08
Feb
08

Hidung

hidung.jpg

TAK terlalu salah jika panitia pekan olahraga wartawan nasional (Porwanas) tahun2002 memilih bekantan sebagai maskot. Namanya juga maskot, simbol, kebanggaan, sekaligus motif cenderamata yang khas. Wajar sajalah. Soalnya event itu digelar di Banjarmasin, satu di antara sangat sedikit tempat di dunia yang alamnya cocok untuk habitat bekantan (Nasalis larvatus).

Pendulous nose monkey alias monyet berhidung Pinokio ini memang hewan langka dan karena itu dilindungi. Meski terlindung, jumlahnya sudah terus menciut di samping karena ada saja yang menangkap dan menjualnya di pasar gelap (WWF mencatat, saban tahun rata-rata 50 bekantan diselundupkan), habitatnya pun perlahan-lahan rusak, sementara ia tak cocok di habitat lain.

Saking pekanya, ia akan menderita berat jika lingkungannya mendadak berubah. Matanya yang besar akan langsung menyipit, bulu-bulunya rontok. Lalu, ogah makan, akhirnya ya mati. Bahkan lingkungan yang nyaman serta elok seperti Taman Safari Bogor, atau malah Kebun Binatang Bronx di New York pun tak cocok bagi mereka sehingga upaya penangkaran di luar habitat aslinya hampir selalu nihil.

Di samping sifat pemalunya, dan bulu serta kulitnya yang bule, ciri paling khusus dari primata ini, ya hidungnya yang bangir itu tadi. Namun panitia Porwanas memilih bekantan sebagai maskot, tentu tidak bermaksud menyindir bahwa para wartawan saat ini banyak yang berhidung panjang seperti Pinokio.

Boneka ciptaan Gappetto si tukang kayu –dalam cerita klasik karangan Carlo Collodi alias Carlo Lorenzini (1826-1890)– ini adalah tokoh yang demikian ‘polos’ dan ‘jujur’. Saking polosnya, sekali saja berdusta, hidungnya langsung memanjang. Makin sering berbohong, makin panjang pula hidung itu. Mirip hidung bekantan.

Wartawan tidak. Hidung mereka biasa-biasanya saja. Bahwa ada yang dikaruniai hidung mancung seperti Pangeran Charles, atau melesak saking peseknya seperti hidung saya, itu mah anugerah fisik bawaan.

Dan, tentu pula tak pernah memanjang atau memendek seperti hidung Pinokio, sebab wartawan bukanlah boneka yang bisa disuruh-suruh dan diarahkan serta dikendalikan untuk ini-itu. Apalagi berdusta. Hiiii … amit-amit.

Bohong adalah dosa terbesar dan pekerjaan paling terkutuk dalam dunia jurnalistik. Telebih lagi jika menyiarkan kebohongan secara luas kepada khalayak. Dosanya berlipat-lipat tak ketulungan lagi. Jujur. Itu hukum nomor satu dan paling utama dalam Kode Etik Jurnalistik Wartawan Indonesia, dan tentu jadi patokan nurani para jurnalis.

Saking tingginya penghargaan terhadap integritas ini, beberapa pengelola media massa secara khusus membentuk lembaga sendiri, semacam komisi yang bertugas mengawasi dan mengevaluasi pelaksanaan etika profesi ini.

Dilabrak atau tidak. Ditegakkan atau melorot. Selain itu, para jurnalis juga punya perangkat lunak paling sensitif, demikian canggih, tak akan pernah berdusta, dan bisa mendeteksi kebohongan sekecil apa pun. Namanya, hati nurani.

Bahwa kali ini para wartawan –setidaknya para peserta Porwanas– diberi maskot Si Hidung Mancung tentu saja tidak dalam amsal Pinokio tadi, melainkan semacam pernyataan atau entah apa namanya, bahwa sepatutnyalah para jurnalis berhidung panjang, di samping bermata besar dan berkuping lebar.

Artinya, ia harus punya kepekaan tinggi sehingga bisa mencium, melihat dan mendengar segala hal yang berkembang di sekitarnya.

Berkat ketajaman inderanya itu, wartawan bisa meliput dengan cepat apa saja fenomena yang muncul ke permukaan, atau bahkan yang masih merupakan gejala. Dalam skandal Bulog Jilid II, misalnya, hidung wartawan mencium begitu banyak dusta di dalamnya.

Saking berumpuk dan sambung-menyambungnya dusta yang tergali, terium, teraba dan terlihat di balik skandal itu, ada wartawan yang melukiskan tokoh yang dianggap terlibat dalam kasus tersebut sebagai orang berhidung Pinokio.

Itu pun amsal. Sedemikian rapat orang menyembunyikan dusta, akhirnya akan tercium juga. Tambah dusta, makin panjanglah hidung itu. Apalagi jika dusta itu nyata terasa, terlihat dan tercium dengan begitu jelas oleh hidung publik yang rata-rata …. pesek ini. Bahwa tak jua tampak upaya hukum yang serius meski bukti-bukti dan dusta-dusta itu sudah jelas terpampang, itu soal lain.

Tak seperti dongeng Pinokio, dalam politik negeri antah berantah yang para politisinya sedang mabuk, hidung sama sekali tak masuk hitungan. Panjang atau pendek, mancung atau pesek, sama saja. Dusta atau jujur, kadang tak penting lagi. Naluri penciuman yang tajam, justru malah bisa mencelakakan.

Lihat saja, wartawan yang dengan jujur memaparkan temuannya, kadang malah diancam dan dimaki. Jika di masa silam rezim kekuasaan punya tangan untuk memberangusnya, maka di masa kini penguasa atau perorangan bisa saja mengerahkan massa untuk ‘melawan’ kebenaran dan kejujuran hasil kerja wartawan.

Mungkin karena itu Carlo Lorenzini memilih banting setir. Ia memulai karir sebagai wartawan majalah Il Lampione (Lentera), namun ketajaman laporan-laporannya telah membuat pemerintah Roma gusar.  Surat kabar itu ditutup, dan Lorenzini kehilangan pekerjaan.

Tapi ia tak kehabisan cara untuk mengekspresikan nilainilai kejujuran dan kebenaran yang diyakininya. Itu sih, dua abad lalu. Dan, republik antah berantah menirunya dua ratus tahun kemudian.

Tapi selalu terbukti, wartawan tak pernah bisa diberangus. Lorenzini, misalnya, menjadi sangat terkenal ke seantero dunia jutrsu setelah korannya diberangus dan ia jadi penulis cerita. Salah satu karyanya, Pinokio sudah diterjemahkan ke lebih 200 bahasa di dunia serta diadaptasi ke berbagai versi yang tetap kontekstual hingga kini. Termasuk “versi” terbaru yang dirilis majalah Tempo sebagai cover beberapa waktu lalu.

Artinya, wartawan kita pun tak pernah kehilangan cara untuk mengekspresikan kebebasannya menyampaikan pendapat meski dalam keadaan tertindas dan terberangus sistem. Ketika tak ada lagi kosa-kata yang dianggapn tepat untuk mengekspresikan fakta-fakta dan pendapat, maka gambarlah yang bicara. Ketika surat kabar diberangus, maka “koran online” justru tumbuh.

Demikian halnya ketika reformasi meledak, dan keseragaman buyar jadi keanekaragaman. Wartawan kita pun memecah diri, tidak lagi merasa harus terikat oleh satu organisasi. Bahwa di antara para wartawan itu ada yang berhidung “panjang” dan berhidung panjang, itu soal lain. ***

Bandung, 040202


0 Tanggapan ke “Hidung”



  1. No Comments Yet

Tinggalkan Balasan