08
Feb
08

Duka Dunia

bapasuci.jpg

BAPA Suci telah pergi. Hampir semua media mewartakan kepergian pemimpin umat Katolik dunia ini. Meski kematian adalah keniscayaan bagi setiap mahluk hidup, kepergian Paus Yohannes Paulus II tetap saja membuat miliaran orang merasa kehilangan.

Pernyataan bela sungkawa, dan kesan-kesan mengalir dari hampir semua tokoh di seantero penjuru bumi tanpa mengenal batas agama dan keyakinan. Ini menunjukkan bahwa keberadaanya semasa hidup mengalirkan semangat, makna, dan inspirasi begi begitu banyak orang di tengah perkembangan dunia dengan segala aspek yang menyertainya.

Tak heran bila tokoh sekelas KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) memberi catatan khusus pada bekas serdadu Polandia yang kemudian menjadi gembala umat dunia itu.

Setiap Paus, kata Gus Dur, punya watak sendiri-sendiri. Jika Paus Yohanes XXIII, terkenal sebagai pemimpin Katolik yang mendorong perubahan demi perubahan, maka Paus Yohanes Paulus II justru mengaplikasikan rem agama sekuat-kuatnya agar tidak berjalan menyimpang dari ajaran formal Gereja tersebut, tulis Gus Dur dalam situsnya.

Tapi hal itu tidak menjadikan Gereja seperti di era sebelum Paus Yohanes XXIII, karena Gereja Katolik Roma tetap berada pada bidang aktivitas masyarakat dengan ensiklik mater et magistra sebagai kelanjutan dari ensiklik Paus Leo XIII.

Paus Yohanes Paulus II tidak mundur dari bidang tersebut, yang terjadi hanyalah terhentinya pembaharuan-pembaharuan dalam hubungan Gereja Katolik Roma dengan gerakan-gerakan keagamaan yang lain.

Di mata Gus Dur, hal ini terjadi mungkin karena Paus Yohannes Paulus II mengkhawatirkan akibat-akibat yang dapat mengubah seluruh doktrin Gereja, umpamanya saja, paham-paham yang disebarkan oleh Teologi Pembebasan (Liberation Theology), yang dirintis Leonardo Boff di Amerika Latin.

Ia takut akibat-akibat dari paham itu akan merombak kehidupan Gereja secara fundamental, sehingga di kemudian hari sulit dikembalikan. Jalan pikiran mendiang Sri Paus Yohanes Paulus II itu dapat saja dipahami.

Konservatisme yang diperlihatkannya, tidak sedikit pun mengurangi gerak Gereja itu di bidang kemasyarakatan. Kombinasi dua hal itu –konservativisme dan bidang kemasyarakatan– sekaligus di satu masa, adalah sebuah keunikan yang jarang terjadi dalam sejarah manusia. Itu menurut kaca mata Gus Dur.

Bagi banyak orang, sikap paling menojol dari mendiang adalah empatinya terhadap warga dunia yang tertindas, perhatiannya pada kaum yang tersisih, kasih sayangnya pada mereka yang teraniaya oleh perang, kelaparan, dan bencana, rasanya tak bisa dikesampingkan siapa pun sebab hal-hal itulah yang senantiasa jadi perhatian Bapa Suci selama bertahta.

Bahkan di tengah kondisi fisiknya yang mulai lemah, akhir Desember 2004, dia memberi perhatian khusus terhadap korban-korban bencana alam tsunami dan warga lain dunia yang sedang menanggung derita oleh berbagai sebab.

Selama bertahta di Singgasana Suci Vatikan, Sri Paus telah menulis 15 buah buku, di antaranya Varcare La Soglia Della Speranza –Menyeberang Ambang Pintu Pengharapan (1994), dan Dono e Mistro — Pemberian dan Misteri.

Pada usia imamatnya yang ke-50 tahun pada 1996, Sri Paus menulis Trittico Romano –Tiga gambaran orang Roma, bahkan dua tahun lalu, 2003 dia masih sempat menulis Meditazioni in forma di Poesia– Meditasi-meditasi dalam bentuk Puisi, kemudian Alzatevi Adiamo –Bangkitlah dan Mari Kita Berjalan (2004).

Bahkan, sekitar sebulan sebelum kondisinya memburuk betul, Sri paus masih sempat menyelesikan satu lagi bukunya yakni, Memoria e Identita –Kenangan dan Identitas (Februari 2005). Sekaligus seolah isyarat mengenai akhir dari totalitas penghambaannya kepada Sang Maha Abadi.

Hal lain yang juga menonjol adalah kerelaannya turun langsung menemui umat di berbagai belahan dunia tanpa memilih apakah umat itu hidup di negara maju, berkembang, atau terbelakang.

Selama duduk di Tahta Suci, Paus telah bertemu dengan setidaknya 17 juta pribadi dan 600.000 peziarah. Ia juga sudah bertemu dengan 738 kepala negara di seluruh dunia dan 264 kali mengadakan pertemuan dengan para perdana menteri.

Dalam sejarah Gereja, tidak ada seorang Santo Bapak yang telah bertemu demikian banyak pribadi seperti yang dilakukan Paus Johannes Paulus II.

Semua itu dilakukannya selalu dalam semangat cinta damai, kelembutan, dan komitmen terhadap hak-hak dasar manusiawi umat manusia. Termasuk ketika dengan tulus ia mengampuni seorang lelaki yang mencoba membunuhnya.

Sangat bisa dipahami jika kepergiannya kemudian merupakan kehilangan amat besar. Dunia telah kehilangan salah satu kampiun yang membela hak-hak asasi, dia menjadi salah satu inspirasi bagi umat manusia, kata Presiden AS George W Bush.

Kesan-kesan –semuanya baik, tak sepotong pun yang buruk– senada seperti itulah yang mengiringi kepergian Karol Yozef Wojtyla setelah 26 tahun memimpin Gereja Katolik sebagai Paus.

Paus cinta damai dan begitu bersimpati kepada dunia yang kita tempati. Baginya perang tidak memberikan kemenangan bagi pihak manapun, ujar Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan. Dia merupakan sosok yang memiliki toleransi tinggi serta mendukung harmonisasi antarumat beragama, kata Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono.

Hak asasi, perdamaian, dan harmoni itulah inti semangat yang selalu digelorakan Paus Johannes Paulus II dalam berbagai kesempatan dan pesannya terhadap warga dunia.
Padahal, itu pula yang hari-hari ini justru jadi agenda penting dan “pekerjaan rumah” umat manusia yang tampaknya tak jua kunjung usai.

Padahal, Bapa Suci telah pergi.

Padahal …

***

Bandung, 050405


0 Tanggapan ke “Duka Dunia”



  1. No Comments Yet

Tinggalkan Balasan