
Pabila sukacita
datang bertamu
di meja makanmu,
ingatlah selalu
bahwa sang dukacita
sedang ternyenyak
di pembaringanmu.
(:Khalil Gibran)
DENGAN jubah hitam, topi –mirip topi koboi– hitam, celana panjang dan sepatu serba hitam, wajah dihiasi kumis, cambang, dan janggut yang merimba, Abraham Wess sang rabbi memimpin 50 orang Yahudi berkumpul di depan Konsulat Jenderal RI di New York.
Wajah mereka diredupi kepedihan. Di sebuah tempat, ribuan kilo meter dari Banda Aceh yang porak poranda disentak gempa dan disapu gelombang maut, mereka tepekur dalam dukacita.
“Rasa simpati tidak terbatas karena perbedaan bangsa dan agama,” kata Wess. Minggu (2/1/05), rahib ini secara khusus datang menyampaikan rasa simpati, turut bela sungkawa, dan berdoa bersama umat Yahudi di sana.
Ya. Dukacita –seperti juga sukacita– tak pernah mengenal perbedaan kasta, suku, pangkat, golongan, keturunan, agama, dan segala macam embel-embel identitas manusia.
Sepanjang manusia punya hati, pasti dia akan merasakan sukacita, sebagaimana seorang pemilik nurani tergetar oleh dukacita yang dialami sesamanya.
Itu pula yang tampaknya sangat dirasakan Jeff Vorce, lelaki tegap dan gagah asal San Diego, AS. Letnan penerbang angkatan laut yang sudah kenyang menyaksikan kematian di berbagai medan perang ini cuma bisa termangu ketika mendarat di Meulaboh.
Dukacita segera menerjangnya, menggedor keperkasaan perasaannya sebagai “Rambo” asli masa kini. Ia saksikan kawasan hancur total sejauh mata memandang. Reruntuhan rumah. Puing-puing. Dan, ruap bau kematian.
Hanya orang tidak waras yang tak tergetar nuraninya menyaksikan betapa dahsyat akibat bencana yang disentakkan kerak bumi nun ratusan kilo meter di bawah dasar samudera itu.
Dengan sekali kejut, bumi gonjang-ganjing. Laut melonjak menjulurkan gulungan ombak yang meremas apa pun yang ada di atas permukaannya, dan menjilat sejauh-jauhnya apa pun yang ada di daratan.
Ribuan mayat yang bergelimpangan di segala penjuru seharusnya menendang jantung kesadaran kita, bahwa manusia itu nyata benar cuma mahluk amat lemah, sangat kecil, dan fana.
Kesadaran atas kenyataan bahwa manusia ’sekadar’ debu di tengah ketakterbatasan alam semesta itulah yang kemudian membawa mereka pada kesadaran lain, bahwa karena kecil dan tak berdaya maka manusia harus berpadu bergandeng tangan meghadapi realitas dunia.
Tayangan terus menerus televisi, dan sajian berbagai media massa, membuat kita semua seolah berada di dalamnya –dan jadi bagian– dari bencana dahsyat ini.
Begitulah, sejak Mingu (26/12), sepanjang hari, setiap jam, menit demi menit, bahkan hampir setiap detik, denyut nadi kita seakan tak henti menyentakkan rasa nyeri. Kematian. Kehancuran. Kesengsaraan. Semuanya begitu dekat, begitu cepat, begitu nyata.
Banda Aceh, Meulaboh, Nias, Andaman, Maladewa –yang sebelumnya mungkin tak kita tahu letaknya di peta– mendadak jadi bagian dari kita. Kita berada di dalamnya, bersama-sama menyaksikan maut yang menyambar-nyambar tanpa ampun. Bersama-sama merasakan kegetiran, penderitaan, duka cita, mencabik-cabik nurani, setiap saat, setiap tarikan napas.
Hanya selang beberapa jam sesudah itu, kita pun menyaksikan gelombang kesadaran yang datang sebagaimana tsunami. Sebuah gempa solidaritas yang disusul gelombang kesetiakawanan yang demikian massif.
Gelombang ini bergerak dari berbagai belahan penjuru bumi, bergulung dan bersatu menuju satu titik yang sama, entah di Aceh, entah di Kerala, entah di Phuket.
Kecanggihan media masa kini telah memembuat kita terlibat dan dengan seketika jadi bagian dari peristiwa itu. Hampir tak ada satu pun media yang melewatkan tragedi itu sebagai fokus pemberitaannya, dan langsung menusuk tepat di tengah jantung kesadaran umat manusia. Dukacita itu menimpa kita semua.
Ketika Tanah Rencong dicabik-cabik operasi militer, darurat militer dan terakhir darurat sipil, yang menelan ribuan korban, warga dari negara-negara lain cukup menganggapnya sebagai ‘urusan dalam negeri’ yang tak patut dicampuri.
Mengapa? Karena di situ ada sekat bernama politik, diplomasi, birokrasi, pemerintahan, ideologi, kebangsaan, dan lain sebagainya. Di sana ada sopan-santun politik, ada tatakrama berbangsa dan bernegara, ada kesepahaman –dan ketidaksepahaman– ideologi.
Lalu manusia mana yang bisa tetap berdiri di atas segala keangkuhan embel-embelnya itu manakala ditunjukkan bahwa dengan feneomenanya yang ‘kecil’ saja –dibanding kemahabesaran semesta– alam bisa menjungkirbalikkan segala kekuatan manusia itu?
Dibanding air saja, ya, cuma air, kita enggak ada apa-apanya. Dalam skala tsunami, air dengan enteng mengombang-ambingkan mesin pembunuh semacam tank baja –dibeli dengan bau skandal pula– tak lebih dari sepotong ranting. Melempar kapal-kapal jauh ke daratan. Apalagi manusia yang cuma tersusun dari darah dan daging.
Namun karena manusia punya rasa, punya hati, dan punya isi kepala, maka ia bisa berduka sebagaimana ia sangat mampu bersuka. Lebih dari, itu mereka mampu berpikir, bernalar, menganalisa, bahwa dukacita tidak boleh membungkusnya terlalu lama karena hidup harus tetap berjalan terus.
“Meski sangat sulit, kita harus segera melupakan tragedi itu. Hari-hari ini adalah saat-saat kita memulai kembali aktivitas. Betapa pun kecilnya peran kita, justru akan sangat berarti jika mau berbuat sesuatu bagi masyarakat,” tulis Serambi Indonesia, dalam tajuk hari ketiga penerbitan daruratnya.
Luar biasa! Suara itu datang dari warga Aceh sendiri. Suara salah satu korban yang lolos dari kematian. Suara orang yang kehilangan lebih seratus rekannya. Suara orang yang kehilangan hampir 100 ribu sanak-famili, tetangga, dan warga se-kampung halamannya di Banda Aceh.
Saya tergetar membaca tajuk rencana itu. Boleh jadi, inilah salahsatu karakter tulen putra Aceh. Ketegaran dan ketabahan yang mengalir dari iman perjuangan mereka dalam menghadapi tiap denyut kehidupan, tidak pernah membuatnya membiarkan diri kalah –apalagi dikalahkan– keadaan.
Hidup terus mengalir dan harus dihadapi. Suka maupun duka.
Betul kata Gibran, ketika sang dukacita datang mengamuk di serambi hari baru, ingatlah selalu bahwa sukacita sedang terlelelap di pembaringan hari ini.
Jadi, bangunkanlah. ***
Bandung, 040105
0 Tanggapan ke “Serambi Dukacita”