ORANG boleh saja bilang, tahun 2003 milik Inul Daratista. Bintang dari Jawa Timur itu mendadak melesat dari panggung-panggung kampung langsung ke puncak.

Yang lain, mungkin menganggap Project Pop sebagai ikon baru yang juga melejit. Kelompok ini dianggap memberikan warna baru dalam pentas musik dan hiburan di bumi pertiwi.
“Tidak lah. Inul itu fenomena biasa. Project Pop juga sama,” kata sepupu saya, seorang mahasiswa. Dia bilang, Inul dan pesohor-pesohor baru yang muncul belakangan ini lebih merupakan simbol keberhasilan bisnis dan industri musik. Bukan fenomena musiknya an-sich.
Jelas sekali, kata dia, media memegang peran besar dan sangat menentukan. Malah, boleh dikata mereka dijadikan bintang oleh media, bukan sebaliknya. “Bagi saya, Koil yang pantas dicatat sebagai ikon musik tanah air yang bisa menerobos manca negara,” katanya serius.
Koil?
Benda atau mahluk apa itu.
Saya baru pertama kali mendengarnya ya dari dia. Tapi dia bilang Koil itu sudah menerobos komunitas manca negara, terutama komunitas underground. Nah, apa pula ini? Koil, terus underground alias di bawah tanah?
Pusing saya. Jaka sembung bawa golok, alias “Nggak nyambung, goblok!” kata anak-anak sekarang. Tampaknya begitu. Kalau gurp musik semacam Padi, Gigi, Slank, Cokelat, dan sejenisnya masih lah sesekali dengar beritanya. Lha, Koil?
Mungkin saya termasuk di antara yang tertinggal dalam hal informasi dunia musik karena tidak intens mengikuti perkembangannya. “Om orang mana sih? Kalau ngaku orang Bandung terus tak tahu Koil, malu-maluin, tahu!” kata sepupu saya itu sambil menyodorkan Time, majalah paling berpengaruh di dunia itu.
Pada terbitan 23 Juni 2003, Time menyediakan halaman khusus untuk mengulas ‘perilaku musik’ sekelompok anak muda Bandung itu. Terus terang saya agak jengah. Sehari-hari bekerja di media, kok sampai luput mencermati Time edisi tersebut. Padahal tiap terbitan nyaris tak pernah terlewatkan.
Nah, laporan panjang –seperti ketika Time menurunkan Inul yang meledakkan kontroversi– itu menyebut bahwa Koil telah menerobos keberadaan musik yang telah membumi di Indonesia. Ia juga berhasil menembus oleh komunitas musik dunia (tentu saja komunitas musik bawah tanah).
Melalui seorang rekan yang sudah lama mengikuti gerak gerik perilaku musik anak-anak muda itu saya memperoleh gambaran ternyata Koil bukan band kemarin sore.
Setidaknya mereka telah eksis sejak sepuluh tahun lalu di Bandung. Setelah MTV (televisi khusus musik itu lho) kerap menayangkan video klip Mendekati Surga, karier mereka mulai berubah.
Setidaknya mereka telah eksis sejak sepuluh tahun lalu di Bandung. Setelah MTV (televisi khusus musik itu lho) kerap menayangkan video klip Mendekati Surga, karier mereka mulai berubah.
Hebatnya, kata teman saya itu, request (permintaan) pemirsa terhadap MTV agar menyiarkan Koil pernah melebihi Linkin Park — band alternatif yang mendunia.
Kini Koil dikenal di seluruh pelosok negeri, terutama tentu saja dikalangan penggemarnya. Kaset mereka diserbu orang, tawaran manggung di berbagai acara membludak. Namanya semakin melejit ketika majalah Time mengupas kehebatan grup underground ini.
“Ah, kita tidak sebesar itu. Kita besar di keluarga musik yang ekstrem. Sepuluh tahun hidup seperti ini. Ya mungkin cara kami survive itu yang dilihat Time,” kata Otong, salah seorang dari mereka.
Waktu mencetuskan ide untuk membuat band, Otong yang tidak bisa bermain instrumen musik, sempat ditertawakan habis-habisan oleh kawan-kawannya. Tak seorang pun percaya bahwa saat itu Otong serius. Termasuk adiknya sendiri, Doni, yang akhirnya rela bermain gitar guna mendukung ambisi sang kakak.
Awal 1990-an, Otong dan Doni mengajak tiga kawannya membentuk sebuah grup band. Sebagaimana grup anak-anak muda, mereka pun tak lama bersatru. Bubar. Barulah ketika tahun 1993 bertemu dengan beberapa orang yang satu hati, bendera Koil mulai dikibarkan.
Tahun 1994 mereka merilis album mini berisi empat lagu yang berjudul Demo From Nowhere. Album ini terjual 500 keping. Kemudian Koil bergulir dari konser kecil satu ke konser kecil lain di Bandung atau Jakarta.
Publik mainstream agaknya cepat lupa bahwa dulu sempat ada band bernama Koil. Baru, pada tahun 2001 mereka terhenyak, ternyata di Bandung ada grup band yang menjadi ikon musik underground. Label rekaman mereka Apocalypse Records merilis album bertitel Megaloblast.
Album ini mendapat respon besar dari publik underground lokal, dan terjual mencapai 15.000 keping. Puncak sukses mereka terjadi ketika Megaloblast terjual 30.000 keping.
Jumlah tersebut bisa jadi sangat kecil untuk ukuran industri musik.
Jumlah tersebut bisa jadi sangat kecil untuk ukuran industri musik.
Tapi buat band underground, ini jumlah yang luar biasa. Pasarnya bukan hanya di dalam negeri, melainkan juga ke luar negeri dengan cara pemasaran lewat internet.
“Dulu itu belum tren website. Kita sudah punya alamat website, www. koil.tv. Mungkin kita juga yang pertama, grup band yang punya website,” tutur Otong.
Lalu siapa mereka? JA Verdijantoro yang biasa dipanggil Otong, vokalisnya lahir di Bandung, 24 Juni 1988, punya hobi melakukan berbagai eksperimen musik. Lalu Donnyantoro, kelahiran 3 Agustus 1974 adalah sarjana Sastra yang menguasai alat-alat musik ’sulit’ seperti harpa dan biola.
Barikutnya Legoh Leon Ray (Leon), juga kelahiran Bandung, 14 April 1974. Sarjana hukum yang hobi melukis ini menguasai digital programing. Lantas Ibrahim Nasution, kelahiran Bandunr 16 Maret 1972. Sarjana akuntansi ini justru sedang merintis karir di bidang agrobisnis, di samping tentu saja menekuni musiknya.
Sehari-hari, kawanan ‘bawah tanah’ ini mangkal di sebuah rumah di kawasan Dago Bandung. Istimewanya, rumah itu dijadikan tempat bisnis. Di situ ada warnet, game station, distribution outlet (distro), dan kedai makanan dengan Leon sebagai koki sekaligus pengelola. Rupanya, drumer bertubuh tambun ini pintar masak.
Nah, dari penuturan teman itu saya mendapat kesan mendalam tentang Koil. Bahwa segala sesuatu akan memberikan makna jika ditekuni secara konsisten dan sepenuh hati, alias tidak tanggungtanggung.
Kelompok itu juga menunjukkan, asal disertai kesungguhan dan totalitas, manusia bisa bebas dan mengasilkan sesuatu yang bermakna, kapan dan di mana pun dia bergerak.
Juga di bawah tanah. (ë)
Juga di bawah tanah. (ë)
Bandung, 221203