Arsip untuk Februari 6th, 2008

06
Feb
08

Lorong Hidup-Mati

IKLAN itu tampil mencolok menyita separo halaman belakang Banjarmasin Post edisi Selasa 14 November 2000. Atau, dua pekan setelah jatuh dan meledaknya pesawat Boeing 747 yang dioperasikan maskapai penerbangan Singapura, Singapore Interntional Airlines (SIA) ketika hendak tinggal landas di Chiang Kai﷓shek International Airport, Taipei Taiwan, Selasa 31 Oktober 2000.

lorong.jpg

Isi iklan itu ucapan terima kasih dari suami istri, Anton dan Lailawati Gunadi kepada segenap pihak yang telah memberinya dukungan moral, doa dan harapan atas keselamatan keduanya. Mereka termasuk di antara sedikit penumpang yang selamat dari pesawat nahas yang tinggal landas di tengah hujan badai.

Sangat boleh jadi, William E Boeing dan G Conrad Westervelt tak pernah membayangkan, bahwa di masa depan peswat yang diproduksi pabrik mereka itu akan memberi pengalaman spektakuler kepada pasangan Anton-Laila, sekaligus –mungkin– menorehkan trauma yang kedahsyatannya tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Juga kepada sejumlah kecil penumpang yang selamat dalam insiden di Taipei itu.

Ya, The Boeing Company, industri pesawat yang didirikan Boeing dan Westervelt pada 15 Juli 1916, memang jadi sangat populer di masa-masa berikut, meski pada awalnya mereka cuma mengembangkan B&W Seaplane, sebuah pesawat bersayap ganda dengan dua tempat duduk. Pada Perang Dunia I, perusahaan ini malah sempat jadi pemasok perangkat tempur, mulai dari pesawat hingga ke torpedo.

Ketika Perang Dunia II, Boeing merancang dan mengembangkan sejumlah pesawat penggempur (pengebom), seperti B-17 (pertama diproduksi 1935) dan B-29 (diproduksi 1942).

Setelah perang, perusahaan ini mengembangkan pesawat penumpang, dan pada 1954-1955 mulai memperkenalkan Boeing 707, pesawat jet pertama Amerika. Boeing pulalah yang pada 1960 merancang dan membangun penyangga roket Saturnus yang membawa Apollo untuk misi ke bulan, juga memasok sebagian besar kebutuhan ekspedisi canggih ke antariksa.

Tapi secanggih-canggih pesawat bikinan manusia, tak bisalah menyelamatkan penumpangnya jika matra angkutan itu jatuh dari ketinggian. Saat Boeing 737-300 jatuh di Sungsang, Musi Banyuasin Sumatera Selatan, Jumat, 19 Desember 1997, tak satu pun yang selamat. Padahal pesawat itu baru 8 bulan dioperasikan oleh anak perusahaan Singapore Internasional Airlines, Silk-Air.

Dalam 40 kecelakaan pesawat terbang sejak 1974 sampai 1997, tercatat 20 di antaranya menimpa Boeing dari berbagai seri. Boeing seringkali jatuh, tentu bukan karena pesawat ini rapuh, melainkan karena memang paling banyak digunakan dalam penerbangan di dunia.

Sampai akhir 1999, lebih dari 50 maskapai penerbangan yang mengoperasikan hampir 400 Boeing berbagai jenis. Termasuk di dalamnya adalah SIA dengan Boeing 747 yang Selasa malam 31 Oktober itu ditumpangi Anton Gunadi dan istri serta lebih 150 penumpang lainnya. Boeing itu jatuh dan meledak.

Kebetulan atau keajaiban, mukjizat atau bukan, Anton dan istrinya bersama 14 penumpang lain –termasuk Sigit (44) seorang eksekutif perusahaan swasta di Jakarta– lolos dari maut dalam musibah tersebut. Secara fisik, mereka selamat. Namun seperti diakui Sigit, secara psikis ia mengalami trauma yang luar biasa dan masih sering terasa bahkan ketika ia sedang tidur.

Lewat iklan di Banjarmasin Post, Anton –pengusaha besar asal Banjarmasin– dan istrinya, Laila, juga mengungkapkan rasa syukurnya yang tak terhingga kepada Sang Maha Pemilik Hidup, yang telah memberinya kesempatan hidup lebih panjang: Lolos dari kematian pada sebuah tragedi yang merenggut hampir seluruh penumpang pesawat.

Ya, banyak orang menganggap batas antara hidup dan mati demikian tipisnya, setipis tirai waktu yang memisahkan antara siang dan malam.

Anton dan Laila –dalam Bahasa Arab berarti malam– diberi anugerah untuk melihat, merasakan, meresapi, dan memetik makna dari satu situasi di mana mereka berada pada batas tipis antara hidup dan mati itu, di dalam kabin yang berubah jadi lorong kematian pada suatu malam di tengah hujan badai.

Bayangkan, pesawat berpenumpang 159 dengan 23 awak, jatuh ketika baru saja meninggalkan landas pacu, dan meledak, pecah jadi tiga bagian di tengah amukan topan (Xangsane atau Dewa Gajah dalam bahasa Cina), dan Anton beserta istrinya termasuk di antara 16 orang yang selamat tanpa cedera serius.

Bahkan, sahabat terdekatnya –yang berangkat bersama mereka, dan duduk di sebelah Laila– justru terbaring di antara deretan korban tewas.

Memang dalam berbagai musibah besar yang memperhadapkan manusia pada situasi antara hidup dan mati seperti dalam insiden di atas, selalu saja ada unsur yang di luar jangkauan nalar manusiawi manusia sehingga sering dianggap sebagai keajaiban, atau bahkan ada yang mempersamakan dengan mukjizat, meski ada pula yang melihatnya dengan enteng, kebetulan.

Itu pula yang terjadi ketika cuma sebelas penumpang yang salamat saat Boeing 747 (jumbo) milik maskapai penerbangan Korea Selatan jatuh dan meledak di Agana, Guam, dekat pangkalan militer Amerika Serikat di kepulauan Pasifik –kebetulan pula pada hari Selasa– 6 Agustus 1997.

Seorang gadis cilik asal Jepang, berusia 11 tahun, selamat dengan hanya cedera ringan dalam insiden itu. Sementara ibunya, gepeng terhimpit di sela-sela pelat besi kursi dan kabin, lalu ‘lenyap’ ditelan kobaran api, saat pesawat itu meledak jadi lima bagian.

“Saya mencoba keluar dari puing-puing pesawat walaupun tubuh ini penuh luka, takut kalau-kalau pesawat meledak. Saat itu seorang gadis menarik kaki saya,” kata Hong Hyon-song (35), warga Korea Selatan, seorang penumpang yang selamat bersama gadis itu.

Ada sedikit yang selamat –dalam arti secara fisik lolos dari maut, tapi lebih banyak yang tak tertolong dalam berbagai musibah jatuhnya pesawat. Teknologi telah menciptakan matra angkutan yang serba cepat dari segi waktu, sekaligus meningkatkan risiko yang harus dihadapi penggunanya. Tapi karena ada risiko itu pulalah hidup menjadi berarti.

Inovasi pun muncul karena manusia sangat sadar bahwa langkah apa pun yang dilakukannya dalam hidup, selalu akan berhadapan dengan dua sisi ekstrem yang saling bertentangan. Sukses-gagal, selamat-celaka, hidup-mati, dan seterusnya.

Toh, sejauh ini belum ada satu pun ilmuwan dan inovator yang bisa menemukan teknologi penghindar kematian, atau medium yang mampu menyembunyikan manusia dari malakalmaut.

Sebagaimana hidup, urusan yang satu ini –mati– bukanlah milik manusia. Jika pun ditemukan ramuan pemanjang usia, tidaklah lantas bisa menunda sang maut.
Karenanya, orang bijak bilang, janganlah takut mati karena ia akan tetap datang di manapun kau sembunyi. Sebaliknya, takutlah pada kehidupan setelah kematian sebab kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi di sana.

Agama mengatakan, berbuat baiklah dan beramal salehlah ketika kau hidup. Realitas mengatakan, batas antara hidup dan mati begitu tipisnya. Tentang setipis mana batas itu, tanya saja pada orang-orang yang pernah mengalami, seperti Anton Gunadi, misalnya. ***

06
Feb
08

Mahkamah Jalanan

rusuh.jpg

INI bukan di Negeri Barbar, Bung! Tapi empat maling kere yang kepergok sedang mengutak-atik sepeda motor yang diduga akan dicurinya, digelandang ramai-ramai.

Mereka dipukuli, ditendangi, dihajar habis dengan segala benda yang bisa diraih dan digunakan sebagai senjata. Dua mati di tempat dengan tubuh remuk berdarah-darah. Dua lagi masih kelojotan meregang ajal, ketika diseret ke tengah lapang voli.

Empat mahluk itu lalu ditumpuk di tengah lapang. Dua lagi -itu tadi– masih kedut-kedut sekarat. Massa histeris, memekikmekikkan kebencian pada laku kriminal. Satu dua anak tanggung masih melempari tubuh-tubuh yang sudah lusuh itu, sebelum seseorang menuangkan satu jerigen bensin.

Dan, blurrr!!

Api berkobar meluapkan amarah terakhir. Asap hitam dan kelabu mengepul, meruapkan bau sangit yanhg menyamnbar-nyambar ke seantero kampung. Dua tubuh yang tadi kedat-kedut, mengejang menyentak-nyentak dengan mata membeliak sejenak, lalu mengkerut, mengelinting untuk kemudian tak bergerak lagi.

Massa bersorak. Berteriak, girang, melampiaskan dendam, entah kepada siapa. Sekali lagi, ini bukan di Negeri Barbar, bung. Tapi di Bekasi, sepotong wilayah Jawa Barat yang lebih lengket ke Jakarta.

Insiden itu pun, hanyalah sepotong mozaik dari rentetan peristiwa serupa –peradilan jalanan– yang belakangan ini marak di berbagai tempat. Tidak hanya di Jakarta, tapi juga ke daerah-daerah yang –menurut perkiraan– seharusnya masih sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan harkat manusiawi manusia.

Itulah bagian lain wajah kebiadaban bangsa kita yang memegang teguh prinsip kemanusiaan yang adil dan beradab, akhir-akhir ini.

“Kita harus mengembangkan dan menegakkan kembali budaya hukum. Kekerasan dalam bentuk apa pun yang tidak dilandasi hukum, harus segera diakhiri. Kekerasan macam itu adalah titisan dari budaya kekerasan yang diwariskan rezim sebelumnya untuk mempertahankan kekuasaan mereka,” ujar seorang pakar hukum. Awal Mei 2000 di Bandung, kami terlibat dalam sebuah diskusi mengenai masa depan bangsa ini.

“Saya tak tahu, apa yang dimaksud budaya hukum,” ujar seorang sarjana hukum yang kini aktif sebagai pejuang hak-hak buruh. Ketika kuliah, dia adalah murid pakar yang gandrung budaya hukum itu tadi. Lho, kok?

“Saya berusia enam tahun ketika itu. Suatu malam, tiba-tiba ayah membangunkan saya dan dengan sungguh-sungguh mengatakan bahwa nama saya harus diganti. ‘Besok, namamu adalah Hemasari. Bukan lagi Oei Chin Chu. Ingat! Dan, jangan protes. Lupakan namamu, gunakan nama baru itu’ kata ayah saya,” ujar Hemasari.

Mengapa? Ya, karena hukum, ketentuan pada masa itu, mengharuskan demikian. Betapa, melalui hukum, negara telah mengobok-obok hak asasi seorang anak. Betapa anak itu tak bisa melanjutkan sisa tidurnya hingga malam usai.

Betapa anak itu kebingungan ketika nama-nama teman sekelasnya yang juga asing seperti Fadillah, Muhammad, Abdullah, Masyitoh dan sebangsanya, tak harus diganti sedangkan dia hadir hari itu dengan nama baru. Inikah budaya hukum? Bukankah ini pun bentuk lain kekerasan dan kesewenang-wenangan negara atas warganya yang tak berdaya?

“Bukankah karena hukum pula, Tempo, Editor, Dëtik diberangus? Para mahasiswa ditembaki hingga mati berkaparan di kampus mereka? Budaya macam itukah yang dimaksud dengan budaya hukum?” kata teman saya yang lain. Betul juga.

“Soeharto tak juga diadili, karena negara ini taat hukum. Para koruptor tak juga diganjar bui, karena negara ini patuh hukum. Aparatnya takut dianggap melangar hukum. Para penculik aktivis dan pembunuh mahahasiwa, tak juga diseret ke pengadilan, karena negeri ini taat hukum,” bisik rekan saya dalam diskusi itu. Ia adalah seorang penyair yang –demi hukum– pernah dicekal dan diuber-uber gara-gara baca puisi di Lampung.

“Saya akan beberskan semua yang terlibat. Ini negara hukum, mereka harus bertanggungjawab,” pekik Soerjadi dari balik terali tahanan polisi. Eh, ketua Partai Demokrasi Indonesia tanpa Perjuangan ini, sekarang memekik-mekik menuntut keadilan hukum atas diri dan antek-anteknya yang –demi hukum– harus diproses untuk mendudukkan kasus 27 Juli pada proporsi yang seharusnya.

Kasus 27 Juli, memang merupakan parodi paling buruk dan kasar dari hukum kita. Bagaimana hukum dipermainkan, diitekaktekuk oleh penguasa untuk mempertahankan dan mengamankan kekuasannya yang sebenarnya sudah sangat kropos oleh KKN.

Bagaimana orang yang diserang, dianiaya, diusir dan dilecehkan, justru didudukkan sebagai terdakwa, dan dipenjara untuk kesalahan yang tidak mereka bikin.
Kemudian, setelah rezim berganti, hukum yang katanya diletakkan sebagai panglima, belum juga bisa membimbing para penegaknya untuk mengusut tuntas kasus tersebut. Sebab –sekali lagi– demi hukum, para penegak itu tak bisa sembarang menjamah tokohtokoh yang sesungguhnya jelas terlibat dalam skenario besar penggusuran Megawati, saat itu.

“Saya yakin, insiden tersebut tidaklah berdiri sendiri, melainkan hanya satu titik dari sebuah rencana besar menyangkut persekongkolan politik penguasa saat itu yang pada pelaksanaannya tak segan-segan menggunakan hukum untuk menindas dan mengorbankan demikian banyak pihak, terutama rakyat kecil,” ujar rekan saya yang kerap mengadvokasi rakyat pedesaan mengenai hak-hak mereka.

Memang, pada akhirnya, pengungkapan secara transparan satu persatu kasus gelap selama ini dan menyelesaikannya hingga tuntas, akan membawa kita pada tekad untuk juga membongkar berbagai kasus yang selama ini terlindungi dengan kokoh oleh kekuatan kekuasaan.

Kita juga berharap, setelah kasus 27 Juli tuntas misalnya, segera pula tuntas kasus-kasus seperti penculikan para aktivis, insiden Trisakti, tragedi Semanggi, Kasus Tragedi 23 Mei Banjarmasin, dan kasus-kasus lainnya.

Tapi, bukankah karena hukum pula penuntasan kasus-kasus itu terasa lamban, sehingga rakyat cenderung tidak percaya lagi pada lembaga hukum dan aparat-aparatnya. Akibatnya, ya mereka mengambil tindakan sendiri, menghukum orang atau pihak yang mereka anggap patut dihukum. Dalam konstelasi ini pula, kita melihat di mana-mana orang cenderung main hakim sendiri. Inilah yang paling mengkhawatirkan.

Padahal kita sangat berharap berbagai kasus-kasus bisa diselesaikan secara tuntas dan peroses hukum berlangsung sebagaimana mestinya. Dengan cara itu setidaknya kita bisa segera membuktikan bahwa penguasa –siapa pun dia– tidaklah bisa lagi sewenang-wenang memberlakukan hukum sesuai dengan kepentingannya sendiri.

Kita telah sepakat bulat untuk menjadikan hukum –bukan politik– sebagai panglima yang memandu dan membimbing perjalanan hidup kita sebagai sebuah bangsa yang beradab.

Pepatah mengatakan, jangan terlalu berharap pada hukum sebab hukum diciptakan memang bukan untuk keadilan tapi untuk hukum itu sendiri dan –paling banter– untuk para pengacara. Alamak, kalau sudah begini macamnya, parahlah. Satu-satunya harapan, ya menunggu Mahkaham Maha Agung dengan hakim Yang Maha Adil.***

06
Feb
08

Ur

TANAH tumpah darah peradaban itu bernama Ur, kota di sebelah selatan Mesopotamia, sebuah lembah yang subur di antara Sungai Tigris dan Sungai Eufrat. Alkitab menyebutnya sebagai tempat kelahiran Ibrahim, nenek moyang bangsa Arab dan Yahudi.

ur1.jpg

Sebagian orang yakin bahwa Mesopotamia adalah Taman Surga alias The Garden of Eden sebagaimana diisyaratkan kitab suci. Tanah itu sekaligus merupakan tempat Adam, manusia pertama, mendarat di bumi dari sorga. Dari sini pula Nuh naik bahtera untuk menyelamatkan diri dan kaumnya dari banjir besar.

Nuh juga yang mengajari manusia bertani serta memanfaatkan ramuan untuk obat-obatan. Di zaman modern, para peneliti meyakini di lembah inilah komunitas manusia mulai mengenal budaya cocok tanam, budidaya biji-bijian.

Orang-orang Mesopotamia pula yang pertama kali menemukan dan memulai peradaban bajak untuk memudahkan mengelolaan tanah, dan roda untuk memudahkan pengangkutan barang. Di sini pula perkakas perunggu dan bahasa tertulis mulai diperkenalkan.

Teknologi ‘beton’ dan ‘tembok’ pun dicikal-bakali para ‘insinyur’ Mesopotamia lewat pembangunan Ziggurat –kuil berbentuk piramida berteras bertingkat-tingkat– dilengkapi menara. Kuil ini dibangun dengan menggunakan batu-bata yang dicetak dari tanah lempung setempat dan dikeringkan dengan sinar matahari.

Tapi di manakah Ur kini?

Sejarah peradaban pula yang mencatat bahwa Ur dan Mesopotamia dijarah angkara murka dalam bentuk perang segala zaman. Juga perang modern yang baru saja diledakkan Bush -pemimpin negara termodern– di Irak.

urz.jpg

Ya, negeri yang pernah berjaya sebagai Mesopotamia dan imperium Babilonia yang lebih kemudian memberi dunia undang-undang tertulis pertama dan Taman Gantung itu satu dari tujuh keajaiban dunia itu, nyaris saja tanpa bekas sama sekali.

Peradaban demi peradaban yang berlangsung di atasnya –yang sayang sekali sering berupa perang demi perang– seperti mengubur Ur dan menenggelamkannya, tinggal sebagai catatan sejarah di museum.

Sebuah risalah menyebutkan, setelah kebangkitan Islam pada abad ketujuh, Baghdad jadi pusat seni dan pengajaran dunia Islam selama lima abad. Ketika pasukannya bertempur dalam Perang Salib, para pemikirnya melebarkan batas ilmu kedokteran, matematika dan menerjemahkan buku dasar Yunani dan Romawi kuno, yang kemudian dipakai rujukan aneka ilmu pengetahuan.

Banyak muslim menganggap zaman itu adalah puncak capaian kejayaan Islam sebelum akhirnya dikalahkan legiun dari daratan Tiongkok, ketika orang-orang Mongolia datang dan merampok Baghdad pada abad ketigabelas. Jejak kejatuhan ini diikuti penaklukan-penaklukan selama berabad-abad.

Ya, jazirah Irak pernah dikuasai kerajaan Persia, Utsmani, dan Inggris. Berabad kemudian, penaklukan itu datang menderu dari Amerika yang bersekutu dengan Inggris, Australia, dan lain-lain.

Begitu banyak jejak sejarah dunia berasal dari tanah para leluhur ini. Namun lebih banyak lagi yang pasti tidak tercatat atau malah hancur dilanda ‘peradaban’ baru yang ternyata lebih banyak berupa ketakberadaban alias kebiadaban. Ya, perang adalah peradaban yang tak beradab.

Pantas kalau lembaga semacam UNESCO (badan PBB untuk pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan) sangat khawatir melihat kehancuran yang baru saja dialami Irak. Betul, kerusakan bisa diperbaiki, tapi keaslian jejak sejarah tak bisa digantikan.

Kekayaan budaya Irak adalah bagian berharga warisan semua ummat manusia dan dilindungi Konvensi Den Haag 1954, kata Koichiro Matsuura, kepala UNESCO. Lembaga ini juga telah mengirimkan surat tertulis resmi kepada semua pihak terkait di AS dan Inggris dengan lampiran peta situs purbakala mencakup museum dan perpustakaan Irak agar sedapat mungkin terlindungi dari kehancuran akibat perang.

“Warisan budaya Irak tak ternilai harganya,” kata Christopher Varhola, ahli antropologi budaya yang pernah bertugas pada Perang Teluk 1991. “Ini tempat lahir peradaban. Inilah sumber demikian banyak utang budaya kita,” ujarnya.

Sebelum invasi dimulai, tokoh macam McGuire Gibson, profesor arkeologi Mesopotamia pada Lembaga Ketimuran Universitas Chicago, memberikan daftar berisi sekurang-kurangnya 150 tempat bersejarah di Irak, kepada Pentagon. Harapannya, warisan peradaban tersebut akan dikecualikan dari penghancuran.

Apa yang terjadi? Ketika serdadu AS tiba Ur dalam gerak penyerbuannya, mereka segera mengeluarkan peralatan dan mulai menggali, mencari barang-barang antik kemudian mencurinya sebagai cendera mata.

Setelah invasi selesai, museum-museum di Baghdad dan kotakota bersejarah lain di Irak, kehilangan banyak artefak, manuskrip, dan peninggalan-peninggalan masa silam.

Seorang sejarawan menggerutu dalam Newsweek, “Sembilan puluh sembilan persen orang AS tidak tahu negeri yang mereka bom itu Mesopotamia. Negeri kami telah melayani kemanusiaan begitu lama. Kini tergantung kepada masyarakat dunia untuk membantu melindungi Irak,” ujar Dr Huda Ammash, pakar sejarah Irak itu.

Amerika boleh saja sesumbar bahwa bom-bomnya telah diprogram sedemikian rupa dengan tingkat presisi tinggi, dipandu satelit pula untuk hanya menggempur sasaran-sasaran strategis militer. Tapi kenyataan membuktikan, bom-bom pintar itu tetap saja menghajar lokasi-lokasi yang seharusnya tak diusik.

Begitu pula tank-tank dan berbagai peluru kendali yang tak kenal ampun menggasak dan merangsek apa saja yang menghalangi laju mereka. Kini, Baghdad, Mosul, Tikrit dan lain-lain, nyaris tinggal puing. Kehancuran menandai sudut-sudut kota, dan tempattempat bersejarah di jazirah itu.

Terbukti, perang selain membuat sejarah juga menjarah bukti-bukti sejarah. Sebagai anak kandung peradaban, perang juga menunjukkan bukti-bukti ketidakberadaban para pelakunya.

Dan, hari-hari ini kita masih melihat peradaban tak beradab itu di berbagai tempat. Juga di tanah air kita sendiri. ***

Bandung, 190503

06
Feb
08

dua martir

martir.jpg

KEDUANYA dengan sadar menyongsong kematian.
Dan, itulah yang terjadi.

Selasa 8 Juli 2003, Ladan pergi. Sembilan puluh menit kemudian, Laleh, kembarannya, menyusul. Keduanya sudah mereguk pahit dan manisnya hidup bersama dalam arti yang sesungguhnya: kembar siam dengan titik sambung pada sisi kiri dan kanan kepala mereka.

Titik hubung badaniah sepanjang usia mereka itulah yang coba dipisah. Disayat dengan pisau medis. Diiris dengan bantuan piranti paling canggih. Ditangani lebih dari 160 dokter dan paramedis. Dan, hasilnya adalah kematian.

Sampai menit-menit sebelum keduanya dimatisemukan lewat pembiusan yang membisukan, Minggu (6/7/03) pagi, mereka masih bicara. Mereka masih berharap, masih tertawa, masih menulis surat, masih yakin akan kembali ke tanah airnya, Iran, sebagai dua sosok gadis yang dengan gembira menyongsong masa depan.

Keduanya sempat bercanda dan tertawa dengan teman-teman dekat mereka yang menunggui proses operasi. “Aku akan jadi pengacara,” kata Ladan lantang dan optimistis. “Saya ingin jadi wartawan,” tutur Laleh lirih. Mereka berdua sudah lulus sebagai sarjana hukum. “Kami berharap dapat saling bertatapan tanpa harus lewat cermin,” kata Laleh.

Mereka memutuskan dioperasi di Rumah Sakit Raffles, Singapura, setelah para dokter di Jerman menolaknya dengan alasan operasi dapat berakibat fatal. Tahun 2001 tim dokter Singapura ini berhasil memisahkan dua bayi Nepal, Gangga dan Jamuna yang berdempet mirip Ladan-Laleh.

Enam belas tahun silam (29 Oktober tahun 1987), tim dokter Indonesia yang dipimpin Dr Padmosantjojo, berhasil memisahkan Fristian Yuliana dan Fristian Yuliani (Ana-Ani), kembar siam mirip Ladan-Laleh.

Operasi dilakukan ketika si kembar ini masih bayi. Banyak ahli kedokteran mengatakan, operasi pemisahan kembar dempet pada usia dewasa tak dapat diramalkan keberhasilannya.

Boleh jadi, inilah alasan yang membuat pasangan Lori-Reba Schappell dari Pennsylvania Amerika Serikat memilih tetap bersatu dengan dahi kiri saling menempel sejak mereka lahir sampai kini berusia 41 tahun.
“Apa yang sudah disatukan Tuhan janganlah dipisahkan manusia,” kata Reba. Karena bagian yang menempel adalah dahi kiri masing-masing, otomatis posisi mereka harus selalu berhadapan. Jika Lori maju, maka Reba harus berjalan mundur. Demikian sebaliknya.

Kita –yang normal– tak bisa membayangkan bagaimana sulitnya hidup seperti mereka. Bagaimana cara makan, cara tidur, cara buang hajat, cara bepergian. Dan, mungkin, jika pasangan ini bersuami.

Namun mereka menerima dan menjalaninya dengan sadar, sebagaimana Ladan-Laleh memutuskan pilihan mereka untuk berpisah, meski keduanya tahu betul bahwa risikonya adalah kematian. Salah satu, atau keduanya. Kesadaran. Inilah titik masuk pasangan-pasangan kembar dempet itu ke dalam relung-relung simpati.

Dalam kasus Ana-Ani dan Gangga-Jamuna, kesadaran seperti itu belum tumbuh ketika mereka menjalani operasi. Ya dan tidaknya tindakan pemisahan lewat operasi tidak muncul dari mereka, melainkan dari orang-orang tua di sekitar mereka, karena saat itu mereka masih bayi.

Ladan-Laleh, Lori-Reba adalah manusia-manusia dewasa yang sudah memiliki kesadaran akan hak-hak dan kewajiban manusiawinya. Ketika Ladan-Laleh menggunakan haknya untuk memilih, meski pilihan itu berisiko kematian, orang harus menghormatinya. Begitu pula saat Lori-Reba memilih untuk tidak menempuh risiko kematian.

Dunia tergetar oleh keberanian dua gadis dempet Iran itu, sekaligus bertanya-tanya, bukankah orang lain wajib mencegah seseorang atau dua orang memasuki lorong yang sudah jelas-jelas akan membunuhnya?

Diam-diam, Ladan-Laleh telah membukakan kepada kita ruang untuk merenung dan mendiskusikan kembali mengenai tindakan seseorang untuk memilih mati daripada dibiarkan hidup di tengah kesulitan, kesengsaraan, dan kesakitan berkepanjangan.

Ya, Ladan-Laleh telah menentukan pilihan.
Warga Iran menangis. Dunia medis berduka.

Sebuah upaya penting penjelajahan ilmu kedokteran berakhir pada puncak ketakberdayaan manusia berkompromi dengan Sang Maut. Namun bersamaan dengan itu dunia memperoleh pengetahuan-pengetahuan baru yang tak ternilai dan akan sangat berguna di kemudian hari.

Tanpa keberanian Ladan-Laleh menyediakan diri mereka sebagai martir, para ilmuwan ahli bedah akan lebih lama menemukan cara-cara paling aman untuk bertindak manakala menghadapi kasus serupa, sepanjang tindakan seperti itu akan dilakukan.

Lori-Reba mungkin betul ketika mengatakan, apa yang sudah disatukan Tuhan janganlah dipisahkan manusia. Tapi Tuhan pun menganugerahi manusia akal. Dengan akal itu manusia menemukan cara untuk memecahkan berbagai persoalan. Termasuk memisahkan manusia yang diciptkan Tuhan sebagai kembar siam.

Mungkin begitu.***

Banjarmasin, 110703