08
Feb
08

Tsunami

 OSHIN diputar lagi di Metro-TV. Sebagian pemirsa setia televisi tentu ingat tokoh ini. Nah, di sela-sela filler yang mengiklankan pemutaran ulang serial teribi (televisi – lafal Jepang) itu, hari-hari ini Metro-TV nonstop menyiarkan akibat yang ditimbulkan tsunami.

BEGITU pula televisi lainnya. Bahkan bukan hanya televisi nasional –pemerintah ataun partikelir– melainkan juga jaringan tlevisi global sekaliber CNN, BBC, ABC, dan lain-lain.
Begitu pula media cetak, nasional dan dunia. Kecuali, Serambi Indonesia.
Koran terkemuka dan terbesar di Aceh itu lumpuh untuk beberapa hari sejak Minggu (26/12). Kantor dan percetakannya rusak berat disapa, eh disapu tsunami.
Boleh jadi, orang masih ingat Oshin. Dia adalah sosok lembut tapi gigih perempuan Jepang. Tapi Tsunami? Mahluk macam apa gerangan sehingga heboh yang ditimbulkannya mengguncang dunia dari ujung ke ujung.
Dari kosa katanya, jelas tsunami adalah istilah Jepang. Tsu berarti pelabuhan, dan nami artinya gelombang. Singkatnya, tsunami adalah fenomena alam berupa gempuran dahsyat gelombang laut atas apa pun yang ada di sekitar pesisir pantai.
Sebagian terbesar (90 persen) tsunami disebabkan oleh gempa tektonik, yakni gempa yang muncul sebagai akibat terjadinya perubahan bentuk (deformasi) secara mendadak lempengan kerak bumi. Jika fenomena alam ini terjadi pada lempengan bumi di dasar laut, maka guncangannya pun menggoyang laut sedemikian rupa.
Makin kuat guncangan itu, kian besar dan tinggi pula gelombang yang ditimbulkannya, sehingga bisa menyapu kawasan di sekitar pantai. Jepang –kebetulan atau tidak– adalah negeri yang –karena struktur geologisnya– paling sering diguncang gempa.
Menurut teorinya, gempa terjadi pada pinggiran lempengan kerak bumi yang berbenturan. Di pantai barat Amerika lempengan Pasifik berbenturan dengan kerak bumi benua Amerika sepanjang Patahan San Andreas di Kalifornia.
Di sebelah barat, kerak bumi Pasifik membentur benua Asia sepanjang zona subduksi (penunjaman) dari Selandia Baru sampai ke Jepang. Jika Irian diguncang gempa, besar kemungkinan Kalifornia pun berguncang, karena keduanya terletak pada tepi lempengan kerak bumi yang sama.
Lebih nyata kaitannya jika terjadi gempa di Nabire dan gempa di sekitar Halmahera. Keduanya terletak pada zona yang sama. Karena tekanan dari lempengan Pasifik, maka kerak bumi di sekitar Indonesia timur bagian utara ini retak-retak, membentuk patahanpatahan yang memanjang timur-barat.
Patahan Sorong membentang dari bagian utara Irian sampai ke Sulawesi Tengah melalui Halmahera, Kepulauan Sula, Sulawesi Tenggara dan akhirnya sampai ke Sulawesi Tengah, terus ke atas, menjangkau Filipina dan Jepang.
Di sebelah barat Halmahera terdapat perbenturan lempengan kerak bumi yang lebih kecil ukurannya. Di sinilah berkumpul sumber gempa. Gunung api pun terdapat berderet-deret di sebelah barat Halmahera.
Gempa di kawasan Sumatera, seperti Aceh, Bengkulu, Lampung, agak berbeda dengan kedua gempa bumi pertama. Di sini, gempa berhubungan erat dengan subduksi lempengan kerak bumi IndoAustralia yang membentur lempengan Eurasia.
Perbenturan kedua lempengan kerak bumi ini menyebabkan terdapatnya sumber gempa sepanjang palung laut yang merentang di bagian barat Sumatera sampai ke Timor melalui Jawa dan Nusa Tenggara. Dan seterusnya, dan sebagainya ….
Dan, korban pun jatuh hanya dalam sekali sentak. Ribuan orang tewas. Lebih banyak lagi yang cedera. Kehancuran melanda berbagai wilayah yang kena terjang gejala alam ini.
Ya, selain menyajikan aneka kenikmatan dan keindahan, alam sesekali menunjukkan keperkasaannya, sekaligus seakan menegaskan betapa kecil dan tak berartinya kekuatan manusia di tengah semesta yang secara tertib selalu manjalankan proses dasarnya: mencari dan menemukan keseimbangannya.
Gempa cumalah satu di antara sekian banyak gejala alam normal yang sekaligus menunjukkan bahwa pada hakekatnya bumi ini adalah ‘mahluk’ yang juga hidup, berdenyut, bergerak, tumbuh berproses, terus menerus.
Malah, gempa –mungkin– cuma aktivitas ‘kecil’ saja di tengah kenyataan alam bumi yang juga cuma merupakan setitik debu di tengah ketakterbatasan semesta. Ia cumalah gejala yang muncul akibat persinggungan antara lempengan kerak bumi.
Berbagai penelitian dilakukan pada lokasi-lokasi kerak bumi yang diperkirakan jadi sumber gempa. Maksudnya, tentu saja agar para penghuni planet kecil ini dapat mengetahui tanda-tanda akan datanganya gempa. Segala cara dilakukan, teknologi canggih dioperasikan.
Peralatan canggih memberi harapan kepada umat manusia untuk memprediksi kemungkinan datangnya gempa. Tanda-tanda seperti terdapatnya pemendekan pada kerak bumi, perubahan gaya berat, keluarnya pelbagai gas radioaktif, terdapatnya segmen aseismic dan lain-lain merupakan indikasi yang diperkirakan dapat membantu umat manusia untuk memprediksi gempa bumi.
Masalahnya, di seluruh dunia terdapat ribuan titik pusat gempa bumi tapi gempanya sendiri selalu menyebar, sehingga menyulitkan penempatan peralatan. Perulangan gempa juga memakan waktu yang lama.
Selain itu kebanyakan gempa bumi terjadi di laut. Belum lagi sumber-sumber gempa yang biasanya terletak jauh –30 sampai 150 kilometer di dalam bumi. Jadi, apa yang dilakukan di permukaan bumi hanyalah mengais pertanda di antara setumpukan batuan yang amat tebal.
Itu sebabnya gempa tak pernah bisa diraba tanda-tandanya. Berbeda –misalnya– dengan letusan gunungapi atau badai tornado, yang belakangan ini tanda-tanda awalnya mulai bisa dideteksi dengan berbagai peralatan canggih yang dikembangkan manusia.
Namun toh, kedua jenis gejala alam ini pun tetap saja tak bisa ditebak, kapan persisnya terjadi dan berapa besar kekuatannya. Artinya, selalu ada sesuatu yang tidak diketahui dari sebuah kerangka yang sudah diketahui.
Di sinilah titik kelemahan dan ketakberdayaan manusia di hadapan kekuatan dan keperkasaan alam bikinan Sang Maha Pencipta. Kita, manusia berada di dalam –dan seharusnya menyatu dengan– lingkungan alam itu. Hidup, tumbuh, berkembang, dan punah.
Kepunahan terjadi oleh berbagai sebab. Bisa karena tingkah laku kita sendiri, bisa karena kelalaian dan kezaliman orang lain. Dapat pula karena gejala alam yang demikian perkasa.
Menurut para aulia, alam pun mahluk Tuhan juga yang tunduk pada hukum-hukumNya. Artinya, alam tak akan pernah bergerak atau “bertindak” sendiri tanpa titah Sang Penguasa Semesta.
Dan, gerakan alam yang cuma sedikit –bandingkan dengan kemahabesaran pergerakan alam semesta– itu seketika mendatangkan tsunami yang akibatnya demikian dahsyat. Apalagi kalau gerakan besar.
Padahal, kita seringkali terlalu pongah dalam berinteraksi dengan alam tenmpat kita hidup, tumbuh, dan berkembang ini. **
Bandung, 281204

0 Tanggapan ke “Tsunami”



  1. No Comments Yet

Tinggalkan Balasan