IKLAN itu tampil mencolok menyita separo halaman belakang Banjarmasin Post edisi Selasa 14 November 2000. Atau, dua pekan setelah jatuh dan meledaknya pesawat Boeing 747 yang dioperasikan maskapai penerbangan Singapura, Singapore Interntional Airlines (SIA) ketika hendak tinggal landas di Chiang Kaishek International Airport, Taipei Taiwan, Selasa 31 Oktober 2000.

Isi iklan itu ucapan terima kasih dari suami istri, Anton dan Lailawati Gunadi kepada segenap pihak yang telah memberinya dukungan moral, doa dan harapan atas keselamatan keduanya. Mereka termasuk di antara sedikit penumpang yang selamat dari pesawat nahas yang tinggal landas di tengah hujan badai.
Sangat boleh jadi, William E Boeing dan G Conrad Westervelt tak pernah membayangkan, bahwa di masa depan peswat yang diproduksi pabrik mereka itu akan memberi pengalaman spektakuler kepada pasangan Anton-Laila, sekaligus –mungkin– menorehkan trauma yang kedahsyatannya tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Juga kepada sejumlah kecil penumpang yang selamat dalam insiden di Taipei itu.
Ya, The Boeing Company, industri pesawat yang didirikan Boeing dan Westervelt pada 15 Juli 1916, memang jadi sangat populer di masa-masa berikut, meski pada awalnya mereka cuma mengembangkan B&W Seaplane, sebuah pesawat bersayap ganda dengan dua tempat duduk. Pada Perang Dunia I, perusahaan ini malah sempat jadi pemasok perangkat tempur, mulai dari pesawat hingga ke torpedo.
Ketika Perang Dunia II, Boeing merancang dan mengembangkan sejumlah pesawat penggempur (pengebom), seperti B-17 (pertama diproduksi 1935) dan B-29 (diproduksi 1942).
Setelah perang, perusahaan ini mengembangkan pesawat penumpang, dan pada 1954-1955 mulai memperkenalkan Boeing 707, pesawat jet pertama Amerika. Boeing pulalah yang pada 1960 merancang dan membangun penyangga roket Saturnus yang membawa Apollo untuk misi ke bulan, juga memasok sebagian besar kebutuhan ekspedisi canggih ke antariksa.
Tapi secanggih-canggih pesawat bikinan manusia, tak bisalah menyelamatkan penumpangnya jika matra angkutan itu jatuh dari ketinggian. Saat Boeing 737-300 jatuh di Sungsang, Musi Banyuasin Sumatera Selatan, Jumat, 19 Desember 1997, tak satu pun yang selamat. Padahal pesawat itu baru 8 bulan dioperasikan oleh anak perusahaan Singapore Internasional Airlines, Silk-Air.
Dalam 40 kecelakaan pesawat terbang sejak 1974 sampai 1997, tercatat 20 di antaranya menimpa Boeing dari berbagai seri. Boeing seringkali jatuh, tentu bukan karena pesawat ini rapuh, melainkan karena memang paling banyak digunakan dalam penerbangan di dunia.
Sampai akhir 1999, lebih dari 50 maskapai penerbangan yang mengoperasikan hampir 400 Boeing berbagai jenis. Termasuk di dalamnya adalah SIA dengan Boeing 747 yang Selasa malam 31 Oktober itu ditumpangi Anton Gunadi dan istri serta lebih 150 penumpang lainnya. Boeing itu jatuh dan meledak.
Kebetulan atau keajaiban, mukjizat atau bukan, Anton dan istrinya bersama 14 penumpang lain –termasuk Sigit (44) seorang eksekutif perusahaan swasta di Jakarta– lolos dari maut dalam musibah tersebut. Secara fisik, mereka selamat. Namun seperti diakui Sigit, secara psikis ia mengalami trauma yang luar biasa dan masih sering terasa bahkan ketika ia sedang tidur.
Lewat iklan di Banjarmasin Post, Anton –pengusaha besar asal Banjarmasin– dan istrinya, Laila, juga mengungkapkan rasa syukurnya yang tak terhingga kepada Sang Maha Pemilik Hidup, yang telah memberinya kesempatan hidup lebih panjang: Lolos dari kematian pada sebuah tragedi yang merenggut hampir seluruh penumpang pesawat.
Ya, banyak orang menganggap batas antara hidup dan mati demikian tipisnya, setipis tirai waktu yang memisahkan antara siang dan malam.
Anton dan Laila –dalam Bahasa Arab berarti malam– diberi anugerah untuk melihat, merasakan, meresapi, dan memetik makna dari satu situasi di mana mereka berada pada batas tipis antara hidup dan mati itu, di dalam kabin yang berubah jadi lorong kematian pada suatu malam di tengah hujan badai.
Bayangkan, pesawat berpenumpang 159 dengan 23 awak, jatuh ketika baru saja meninggalkan landas pacu, dan meledak, pecah jadi tiga bagian di tengah amukan topan (Xangsane atau Dewa Gajah dalam bahasa Cina), dan Anton beserta istrinya termasuk di antara 16 orang yang selamat tanpa cedera serius.
Bahkan, sahabat terdekatnya –yang berangkat bersama mereka, dan duduk di sebelah Laila– justru terbaring di antara deretan korban tewas.
Memang dalam berbagai musibah besar yang memperhadapkan manusia pada situasi antara hidup dan mati seperti dalam insiden di atas, selalu saja ada unsur yang di luar jangkauan nalar manusiawi manusia sehingga sering dianggap sebagai keajaiban, atau bahkan ada yang mempersamakan dengan mukjizat, meski ada pula yang melihatnya dengan enteng, kebetulan.
Itu pula yang terjadi ketika cuma sebelas penumpang yang salamat saat Boeing 747 (jumbo) milik maskapai penerbangan Korea Selatan jatuh dan meledak di Agana, Guam, dekat pangkalan militer Amerika Serikat di kepulauan Pasifik –kebetulan pula pada hari Selasa– 6 Agustus 1997.
Seorang gadis cilik asal Jepang, berusia 11 tahun, selamat dengan hanya cedera ringan dalam insiden itu. Sementara ibunya, gepeng terhimpit di sela-sela pelat besi kursi dan kabin, lalu ‘lenyap’ ditelan kobaran api, saat pesawat itu meledak jadi lima bagian.
“Saya mencoba keluar dari puing-puing pesawat walaupun tubuh ini penuh luka, takut kalau-kalau pesawat meledak. Saat itu seorang gadis menarik kaki saya,” kata Hong Hyon-song (35), warga Korea Selatan, seorang penumpang yang selamat bersama gadis itu.
Ada sedikit yang selamat –dalam arti secara fisik lolos dari maut, tapi lebih banyak yang tak tertolong dalam berbagai musibah jatuhnya pesawat. Teknologi telah menciptakan matra angkutan yang serba cepat dari segi waktu, sekaligus meningkatkan risiko yang harus dihadapi penggunanya. Tapi karena ada risiko itu pulalah hidup menjadi berarti.
Inovasi pun muncul karena manusia sangat sadar bahwa langkah apa pun yang dilakukannya dalam hidup, selalu akan berhadapan dengan dua sisi ekstrem yang saling bertentangan. Sukses-gagal, selamat-celaka, hidup-mati, dan seterusnya.
Toh, sejauh ini belum ada satu pun ilmuwan dan inovator yang bisa menemukan teknologi penghindar kematian, atau medium yang mampu menyembunyikan manusia dari malakalmaut.
Sebagaimana hidup, urusan yang satu ini –mati– bukanlah milik manusia. Jika pun ditemukan ramuan pemanjang usia, tidaklah lantas bisa menunda sang maut.
Karenanya, orang bijak bilang, janganlah takut mati karena ia akan tetap datang di manapun kau sembunyi. Sebaliknya, takutlah pada kehidupan setelah kematian sebab kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi di sana.
Agama mengatakan, berbuat baiklah dan beramal salehlah ketika kau hidup. Realitas mengatakan, batas antara hidup dan mati begitu tipisnya. Tentang setipis mana batas itu, tanya saja pada orang-orang yang pernah mengalami, seperti Anton Gunadi, misalnya. ***



