonesia. Jakarta jadi target, karena secara politis banyak aset milik AS dan Australia di Indonesia.
Publik juga tahu kelompok-kelompok radikal Islam di Asia Tenggara sangat tidak suka policy AS dan Australia terhadap Thailand, Malaysia, Indonesia dan Filipina. Itu sebabnya, dulu ada bom di Kedubes Filipina, lalu di Kuta, Bali. Kemudian di JW Marriott Hotel Jakarta. Dan, kini di depan hidung Duta Besar Australia.
Toh ada juga yang melihat rangkaian insiden bom di tanah air kita ini sebagai bagian dari mata rantai konflik yang diciptakan AS di Timur Tengah selama ini. Semua mata rantai ini pada akhirnya berujung di satu kepentingan, yaitu tentang minyak.
Belum diketahui dengan jelas apa motif sebenarnya dari pelaku peledakan bom ini. Tapi, terlepas dari apapun motifnya, siapa pun kita tentu mengutuk keras tindakan macam itu yang telah menewaskan orang-orang tak bersalah dan tidak berkaitan langsung dengan target para pelaku teror ini.
Taruhlah orang barat jadi sasaran, seperti dalam insiden di Bali. Lalu apakah mereka pernah minta dilahirkan sebagai orang barat, sebagai Amerika, sebagai Australia, sebagai entah apa?
Orang sipil, warga biasa yang tak ada sangkut paut dengan perkara yang dipertentangkan, selalu jadi korban pertama dalam insiden-insiden macam ini.
Jika pun itu dianggap sebagai risiko pertempuran, seperti dipekik-pekikkan Bush saat menyerbu Afghanistan dan ketika menginvasi Irak, lalu perang macam apa yang sedang dilancarkan itu jika bukan cuma pamer kekuasaan yang seakan merepresentasikan kebenaran?
Apa pun alasan di balik semua kejadian ini, korban sudah jatuh dan tak bisa bangkit lagi. Mereka jadi korban ‘peradaban’ baru yang membangun tabiat manusia-manusianya kian hari ternyata bukan makin membaik, melainkan berbalik.
Ya, tabiat hasil ‘peradaban’ baru ini seperti membalikkan manusia ke masa-masa pra-peradaban ketika spesies kita masih mengedepankan kebrutalan, dan kekerasan, tanpa perikemanusiaan. *
Bandung, 130904

0 Tanggapan ke “Teror (Lagi)”