TANAH tumpah darah peradaban itu bernama Ur, kota di sebelah selatan Mesopotamia, sebuah lembah yang subur di antara Sungai Tigris dan Sungai Eufrat. Alkitab menyebutnya sebagai tempat kelahiran Ibrahim, nenek moyang bangsa Arab dan Yahudi.

Sebagian orang yakin bahwa Mesopotamia adalah Taman Surga alias The Garden of Eden sebagaimana diisyaratkan kitab suci. Tanah itu sekaligus merupakan tempat Adam, manusia pertama, mendarat di bumi dari sorga. Dari sini pula Nuh naik bahtera untuk menyelamatkan diri dan kaumnya dari banjir besar.
Nuh juga yang mengajari manusia bertani serta memanfaatkan ramuan untuk obat-obatan. Di zaman modern, para peneliti meyakini di lembah inilah komunitas manusia mulai mengenal budaya cocok tanam, budidaya biji-bijian.
Orang-orang Mesopotamia pula yang pertama kali menemukan dan memulai peradaban bajak untuk memudahkan mengelolaan tanah, dan roda untuk memudahkan pengangkutan barang. Di sini pula perkakas perunggu dan bahasa tertulis mulai diperkenalkan.
Teknologi ‘beton’ dan ‘tembok’ pun dicikal-bakali para ‘insinyur’ Mesopotamia lewat pembangunan Ziggurat –kuil berbentuk piramida berteras bertingkat-tingkat– dilengkapi menara. Kuil ini dibangun dengan menggunakan batu-bata yang dicetak dari tanah lempung setempat dan dikeringkan dengan sinar matahari.
Tapi di manakah Ur kini?
Sejarah peradaban pula yang mencatat bahwa Ur dan Mesopotamia dijarah angkara murka dalam bentuk perang segala zaman. Juga perang modern yang baru saja diledakkan Bush -pemimpin negara termodern– di Irak.

Ya, negeri yang pernah berjaya sebagai Mesopotamia dan imperium Babilonia yang lebih kemudian memberi dunia undang-undang tertulis pertama dan Taman Gantung itu satu dari tujuh keajaiban dunia itu, nyaris saja tanpa bekas sama sekali.
Peradaban demi peradaban yang berlangsung di atasnya –yang sayang sekali sering berupa perang demi perang– seperti mengubur Ur dan menenggelamkannya, tinggal sebagai catatan sejarah di museum.
Sebuah risalah menyebutkan, setelah kebangkitan Islam pada abad ketujuh, Baghdad jadi pusat seni dan pengajaran dunia Islam selama lima abad. Ketika pasukannya bertempur dalam Perang Salib, para pemikirnya melebarkan batas ilmu kedokteran, matematika dan menerjemahkan buku dasar Yunani dan Romawi kuno, yang kemudian dipakai rujukan aneka ilmu pengetahuan.
Banyak muslim menganggap zaman itu adalah puncak capaian kejayaan Islam sebelum akhirnya dikalahkan legiun dari daratan Tiongkok, ketika orang-orang Mongolia datang dan merampok Baghdad pada abad ketigabelas. Jejak kejatuhan ini diikuti penaklukan-penaklukan selama berabad-abad.
Ya, jazirah Irak pernah dikuasai kerajaan Persia, Utsmani, dan Inggris. Berabad kemudian, penaklukan itu datang menderu dari Amerika yang bersekutu dengan Inggris, Australia, dan lain-lain.
Begitu banyak jejak sejarah dunia berasal dari tanah para leluhur ini. Namun lebih banyak lagi yang pasti tidak tercatat atau malah hancur dilanda ‘peradaban’ baru yang ternyata lebih banyak berupa ketakberadaban alias kebiadaban. Ya, perang adalah peradaban yang tak beradab.
Pantas kalau lembaga semacam UNESCO (badan PBB untuk pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan) sangat khawatir melihat kehancuran yang baru saja dialami Irak. Betul, kerusakan bisa diperbaiki, tapi keaslian jejak sejarah tak bisa digantikan.
Kekayaan budaya Irak adalah bagian berharga warisan semua ummat manusia dan dilindungi Konvensi Den Haag 1954, kata Koichiro Matsuura, kepala UNESCO. Lembaga ini juga telah mengirimkan surat tertulis resmi kepada semua pihak terkait di AS dan Inggris dengan lampiran peta situs purbakala mencakup museum dan perpustakaan Irak agar sedapat mungkin terlindungi dari kehancuran akibat perang.
“Warisan budaya Irak tak ternilai harganya,” kata Christopher Varhola, ahli antropologi budaya yang pernah bertugas pada Perang Teluk 1991. “Ini tempat lahir peradaban. Inilah sumber demikian banyak utang budaya kita,” ujarnya.
Sebelum invasi dimulai, tokoh macam McGuire Gibson, profesor arkeologi Mesopotamia pada Lembaga Ketimuran Universitas Chicago, memberikan daftar berisi sekurang-kurangnya 150 tempat bersejarah di Irak, kepada Pentagon. Harapannya, warisan peradaban tersebut akan dikecualikan dari penghancuran.
Apa yang terjadi? Ketika serdadu AS tiba Ur dalam gerak penyerbuannya, mereka segera mengeluarkan peralatan dan mulai menggali, mencari barang-barang antik kemudian mencurinya sebagai cendera mata.
Setelah invasi selesai, museum-museum di Baghdad dan kotakota bersejarah lain di Irak, kehilangan banyak artefak, manuskrip, dan peninggalan-peninggalan masa silam.
Seorang sejarawan menggerutu dalam Newsweek, “Sembilan puluh sembilan persen orang AS tidak tahu negeri yang mereka bom itu Mesopotamia. Negeri kami telah melayani kemanusiaan begitu lama. Kini tergantung kepada masyarakat dunia untuk membantu melindungi Irak,” ujar Dr Huda Ammash, pakar sejarah Irak itu.
Amerika boleh saja sesumbar bahwa bom-bomnya telah diprogram sedemikian rupa dengan tingkat presisi tinggi, dipandu satelit pula untuk hanya menggempur sasaran-sasaran strategis militer. Tapi kenyataan membuktikan, bom-bom pintar itu tetap saja menghajar lokasi-lokasi yang seharusnya tak diusik.
Begitu pula tank-tank dan berbagai peluru kendali yang tak kenal ampun menggasak dan merangsek apa saja yang menghalangi laju mereka. Kini, Baghdad, Mosul, Tikrit dan lain-lain, nyaris tinggal puing. Kehancuran menandai sudut-sudut kota, dan tempattempat bersejarah di jazirah itu.
Terbukti, perang selain membuat sejarah juga menjarah bukti-bukti sejarah. Sebagai anak kandung peradaban, perang juga menunjukkan bukti-bukti ketidakberadaban para pelakunya.
Dan, hari-hari ini kita masih melihat peradaban tak beradab itu di berbagai tempat. Juga di tanah air kita sendiri. ***
Bandung, 190503
0 Tanggapan ke “Ur”