“MAS, telepon dari London,” operator megabari saya, sekaligus menyambungkan pesawat saya dengan telepon yang masuk. Ternyata dari bagian adiministrasi BBC, radio Inggris yang terkenal itu.

Dengan Bahasa Indonesia tanpa cela ia menanyakan alamat lengkap saya karena dia perlu untuk mengirimkan cek. Cek? Ya. Malam sebelumnya saya ditelepon penyiar BBC Seksi Indonesia yang menanyakan situasi yang saya rasakan dan saya amati di kota tempat saya tinggal, Palembang.
Waktu itu –tahun 1994– ketika hutan-hutan di Tanah Andalas terbakar dan asapnya mengganggu negara-negara tetangga. Kata penyiar itu ‘wawancaranya’ direkam untuk disiarkan beberapa menit kemudian. Saya oke saja.
“Wawancara” itu singkat sekali, paling tiga sampai empat menit. Wong sekadar menanyakan bagaimana suasana dan situasi kota. Jadi, sama sekali tak terpikir bahwa percakapan singkat itu akan berbuntut cek.
Itu pula yang saya kemukakan kepada petugas administrasi BBC tersebut. Untuk memberi informasi singkat begitu saja, sungguh saya tak menunut honor.
“Memang, Anda tak menuntut. Tapi, ini hak Anda. Anda telah mengisi program kami selama tiga menit 33 detik atas permintaan kami, dan itu berarti menyita waktu Anda. Untuk itu Anda mendapat tiga Pundsterling per menit. Ceknya kami kirim hari ini juga,” katanya ngotot.
Lho, ngasih uang kok ngotot.
Saya cuma ternganga. Ya, gembira juga sih, tiba-tiba dapat rezeki. Dari segi jumlah memang mungkin tak seberapa (waktu itu, Dolar AS masih Rp 2.500, dan Poundsterling sekitar Rp 10.300), tapi penghargaan yang mereka tunjukkan melebihi nilai uang.
Saya tak pernah membayangkan begitu besarnya perhatian produser acara macam itu, dan begitu besarnya penghargaan mereka atas waktu yang dikorbakan oleh orang lain untuk kepentingannya. Belum lagi menguber alamat lewat saluran internasional itu. Nilai pulsanya saja, bisa-bisa jauh lebih mahal dari nilai honor yang diberikannya.
Padahal setiap hari siarannya mereka tak mewawancari satu orang saja, sebab siaran berita mereka terus mengalir tanpa putus dalam berbagai bahasa dan dipancarkan ke berbagai negara.
Berapa ribu poundsterling mereka keluarkan saban hari hanya untuk aneka ‘wawancara’ kecil macam itu. Berapa tenaga dikerahkan untuk mengurusi administrasi dan mengirimi cek ke berbagai orang di ‘antahberantah’. Persoalannya, mereka tidak mau melalaikan, menyepelekan, apalagi tak mengindahkan hak orang. Ya, hak.
Saya betul-betul merasa tersanjung, dihormati, dihargai dan kagum atas sikap profesional mereka. Perasaan seperti ini jelas sangat tak ternilai harganya, tak bisa dibanding dengan honor 10 Pundsterling lebih sedikit yang saya terima tiga minggu kemudian dalam bentuk cek dari The British Bank.
Itulah untuk pertama -dan hingga kini belum pernah lagi– saya menerima cek dari bank luar negeri.
Cerita inilah yang saya obrolkan dengan seorang cendekiawan yang juga kolumnis kondang di Bandung beberapa waktu lalu. Mulanya, kami ngobrol soal rubrik opini yang memang tidak ada pada surat kabar yang saya –dan kawan-kawan– kelola di Bandung.
Lalu obrolan melebar pada soal penghargaan pengelola media terhadap sumber-sumber berita, terhadap para penulis, para kontributor dan semacamnya.
“Kita tampaknya belum bisa menghargai jerih payah, pikiran dan gagasan orang. Padahal, orang bisa beropini, bisa menulis itu tentu setelah banyak belajar, banyak membaca, melakukan pengendapan, peremenungan,” ujarnya seraya menguraikan bahwa aktivitas macam itu merupakan proses yang tidak sederhana.
“Berapa duit dia habiskan untuk sekolah, untuk beli buku. Berapa lama waktu dihabiskan membacainya. Berapa lama pula dia habiskan duduk menulis, menuangkan gagasan-gagsannya,” tambahnya.
Dia juga menunjuk contoh bahwa masih saja ada media yang menurutnya tidak beradab karena tidak membayar penulis dan kontributornya. Bahkan tidak membayar secara layak karyawannya.
“Jangankan membayar sumber berita, malah ada wartawan yang justru meminta dibayar oleh sumber berita,” ujarnya terkekeh. Tapi saya bilang, yang bertindak macam itu pasti bukan wartawan sungguhan. Paling-paling tukang peras yang menggunakan dan berlindung di balik profesi wartawan.
“Di negara-negara maju, adalah biasa jika sumber berita menuntut imbalan, dan kalangan media sendiri sudah menyadari bahwa karena berita dari sumber itulah koran atau televisinya diperhatikan orang.”
Memang, tapi ini Indonesia, bukan negara maju seperti yang dilukiskannya. Saya sendiri pernah sempat terkejut ketika seorang pakar lingkungan dari Amerika menyodorkan tarif –dalam dolar– saat hendak diwawancara, usai sebuah seminar beberapa tahun lalu.
Memang akhirnya wawancara batal, pendapat-pendapatnya yang saya kutip ya sebatas yang terlontar pada seminar. Satu dua tokoh di dalam negeri, juga sudah mulai menarif dirinya untuk wawancara. Misalnya pengarang terkenal, NH Dini.
“Pakar dan cendekiawan di negeri kita masih kalah ‘harganya’ oleh foto model dan bintang film. Untuk satu sesi pemoretan, sekali lenggang-lenggok, mereka dibayar tinggi.
Kita baru bisa menghargai keindahan dan kemolekan tubuh, belum bisa menghargai pikiran, gagasan, dan pendapat orang,” katanya.
Karena itu pula, saya bilang, surat kabar kami belum membuka rubrik opini, sebab kami khawatir belum mampu menghargai para penulis dengan layak dan patut.
Boleh jadi, pembaca saat ini umumnya lebih menykai uraian-uraian yang ringkas, langsung, sederhana dan to the point, karena begitu beragamnya informasi yang membanjiri mereka lewat berbagai media komunikasi.
Selain itu, mungkin juga karena kita baru sampai pada tahap lebih menghargai gumpalan-gumpalan daging, ketimbang percikan-percikan pikiran dan gagasan yang terlontar dari gumpalan otak seseorang.
Itu sebabnya, surat kabar dan majalah yang kerap menampilkan keindahan tubuh dan uraian-uraian di seputar itu –di samping ‘darah’ dan konflik– selalu jauh lebih digemari, dan karena itu lebih laku, dari pada media (apalagi jurnal) yang lebih banyak menyajikan buah pikiran, gagasan, atau bahkan dogma-dogma.
Kita memang tak bisa memaksa orang untuk memberi penghargaan pada apa yang menurut kita patut dihargai. Kalau kita sendiri masih lebih suka mengikuti kemauan daging ketimbang otak, maka itu pula yang akan lebih dahulu dihargai.
Saya sendiri hakkul yakin, pembaca media mana pun lebih dahulu akan melumat karunia Tuhan lewat keindahan sosok-sosok pada cover dan halaman belakang tabloid ini, ketimbang sajian-sajian lainnya, apalagi yang bikin dahi berkerut. ***
Bandung, 150101
0 Tanggapan ke “Harga Daging”