30
Nov
08

Telor, Teror

teror_wtc

“BAPA! Telor. Itu telor. Kecawat (maksudnya pesawat) meledak. Bum…!” anak saya –saat itu berusia 4 tahun– menarik-anrik tangan saya, sementara tangan satunya sibuk menunjuk-nunjuk layar televisi dan mulutnya menceracau.

Breaking news dari televisi swasta sedang manayangkan ulang rekaman gambar ledakan gedung World Trade Center (WTC). Dalam narasinya, reporter berulang-ulang menyebut kata teror dan teroris.

Anak saya sempat terkekeh-kekeh senang ketika melihat gambar pesawat –meski sekilas– mendekati gedung yang sedang mengepul, kemudian disusul ledakan dan bola api yang membubung. Barangkali mirip ledakan-ledakan yang disaksikannya jika ia menembaki musuh pada Play Station atau Sega-nya.

Tapi mukanya langsung kecut ketika melihat adegan nyata orang-orang berlarian, panik, dan ketakutan. “Astaga, telor yang satu ini tak sama dengan telor dadar,” begitu barangkali pikirnya. Ia terpana sesaat menyaksikan orang berlarian sambil melolong-lolong, dan suasana hiruk serta kacau-balau yang dengan cepat silih berganti.

Barry Power (26) adalah satu di antara ribuan orang yang sedang berada di jantung peristiwa itu. Pialang bursa ini baru saja meletakkan tasnya di meja kerja di kantornya di lantai 61 WTC, Manhattan, New York, ketika –seperti mimpi buruk– dari seberang jendela terlihat titik kelabu mengkilap yang makin membesar seolah mendekat ke arahnya. Titik itu ternyata pesawat. Mustahil!

Tak ada waktu lagi untuk menalar. Ia meloncat menjauh, sesaat sebelum bunyi berderak sangat keras menggetarkan lantai dan dinding-dinding kantornya. Dan, mimpi buruk itu pun dimulai. Dinding-dinding runtuh. Gedung jangkung itu sepereti mengigil, gemeletar disertai derakkan berkesinambungan. Bum! Semua gelap.

Ketika tersadar beberapa saat kemudian suasana sudah berubah. Manusia bergelimpangan di sekeliling Barry. Semua berantakan. Komputer-komputer beperlantingan dan pecah berantakan di lantai. Tiang-tiang saling-silang dalam gulungan debu semen pekat berbau oli terbakar. Tiga puluh menit kemudian Barry menerjang jendela ke arah tangga darurat, dengan kepala dibungkus kemejanya sendiri.

Ia sedang pontang-panting menyusuri tangga ketika serombongan pasukan pemadam kebakaran –semuanya mengenakan topeng masker oksigen– dan baju kedap api, menyerbu ke atas untuk mengevakuasi para korban. Barry baru beberapa langkah berlari menjauh ketika sebuah ledakan kuat meruntuhkan bangunan yang sedari tadi ‘menggigil’ itu.

Gedung kukuh angkuh setinggi 460 meter lebih yang menusuk langit dengan 110 lantai dan deretan antene di puncaknya ini luluh tanpa daya. Seperti menara pasir disiram air. Mengubur rombongan pemadam kebakaran yang baru saja merangsek masuk untuk menye lamatkan orang-orang di dalam gedung.

Entah berapa ribu orang persisnya yang pagi itu sedang berada di dalam gedung simbol kapitalisme dunia itu.

Amerika berkabung. Dunia berduka. Panik merajalela bersamaan dengan menjalarnya ketakutan dan kengerian bahwa kekejaman serupa bisa terjadi di tempat lain dan menimpa keluarga, teman, famili, kerabat, dan sesama kita. Orang marah, tapi tak tahu harus melam piaskan ke mana.

Ya. Ketakutan, kengerian, kepedihan, kejaman, yang bercampur aduk dengan kemarahan itu, adalah telor alias efek yang dilahirkan dan dijalarkan teror. Dari segi ini, sang mencipta teror telah berhasil dengan aksinya.

Negara adidaya, penguasa dan pengatur dunia seperti Amerika saja, ternyata tak berdaya mencium gerakan teror. Padahal di negeri itu pula pasukan-pasukan elit dunia dilatih untuk menghadapi, melawan, dan melumpuhkan terorisme. Di negeri itu pula teknologi teror dikembangkan secara maksimal untuk melawan teror.

Jika negara macam Amerika saja –yang memiliki sumberdaya tak terbatas untuk mengembangkan kecanggihan teknologi– masih bisa dikadali teroris, apalagi negara kecil dan baru berkembang serta baru tertimpa krisis macam ‘rekiblik’ kita ini.

Tapi, apa gunanya pula menekan negara miskin tanpa daya dengan teror, jika dengan sekali gertak saja sudah terbirit-birit melipat ekor. Atau diiming-iming seupil kredit saja matanya sudah hijau dan manggut-manggut menurut.

Apalagi teror itu bukan barang baru di negeri kita. Hanya saja skalanya memang tidak sespektakuler insiden WTC-Pentagon-Pennsylvania. Amerika berduka kehilangan ribuan warganya dalam sekali sentak. Sama halnya dengan perasaan yang dialami Jepang ketika Nagasaki-Hiroshima dibom-atom Amerika.

Tak jauh pula bedanya dengan bangsa Yahudi yang kehilangan sanak-saudara di kamp- kamp pembunuhan massal Jerman, sebagaimana kepedihan bangsa Palestina yang kehilangan sanak-anak, suami dan istri mereka dalam pembantaian sistematis oleh kaum Yahudi. Kenge rian yang sama, pasti dialami bangsa Bosnia di bawah rezim teror Slobodan Milosevic.

Selama 30 tahun lebih, bangsa kita pun diteror oleh penguasa sendiri, yang kadang meminjam tangan sesama kita. Kini ‘pelajaran teror’ yang diserap dari rezim lalim itu, dipraktekkan oleh siapa saja yang berkepentingan menekan pihak lain.

Karena itu kita masih terus dicabik-cabik kepedihan ketika ribuan putra-putri Aceh dibunuhi, ketika perempuan- perempuan Tionghoa diperkosai, ketika orang-orang Madura dipenggali, ketika bom-bom ber ledakan dibergai kota, di depan hidung kita. Hingga kini.

Teror terbukti efektif untuk memaksakan kehendak, dengan cara menyebarkan ketakutan dan kengerian. Telor memang dilahirkan dari rahim kekejamanan, kemudian ditetaskan dalam bentuk praktek nyata.

Kelompok tertentu dengan jaringan besar menetaskan telor itu dengan cara meledakkan ‘peluru kendali’ pesawat besar penuh penumpang dan sarat bahan-bakar ke gedung jangkung. Kelompok yang lebih kecil lagi menetaskan telor teror itu lewat pembantaian massal suku yang dianggap lawan.

Lainnya, mungkin perorangan, cukup dengan memamerkan rajah di sekujur tubuh, sambil jalan sempoyongan dan mata mengantuk, menadahkan tangan di simpang-simpang jalan. Ya, ternyata teror sudah jadi bagian dari hidup kita sehari-hari sehingga dengan rakus kita lumati berita televisi, surat kabar, radio, yang mewartakan aksi teror.

Teror pun menelorkan satu hal lagi: Surat kabar laris! ***

Bandung, 120901


0 Tanggapan ke “Telor, Teror”



  1. No Comments Yet

Tinggalkan Balasan