
VERA sengaja dipilih untuk tampil solo membawakan intro sekaligus kemudian sebagai lead vocal, dan solo pada chorus, tentu dengan beberapa alasan. Pertama, tentu vokalnya yang tipis dan tajam bagai pedang akan cocok untuk ‘menjeritkan’ dramatika derita korban-korban perang. Kedua, wajahnya yang cantik dengan hidung bangir –mirip wajah khas Timur Tengah– dan resam tubuhnya yang jangkung, pas untuk membawakan lagu dengan tema inti pada konflik Timur Tengah itu.
Betul saja. Saya merinding ketika menyaksikan kembali tayangan Lingga Binangkit ini pada siaran televisi nasional untuk menyemarakkan peringatan Isra Miraj. Adegan klimaks dengan Vera (dan terutama vokalnya) sebagai titik utama betul-betul menancapkan kesan yang mendalam. Iringan Purwatjaraka lewat orkestra ‘tunggal’nya yang nyaris tak kalah dengan sebuah simponi lengkap, memperkokoh bangunan suasana haru-biru kemelut zona perang yang hendak diekspresikan.
…………….. Yerusalem, Kota Suci Masa Silam Yarusalem, Seolah damai telah tiada. Kisah panjang sebuah bangsa terusir dari tanah-Nya, berkelana penuh derita entah kapan kan berakhir ……………….
Itulah nukilan dari syair yang saya gubah untuk lagu Yerusalem, yang notasinya ditulis Djuhari –seorang komponis tua Bandung yang lagunya pernah sangat terkenal di tahun 60-an Seuntai Manikam untuk melukiskan keindahan, kecemerlangan dan kedamaian Nusantara– dan aransemennya disusun Purwatjaraka, insinyur jebolan ITB yang ‘tersesat’ di belantika musik.
Itu tahun 1988. Boleh jadi, saat itu Rami Aldurra dan Mohammed An‑Najjra, baru –atau bahkan belum– dilahirkan. Dan Vera, saat itu sudah pasti belum jadi nyonya Elfa Secioria.
Saya teringat kembali penampilan Vera dalam Yerusalem itu, ketika menyaksikan tayangan televisi Perancis awal Oktober. Rami –bocah 12 tahun– itu tersungkur tewas di pangkuan ayahnya yang meringkuk, berusaha berlindung dari hujan peluru. Tubuh ringkih bocah itu dikoyak-koyak peluru yang daitabur serdadu Yahudi di Yerusalem, (sekuen foto yang diambil dari rekaman videonya ini kemudian disiarkan secara luas oleh media cetak).
Sedangkan An‑Najjra, tewas dengan lubang di kening dan belakang kepalanya. Peluru tajam yang dilepas serdadu Israel, dengan mudah menembus tulang muda batok kepala anak itu di Khan Yunis, selatan Jalur Gaza, dua minggu setelah Rami gugur dan dimakamkan lewat proses yang emosional.
Aldurra dan An-Najjra serta bocah-bocah tanggung lainnya yang bergelimpangan itu, hanyalah sebagian di antara lebih 120 (sampai pekan ketiga Oktober) warga Palestina yang tewas ditembaki serdadu Yahudi. Sejak konflik meletus lagi menyusul provokasi bekas Menteri pertahanan Israel Ariel Sharon, Yarusalem kini kembali diperciki darah para syuhada.
Ya, Yerusalem. Kota Suci sepanjang masa, tonggak Miraj-nya Muhammad menuju Sidratul Muntaha, melanjutkan Isra dari tepi Kabah di bawah bimbingan Jibril. Disebut tempat suci, karena pada titik –di mana kini berdiri Masjidil Aqsha– inilah, Muhammad sembahayang sebelum ‘bertolak’ menemui Sang Khalik, menyempurnakan kerasulannya.
Karena itulah, sangat bisa dipahami jika umat Islam marah ketika Ariel Sharon ujug-ujug petantang-petenteng ke Baitul Maqdis. Sejak beberapa lama nama Sharon yang tenggelam, kini hampir tiap hari disebut-sebut lagi di media massa seluruh dunia, menyusul lawatannya Kamis 28 September yang menyulut amarah dan kemudian membangkitkan kembali intifada yang berdarah-darah itu.
Sharon diberhentikan oleh Menachem Begin –ketika itu Perdana Menteri Israel– dari jabatannya selaku Menteri Pertahanan berkaitan dengan trgedi Sabra dan Shatila, kamp pengungsi Palestina di barat Beirut, Lebanon. Itu pun atas tekanan dunia internasional. Orang tak akan pernah lupa pembantaian 16 September 1982 oleh pasukan milisi Falangis dukungan Sharon. Sedikitnya 300 warga Arab, umumnya wanita dan anak‑anak, tewas berkuah darah di barak pengungsian Sabra dan Shatila.
Sharon mengomandokan penyerbuan besar‑besaran ke Libanon Selatan tahun 1982 dengan dalih mengusir pejuang Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) pimpinan Yasser Arafat. Katanya sih, instruksi penyerbuan ini disusun secara rahasia oleh Sharon tanpa konsultasi ke Knesset, parlemen Israel. Makanya –setelah korban bergelimpangan, dan dunia mengecam– kalangan anggota Knesset menentang keras penyerbuan ke Lebanon. Tapi akhirnya mereka toh menyetujui pencaplokan atas wilayah Lebanon Selatan.
Sejak Israel memproklamasikan kemerdekaannya tahun 1948, setidaknya tercatat empat peperangan dahsyat antara bangsa Arab dan Yahudi, yakni perang tahun 1948, 1956, 1967, dan tahun 1973. Perang tahun 1967 Israel berhasil mencaplok Semenanjung Sinai dan Jalur Gaza di Mesir; Jerusalem; Tepi Barat Sungai Yordan di Yordania; dan Dataran Tinggi Golan di Suriah.
Sedangkan pada Perang Oktober 1973 yang bertepatan dengan Yom Kipur, Hari Suci dalam kalender Yahudi, dan Bulan Suci Ramadan bagi umat Islam, giliran bangsa Arab (Mesir) mengungguli perang besar yang mereka analogikan dengan ‘Perang Badr II’ itu. Tak kurang dari 2.700 serdadu Israel tewas. Dan, Bar Lev, kawasan Mesir di semenanjung Sinai yang dicaplok Israel tahun 1967, kembali ke pangkuan Mesir.
Nah, ‘keunggulan’ Arab dan ‘kekalahan’ Israel pada perang 1967 inilah yang akhirnya memaksa Israel bersedia maju ke meja perundingan damai. Namun, itu pun memerlukan proses yang lama dan berbelit –sekitar 12 tahun– sehingga baru diteken di Camp David (AS), tahun 1979. Meski, kita tahu semua, sesungguhnya Israel tak pernah konsisten. Akibatnya, konflik berdarah terus melumuri Yerusalem serta kota-kota lain di jazirah itu.
Itu pula yang bikin gregetan pihak mana pun yang selama ini menjunjung tinggi perdamaian dan penghormatan penuh atas hak asasi manusia. Di antara bangsa Yahudi sendiri, banyak yang lebih cinta kerukunan hidup dengan bangsa Arab ketimbang terus-menerus baku serang. Demikian halnya di kalangan bangsa Arab. Sosok Yasser Arafat dan Shimon Perez bisa mewakili dua kutub yang bertemu pada titik kepentingan sama itu: perdamaian.
Semangat itu pula yang menggerakkan para tokoh politisi, agamawan, dan ilmuwan dunia, mau bergabung dalam yayasan untuk perdamaian yang diprakarsai Shimon Perez. Termasuk dalam barisan ini adalah KH Abdurrahman Wahid yang ketika itu sebagai cendekiawan Islam terkemuka dari Indonesia, sekaligus pemimpin jutaan Nahdliyin.
Namun di Indonesia, situasinya bisa lain lagi. Kedudukan Gus Dur pada yayasan itu belakangan dipersoalkan, malah dijadikan amunisi untuk memberondong kedudukannya pada kursi presiden. Dengan mengambil momentum kebiadaban Israel atas bangsa Palestina yang dipicu insiden di Yerusalem, orang mendesaknya untuk keluar dari yayasan itu sebagai pernyataan sikap keberpihakan Indonesia kepada penderitaan rakyat Palestina.
Orang lupa, bahwa yayasan itu didirikan dengan tujuan menggalang upaya-upaya perdamaian. Keluar dari organisasi itu, atau bahkan membubarkan sekaligus lembaga tersebut, tidaklah menjamin bangsa Palestina akan bebas dari penindasan Israel.
Begitu pun, jika ditakdirkan Palestina memenangkan pertikaian ini atas dukungan dan keberpihakan negara-negara lain, tak ada yang bisa menjamin bangsa Israel bebas dari penindasan bangsa Arab, atau bahkan mungkin upaya pemunahan –karena dianggap jadi biangkerok kekacauan– sebagaimana pernah dilakukan rezim Hitler dahulu akan terulang lagi.
Jika ini yang terjadi, maka keadaan akan terus demikian, sebab hidup tidak lagi dilandasi cinta kasih sejati sebagai sesama mahluk cipataan Tuhan. Perdamaian tak akan pernah terwujud selama hubungan antarumat manusia dilandasi kebencian dan balas dendam, seperti yang tengah terus berkecamuk di Palestina-Israel.
Di Tepi Barat, menjerit ribuan umat.
Siksa ganas membara di sepanjang Jalur Gazza
eperti Sabra dan Shatila, saat insan lupa sesama
Hidup dalam dendam membara,
antara darah darah dan amarah.
Yerusalem……,
Yerusalem……,
Yerusalem……!
(Nukilan –refrein– syair Yerusalem - 1988)
Bandung, 25 Oktober 2000
1 Tanggapan ke “Yerusalem 2000”