
ANAK saya bertanya, apa betul Yesus kawin dengan Maria Magdalena sebagaimana dilukiskan Dan Brown dalam The Da Vinci Code. Tentu saja saya bilang tidak tahu. Yang saya tahu, selama ini orang meyakini Yesus tak pernah kawin.
Kalau begitu, katanya kemudian, kenapa Vatican repot-repot mengeluarkan fatwa agar orang tidak membaca Da Vinci Code. Saya tanya, dari mana dia tahu Vatikan menerbitkan fatwa macam itu.
“Dari milis, di internet!” katanya enteng. Dia bilang, diskusi mengenai masalah itu sempat sangat panas di dunia maya. Ada yang tampaknya betul-betul terpengaruh oleh kisah dalam novel itu, ada yang jelas-jelas menyatakan sebagai pemurtadan dari satu keyakinan.
Ditambah lagi, katanya, diskusi mengenai Angel & Demons (karya lain Dan Brown) yang –pasti secara kebetulan– settingnya di Vatican dengan gambaran suasan yang pas banget, mirip dengan yang hari-hari ini sedang berlangsung. Paus mangkat. Para kardinal sedunia berkumpul untuk memilih Paus baru.
Pasti bukan cuma seorang ABG seperti anak saya itu yang agak terkaget-kaget oleh The Da Vinci Code. Bagaimana pun, karya sastra entah itu sajak, cerita pendek, dan novel yang mengandung isu agama dan keyakinan, selalu mengundang perhatian dan tak jarang diikuti kontroversi.
Begitu pula The Da Vinci Code, yang –entah karena isinya yang mengusik, atau justru karena kontroversi yang ditimbulkannya– jadi novel terlaris 2003 di dunia dengan total penjualan hampir 6 juta eksemplar, mengungguli karya penulis-penulis top lain sekelas John Grisham, Tom Clancy, James Patterson, Michael Crichton, Nicolas Sparks, Stephen King dan lain-lain.
The Da Vinci Code mengisahkan petualangan Robert Langdon, seorang profesor dari Harvard dalam bidang ikonografi dan simbologi. Langdon akan bertemu seorang kurator dari museum Louvre Paris, Jacques Sauniere. Ternyata kurator tersebut dibunuh oleh seorang anggota dari ordo Katolik.
Sebelum meninggal, kurator ini membuat sebuah pesan yang merupakan anagram dan kode. Dari sini kisah berpilin, menjalin, menjalar, menyusur-nyusur kian ke mari, kadang menyelinap bahkan menerobos tabir-tabir keyakinan.
Misalnya, tentang perseteruan turun temurun antara dua organisasi yang bisa dibilang sangat ekstrim. Persekutuan Sion sebuah organisasi yang menyimpan rapat-rapat rahasia darah. Yakni, mengenai keturunan langsung dari Yesus dan Maria Magdalena.
Lalu ada organisasi lain –tepatnya ordo– dari pihak Katolik yang berusaha merebut rahasia yang disembunyikan oleh kelompok Sion. Nama ordo ini adalah Opus Dei (Karya Tuhan).
Novel ini –seolah– menguak konspirasi yang sudah berlangsung ratusan tahun yang terkait dengan sejarah agama Kristen, Yesus dan sebuah paguyuban rahasia masa lalu yang melibatkan para tokoh terkenal seperti Leonardo Da Vinci, Isaac Newton dan Victor Hugo.
Patut diakui, Brown berhasil memadukan sebuh thriller dengan tafsiran yang mengagumkan tentang sejarah Barat sehingga novel ini tidak hanya menarik hati pembaca suspense tetapi juga para peminat seni dan agama. Boleh jadi, karena itulah The Da Vinci Code meledakkan heboh.
Jika di The Da Vinci Code melukiskan perseteruan dan perburuan kelompok rahasia Sion dengan Opus Dei, maka dalam Angel & Demons, Brwon juga mengedapan kelompok rahasia yang memainkan cerita, Illuminati.
Seperti dalam Da Vinci, di sini pun Robert Langdon yang jadi tokoh utama, mengantar pembaca memasuki lika-liku kisah dari masa silam yang konon masih menjalar hingga saat ini.
Inti Angel & Demons adalah pertentangan antara sains dan agama, dua hal yang –konon tidak pernah sampai pada titik temu. Malah, pada titik-titik tertentu masing-masing berusaha saling menghancurkan.
Teman saya, seorang kutu buku sekaligus penulis, mengatakan pasti hanya kebetulan Angel & Demons beredar di tanah air bertepatan dengan saat-saat wafatnya Paus Yohanes Paulus II dan tahap-tahap pemilihan Paus baru.
Jika dalam Da Vinci Code Brown membuka cerita di Museum Louvre, Prancis, maka dalam Angel & Demons ia berkisah tentang pembunuhan di CERN, sebuah pusat penelitian ilmu pengetahuan di Swiss, lalu berlanjut dengan rangkaian teror di Vatican, di pusat agama Katolik sedunia.
Di Vatican, kisah bermula dengan meninggalnya Paus dan persiapan pemilihan penggantinya. Meski buku ini terbit di masa Paus Yohannes Paulus II, rasanya Paus yang wafat dalam novel ini tidak menunjuk kepada sosok sebenarnya.
Paparan tentang situasi Kota Vatican, lengkap dengan petanya, termasuk Basilika Santo Petrus (tempat Paus Yohanes Paulus II diletakkan ketika dibuka untuk umum sebelum dimakamkan), Lapangan Santo Petrus, Kapel Sistina, dan benda-benda seni karya Michelangelo, disajikan Brown dengan sangat teliti.
Bahkan pasukan pengawal Paus, Garda Swiss, dan proses pemilihan Paus, yang dilakukan ratusan kardinal di seluruh dunia, dikisahkan dengan hidup seakan-akan sebuah kenyataan. Dan memang Brown mengangkatnya dari kenyataan.
Begitu hidupnya penggambaran dalam kedua novel itu, sampai- sampai ada orang yang percaya, jangan-jangan ceritanya, setidaknya rangkaian sejarah yang melatarbelakangi kisahnya, benar demikian.
Tentu saja anggapan demikian terlalu sederhana. Dalam Da Vinci Code, misalnya, apa iya benar Yesus menikah dan punya anak, apalagi dengan perempuan bernama Maria Magdalena? Apa iya salah satu tokoh dalam lukisan Last Supper itu Maria?
Masih berlatar belakang sejarah agama Katolik, Angel & Demons berkisah tentang munculnya sebuah persaudaraan kuno yang disebut Illuminati, kelompok yang dianggap sudah mati ratusan tahun lalu. Anggota mereka adalah para ilmuwan yang dimusuhi gereja Katolik. Salah satu anggota kelompok ini yang paling terkenal adalah Galileo Galilei.
Kini, kelompok ini muncul untuk membalas dendam terhadap lembaga tertinggi agama Katolik. Kota Vatican mereka ancam dengan sebuah alat pemusnah bernama antimateri (lawan materi) yang jauh lebih dahsyat dibanding bom nuklir.
“Sayang dalam Angel & Demons, senjata pemusnah itu, antimateri, diuraikan terlampau sederhana,” kata teman saya agak masgul. Mungkin memang betul. Tapi bisa jadi, Brown sekadar menjadikan antimateri sebagai jembatan agar pembacanya bisa meniti persoalan dasar yang ingin dia sampaikan.
Brown sendiri mengakui, dia memilih topik yang kontroversial itu untuk alasan pribadi, terutama sebagai eskplorasi atas agama yang dianutnya dan gagasannya tentang agama.
Dia yakin satu alasan mengapa buku itu kontroversial karena agama adalah sesuatu hal yang sangat sulit didiskusikan dalam istilah-istilah kuantitatif.
“Saya juga ingin buku saya jadi pintu pembuka bagi pembaca untuk mengawali eksplorasi mereka sendirim terhadap agama dan keyakinannya,” katanya.
Begitu.
Ya, sudah. **
Bandung, 19042005
0 Tanggapan ke “Dan Brown”