TANGGAL 19 Mei 1999, atau setahun setelah rezim pembelenggu kebebasan pers jatuh, BëBAS terbit. Untuk pertama kalinya sebagai suplemen Banjarmasin Post, kemudian terbit secara teratur setiap pekan. Penerbitan perdana itu sekaligus seakan meneriakkan semangat kebebasan yang sekian lama terimpit keangkuhan penguasa.
Selama enam tahun, berarti enam kali 52 pekan, setidaknya sama dengan 312 kali BëBAS menunjungi pembaca. Dan selama kurun itum pula mingguan ini berinteraksi dengan pembacanya.
“Curah” adalah satu di antara rubrik-rubrik BëBAS. Isinya berupa celotehan, tuturan, atau sekadar curhat mengenai situasi apa saja yang sedang tren, yang menarik penulisnya.Semula, curah merupakan kolom bagi segenap pengelola BëBAS, namun sejak tabloid itu terbit saya lebih banyak mengisi. Setidaknya, ada 306 judul curah yang tersimpan di arsip saya.
Ada pembaca yang fanatik, merasa belum lengkap kalau belum membaca BëBAS. Ada yang sudah merasa begitu dekat. Ada yang setia, ada pula yang mungkin tidak setia. Siapa tahu, malah ada yang merasa terganggu oleh BëBAS, maupun oleh Curah-nya. Sayang sekali kalau arsip itu terbuang begitu saja. Betapa pun ia pernah mewarnai dinamika –meskipun tentu sangat kecil– kehidupan pers. Karenanya, saya memberanikan diri untuk memilih kembali naskah-naskah Curah yang ada pada arsip itu, dan memublikasikannya melalui blog ini, tentu setela melalui editing ulang dan penyesuaian konteks.
Salam.
Yusran Pare
0 Tanggapan ke “Mengapa Curah Bebas”