30
Nov
08

Amrozi dan Bush

bush-amrozi1BOLEH jadi, nama paling beken pasca insiden bom Bali adalah Amrozi. Bukan tidak mungkin, bahkan Presiden AS George W Bush pun mencoba menghapal nama ini ketika menyimak CNN di ruang pribadinya di Gedung Putih di sela-sela kesibukannya mengendalikan gairah untuk merontokkan Saddam Hussein.

Nama Amrozi, mungkin sempat pula mencuri sejenak perhatian John Howard, yang –dengan berbagai cara menekan– pemerintahan Megawati agar bersungguh-sungguh memerangi apa yang mereka sebut sebagai aksi teror. Maklum, di smaping Indonesia, Australia adalah negara yang paling berduka oleh tragedi Bali.

Tapi, siapa Amrozi?

Amrozi adalah lelaki berusia 35 tahun, warga Desa Tenggulun, Kecamatan Solokuro, Lamongan, Jawa Timur. Sehari-hari ia dikenal sebagai sosok pendiam. Putus sekolah pada tingkat SLTP. Terakhir ia mencari nafkah di Malaysia. Sekembalinya dari negeri jiran ia buka bengkel di kampungnya.

Bum! Bom meledak di Bali. Dan, popularitas lelaki berusia 35 tahun ini kemudian mencuat, nyaris mengalahkan Ustad Abu Bakar Ba’aysir yang ditangkap polisi beberapa saat setelah insiden Bali.

Rangkaian peristiwa berikutnya, berturut-turut seperti digiring untuk selalu mempunyai pertautan, persinggungan, keterkaitan, dan hubungan, dengan Abu Bakar Ba’asyir. Begitu pula publikasi terakhir mengenai Amrozi.

Lelaki yang disebut-sebut merupakan koordinator lapangan aksi peledakan bom di Kuta Bali, yang menewaskan lebih dari 180 orang itu, konon mengenal Ustad Abu, bahkan selalu minta restu Pak Ustad untuk berbagai tindakannya.

Benar atau tidak pengakuan Amrozi yang diumumkan polisi itu, entahlah. Yang jelas, kali ini polisi kita mencatat prestasi yang bisa disebut luar biasa.

Ya, luar biasa.

Dalam tempo sebulan, mereka berhasil mulai menyingkap satu demi satu potongan-potongan mozaik yang tercerai berai oleh ledakan bom Bali yang mengguncang dunia internasional itu.

Tentu saja –mestinya– ini berkat totalitas kerja keras ditambah keterpaduan kerja sama dengan berbagai pihak. Termasuk -tentu saja– polisi Australia dan Amerika beserta jaringan intelijennya.

Totalitas dan kecepatan kerja para penegak hukum dalam kasus Bali ini, tentu saja menerbitkan harapan baru, bahwa pola seperti itu akan selalu menyertai langkah-langkah mereka menegakkan profesionalismenya dalam mengusut berbagai kasus.

Artinya pola kerja yang menunjukkan profesionalisme tinggi itu tidak hanya diterapkan manakala ada perkara yang menyangkut orang asing sebagai korban. Kalau korbannya bangsa kita mah, ya seadanya saja.

Keraguan macam ini sah-sah saja menganggu pikiran siapa pun, terutama jika menyimak kasus-kasus yang tak kalah besar sebelum ini. “Pembakaran” lebih 130 orang di Mitra Plaza Banjarmasin 23 Mei 1997, misalnya, tampaknya tidak ditangani dengan profesionalisme tinggi sebagaimana yang mereka tunjukkan dalam Kasus Bali. Soalnya, sampai kini perkara itu seakan dibiarkan tenggelam dalam kegelapan ingatan.

Atau jangan jauh-jauh lah. Sebelum sampai pada kesimpulan ‘menersangkakan’ Amrozi, polisi toh sempat salah menangkap orang. Seorang gila di Flores, Nusa Tenggara Timur, misalnya, mendadak jadi orang penting ketika 2 November lalu polisi menggiring kemudian menerbangkannya ke Denpasar, Bali.

Rupanya, wajah orang ini mirip dengan salah satu wajah dalam sketsa yang diumumkan polisi sebagai wajah-wajah para tersangka “teroris”. Jika pola ‘asal mirip’ macam ini merupakan bagian dari profesionalisme para penyidik, maka celakalah wahai orang-orang yang ditakdirkan berwajah mirip!

Inilah yang dialami Zulfan. Ia berurusan dengan polisi di Medan, Sumatera Utara, 4 November lalu, gara-gara wajahnya mirip dengan salah satu wajah yang disketsakan itu. Pemuda ini tetap meringkuk di tahanan atas tuduhan memalsukan identitas. Lho, kok?

Gampang saja, toh? Polisi telanjur sudah menangkap. Dan bisa saja isin, karena keliru menciduk orang. Ya, perlu lah dicari legitimasi –pembenaran– untuk mengurung orang yang sudah telanjur ditangkap itu. Bahwa nanti ia tidak terbukti bersalah, itu urusan lain. Heheheheh.

Jangan-jangan, kata teman saya, profesionalisme macam ‘asal mirip’ ini pula yang dipakai saat menangkap Amrozi.

Tampaknya sih tidak. Setidaknya, jika merujuk pada apa yang dijelaskan polisi sebagaimana dikutip koran-koran, bahwa buktibukti fisik menunjukkan kebenaran tuduhan awal penyelidik.

Keterangan Amrozi –lagi-lagi sebagaimana dikutip polisi– juga menyebut sejumlah nama yang selama ini selalu muncul dalam pemberitaan menyangkut insiden-insiden pengeboman. Hambali, misalnya. Tokoh yang paling dicari intel Malaysia, Singapura, Filpina, dan Indonesia itu, konon pernah berhubungan degan Amrozi.

Toh ada juga yang melihat rangkaian dan kemunculan tokoh seperti Amrozi dan Hambali ini dari sudut pandang lain. “Kedua orang ini merupakan bagian dari permainan Amerika Serikat dan negara-negara sekutunya dalam mengobrak-abrik bangsa Indonesia,” kata analis politik dan pengamat intelijen, Letkol (Purn) H Djuanda dalam sebuah kesempatan di Bandung akhir pekan lalu.

Peledakan bom di Bali hanya bagian dari mata rantai konflik yang diciptakan AS di Timur Tengah selama ini. Semua mata rantai ini pada akhirnya berujung di satu kepentingan, yaitu tentang minyak, Mudah sekali untuk membuktikan hal itu, katanya.

Salah satu indikasi dari keterlibatan itu, barang bukti yang ditemukan oleh petugas, termasuk residu bahan kimia yang diduga dipasok oleh Amrozi, sebagian besar ditemukan oleh aparat dari luar negeri, termasuk Australia. Aparat kemanan dari Indonesia, hanya menindaklanjuti temuan itu.

Artinya, parat kemanan Indonesia hanya menuruti segala keinginan para petugas asing. Sikap ini didorong oleh keterbatasan infrastruktur, SDM, termasuk kecanggihan teknologi Indonesia yang masih serba terbatas.

“Singkatnya, pemerintahan Megawati sebenarnya sudah mati. Intervensi negara-negara asing seperti Amerika Serikat atau Australia akan semakin besar. Setelah itu kita akan didikte tentang apa saja yang harus kita lakukan. Kejadian ini menandakan hilangnya kemerdekaan sejati,” katanya.

Jika analisis yang dikemukakan ahli intelijen ini benar, berarti aparat keamanan kita baru akan bertindak profesional jika memang dipaksa dan ditekan oleh pihak asing karena ada orang asing yang jadi korban.

Jadi, kasus 23 Mei 1997 tak diusut tuntas, kasus Sampit tak dibuka sampai ke tingkat peradilan, kasus orang hilang tak juga diselidiki, kasus Udin, Kasus Trisakti, dan kasus-kasus lain tak jua terungkap, adalah karena para korbannya bukan orang asing.

Kasihan sekali.***

Bandung, 11 November 2002


0 Tanggapan ke “Amrozi dan Bush”



  1. No Comments Yet

Tinggalkan Balasan