SAAT aku mulai sekarat
dan tanganku mati rasa
tak bisa lagi bekerja
Saat ayahku meregang ajal
ketika warga desa menolak
dan mengusir kami
hanya ke laut
aku mengadu dan menangis.
Tak seorang pun kan mengerti
mengapa aku begitu mencintai laut.
Laut tak pernah menolakku,
Laut adalah darah dalam nadiku.
ITU adalah ungkapan perasaan seorang nelayan Jepang pertengahan tahun 1950-an. Sajak ini dikutip Douglas Allchin dalam dalam The Poisoning of Minamata (1999), sebuah risalah panjang tentang tragedi kemanusiaan ketika mahluk hidup bernama manusia terpinggirkan, tergeser, tercemar, untuk kemudian –kalau perlu– punah pun tak jadi soal, atas nama industri.
Lewat The Poisoning of Minamata, profesor bidang studi biologi, filsafat, sejarah sains dan teknologi Universitas Minnesota AS itu merekonstruksi kembali tragedi kemanusiaan yang menghentak warga dunia.
Hentakan itulah yang kemudian membangkitkan kesadaran untuk ramai-ramai menilai dan mempertimbangkan kembali pola interaksi serta keterkaitan antara manusia, industri, dengan lingkungan hidup.
Allchin mungkin betul, tragedi Minamata muncul akibat ketamakan manusia saat memburu peluang bisnis karena memperoleh respon luar biasa besar dari mekanisme yang kita sebut pasar.
Chisso Corporation, industri yang dibangun tahun 1907 boleh dibilang sudah mulai sempoyongan ketika 1932 menemukan ‘emas bening’ plastik sebagai mata dagangan yang akan mengubah banyak hal di dunia.
Ia memproduksi besar-besar dan membanjiri dunia dengan plastik, bersamaan dengan itu ia menggelontorkan limbah pabriknya —antara lain merkuri, air raksa– ke laut.
Awal tahun 1950-an bencana itu mulai menyambar. Perlahan tapi pasti, lingkungan berubah jadi sangat tidak ramah lagi kepada para nelayan yang selama ini hidup menyatu dalam dalam kearifan daur lingkungan teluk kaya ikan tersebut.
Tiba-tiba saja lebih 120 orang keracunan akibat mengkonsumsi ikan yang sehari-hari adalah makanan dan nafkah pokok mereka. Secara beruntun korban mulai jatuh. Dalam tempo singkat 46 orang tewas. Jika tak mati, cacat seumur hidup. Bayi-bayi yang sedang dikandung, lahir tak sempurna.
Hewan-hewan piaran seperti anjing, kucing, babi, bahkan burung dan tikus yang hidup di sekitar teluk itu menunjukkan tanda-tanda keracunan yang sama dan satu per satu bergelimpangan, mati.
Seperti kucing menari di jalan –demikian warga setempat melukiskan bagaimana orang keracunan mulai menunjukkan gejala-gejala yang parah. Kadang menggigil, tanpa kontrol, ada kalanya langsung kejang lalu ambruk dan tak bangun lagi. Itu sebabnya, warga lokal, menyebut sindrom yang merebak di Minamata saat itu, sebagai demam ‘kucing menari’.
Orang-orang yang melihat anggota keluarganya beringkah aneh, umpamanya tiba-tiba memekik tanpa kontrol, bicara cedal –seperti orang kebanyakan minum pil koplo– atau mendadak jemarinya tak kuasa lagi memegang sumpit saat makan, bisa dipastikan itulah tanda-tanda awal racun ‘kucing menari’ sudah mulai bekerja.
Warga Minamata kenal betul gejala yang muncul kemudian. Entah pada hewan –terutama ikan laut yang jadi andalan hidup mereka– dan pada manusia. Seringkali mereka menemukan ikan mati degnan insang seperti hangus. Pada kasus lain, ada bentol-bentol pada tubuh ikan.
Tanda-tanda serupa, mulai mereka lihat pada diri tetangganya, saudara, anak, ayah, ponakan, dan … diri mereka sendiri. Tiba-tiba mubncul benjolan di kuduk, pelipis, leher, punggung, selakangan, dan tempat-temat lain. Otot seringkali terasa kaku. Reflek tak terkonrtol. Jika menadadak mereka menggigil dan kejang-kejang, kematian sudah di ambang pintu.
Masih mending kalau cuma itu. Warga Minamata yang sebagian besar hidup sebagai nelayan tiba-tiba kehilangan mata pencaharian. Ikan tangkapannya ditolak pasar. Mereka sendiri hampir dikucilkan dari pergaulan warga di sekelilingnya. Awas, “kucing menari” datang!
Itu hampir setengah abad silam. Ilmu pengetahuan dan teknologi mestinya sudah menyediakan jawaban atau sistem untuk menghindari musibah serupa. Nyatanya demam “kucing menari” terus terjadi dan terjadi lagi di beberapa tempat di berbagai pelosok dunia.
Hingga hari-hari ini.
Tahun 2004 saudara-saudara kita di Teluk Buyat, Minahasa —entah mengapa nama itu hampir sama dengan Minamata– sedang menderitakan hal serupa. Gejala-gejalanya persis sama dengan apa yang dialami para nelayan Minamata berpuluh tahun silam.
Penyebabnya, diperkirakan sama pula dengan di Minamata, yakni konsentrasi zat merkuri yang sangat tinggi dalam tubuh mereka. Zat ini masuk melalui makanan, minuman, yang pasti sudah tercemar. Zat itu diketahui banyak terdapat dalam limbah buangan pengolahan tambang emas. Limbah itu digelontorkan ke laut.
Tambang emas bukan hanya terdapat di Minahasa. Sebagai negara kepulauan yang kaya sumber daya alam, laut maupun darat, hampir setiap jengkal bumi kita kaya kandungan alam.
Berton-ton emas sudah digali dari perut Buyat, Busang, Cikotok, Temba-ga-pu-ra dan lain-lain, mengalirkan uang bermilyar dolar yang sepanjang ha-ri ikut mendenyutkan Wallstreet di New York dan penga–ruhnya bisa langsung terasa di Bloomberg – London, Hangseng Hongkong, Nikkei Tokyo, dan bursa-bursa saham seantero dunia lewat transaksi elektonik serta satelit.
Tapi Andini, putri Buyat, mati karena tubuhnya terlalu sesak oleh racun merkuri. Lihat pula warga Papua, warga pedalaman Kalimantan, mereka masih tetap marginal, dan bayi-bayinya tetap kekurangan gizi, dan –seperti di Minahasa– perlahan-lahan menuju penderitaan panjang akibat pencemaran racun.
Demikianlah warga Buyat. Mereka pun terpinggir. Terpental. Kekuasaan seolah lebih memilih masuk dan terpeliharanya keamanan investasi asing, ketimbang memelihara kesejahteraan rakyat sendiri.
Sementara Andini sudah mati, warga lainnya sedang melolong-lolong minta tolong. Dan, sangat boleh jadi sebentar lagi menggigil-gigil. Menggelinjang, seperti “kucing menari”. Lalu kejang. Lalu….
Nun di atas sana para petinggi sibuk bersilat lidah, berebut pengaruh, siap-siap berebut kursi.
Jadi, kemana harus mengadu? Lirik nelayan Jepang 50 tahun silam itu mungkin senada dengan kesenduan warga Buyat;
hanya ke laut aku mengadu dan menangis.
Laut tak pernah menolakku.
Laut adalah darah dalam nadiku….
Celakanya, laut mereka sudah tercemar. **
Bandung, 020804
1 Tanggapan ke “Minamata, Minahasa”