08
Feb
08

Udin

HARI sudah condong ke sore. Rekan-rekan sudah mulai bangkit dari kursinya menuju ruang rapat. Mas Agoes, redaktur pada surat kabar tempat kami bekerja, masih tampak suntuk.

udinfuad.jpg

Berulang-ulang ia meneliti kembali lembaran kertas stensil di atas mejanya. Lalu tangannya kembali menari-nari di atas papan kunci. Tapi cuma sejenak. Mandeg lagi. Kembali ke kertas stensil –berita kiriman dari koresponden di daerah. “Sialan!” katanya.

“Dari NHW?” saya bertanya sambil berdiri siap ke ruang rapat untuk budgetting — rapat penetapan berita-berita apa saja yang didapat hingga sore itu yang dianggap layak dinaikkan.

NWH adalah inisial salah seorang koresponden, yang –waktu itu– tulisan berita-beritanya agak merepotkan. Struktur kalimatnya nggak beres. Logikanya melompat-lompat. Susunannya tidak runut.

“Bukan. Udin, Bantul” ia berkata sambil mengibarkan lembaran kertas stensil itu ke muka saya. “Ini berita bagus, Kang. Fakta-faktanya kuat, tapi ada beberapa hal yang bagi saya masih kurang jelas. Kalau ditunda. Nanti didahului koran lain. Kalau diturunkan, juga bisa bermasalah,” katanya sambil menjelaskan beberapa hal yang menurutnya kurang.

Udin yang dimaksudkannya, adalah Fuad M Syafruddin. Wartawan Bernas yang menempati pos liputan di Kabupaten Bantul. Entah apa yang menyebabkannya hampir tak pernah mau masuk ke ruang redaksi.

Udin selalu menitipkan berita-berita yang dibuatnya itu di pos satpam. Petugas satpamlah yang kemudian mengirim amplop berisi berita itu –bersama surat-surat lain– ke meja redaksi.

Sampai hari itu, sekitar sebulan kami memulai penerbitan Bernas dalam format baru, saya sendiri tak pernah bertemu muka dengan Udin. Mas Agoes juga. Kalau wartawan lain yang bertugas di sekitar Yogya –Sleman, Bantul, Kulonprogo– sesekali masuk ke ruang redaksi, maka Udin bisa dikatakan sangat jarang.

Ya, itu tadi. Ia ‘bergerilya’ di lapangan, menuliskan beritanya di rumah, lantas mengantarkan ke kantor, dengan cara menitipkannya di pos satpam. Maka di pos satpam itu pula Mas Agoes menitipkan secarik pesan agar Udin menemui kami dahulu seterima pesan itu.

Keesokan harinya Udin datang. Begitu bertemu, saya langsung terkesan. Badannya tinggi besar mirip pemain basket. Tegap mirip petinju, wajahnya dihiasi brewok yang merimba. Tapi, matanya begitu teduh dan lembut. Kelopaknya nyaris sesayu pelupuk mata orang mengantuk. Sekali saja matanya ditutup kacamata hitam, orang akan menangkap kesan sangar dari penampilannya.

Itulah udin. Tutur katanya justru sangat lembut dan bersahaja. Ia bicara Jawa dalam kromo inggil kepada Mas Agoes yang kemudian menerjemahkan satu dua patah katanya untuk saya. Ternyata, dia memendam semacam perasaan agak segan sehingga raguragu menginjak kantor redaksi.

Dalam bayangannya, ruang redaksi manajemen baru itu penuh para sarjana, para intelektual. Ia agak sungkan. Lagi pula, ia hanya berpegang pada komitmennya, bahwa tugas seorang wartawan itu mencari dan menuliskan berita, mengirimnya ke redaksi. Selanjutnya, terserah redaksi.

Untuk hal kedua, benarlah adanya. Tapi untuk hal pertama, kami jelaskan, bahwa sebagai kerabat kerja surat kabar, mau tak mau ia merupakan bagian tak terpisahkan dari team work yang satu sama lain saling terkait.

Kehadirannya di ruang redaksi, berdiskusi dengan rekan-rekan sekantor, akan sangat membantu dalam proses saling memperkaya wawasan. Pada kesempatan seperti itulah, kita saling memngisi kekosongan, saling menambal kekurangan, dan saling membagi kelebihan masing-masing.

Nah, sejak itu ia mulai sering masuk ke ruang redaksi, bahkan kerapkali betah berlama-lama, berdiskusi, bercanda, atau sekadar mencari tahu apa yang ingin diketahuinya dari rekan sekerja.

Itu saat-saat awal tahun 1990.

Kini, Udin sudah lama tiada. Tanggal 16 Agustus 1996 ia meninggalkan kami. Pergi dengan cara sangat tidak enak, dianiaya seseorang –entah sekomplotan orang– hingga tak pernah siuman lagi sampai tiga hari kemudian menghembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Bethesda, Yogyakarta, seratus meter sebelah timur kantor kami.

Ya, maut menjemputnya lewat tangan seorang lelaki yang datang malam hari, mengetuk pintu rumah kontrakan Udin –yang sekaligus dijadikannya kios cuci-cetak foto– berpura-pura meminjam kunci pas untuk sepeda motornya yang mogok.

Ketika dengan keramahannya yang khas Udin muncul membuka pintu, saat itu pula sebatang besi dengan lengkungan di ujung –diketahui dari bentuk luka– menghantam kepalanya. Udin roboh berkuah darah.

“Kang! Kami kena musibah. Udin dianiaya orang, saya yang mengantarnya ke rumah sakit, tadi malam,” kata Mas Agoes lewat telepon. Hari itu tanggal 14 Agustus 1996. Saya sedang mengemasi barang di mess perusahan kami di Kupang ketika menerima kabar ini.

Dua hari sebelumnya, saya menerima tugas untuk kembali bergabung dengan rekan-rekan di Bernas, Yogya. Dan, saya sedang duduk di depan televisi di kediaman kami di Bandung, 16 Agustus tahun yang sama, ketika berita itu disiarkan: Udin telah pergi.

dwigrey.jpg

Siapa raja-tega yang menghabisinya? Polisi –yang sempat merekayasa kasus ini dengan menceburkan Dwi Sumaji (Iwik), seorang sopir perusahaan advertising sebagai tersangka lalu terdakwa, dan ternyata patah di pengadilan– tampaknya tak bisa lagi berkutik.

Sampai hari-hari ini, belum ada kabar lanjut mengenai upaya penyidikan yang mereka lakukan meski sudah jelas-jelas satu di antara anggotanya terlibat dalam proses rekayasa membelokkan kasus ini.

Gelap!

Ya, gelap. Itu pula yang kami diskusikan dengan rekan-rekan dari Serambi Indonesia ketika mereka singgah ke kantor kami di Bandung setelah sehari sebelumnya menerima Anugerah Udin (Udin Award) yang diberikan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia di Jakarta.

Anugerah Udin diberikan kepada jurnalis/kelompok jurnalis yang jadi korban kekerasan karena komitmen dan konsistensinya dalam menegakkan kebebasan pers demi kebenaran dan keadilan.

Serambi Indonesia jadi korban tindak kekerasan, baik yang dilakukan oleh GAM (Gerakan Aceh Merdeka) maupun oleh aparat kepolisian dan TNI. Posisi yang independen di tengah pertikaian itu, membuat Serambi serba salah.

Berpihak atau lebih condong kepada TNI/Polri/pemerintah, akan membuat saudara-saudara kita di GAM marah. Sebaliknya, berpihak atau lebih condong pada GAM, tentu akan dianggap sebagai provokator dan dianggap lawan oleh TNI/Polri/pemerintah.

Posisi independen –selalu berusaha simbang dalam pemberitaan mengenai hal itu– juga tetap tak menguntungkan, sebab dianggap musuh oleh kedua belah pihak yang bertikai.

Udin telah lama pergi. Kematiannya adalah simbol kekerasan terhadap insan pers saat melaksanakan tugas jurnalistik. Ia tewas karena komitmennya pada fakta. Dia menemukan fakta-fakta telanjang tentang bagaimana penguasa lokal mengidentikkan diri sebagai kader terbaik Golkar yang –kalau perlu memenangkan pemilu 200 persen, dengan cara apa pun.

Dia menemukan fakta –tertulis, berupa surat pernyataan– bahwa pemilihan bupati di daerah itu kental oleh money politics, karena sang bupati dikenai pungutan Rp 1 Miliar untuk mengisi kas yayasan yang dibentuk Soeharto.

Udin pula yang menemukan fakta bagaimana keluarga cendana begitu rakus hendak menguasai satu wilayah (di Bantul) meski areal itu jelas mengandung kekayaan untuk ilmu pengetahuan.

Rezim Soeharto memang telah tumbang. Tapi rezim berikut, Habibie, Gus Dur, Megawati, dan rezim SBY, tampaknya terlu sibuk dengan diri masing-masing. Para politisinya pun tak kalah seru baku rebut pengaruh, posisi, dan publisitas.

Entah kapan mereka kan menoleh pada kepentingan keluara Udin, keluarga orang-orang hilang, keluarga para mahasiswa yang tewas ditembaki saat menyuarakan aspirasi rakyat, ribuan keluarga lain yang kehilangan anggotanya oleh sebab yang tak jelas di Aceh, Lampung, Serang, Singkawang, Sambas, Banjarmasin, Situbondo, Poso, Ambon, Papua dan masih banyak lagi.

Gelap.

Ya, semua masih gelap.***

Bandung, 16 Agustus 2000


0 Tanggapan ke “Udin”



  1. Belum Ada Tanggapan

Tinggalkan Balasan