Arsip untuk Juni, 2008

15
Jun
08

Angsa Gomora

LAMPU-lampu benderang menyorot ke tengah panggung. Balerina belia itu menekuk tubuhnya dengan cuma bertumpu pada ujung kaki kanan. Dadanya kembung-kempis mengatur napas. Perlahan kaki kirinya menjulur ke muka sejajar dengan dua lengannya yang juga dijulurkan dengan masing-masing punggung tangan bertemu dan jari-jarinya lentik menyeruak.

Latar belakang pangggung berbentuk kipas merekah, para ‘angsa’ pendukung berlompatan lincah, potongan-potongan kertas perak bertabur dari atas panggung, kemer lip disambari cahaya dan efek lampu kilat. Uap es kering menggelegak dari dua pojok belakang panggung.

Adegan terakhir Danau Angsa dalam konsep gabungan balet – tari modern yang kami garap dan kami tampilkan dua malam berturut-turut itu usai. Sampai waktu yang sangat lama, saya masih membayangkan keindahan cerita legendaris itu. Danau Angsa!
Bayangan itu buyar.

Menghitung Hari, kumpulan cerita dari balik jeruji besi, sekaligus rekaman hari-hari Arswendo Atmowiloto di dalam penjara, melontarkan saya kepada kenyataan lain di pojok remang di balik benteng bui.

Angsa, unggas yang selalu jadi ilham para penyair romantis itu, ternyata bisa jadi mahluk yang begitu istimewa dan bisa membuat penghuni penjara adu jotos, bahkan hingga berdarah-darah.

Di mata para narapidana, angsa bisa jadi lebih berharga dibanding perempuan — paling cantik sekali pun– yang tak bisa mereka sentuh. Tak usah prihatin dengan anjloknya kesetaraan gender (sebab perempuan berada di bawah nilai angsa), karena di balik terali tak ada nilai itu.

Yang ada, bagaimana para penghuni menyalurkan hasrat seksual. Tak berhasil mendapatkan bokong sesama napi, ya lobang angsa –jantan atawa betina, tak soal– pun jadilah.

Karena itu, begitu kisah Wendo dalam Menghitung Hari, acap kali terjadi keributan ketika para napi yang tak bisa mengendalikan hasrat bawah pusar berebut kesempatan memaksa angsa melayaninya. Koang! kuik! koang, kuik…!

Kasihan benar binatang itu. Tapi, tentu lebih patut dikasihani lagi manusia-manusia yang sudah tak bisa lagi membedakan antara binatang dan dirinya.

Situasi dan kondisi telah membuat mereka menciptakan kepribadiannya sendiri-sendiri yang tak lagi memandang kepatutan. Mereka membiarkan diri dan tubuhnya dikendalikan oleh dorongan hasrat seksual ketimbang oleh akal dan pikirannya.

“Kamu bisa bilang begitu karena kamu hidup di dunia normal, tak pernah merasa bagaimana rasanya dipenjara,” ujar rekan saya, seorang bekas preman yang pernah bertahun-tahun mendekam di sebuah penjara di Bandung.

Hal senada juga ditudingkan rekan lain, di Yogya. Kedua orang ini saya kirimi Menghitung Hari, mereka sangat senang dan membenarkan isinya. “Sayang, aku bukan penulis. Kalau ya, mungkin tulisanku lebih hebat dari ini!” katanya sambil mengacungkan buku itu.

Orang normal, yang –menurut istilah kedua rekan ini– punya hari esok, punya masa depan, mungkin bisa mengendalikan hasrat birahinya, karena esok atau lusa toh bakal ketemu istri atau bakal punya kesempatan beli ’sate’ di pinggiran jalan atau di hotel-hotel yang berserak di kota.

Tapi para narapidana tidak. Betul, bahwa mereka punya masa hukuman, punya kemungkinan untuk keluar dari bui suatu hari nanti, tapi kapan? Sesuatu bisa saja terjadi dan mereka mungkin tak sempat lagi mengenyam hari kebebasan itu.

Artinya, setuasi itulah yang bisa membuat sejumlah –tidak semua narapidana– menyimpangkan perilaku seksualnya. Kalau tak dengan tangan sendiri, atau memaksa rekan sejenis, ya itu tadi angsa bahkan ayam piaraan mereka di penjara pun bisa jadi objek pemuas kenikmatan sesaat. “Yang penting, asal keinginan sudah memuncak dan khayalan sudah membubung, angsa pun bisa secantik Miss Universe,” ujar rekan itu lagi sambil terkekeh.

Betul. Perkara seperti ini tak mungkin dilakukan lelaki normal dalam situasi normal. Tapi, ketaknormalan macam ini tak hanya terjadi di dalam bui.

Dalam situasi normal di luar penjara pun, ternyata ada saja kasus-kasus ketaknormalan perilaku seksual yang bahkan bisa lebih gila dari yang terjadi di dalam penjara. Perilaku ini bukan lagi sekadar gejala atau fenomena, melainkan sudah jadi realitas yang ada di sela-sela kehidupan normal umat manusia.

Bukankah Luth pun nyaris kehabisan cara untuk menyadarkan umatnya di negeri Sodom dan Gomora yang memiliki kebiasaan menyimpang itu? Dari sinilah ‘peradaban’ seks sesama jenis –yang kini jadi realitas itu– diyakini bermula.

Ketika perempuan tertarik perempuan, dan para lelaki hanya berhasrat pada sesamanya, maka buat apalagi lembaga perkawinan dan kehidupan heteroseksual terus dipertahankan, kecuali untuk melanggengkan keturunan?

“Mula-mula, kita ngeri. Bahkan membayangkannya saja bisa bikin mual. Tapi ketika kau dihadapkan pada hidup atau mati –atau paling tidak, bonyok dianiaya dan ujung- ujungnya ditobong (istilah sebagian napi untuk sodomi) juga– ya mendingan pasrah saja. Lama-lama, kita terbiasa, bahkan menikmati. Malah … ketagihan,” ujar Billy Phillips — lelaki tulen dan normal– dalam The Best Men.

Sangat boleh jadi, teori Grafënberg bahwa ada satu lagi titik yang bisa bikin lelaki mencapai puncak, yakni sekitar satu atau dua senti di dalam lubang (maaf!) anus. Titik itu, sebenarnya kelenjar prostat yang jika mendapatkan rangsangan terus menerus bisa menghasilkan sensasi yang sama dengan orgasme.

Jadi, mungkin karena menemukan kenikmatan pada titik inilah, lelaki bisa sama-sama mencapai puncak dalam persekutuan tubuh dengan sesama jenis.

Jadi, wajar saja kalau Phillips bisa berkoar seperti di atas setelah tiga tahun mendekam di penjara. Tak perlu heran pula jika ada lelaki tak normal macam Robot Gedek yang melahapi bokong bocah-bocah dan kemudian membunuhnya.

Tapi, tentu saja hal-hal ini bukan lantas jadi pembenar bagi kecenderungan perilaku model itu. Kita juga tak hendak mengatakan bahwa kelakuan macam itu normal-normal saja, meski pada kacamata para penganutnya justru kita-kitalah yang tidak normal.

Bahwa di sebagian kota besar sudah mulai tumbuh komunitas kecil yang hanya tertarik pada sesama jenis, itulah kenyataan yang memang terjadi, sebagaimana dilaporkan macam-macam media.

Penyebabnya pun tentu bisa aneka ragam. Ada yang karena memang pembawaan sejak lahir, ada yang karena meng anggap hal itu sebagai gaya hidup baru, ada juga yang terbawa karena ternyata memang ketagihan.

“Sesat! Itu bertentangan dengan agama dan budaya kita,” ujar seorang rekan saya, seorang santri. Persis! Komentar macam itu pula yang meluncur dari rekan saya yang satu lagi. Ia lupa bahwa ada saja unsur budaya kita –di Jawa misalnya– yang melegalkan pergemblakan, macam selir (tapi lelaki) bagi pria yang jadi tokoh utama kesenian rakyat.

Betul, memang. Kalau ditatap dari kacamata agama, apa pun bisa salah kecuali firman- firman. Ibarat santri dan biarawan baca Playboy, ya jelas bukan jurusannya. Tapi bumi ini tak cuma dihuni para santri dan para biarawan. Di dalamnya, juga ada maling, bandit, pelacur, lesbian, gay, dan kaum moralis.

Ada juga –dan ini yang terbanyak– kaum munafik yang bunyi mulutnya lain dengan suara hatinya. Misalnya, mereka yang mencaci dan melecehkan Penthouse, tapi diam-diam melahapnya di kamar, sendirian.

Jadi, saya bilang sama dua teman tadi. Tak perlu susah-susah menilai dan mengukurnya dari kacamata agama dan budaya. Terlalu rumit, dan pasti tak akan sampai pada titik temu. Kalau perilaku normal saja bisa memberi risiko, apalagi perilaku tak normal. Risikonya pasti jauh lebih besar.

Jauh-jauh hari isyarat itu sudah muncul dari Negeri Sodom dan Gomora ketika bumi terbelah dan para gay serta perempuan-peremuan lesbi ditelan hidup-hidup oleh tanah yang merekah dan mendadak menutup lagi: Kepunahan!

Kini, ancaman kepunahan itu tidak dari bumi yang mendadak rekah yang bisa menelan apa dan siapa saja, tapi dari dalam tubuh mereka sendiri. Ancaman itu bernama sindrom runtuhnya daya tahan tubuh alias AIDS (aquired Immunodeffisiency syndrome) yang menyeret para penderitanya ke jurang kepunahan dengan perlahan dan sangat menyakitkan.

Namanya manusia, meski ancaman ini sudah menampilkan bukti-bukti nyata lewat berbagai kasus, perilaku seksual menyimpang tetap saja terjadi.

Padahal sih, kalau hidup lurus saja bisa memberi kenikmatan berlimpah dalam berbagai hal asal kita menikmati dan menghayati setiap denyutnya, mengapa mesti simpang kiri dan serong kanan lagi.

“Kalau nggak begitu, bukan manusia,” kata teman saya yang lain. Betul juga. Hanya manusia yang bisa menjadikan angsa sebagai pemuas. Angsa bahkan kuda pun tidak bisa begitu pada manusia.

Pantas saja bumi Sodom dan Gomora merekah dan menghisap para penghuninya.

Hiyyyy….! ***

Cempaka, 230400