
KEDUANYA dengan sadar menyongsong kematian.
Dan, itulah yang terjadi.
Selasa 8 Juli 2003, Ladan pergi. Sembilan puluh menit kemudian, Laleh, kembarannya, menyusul. Keduanya sudah mereguk pahit dan manisnya hidup bersama dalam arti yang sesungguhnya: kembar siam dengan titik sambung pada sisi kiri dan kanan kepala mereka.
Titik hubung badaniah sepanjang usia mereka itulah yang coba dipisah. Disayat dengan pisau medis. Diiris dengan bantuan piranti paling canggih. Ditangani lebih dari 160 dokter dan paramedis. Dan, hasilnya adalah kematian.
Sampai menit-menit sebelum keduanya dimatisemukan lewat pembiusan yang membisukan, Minggu (6/7/03) pagi, mereka masih bicara. Mereka masih berharap, masih tertawa, masih menulis surat, masih yakin akan kembali ke tanah airnya, Iran, sebagai dua sosok gadis yang dengan gembira menyongsong masa depan.
Keduanya sempat bercanda dan tertawa dengan teman-teman dekat mereka yang menunggui proses operasi. “Aku akan jadi pengacara,” kata Ladan lantang dan optimistis. “Saya ingin jadi wartawan,” tutur Laleh lirih. Mereka berdua sudah lulus sebagai sarjana hukum. “Kami berharap dapat saling bertatapan tanpa harus lewat cermin,” kata Laleh.
Mereka memutuskan dioperasi di Rumah Sakit Raffles, Singapura, setelah para dokter di Jerman menolaknya dengan alasan operasi dapat berakibat fatal. Tahun 2001 tim dokter Singapura ini berhasil memisahkan dua bayi Nepal, Gangga dan Jamuna yang berdempet mirip Ladan-Laleh.
Enam belas tahun silam (29 Oktober tahun 1987), tim dokter Indonesia yang dipimpin Dr Padmosantjojo, berhasil memisahkan Fristian Yuliana dan Fristian Yuliani (Ana-Ani), kembar siam mirip Ladan-Laleh.
Operasi dilakukan ketika si kembar ini masih bayi. Banyak ahli kedokteran mengatakan, operasi pemisahan kembar dempet pada usia dewasa tak dapat diramalkan keberhasilannya.
Boleh jadi, inilah alasan yang membuat pasangan Lori-Reba Schappell dari Pennsylvania Amerika Serikat memilih tetap bersatu dengan dahi kiri saling menempel sejak mereka lahir sampai kini berusia 41 tahun.
“Apa yang sudah disatukan Tuhan janganlah dipisahkan manusia,” kata Reba. Karena bagian yang menempel adalah dahi kiri masing-masing, otomatis posisi mereka harus selalu berhadapan. Jika Lori maju, maka Reba harus berjalan mundur. Demikian sebaliknya.
Kita –yang normal– tak bisa membayangkan bagaimana sulitnya hidup seperti mereka. Bagaimana cara makan, cara tidur, cara buang hajat, cara bepergian. Dan, mungkin, jika pasangan ini bersuami.
Namun mereka menerima dan menjalaninya dengan sadar, sebagaimana Ladan-Laleh memutuskan pilihan mereka untuk berpisah, meski keduanya tahu betul bahwa risikonya adalah kematian. Salah satu, atau keduanya. Kesadaran. Inilah titik masuk pasangan-pasangan kembar dempet itu ke dalam relung-relung simpati.
Dalam kasus Ana-Ani dan Gangga-Jamuna, kesadaran seperti itu belum tumbuh ketika mereka menjalani operasi. Ya dan tidaknya tindakan pemisahan lewat operasi tidak muncul dari mereka, melainkan dari orang-orang tua di sekitar mereka, karena saat itu mereka masih bayi.
Ladan-Laleh, Lori-Reba adalah manusia-manusia dewasa yang sudah memiliki kesadaran akan hak-hak dan kewajiban manusiawinya. Ketika Ladan-Laleh menggunakan haknya untuk memilih, meski pilihan itu berisiko kematian, orang harus menghormatinya. Begitu pula saat Lori-Reba memilih untuk tidak menempuh risiko kematian.
Dunia tergetar oleh keberanian dua gadis dempet Iran itu, sekaligus bertanya-tanya, bukankah orang lain wajib mencegah seseorang atau dua orang memasuki lorong yang sudah jelas-jelas akan membunuhnya?
Diam-diam, Ladan-Laleh telah membukakan kepada kita ruang untuk merenung dan mendiskusikan kembali mengenai tindakan seseorang untuk memilih mati daripada dibiarkan hidup di tengah kesulitan, kesengsaraan, dan kesakitan berkepanjangan.
Ya, Ladan-Laleh telah menentukan pilihan.
Warga Iran menangis. Dunia medis berduka.
Sebuah upaya penting penjelajahan ilmu kedokteran berakhir pada puncak ketakberdayaan manusia berkompromi dengan Sang Maut. Namun bersamaan dengan itu dunia memperoleh pengetahuan-pengetahuan baru yang tak ternilai dan akan sangat berguna di kemudian hari.
Tanpa keberanian Ladan-Laleh menyediakan diri mereka sebagai martir, para ilmuwan ahli bedah akan lebih lama menemukan cara-cara paling aman untuk bertindak manakala menghadapi kasus serupa, sepanjang tindakan seperti itu akan dilakukan.
Lori-Reba mungkin betul ketika mengatakan, apa yang sudah disatukan Tuhan janganlah dipisahkan manusia. Tapi Tuhan pun menganugerahi manusia akal. Dengan akal itu manusia menemukan cara untuk memecahkan berbagai persoalan. Termasuk memisahkan manusia yang diciptkan Tuhan sebagai kembar siam.
Mungkin begitu.***
Banjarmasin, 110703
0 Tanggapan ke “dua martir”