Rumah majikan jadi neraka bagi sang pembantu
ADA Badawi. Ada Nirmala.
Badawi bukanlah ‘badui’ sang pengembara. Ia adalah Perdana Menteri, pemimpin negara, bergerlar Yang Amat Berbahagia Dato’ Seri Abdullah — hamba Tuhan, bukan hamba manusia, bukan pula abdi (abid, budak) sang majikan.
Nirmala berarti immaculata, suci, bersih, adalah seorang pengembara tulen. Ia tinggalkan kampung halaman yang tidak bisa memberinya kehidupan layak. Ia hanya punya tenaga dan kemauan mengubah nasib. Bekerja apa pun –sepanjang itu halal– jadilah.
Maka ia menyeberang ribuan kilo meter dari kampungnya di pojokan pulau karang kering di belahan barat Timor. Dari kampung halamannya yang bertetangga dengan ‘luar negeri’ Timor Leste, ia mengembara ke barat, ke negeri Encik Badawi dan mengabdi pada sebuah keluarga.
Horor pun terkuak.
Pertengahan Mei 2004 Nirmala mengguncang dunia. Ia jadi korban kekejian majikan tempatnya mengabdi. Dara berusia 19 berkulit hitam dengan paras manis berambut keriting ini telah berubah drastis.
Wajahnjya lebih mirip alien dalam Star Trek. Sosoknya penuh bopeng dan bekas luka melepuh. Di punggung, kedua payudara, paha, betis, kepala, tangan. Cedera fisik ini buah penderitaan yang ditahan-tahannya berbulan-bulan. Kadang ia disiram air panas. Sesekali digetok. Kali lain disetrika!
“Pada bulan keempat beta mulai disiksa. Pertama kali gara-gara piring retak kena pipa air. Dong (dia orang) marah, dan pukul beta pung (punya) mulut deng (dengan) cawan besi. Sejak itu amper tiap hari dong pukul beta. Yang paling sakit yang beta inga, setelah disetrika. Beta pingsan. Dong siram beta deng air panas. Untung beta sadar dan menghindar,” tutur Nirmala lewat telepon.
Nirmala berhasil lolos. Media setempat menyiarkannya. Dunia tersentak, dan sejenak menoleh ke Malasysia. Insiden ini tentu saja menampar muka Encik Badawi dan masyarakatnya, sekaligus (mestinya) menohok pemerintah Indonesia yang ternyata –setelah lebih 30 tahun mengekspor tenaga kerja– tidak juga mampu memberi perlindungan memadai pada anak bangsanya di rantau.
Sangat wajar jika Badawi mengaku sangat malu ketika ada warga negara makmur yang dipimpinnya berlaku amat teruk seperti itu. Sebagai bangsa beradab dan ramah, Malaysia tentu akan tercoreng oleh ulah salah seorang ‘oknum’ waragnya yang ’sanggup melakukan kesakitan begitu rupa kepada seorang manusia lain,’ sebagaimana ditulis media setempat.
Tentu sangat tidak wajar jika pemerintah tempat Nirmala berasal justru adem ayem, tidak serentak melakukan tindakan strategis dan sistematis untuk melindungi para pekerjanya di luar negeri, selain sekadar berusaha menjemputnya dan mendampingi pada saat proses hukum.
Apalagi Nirmala bukanlah satu-satunya korban. Ia hanyalah satu dari sekian puluh bahkan mungkin ratusan — dari entah berapa orang persisnya jumlah pekerja kita di tanah seberang. Tahun 2003 saja hampir 900.000 orang diekspor, eh dikirim, ke luar negeri. Dari jumlah 60-70 persen dari bekerja di sektor informal (untuk tidak menyebut sebagai pembantu rumah tangga) seperti Nirmala.
Memang banyak yang bernasib bagus, bisa pulang kampung atau setidaknya secara teratur mengirimi keluarganya di tanah air, hingga devisa yang mereka alirkan rata-rata 13,8 miliar dolar per tahun atau Rp 28 triliun. Jumlah yang tentu lebih besar dibanding devisa yang dihasilkan sektor minyak dan gas bumi.
Namun tak kurang pula yang bernasib seperti –bahkan mungkin lebih buruk dari– Nirmala. Tahun lalu, sekitar 150 ‘nirmala’ tewas di Singapura. Sebagian besar diberitakan sebagai terjatuh dari rumah bertingkat tinggi.
Kisah duka para ‘nirmala’ dari Timur Tengah pun tak putus-putusnya. Mereka bahkan ada yang kembali sudah jadi mayat atau lumpuh seumur hidup. Atau, yang lebih tragis lagi, justru jadi korban bandit-bandit yang dengan liar memburu mangsa di Bandara Soekarno Hatta.
Banyak kejadian, wanita pekerja yang baru pulang dari luar negeri diperas uangnya, digagahi kehormatannya, ditelantarkan raganya, justru pada hari pertama mereka menginjakkan kembali kakinya di tanah air yang dirindukannya.
Bahwa ada negara yang jadi harapan bangsa-bangsa dari negara lain, itu wajar-wajar saja. Suatu negara yang lebih makmur memang jadi sasaran tetangganya yang kurang makmur untuk mencari nafkah. Karena Indonesia kurang mampu memaksimalkan kemakmurannya sendiri, maka banyak anak bangsa mencari nafkah di negeri lain. Hal sama sebenarnya juga terjadi atas Filipina.
Bedanya, dalam pergaulan internasional, tenaga kerja Filipina seringkali lebih dihargai, gajinya lebih tinggi bukan saja karena kemampuan berbahasanya, tapi juga karena lebih terampil menggunakan alat-alat rumah tangga modern.
Bukan itu saja, pemerintah Filipina sadar betul bahwa para tenaga kerjanya adalah pahlawan devisa. Karena itu mereka melindungi dan memberi jaminan yang memadai meski warganya tinggal di negeri-negeri nun jauh.
Kasus Flor Contemplacion bisa dijadikan contoh. Flor bersama rekannya asal Filipina dituduh membunuh anak majikannya. Pemerintah Filipina berang, hubungan diplomatik kedua negara itu tegang. Dubes Filipina di Singapura ditarik.
Di Istana Malacanang, Menteri Luar Negeri Filipina –saat itu Roberto Romulo– dengan mata berkaca-kaca menyatakan mundur dari jabatannya karena gagal melakukan upaya diplomatik maksimal untuk Flor, seorang pembantu rumah tangga asal Filipina.
Bayangkan. Sang menteri rela kehilangan jabatannya karena tidak bisa memperjuangkan nasib seorang jongos!
Apa kabar negerinya para ‘nirmala?’
Sejak tahun 1968 hingga 2004, tak ada satu pun ketentuan atau perundang-undangan yang secara konkret melindungi para pekerja kita di luar negeri. Yang ada pun, bahkan cenderung menempatkan mereka semata sebagai barang komoditi yang harus mendatangkan keuntungan.
Upaya kongkret baru dilakukan jika ada kasus yang menimpa pekerja kita di tanah seberang. Penyelesaian pun dilakukan secara parsial, kasus per kasus, bukan secara mendasar merombak regulasi dan membuat mereka sangat terlindung. Kasus Nirmala pun bisa menguap begitu saja jika tak keburu diributkan. ***
***
Lain Nirmala, lain pula Adi:
Pahala Berujung Cambuk
KABAR itu membuat Asnawi terkulai lemas. Harapannya bahwa sang anak akan pulang dengan segepok Ringgit, buyar. Sekian tahun putra kebanggannya itu bekerja di tanah jiran, mungkin akan kembali dalam bentuk paket. Peti mati.
Ia tak kuat membayangkan adegan itu.
Kalaupun Adi, sang anak, memang harus mati, ia ingin sekali bertemu untuk yang terakhir kali. Ia merasa harus bertemu dengan anaknya di tanah seberang, syukur-syukur bisa minta ampunan pemerintah negeri tempat sang anak bekerja. Siapa tahu vonis mati bisa berubah. Siapa tahu….
Itu sebabnya Asnawi berasama sekitar sepuluh anggota keluarga besarnya, mendatangi kantor gubernur. Menghiba. Menggedor. Meminta perhatian, bahwa ada warga daerah itu yang terancam kehilangan nyawa di negeri jiran.
Ia yakin Adi tak melakukan tindak kriminal. Apalagi sampai membunuh. Tapi, mahkamah negeri jiran sudah menjatuhkan vonis mati bagi anak muda asal Nusa Tenggara Barat itu. Ia dituduh membunuh majikannya.
Buruh dan majikan. Ya, konflik macam ini tak cuma terjadi di negeri awak, melainkan bisa muncul di neri tetangga, atau mana saja. Bisa jadi, Adi tak bersalah. Ia kalap karena sang majikan memperlakukannya melebihi perlakuan terhadap hewan. Bisa pula sebaliknya. Semua kemungkinan sangat bisa terjadi.
Yang jelas, kisah Adi hanyalah satu di antara drama yang terjadi atas ribuan, bahkan ratusan ribu, warga Indonesia di negara tetangga. Jika Adi “baru” terancam hukuman, maka dua rekannya sudah divonis bersalah dan dihukum.
Keduanya harus melepas baju, menghadapkan punggung ke depan para esekutor, dan … enam cambukan mendera masing-masing sebagai imbalan atas kesalahan masuk secara tidak sah ke negeri tetangga dan mencari hidup di sana karena ternyata tenaga mereka laku dengan harga lebih mahal dibanding jika mereka menjualnya di tanah air.
Karena harga tenaga “lebih mahal” di Malaysia, maka saban hari berbondong-bondong bangsa Indonesia memasuki jazirah Para Encik itu. Legal atau tidak. Sah atau tidak. Kini, gelombang itu berubah jadi arus balik, sebagaimana yang terjadi dua tahun lalu.
Dan, sepanjang kurun itu pula kita rasanya tidak pernah melihat langkah-langkah signifikan dan serius dari pemerintah kita untuk menangani persoalan tersebut secara sistematis.
Akibatnya, drama kemanusiaan yang pernah terjadi tempo hari, kini terjadi lagi ketika lebih dari 300.000 saudara kita mengalir balik dari negeri tetangga. Pengusiran, pengampunan, hukum cambuk, bahkan kematian, seakan tak jadi penghalang ketika orang dihadapkan pada nafkah dan pemenuhan kebutuhan perut.
Ketika kampung sendiri tak lagi mampu memberikannya, dan kesempatan itu terbuka lebar di negeri tetangga, maka jangan disalahkan jika mereka terus saja mengalir dan mengalir. Diusir, ya tinggal balik lagi.
Kasus Adi yang terancam hukuman mati, atau perkara dua warga kita yang sudah menjalani hukum cambuk di Malaysia, hanyalah bagian kecil dari tragedi demi tragedi yang menimpa bangsa kita di tanah orang lain.
Di samping mereka, kita masih saja sering mendengar nasib para perempuan muda yang –mungkin karena nasib– diekspor sebagai jongos untuk melayani keluarga asing di tempat asing, jauh dari keluarganya nun di dusun, di tanah air tercinta.
Banyak yang bernasib jauh lebih sial lagi. Dekspor seperti ikan sarden ke luar negeri. Diperbabukan, digagahi majikan, dipulangnkan, atau bahkan tewas bunuh diri karena tak tahan menanggung aib. Ada juga yang jadi orang buian karena menghabisi majikannya yang berusaha merenggut kehormatannya.
Waw! demikian burukkah nasib buruh made in Indonesia di negeri jiran. Sementara para jiran bekerja di tempat-tempat mulia di negeri kita, memperoleh upah jauh lebih besar ketimbang “inlander” dan mendapatkan fasilitas yang serba lengkap ketimbang ahli-ahli dan para pakar dalam negeri –meski lulusan universitas jiran.
Buruh kita yang di luar negeri, laki atau perempuan, nasibnya sama saja. Mereka dijaring lewat calo-calo yang berkeliaran hingga ke pelosok-pelosok desa. Lalu dikemas berbagai ‘pusat latihan’ untuk diajari berbagai keterampilan praktis, kemudian diekspor dalam ‘paket-paket’ pengiriman tenaga kerja.
Tidak di dalam, tidak pula di luar negeri, nasib para buruh kita ternyata tetap selalu tampak buram dan tak terjamin. Selamanya jadi buruh dan tak pernah dijadikan komponen aset perusahaan, diupah seadanya, dengan status yang rawan.
Tengok saja pabrik-pabrik atau kilang kayu di sekitar kita, berapa persen di antara ribuan buruh itu yang mendapat status permanen dan memiliki peluang mengisi jenjang karir sebagai profesional di bidangnya.
Itu masih lebih beruntung dibanding mereka yang disamakan dengan barang ekspor. Dikemas rapi, dibungkus sedukut hasil latihan keterampilan, lalu dikirim ke berbagai rumah tangga di Timur Tengah, Singapura, Malaysia dan lain-lain sebagai jongos made in Indonesia.
Dalam kasus Malaysia, mereka yang masuk secara tidak legal, kini sedang menikmati akibatnya. Memang betul, pemerintah Malaysia kembali memperpanjang masa amnesti bagi tenaga kerja ilegal, termasuk dari Indonesia. Amnesti yang semestinya berakhir 31 Januari diperpanjang untuk waktu belum ditentukan, untuk memenuhi permintaan Presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono.
Namun hal itu tampaknya sekadar upaya sopan santun diplomatik karena Malaysia tahu persis bahwa Indonesia sedang menghadapi masamasa sulit pasca bencana gempa dan gelombang tsunami.
Pemulangan ratusan ribu tenaga kerja Indonesia (TKI) sudah dipastikan akan mengalihkan fokus perhatian pemerintah pada penanganan pasca gempa-tsunami, dengan bertambah banyaknya jumlah pengangguran di dalam negeri.
Kita menyambut baik pemahaman Malaysia atas musibah yang dihadapi Indonesia ini. Ini merupakan kesempatan bagi pemerintah untuk membenahi pekerjaan rumah soal TKI, yang tak kunjung usai.
Selama ini Malaysia menjadi salah satu magnet bagi para pekerja kita untuk mencari penghidupan. Terutama bagi mereka yang hidup di daerah-daerah. Pemerintah kita pun “terbantu” oleh Malaysia yang turut menampung tenaga kerja kita yang tak bisa disalurkan di dalam negeri.
Kini, perhatian pemerintah sedang teralih ke kawasan yang remuk redam terkena tsunami dan harus segera direhabilitasi. Ia memerlukan tidak saja pemikiran, melainkan action langsung mengerahkan segala sumberdaya dan dana. Juga tentu sumber daya manusia sebagai tenaga kerja.
Bahwa Malaysia pun mengajukan proposal untuk turut dalam proyek membangun Aceh, itu lain hal. Siapa tahu pula mereka yang memperoleh proyeknya, dan buruh-buruh kita yang mengerjakannya.
Hehehe… hemat kan, Encik?
Bandung, 070205




