02
Mei

Mei (Lagi)

BULAN Mei sudah tiba lagi, hari-harinya merangkaki penanggalan, satu, dua, dan seterusnya sampai tanggal 12. Dan, rumah itu itu sunyi senyap. Penghuninya pergi ke Jakarta. Ya, pasangan Enus Junus dan Sunarmi menghadiri upacara peringatan 12 Mei di kampus anaknya, Universitas Trisakti.

Hafidhin Royan terlalu muda untuk mati.. Anak remaja kelahiran Bandung pada 28 September 1976, gugur di pelataran kampusnya sendiri, 13 Mei 1998. Jiwanya lepas diterbangkan peluru yang dimuntahkan aparat keamanan.

Rekan sealmamaternya, Elang Mulya Lesmana, Hendriawan Sie, dan Heri Hartanto, juga bertumbangan. Darah mereka tumpah. Nyawa mereka melayang mengibarkan bayang-bayang sosok kejam sebuah rezim. Minggu (12/5/02) sore, Mahasiswa Universitas Trisakti mengheningkan cipta untuk mengenang rekan-rekan mereka.

Peringatan empat tahun Tragedi Trisakti kembali digelar mahasiswa Trisakti di kampus mereka diikuti pembukaan selubung Monumen Trisakti oleh para pengajar dan orang tua empat mendiang mahasiswa di halaman kampus tersebut. Para mahasiswa menabur bunga sambil menggelar puisi dan berorasi diiringi nyanyian Gugur Bunga. Meriam bambu berdentum-dentum.

Di Bandung, tempat tinggal orangtua Hafidhin Royan sunyi senyap. Di rumah inilah, keluarga itu menyimpan kenangan termanis dari anak mereka. Kamar pribadi Hafidhin di rumah di Jalan Sukagalih itu tak pernah diusik. Kamar itu dijadikan museum keluarga.

Kamar itu berukuran 3×4 meter persegi, sebelumnya merupakan kamar tidur Hafidhin. Peninggalan di kamar itu bisa mencerminkan sosok dinamis penghuninya. Sebuah gitar tersandar ke dinding, ransel biru ukuran 45 liter tergelantung pada paku di atasnya, seikat edelweis sang bunga badi teronggok bisu di salah satu sudut. Tumpukan buku. Poster-poster protes. Dan, kesunyian.

Ya, sepi. Sesunyi langkah rezim kini dalam menangani kasus tersebut dan kasus-kasus serupa yang beriringan silih berganti bersamaan dengan tumbangnya rezim lama dan munculnya tiga rezim berikutnya. Pantas kalau para mahasiswa marah dan menggertak akan mengadukan masalah ini ke mahkamah internasional.

Prosesnya mungkin memang akan sangat panjang dan lama sebelum pengaduan itu bisa sampai ke meja mahkamah internasional. Namun, cukuplah berkasnya sampai diterima oleh mahkamah itu, sudah akan merupakan tekanan moral dan politik kepada pemerintah.

Mungkin memang betul, itu cuma sekadar gertakan, sebab mekanisme pengaduan ke mahkamah ini tidaklah sederhana. Apalagi negara kita belum termasuk pada deretan negara-negara yang sudah meratifikasi hak-hak sipil dan politik. Tapi langkah para mahasiswa itu bisa juga merupakan demonstrasi keputusasaan anak-anak bangsa melihat betapa lambannya rezim ini bergerak menangani proses hukum atas kasus yang menimpa rekan-rekan mereka.

Dulu, DPR pernah membentuk panitia khusus (Pansus) yang menyimpulkan terjadi ekses kekerasan sebagai akibat bentrok antara massa mahasiswa dengan aparat keamanan dalam insiden Trisakti, Semanggi I dan II. Lalu, Komnas HAM membentuk KPP HAM Trisaksi yang kemudian menyimpulkan adanya dugaan pelanggaran HAM. Komnas HAM mengirim kasus ini ke Kejaksaan Agung. Lalu? Beku.

Jika proses hukum membentur benteng baja, mungkin proses politis bisa menekan pemerintah. Tapi lagi-lagi para wakil rakyat itu pasang badan, mereka memberi perlindungan dan payung politik/hukum kepada para penembak jitu yang hanya jago mengincar ‘musuh’ tanpa senjata semacam para mahasiswa itu.

Simak saja hasil sidang paripurna DPR yang memutuskan bahwa kasus Trisakti itu bukan pelanggaran HAM. Segera setelah itu, DPR membatalkan keputusan Pansus. Aneh? Inilah negeri antah berantah.

Para angota dewan yang terhormat itu lupa, bahwa mereka kini bisa duduk nyaman, bergaji besar, berfasilitas lengkap, dan warawiri studi banding itu, antara lain berkat darah dan peran para mahasiswa meledakkan reformasi. Kini, adakah para anggota dewan itu –baik yang di pusat maupun yang di daerah– ingat dan sedikit saja menaruh peduli pada para mahasiswa?

Para mahasiswa di Jakarta mungkin sedikit lebih beruntung karena berada di pusat kekuasaan, sehingga gerak-gerik mereka bisa langsung menarik perhatian para penguasa. Setidaknya, lebih mudah dipublikasikan dan memancing opini. Tapi simaklah nasib rekanrekan serta saudara-saudara mereka yang senasib, jadi korban tindak kekerasan di daerah-daerah.

Mau contoh konkret? Warga Banjarmasin pasti masih banyak yang belum lupa pada peristiwa 23 Mei 1997, yang –jika dirunut– sebenarnya kejadian-kejadian macam itu masih saling bertaut dan berpuncak pada reformasi 21 Mei 19981. Saya tidak tahu, adakah para wakil rakyat di daerah ini –di sela hiruk-pikuk polemik Alur Barito dan Meratus– sempat mengingat bahwa masih ada urusan yang belum beres menyangkut lebih dari 130 manusia yang gosong dan hilang dipanggang api kerusuhan?

Orangtua Hafidhin Royan dan ayah-ibu tiga mahasiswa lain yang gugur bersamanya, mungkin bisa disebut lebih beruntung karena banyak pihak yang masih ikut memperhatikan kasus anaknya. Tapi saya sangat yakin Pak Aswin di Banjarmasin tak pernah memperoleh sepotong pun kabar mengenai penuntasan kasus anaknya yang hilang sejak 23 Mei lima tahun lalu. Pernahkah dijenguk anggota dewan dan ditanyai perihal itu? Mimpi, kali.

Jangan-jangan, memang ada peminggiran, diskriminasi, yang sistematis untuk mengubur para korban itu dari panggung ingatan sejarah. Kalau setarap DPR saja impoten menghadapi tembok-tembok tebal yang menutup dan memagari Tragedi Trisakti, apalah arti kekuatan pekerja kecil macam Pak Aswin –dan orangtua lain yang senasib dengannya– untuk menggugat atau sekadar mencari tahu tentang proses hukum mengenai kehilangan anggota keluarga mereka.

Mei sudah datang lagi dan segera berlalu bersama bergantinya hari. Rezim juga telah berganti. Tapi tak terlihat ada upaya serius untuk membuka kasus-kasus seperti itu, mengusutnya hingga tuntas dan jelas siapa yang harus bertanggungjawab secara hukum.

Di lain pihak, hukum seperti apa pula yang dapat kita harapkan jika melihat rangkaian sandiwara hukum yang hari-hari ini sedang digelar dan dipancarluaskan jaringan televisi. Adegan-adegan itu hanya makin memperkukuh anggapan bahwa hukum adalah jaring laba-laba yang hanya bisa memerangkap serangga-serangga kecil.

Serangga itu adalah rakyat kecil kelaparan yang terpaksa jadi maling kelas teri sekadar untuk bertahan hidup. ***

Bandung, 130502

01
Mei

Mei

ADA banyak peristiwa penting terjadi pada bulan Mei di samping Hari Pendidikan Nasional (2/5) dan Kebangkitan Nasional (20/5).

Pertama, 23 Mei 1997, ketika Banjarmasin berubah jadi ‘neraka politik’ yang lukanya hingga kini belum tersembuhkan; Kedua, 12 Mei 1998 - ketika aparat menembak mati empat Mahasisiwa Trisakti; Ketiga, 13 Mei 1998 ketika kerusuhan meledak dan berbelok jadi kerusuhan rasial paling memalukan;

Keempat, 20 Mei 1998 - demonstrasi mencapai puncaknya dan dua juta manusia larut dalam demo damai di Yogya, begitu juga di kota-kota lain, sementara ribuan mahasiswa menduduki MPR. Kelima, 21 Mei 1998 - Soeharto mundur dan Habibie naik, dan … begitulah, regulasi pers dilonggarkan sehingga media cetak bermunculan bak kecambah.

Tiap memasuki bulan Mei, saya selalu teringat kerusuhan di Banjarmasin. Saban kali mengantar anak bungsu saya main bombom car di sebelah Mitra Palaza, atau sekadar melintas di depan bangunan itu, saya selalu terusik. Kadang bahkan menggigil membayangkan horor politik itu, tiga tahun silam. Ya, 23 Mei 1977. Warga Banjar, dan siapa pun, yang punya rasa kemanusiaan, tentu tak akan melupakan tragedi itu.

Bayangkan, 70-an orang bersitumpuk, bergelung di satu sudut. masing-masing berusaha menyelamatkan nyawanya yang cuma seutas tipis itu, sementara api berkobar hebat dalam bangunan yang sesungguhnya dirancang bukan untuk tungku, tapi dibangun tanpa fasilitas penyelamatan darurat yang memadai.

Saya seakan mendengar pekikan, rintihan, lenguhan ketakberdayaan dari orang-orang yang tak saya kenal tapi saya yakin mereka adalah saudara saya sebangsa. Dinding-dinding masif yang kini telah dibangun lagi itu, seolah masih menyimpan gaung kepedihan mereka saat diperangkap dalam tungku raksasa yang dinyalakan tangan-tangan iblis kekuasaan.

“Hampir sebagian besar tubuh korban ditemukan telah hangus menjadi arang sehingga yang tertinggal hanya tulang-tulang, itu pun dalam kondisi yang agak rapuh. Beberapa korban, terutama yang berada pada tumpukan paling bawah, ditemukan masih utuh beberapa bagian tubuhnya, terutama pada bagian perut dan pantat,” demikian berita yang dikirim rekan-rekan Banjarmasin Post. Ketika itu saya bertugas di Bernas.

Lebih dari 130 orang tewas dalam amuk massa yang mencabik Banjarmasin dan menorehkan luka sosial yang sangat dalam itu. Sudah tiga tahun berlalu. Luka itu masih menganga dan kadang terasa perih ketika mengingat upaya-upaya penuntasannya yang tak juga begitu jelas seluruhnya. Tentang siapa yang sesungguhnya bertanggungjawab, tentang bagaimana hak-hak para korban dan para keluarganya diperjuangkan dan dikembalikan, semua serba tak jelas seolah memang sengaja diserahkan kepada waktu.

Sebagian besar mayat, tak bisa dikenali. Jasad-jasad yang sebelumnya berakal budi, bertatakrama, bercita-cita, berkeluarga, dan sebagainya ini, saat oitu berubah jadi onggokan-onggokan hangus atau setengah hangus yang cuma ditandai dengan nomor.

“Jenazah moro 81 sudah diambil. Juga jenazah nomor 45. Jenazah nomor 48 ditemukan dalam keadaan masih mengenakan kaos berbulu, jins biru muda, sabuk hitam, celana dalam merek Bontek…” dan seterusnya. Kerusuhan, telah mempersamakan mahluk berakal budi itu dengan benda-benda yang hangus bersamanya. Ia tak lagi berbeda dengan sabuk, bahkan dengan kolor merek Bontek.

Memasuki Bulan Mei, dengan sendiri melontarkan kembali ingatan pada 23 Mei. Mengundang kembali kepedihan sekaligus membangkitkan kemarahan menyaksikan betapa ambisi politik bisa menghalalkan segala cara termasuk membumihangus bangsa sendiri, mengorbankan rakyat yang lapar dan tak mengerti hukum sehingga mudah saja digebah untuk masuk ke pertokokan dan ‘menikmati’ sesaat –sebelum tewas terpanggang– barang-barang yang selama ini hanya ada dalam mimpi mereka.

Di alam nyata, mereka tak mampu, sebab harta dan kekayaan buminya telah habis dijarah dan disedot lewat tentakel-tentakel gurita kolusi, korupsi dan nepotisme yang berpusat di satu tangan.

Memang, ada celah-celah romantika di tengah Tragedi Mei Banjarmasin. Tak seluruhnya drama itu dihiasi dengan darah dan bau gosong daging hangus. Di sela-sela lain, satu dua orang menikmati suasana baru yang tercipta dari situasi tanpa kendali.

“Kalau nggak rusuh, mungkin saya nggak sempat merasakan romantika kencan di sela-sela situasi rusuh,” kata seorang rekan asal Barabai yang sempat terperangkap dalam situasi chaos. Ia terkekeh ketika menceritakan kembali kisah itu dua tahun kemudian.

Saya yakin, sukacita macam itu hanya muncul sebagai serpihan yang terpental dari situasi yang demikian kacau dan tak menentu. Situasi yang menjalarkan kepedihan dan keganjilan, mengapa mesti Banjarmasin? Persis seperti saat warga Tasikmalaya melolong-lolong karena kotanya dirusuh dan harta mereka dijarahi.

Persis pula seperti yang dialami warga Kupang ketika digilas amuk massa yang sama dengan yang terjadi di Ketapang. Lalau, bagaimana pula lepedihan saudara-saudara kita di Sambas, ketika kepala-kepala orang bergelindingan di pematang dan di selokan tanpa ada yang bisa meratapi? Demikian pula saudara-saudara kita di Solo. Begitu adanya rekan-rekan kita di Ambon, dan Aceh yang bhakn hingga kini mereka masih dikoyak-koyak amuk kebencian antarsesama.

Ini memang penggalan terburuk dari sejarah kita bersatu dalam sebuah keluarga besar bernama bangsa. Kita tidak tahu persis, apa yang menyebabkan –bahkan hingga kini– orang demikian mudah kalap dan meluapkan amarah serta kebencian dengan cara (kalau perlu) menghabisi ‘lawan’ hingga punah.

Pertanyaan-pertanyaan macam itu pula lah yang terasa yang menyeruak dari sela-sela gedung Plaza Mitra yang kini sudah kukuh kembali berdiri, bahkan kaca-kacanya sudah diganti beton, pejal dan kokoh sehingga tak mungkin dipecah –seperti kaca– jika terjadi keadaan darurat seperti dalam kerusuhan.

Memang siapa sih yang ingin rusuh. Meski pada kenyataannya, selalu saja ada orang yang memang mendambakan situasi seperti itu agar perbuatannya bisa tersebunyi. Itu sebabnya, Glodok kembali terbakar 13 Mei lalu. Siapa mau? Tak seorang pun. Tapi toh, tetap terjadi.

Kepedihan Mei tak hanya dialami warga Banjarmasin. Tahun berikutinya, pada bulan Mei pula kerusuhan yang mencabik-cabik rasa kemanusiaan manusia waras, meledak di Jakarta, mengkocarkacirkan saudara-saudara kita ke lembah mengerikan dalam sebuah horor keji yang bahkan dalam dunia binatang paling buas pun tak dikenal. Penjarahan, pemerkosaan, berlangsung dalam sebuah pesta pora kemarahan iblis tanpa hati nurani.

Begitu mahalkah harga yang harus dibayar untuk sebuah keruntuhan rezim lalim tanpa hati? Jika memang risiko itu yang harus terjadi, mengapa justru orang-orang yang tak ada urusan dengan politik dan kekuasaan yang selalu jadi korban paling menderita? Memang, 21 Mei 1998 Seoharto jatuh dan rezim berganti. Tapi tampaknya belum ada perubahan signifikan yang bisa memberi harapan besar kepada rakyat banyak.

Kita justru sedang terkaget-kaget menghirup atmosfir baru dari sebuah iklim demokrasi. Banyak di antara kita, entah itu ilmuwan, seniman, para pengamat, kaum politisi, para birokrat dan kalangan tentara, seperti sedang kehilangan orientasi.

Bingung harus berbuat apa, sehingga akhirnya cuma saling baku lempar komentar, saling caci dan saling tuding bahwa pihak lain paling salah dan dirinya paling benar. Kalau perlu, paksa pihak lain menerima kebenaran versi dirinya dengan cara pengerahan massa, pendudukan, atau ancaman-ancaman. Beres.

Astaga! Saya ingin segera bangun dari mimpi buruk ini.***

26
Mar

Bor dan Bom

bom2.jpg

PAK Haji marah besar. “Haram, lagu saya dibawakan Inul!” pekiknya berapi-api di depan kamera televisi. Ya, tampaknya Raja Dangdut Oma –yang menabahkan huruf R dan H sepulang dari Tanah Suci– Irama sangat teraganggu oleh putaran bor Inul, dan gemeletar tubuh Anisa Bahar saat berdangdut ria.

Semua orang tahulah. Gaya Inul dan Anisa tidak sekadar merunduk ke kiri, menengadah ke kanan, atau memutar dua tangan mirip gerakan menggulung benang layangan, seperti yang ditampilkan Pak Haji dalam klip Euforia. Inul dan Anisa mah werrrrrr!

Di mata Oma, eh Pak RH Oma, olah tubuh Inul yang muter bak gasing, dan getaran dada montok Anisa bahar yang seperti orang kesetrum itu amatlah mengumbar dan mengundang hasrat birahi. Dan, memancing birahi di depan umum itu haram. Haram! Titik.

“Penampilan mereka sudah mengarah kepada pendangkalan umat. Citra dangdut yang sudah dibangun, kembali terperosok masuk comberan,” ujar Oma yang lagu-lagunya selalu sarat dengan pesan moral dan religi.

Maka beramai-ramailah para musisi dan para pencipta lagu mengancam mencekal Inul dan Anisa. Mereka melarang dua perempuan itu membawakan lagu-lagu ciptaan mereka. Pak Haji juga mendesak stasiun televisi untuk segera menghentikan acara-acara dangdut yang dinilai mengeksploitasi hasrat birahi.

Dangdut memang identik dengan goyang, kata Oma, “tapi goyangan itu harus memiliki rujukan. Mau dibuat erotis atau artistik, tergantung pelakunya. Saya tidak rela lagu-lagu saya dinyanyikan mereka yang menceburkan dangdut ke dalam comberan,” kata Oma lagi.

Dia pasti betul. Erotis atau tidak Inul, juga tergantung kacamata yang digunakan penontonnya. Kalau dari sononya sudah menggunakan kacamata nge-seks, jangankan goyang Inul, penari kuda lumping pun bisa-bisa dianalogikan dengan (maaf…!) adegan sanggama.

Jika Pak Haji sempat menonton Duet Maut yang menampilkan Inul dan Ulfa Dwiyanti di SCTV, mungkin pandangannya akan sedikit berubah. Inul masih tetap dengan gayanya, memutar kencang bornya yang kenyal dan –pasti sangat– tumpul.

Pada saat yang sama, Ulfa sangat cerdik “memecah” kacamata para menonton sehinhgga sajian itu sama sekali tidak terasa erotik, apalagi ngeseks. Kesan yang muncul malah jadi sangat karikatural, kocak, dan cair.

Kami sekeluarga, termasuk anak-anak, menontonnya dan memperoleh kegembiraan, bukan rangsangan seksual, dari apa yang kata Oma cemoberan itu. Anak saya, lelaki, enam tahun, malah tergelak-gelak setiap Inul mulai memelinitir bor bundarnya.

“Kayak bayblade, pak!” serunya berulang-ulang. Di mata dia, putaran pinggul dan bokong itu lebih mirip ‘gasing modern’ yang saat itu digandrungi anak-anak. Dia sendiri punya tiga gasing model itu, warna-warni, yang sering diadunya dengan gasing teman-temannya di pekarangan.

Apa boleh buat, Sang Raja Dangdut telah bertitah. Bahwa titahnya itu mencerminkan pemaksaan kehendak terhadap orang lain tentulah harus jadi catatan pula. Pantas kalah orang sekaliber KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) marah betul sama RH Oma.

“Raja dangdut itu cuma julukan untuk. Bukan kekuasaan. Karena itu, Oma tidak bisa memerintahkan para penyanyi lain mengikuti kemauan dia. Dia dengan berlebihan telah meminta orang lain untuk mengubah ekspresinya. Siapapun yang membatasi kebebasan berekspresi seseorang harus kita lawan,” seru Gus Dur.

Tampaknya urusan ini memang seru. Buktinya, cuma perkara burit, kok sampai melibatkan seorang raja bo’ongan dan mantan presiden betulan harus ikut bicara. Cuma urusan bokong, kok sampai membuat para kiai dan ulama jumhur bermukabalah. Cuma urusan bokong kok sampai jadi topik liputan media internasional sekaliber Time dan BBC.

Saya yakin, Inul dan Anisa atau siapa pun yang mengikuti jejaknya, tak akan kandas hanya oleh pemberangusan yang sangat menyakitkan seperti itu.

Oma Irama sendiri pernah melakukannya dan berhasil. Dulu, ketika media televisi cuma ada satu-satunya, TVRI –yang kini kisruh terus itu– dia dicekal tampil. Toh Oma tak kalah akal. Buru-buru ia menyatakan masuk Golkar –sebelumnya jadi ikon PPP. Maka jelan ke layar televisi pun terbuka lebar.

Bahwa ketika kemudian peta politik berubah dan ia pindah lagi ke PPP, itu soal lain. Ketika masuk Golkar, ia bilang partai beringin berjanggut itu suah lebih islami. Logikanya, PPP kurang islami, dong. Ketika keluar dari Golkar dan masuk lagi ke PPP, boleh jadi ia beralasan PPP sudah lebih islami lagi.

Jadi, jika Inul cs dibungkam dan dilarang oleh orang-orang di jalur dangdut, pindah saja ke jalur rock, pop, keroncong, dan lain sebagainya.

Malah, siapa tahu ia bisa membangkitkan pula fenomena baru di jalur-jalur musik itu, sehingga yang muncul bukan lagi sekadar ‘ngebor’ tapi mungkin ngebom. Toh, Oma sendiri menciptakan trend baru dangdut setelah mengkolaborasi konsep sajiannya dengan rock. Dan itu sah-sah saja.

Sangat boleh jadi bor Inul memasuki babak kontroversi baru yang akan sangat panas, jika saja tidak ada insiden ledakan bom di Bandara Soekarno Hatta yang megalihkan perhatian pers dan publik. Soalnya, di tengah serunya orang berdebat (lagi) soal ngebor, tiba-tiba bom meledak.

Low eksplosif, kok!” kata polisi. Entah low, entah high yang jelas perhatian publik sempat teralih ke sana. Apalagi korban luka berjatuhan, bahkan seorang perempuan muda bernama Yuli tiba-tiba kehialngan sebelah kaki.

Bayangkan, seorang perempuan pekerja –pengasuh bayi– tiba-tiba kehilangan kaki. Bagaimana ia akan bisa bekerja dengan baik? Bagaimana ia akan bisa membimbing bayi belajar jalan? Bagaimana dia akan mencari nafkah setelah itu?

Bom telah mengubah hidupnya, persis seperti ‘bor’ mengubah hidup Inul. Jika kereativitas –atau entah apa pun namanya– Inul diberangus, dipotong, dan dibatasi pencekalan, samalah artinya dengan Yuli –coba kalau namanya Iyul!– yang terpaksa diamputasi kakinya karena bom.

Di luar itu semua, dua peristiwa di atas –heboh bor dan bom– hanyalah makin menunjukkan bahwa selalu ada orang yang berusaha memaksakan kehedaknya kepada orang lain, tak peduli orang lain itu tersiksa dan tertindas seperti Inul atau bahkan celaka seperti Iyul, eh Yuli.

Sekian puluh tahun merdeka, ruapanya bangsa ini belum juga belajar dewasa. Kaciaaan…. deh.

* Bandung 280403
26
Mar

Sang Raja

rhoma_irama.jpg

‘DUEL‘ belum selesai. Raden Haji (RH) Oma Irama mengadukan sebuah tabloid ke polisi. Tuduhannya, mencemarkan nama baik, menyebar fitnah, melakukan perbuatan tidak menyenangkan.

Gara-garanya, tabloid itu memberitakan bahwa Oma kepergok sekamar berdua dengan Angel, semalam suntuk sampai menjelang subuh. Angel adalah lawan mainnya dalam film yang sedang ia garap, Ibnu Sabil.

Baik Oma maupun Angel tentu saja menolak berita yang menurut mereka insinuatif itu. Oma bilang, ia datang ke apartemen –bukan kamar– tempat tinggal Angel untuk mengambil naskah skenario yang tertinggal di sana. Angel bertutur ia belajar mengaji.

Apa yang mereka lakukan sesungguhnya? Hanya mereka yang tahu. Orang tak perlu usil mengusik dan mengintip-intip apa yang mereka perbincangkan –kalau pun memang sekadar berbincang. Orang juga tak perlu nyinyir menyoal bahwa pasangan bukan muhrim itu berada di ruang yang sama untuk kurun yang begitu panjang, malam sampai subuh.

180px-angel_lelga.jpgKetika ada kabar Oma sedang berduaan di tempat tinggal Angel, kontan saja pers memburunya. Dan, kabar itu pun meledak, menjalar-jalar di setiap tayangan infotainment televisi swasta, dan jadi sajian utama media-media cetak yang haus sensasi.

Ternyata cerita ke arah ‘pengungkapan’ skandal Apartemen Semanggi itu juga berlika-liku, persis mirip opera sabun colek produksi rumah produksi lokal. Konon, kehadiran wartawan di apartemen itu atas info Pangky Suwito, yang juga tinggal di apartemen yang sama.

Pangky adalah suami Yatie Octavia, aktris sensual pada masanya (tahun 1970-an) dan pernah jadi lawan main dalam film produksi PT Rhoma Film, yang disutradarai sekaligus diperanutamai Oma sendiri. Konon pula, Oma pernah naksir Yatie, sebagaimana ia menaksir –dan kemudian memperistri- Ricca Rachim, juga pasangan mainnya dalam film.

Begitulah, Oma pun perang mulut dengan Pangky-Yatie, kemudian ‘duel’ tuntutan dengan tabloid tadi. Disebut duel, ya karena memang ini perseteruan langsung antara dua pihak. Berhadap-hadapan. Oma di satu kubu, dan pihak lain di kubu seberang.

Di mata Oma, apa yang menimpanya hari-hari itu, adalah sebuah upaya sistematis untuk memojokkan dia yang sedang gencar memerangi apa yang disebutnya sebagai melawan pornografi dan pornoaksi. Sebuah gerakan moral di tengah arus permisifisme yang kian menggejolak.

Apa pun namanya, tahap-tahap peristiwa yang kemudian diliput luas media massa itu telah membuat Oma kembali jadi pembicaraan banyak orang. Selama pekan-pekan kemarin para penggemarnya bisa memuaskan kerinduan mereka pada Satria Bergitar ini karena hampir saban hari Oma terlihat di layar televisi.

Di luar itu semua, Oma tetaplah Oma. Keberadaannya di tengah realitas kekinian, sebagai tokoh publik –dan karena itu segala tindak-tanduknya jadi perhatian– pun berangkat dari fenomena yang berkembang, diperkembangkan, dan memperkembangkan dirinya, bersamaan dengan kiprahnya di dunia musik.

Keberadaannya di pentas musik nasional yang hingga kini tampaknya belum tergantikan siapa pun itu, juga dilaluinya dengan duel sungguhan yang menandai sejarah musik negeri ini.

Dangdut. Ya, dangdut –bermula dari istilah sinis dan mengejek untuk irama musik Melayu yang menggelitik– kini bisa dibilang merajai musik di berbagai lapisan masyarakat di tanah air. Dulu, “Dangdut itu musik tahi kucing!” pekik seorang rocker saat itu (pertengahan 1970-an).

Kalau tak salah, yang menghujat musik Oma itu adalah pentolan Giant Step, grup rock ternama dari Bandung. Boleh jadi, Giant Step pun rocker sejati made-in republik. Sebab grup inilah yang pertama kali berani manggung dengan lagu-lagu rock gubahan sendiri ketika publik musik rock didemami Deep Purple, Led Zeppelin dan Rolling Stone.

Polemik yang disulut ‘tahi kucing!’ itu akhirnya berpuncak pada dialog yang memperhadapkan Benny Soebardja, pentolan Giant Step dengan Oma Irama, komandan Soneta.

Dan, polemik itu berpuncak di Senayan dalam sebuah duel sungguhan antara dua kelompok musik. Saat itu tahun 1979. Inilah sesengguhnya duel maut pertama dalam pentas musik kita, dan hingga kini mungkin belum tertandingi.

Itu terjadi di Istana Olahraga (Istora) –kini Gelora Bung Karno– 24 tahun silam. Berdiri di satu sisi adalah God Bless, dengan Achmad Albar sebagai komandan. Di kubu berlawanan, tegaklah Oma Irama memimpin pasukan Orkes Melayu-nya, Soneta.

Seingat saya, ini duel paling spektakuler di ujung dekade itu, sekaligus sebagai puncak perseteruan panas dan tajam lewat polemik yang meluas di antara para seniman. Di situ pula revolusi musik dangdut di tanah air mencapai titik ledak, dan virusnya menjalar serta mendemami hampir setiap orang hingga saat ini.

Kini, rasa-rasanya tak satu pun orang Indonesia tak kenal dangdut. “Sejak rapat‑rapat raksasa di masa Demokrasi Terpimpin, acara panggung yang paling banyak dibanjiri massa adalah panggung Oma Irama,” tulis William H Frederick, doktor sosiologi Universitas Ohio, AS, yang pada 1980-an meneliti Oma dan fenomenanya.

“Kemampuannya” mengundang massa itu pula yang kemudian membuat Oma jadi rebutan partai politik, sampai kemudian ia jadi anggota parlemen. Ia juga loncat dari PPP ke Golkar dan balik lagi ke PPP, ketika angin perubahan mulai terasa.

Kini, ia lebih sering tampil sebagai juru dakwah. Jemarinya hampir tak pernah lepas menggenggam tasbih. Kata-katanya pun selalu sarat dengan idiom, istilah, dan pesan-pesan agama. Boleh jadi, ini pula yang membuat orang-orang jadi penasaran, sehingga apa pun gerak-geriknya selalu diperhatikan dan diincar.

Orang bilang, makin tinggi pohon tumbuh, kian kencang angin menerpa. Begitulah. ***

Bandung, 260503

26
Mar

“Drilling Company”

drillingcompany_inul.jpgSEORANG teman terkekeh-kekeh ketika menerima pesan pendek (SMS) dari rekannya. Isinya singkat: Trhtng 7 Aprl saya tdk lg di Jkt. Pindah krj ke ID.Co (Inul Drilling Company). Guyon, tentu saja. Tapi canda lewat SMS itu diterimanya ketika teman saya tadi sedang suntuk memeloti pergerakan bursa saham

Masalahnya, Halliburton, jaringan bisnis pengeboran dan kontraktor, ternyata mendapatkan megaproyek untuk merehabilitasi kehancuran Irak, mulai dari pemadaman ladang-ladang minyak dan membuka ladang baru sampai pemulihan infrastruktur yang remuk redam akibat perang.

Amerika sendiri sudah mencanangkan 600 juta dolar (kalikan Rp 9.000, berapa trilyun, tuh!) untuk membangun jalan-jalan, rumah sakit, sekolah dan proyek-proyek penting lainnya di Irak. Kok bisa? Perang berlum selesai para kontraktor sudah berebut proyek.

“Itulah oke-nya Amerika. Negara yang mengaku paling demokratis namun memaksakan kehendak kepada negara lain itu, ternyata juga tak kalis dari KKN, korupsi, kolusi dan nepotisme. Halliburton itu misalnya, adalah milik Dick Cheney, Wakil Presiden AS!” gerutu teman saya tadi.

Terbukti, katanya lagi, penyerangan ke Irak tidak semata karena Saddam punya senjata pemusnah massal, melainkan karena ekonomi AS sedang kacau. Bush perlu minyak, dan Iraklah negeri pemilik salah satu cadangan terbesar minyak di bumi. Bush mau mengebor Irak untuk keuntungannya sendiri.

“Padahal, kalau cuma mau mengebor sih, kita punya bor yang pasti tak akan menyebabkan pertumpahan darah. Inul!” katanya ngakak. Dan terbukti, Inul menghipnotis ribuan penonton di Gelora Bung Karno, Senayan Jakarta 2 April lalu, ketika membuka Las “Asereje” Ketchup.

Ya, kiprah Inul yang melejit sepanjang Maret lalu, tiba-tiba terlindas gemuruh berita perang. Padahal, penampilan satu panggungnya dengan tiga cewek Spanyol itu –di Jakarta 2 April dan di Surabaya 9 April– merupakan debut baru penyanyi yang ‘pengeboran’nya lebih hot ketimbang suaranya itu.

Baik Ketchup maupun Inul sama-sama menjalarkan trend baru dalam dunia musik, tidak hanya di negaranya masing-masing melainkan di jagat musik dunia. Ketchup dan Inul sama-sama berangkat dari penyanyi biasa yang mendadak terkenal ke seantero penjuru dunia.

Bedanya, Las Ketchup sudah menelurkan album dan laris bak kacang goreng, sementara Inul belum pernah. Yang terjadi, Inul telah membuat kaya raya para pembajak dan saudagar VCD bajakan yang mengedarkan rekaman penampilan panggungnya. Toh, VCD bajakan itu pula yang melontarkan inul ke panggung selebiriti berkelas, kini. Tak hanya di tanah air, tapi di penjuru dunia.

Tentang Inul, misalnya, Time, majalah terkemuka bertiras global, menurunkan liputan khusus yang luar biasa bagus, terutama bagi para penyanyi dan komunitas dangdut di negeri ini. Inul disebutnya sebagai idola baru yang sedang memanaskan arena budaya (musik) pop Indonesia.

Untuk membuat laporan itu, reporter Time menguntit perjalanan manggung Inul ke berbagai tempat, termasuk ke Pelaihari. Saat itulah Inul banyak curhat kepada sang reporter. Misalnya, mengapa kaum agamawan itu beraninya hanya sama dia, sementara soal korupsi seperti dibiarkan begitu saja.

Awal Februari, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan pernyataan mengecam tarian dan mencekal Inul melakukan show. Sebab sesuai Fatwa MUI Juli 2002, apa yang dilakukan Inul termasuk aksi pornografi. Penampilan Inul dianggap tidak mendidik dan membahayakan moral generasi bangsa.

Kabar tak kalah heboh kembali dialami Inul saat salah satu media memuat foto dan memberitakan suami Presiden Megawati Sukarnoputri, Taufik Kiemas tengah memeluk Inul seusai keduanya mengisi acara televisi.

“Mengapa mereka begitu peduli padaku, sedangkan VCD porno dan pelacuran marak di jalan‑jalan. Mereka memilih aku karena aku sasaran yang mudah,” ujarnya. Pada laporan itu pula Time membandingkan Inul dengan Eminem yang tak peduli apa pun kata orang.

Time menyimpulkan, Inul telah menjembatani kebebasan berekspresi yang lahir bersama munculnya era reformasi, dengan moral masyarakat yang tertutup dan munafik. Dia satu dan satu‑satunya yang bisa bertahan dalam persaingan keras industri musik Indonesia. Dia adalah sosok yang sebenarnya diinginkan banyak orang, namun orang-orang itu malu mengakuinya secara terus terang, tulis majalah itu.

Dan, banyak di antara kita seringkali masih berperilaku seperti itu. Munafik. Menyatakan tidak, padahal iya. Menyatakan benci, padahal senang setengah mati. Inul, mungkin satu di antara sedikit orang yang berusaha tampil apa adanya.

Bahwa kemudian muncul berbagai tanggapan, kecaman, pujian, bahkan sampai rekomendasi agar para ulama menerbitkan ‘fatwa haram’ itu lain soal. Toh di kalangan para ulama pun tampak pandangan yang berbeda ketika melihat Inul.

gus-mus-inul.jpgKH Mustofa Bisri, misalnya, terang-terangan melawan arus dengan memamerkan lukisan karyanya tentang Inul, justru di mesjid besar Surabaya. KH Zaini A Ghoni, malah mengangkat wanita muda itu sebagai anak angkat, sekaligus mendoakannya agar Inul tetap sabar. Langkah kontroversi dua ulama kharismatik ini pula yang diam-diam mengangkat Inul ke panggung perbincangan global bernuansa politik dan budaya.

Sayang, memang, ‘diskusi’ publik mengenai fenomena Inul dengan ngebornya, terlindas hiruk pikuk berita penyerbuan Amerika ke Irak, yang ujung-ujungnya sih ingin merebut ladang minyak Irak dan mengebor sendiri demi kepentingan ekonomi Amerika. Dasar!

* Bandung, 070403

 

 

inul2_jpg.jpg

Mereka Menatap Inul

The Straits Times
[19/3/2003]
Inul Daratista yang jadi objek lukisan KH Mustofa Bisri, menyebabkan ulama itu jadi sasaran kritik. Ulama nyentrik ini menganggap protes dan kritik itu sebagai hal wajar.
ABC Radio Australia News
[14/03/2003]
Inul jadi sorotan publik karena gaya panggungnya yang erotik. Ulama di beberapa provinsi mendesak pihak berwenang melarang Inul tampil di wilayahnya.
NEWS 24 ‑ South Africa
[05/03/2003]
Ulama karismatik di Kalimantan Selatan, KH Zaini Abdul Ghoni (Guru Sekumpul) mengundang Inul dan mendoakannya agar penyanyi itu kuat dan sabar menghadapi berbagai kecaman.
DAILY TIME ‑ Pakistan
[05/03/2003]
Inul Daratista yang dikecam oleh sejumlah ulama, justru diangkat sebagai anak oleh KH Abdul Ghoni, ulama besar di Martapura, Kalimantan Selatan.
BBC ‑ London
[06/03/2003]
Ulama besar Kalimantan, Zaini Abdul Ghoni mengakui Inul sebagai anak angkat dan mengundangnya untuk mengikuti pengajian-pengajian di pesantren Sekumpul, Martapura, pimpinan kiai itu.
South China Morning Post
[25/02/2003]
Inul adalah gadis dusun yang melesat bagai roket, perjalanan karirnya mirip Jennifer Lopez yang secara tiba-tiba menuju puncak ketenaran.
26
Mar

Dangdut, Ja…!!

dangdut_je.jpg

DUA virus menyebar dalam tempo hampir bersamaan sejak awal 2002 sampai memasuki 2003. Jenisnya sama. Musik. Yang satu, dangdut. Satunya lagi latin. Keduanya juga menjalarkan demam yang sama sekaligus membangkitkan perlawanan yang menggunakan bingkai moral dan keyakinan.

Di beberapa tempat, kalangan ulama dan rohaniwan gerah dan menyerukan agar masyarakat lebih arif memilih hiburan. Malah di satu dua tempat ada yang meminta polisi turun tangan untuk membersihkan Inul Daratista yang beredar dalam kepingan-kepingan cakram kompak video.

Di tempat lain, terutama di forum diskusi internet, para mailist, gentayangan seruan untuk mewaspadai Las Ketchup dengan lagu dan dansa Asereje-nya. “Itu pemujaan setan, dan provokasi untuk bersahabat dengan iblis!” demikian antara lain seruan yang menyebar lewat e-mail itu. Dan, polemik pun menjalar.

Seorang teman, aktor teater yang juga penata tari terkekeh-kekeh ketika obrolan kami memasuki dua ‘virus’ yang dipompakan industri musik itu.

“Inul? mengapa harus diperangi? Ia cuma memperagakan gelinjang alami yang secara naluriah muncul sendiri dari diri setiap orang pada situasi tertentu. Mengapa harus ditepis, ditolak, dan disingkirkan. Lha kita sendiri sering sering melakukannya, kok..” katanya enteng.

Iya, sih. Tapi Taufik Kiemas menuai “badai” polemik politik ketika media mempublikasikan gambar-gambarnya sedang memeluk Inul, yang menurut Tjahjo Kumolo –orang dekat Kiemas– itu sekadar foto biasa, ibarat ayah dan anak.

Di Surabaya seorang ibu rumah tangga dilarikan ke rumah sakit gara-gara mencoba bunuh diri. Ia jengkel setengah mati karena suaminya yang kepincut habis goyang Inul. Sang suami tidak lagi pernah menyentuh dirinya. Saban malam, kerjanya cuma duduk di depan pesawat televisi menonton aksi panggung Inul, tentu saja lewat VCD bajakan!

Teman saya itu terbahak. “Kalau itu mah, bukan salah Inul. Inul cuma mengekspresikan perasaannya saat menyanyi. Bahwa gerak-gerik, gesture, yang kemudian muncul itu kemudian membangkitkan birahi penonton, ya salah yang nonton. Birahinya kok encer banget, terangsang hanya oleh tampilan virtual elektronis!”

Lagi pula, teman lain –yang ini pengajar di sekolah tinggi seni tari– menimpali, gerakan yang ditampilkan Inul maupun penyanyi lain, entah itu Alam, atau bahkan Liza Natalia si Ratu Joget, sesungguhnya tak menunjukkan banyak perbedaan.

“Perbedaannya kecil, cuma pada konsep gerak. Mereka tentu sudah punya konsep masing-masing yang disesuaikan dengan berbagai tuntutan. Antara lain pengaruh dari jenis lagu, musik, maupun acara dibawakan,” kata dia.

Inul misalnya, ia cuma mengangkat kembali gerakan-gerakan umum. Hanya saja lebih memberi titik berat penonjolan pada unsur sensualitas dan erotis. “Mungkin ini memang konsep yang sengaja dipilihnya untuk tampil di atas pentas.”

Bahwa konsep itu pula yang kemudian dia gunakan saat pemuatan klip, itu soal lain. Di sini produser lah yang jeli melihat celah pasar. Tapi ia masih kalah jeli oleh para pembajak. Itu sebabnya, Inul menyebar lewat jutaan keping VCD yang murah meriah. Tiap orang bisa memperolehnya dengan mudah di tepi jalan, dan demam goyang bernuansa esek-esek itu tak bisa dibendung lagi.

las_ketchup_1.jpgHal sama terjadi atas trio Las Ketchup. Industri rekaman yang di Indonesia “diperlebar” oleh para pembajak, telah membuatnya mencapai puncak popularitas dalam waktu dekat dan kemudian menjalarkan demam yang sulit ditandingi. Di luar negeri, Asereje langsung melesat ke puncak hits lagu-lagu pilihan. Di Spanyol, bahkan dijadikan lagu maskot tim tim bola basket nasional.

Di tanah air, hanya dalam tempo kurang dari tiga bulanan sejak peluncurannya, Asereje, sudah mulai menggantikan demam Poco-poco yang sempat bercokol dalam diri penggemarnya terutama dalam dua tahun terakhir.

Jika Inul dipersoalkan karena goyangannya yang bisa bikin menggigil ‘lelaki gampang naik’, maka Asereje jadi polemik –konon– karena liriknya yang mengajak orang untuk memuja setan, iblis, dan melupakan tuhan.

“Simak liriknya. Di situ diceritakan seorang lelaki tampan, namanya Diego. Pesonanya menghipnotis siapa saja. Diego –dalam terminologi Gereja Setan– adalah nama panggilan bagi Devil, setan!” tulis seorang mailist.

Dan harus diingat, kata penulis itu, bahwa Lucifer adalah iblis yang rupawan dan ahli musik, termasuk dansa. “Perhatikan lirik awalnya tentang sebuah pesta Jumat Malam. Ini merupakan hari kramat bagi setan. Perhatikan pula kombinasi ras si Diego, yaitu Afro‑Gipsy Rastafarian. Afro atau Afrika terkenal dengan tarian pemujaannya. Gipsy berbicara tentang peramal dan penyihir. Dan Rasta adalah sebuah mode yang lekat dengan pemberontakan dan Narkoba.”

Belum yakin? Ayo simak refrein lagu yang dari segi melodi sebenarnya sederhana, manis, ringan, cair, dan sangat akrab itu:

asereje ja de je de jebe tu de jebere seibiunouva,
majavi an de bugui an de buididipi,
asereje ja de je de jebe tu de jebere seibiunouva,
majavi an de bugui an de buididipi

Dalam bahasa Spanyol, ini nggak ada artinya, tapi bila dilagukan dengan ritme seperti itu, bagi orang Spanyol akan terdengar seperti, “Jadilah sesat, Tuhan itu tidak ada…, (atau bisa berarti; sesat bila mempercayai Tuhan) tinggalkan imanmu saat ini…. mereka akan datang ke bawah, dan mereka akan memandu kita…. ja!”

Memang, kata Kathrine Marshal, dari Institut Paranormal South Hampton, AS, dalam bahasa sebuah suku di bagian barat laut Afrika, asereje mirip dengan dialek mereka dalam sebuah upacara pemanggilan arwah orang yang mati karena kecelakaan. Tapi, apa betul lagu itu merupakan ajakan untuk menyembah sesuatu selain Tuhan, masih belum ada yang bisa menjawab.

Lagi pula, sah-sah saja orang mengajak –dan tidak mengajak– orang lain untuk menyembah –atau tidak menyembah– sesuatu. Bahwa ajakan itu diikuti atau tidak, sepenuhnya tergantrung kepada pihak yang diajak. Jika ia tak punya pendirian dan tak punya keyakinan, tentu saja akn dengan mudah diajak melakukan apa saja, juga melakukan hal-hal yang baik dan bermanfaat bagi umum.

Begitu pula ketika para lelaki melihat goyangan Inul. Ia bisa tergiur dan terangsang, bisa sebal, bisa merasa lucu, bisa pula tidak merasakan sensasi apa-apa, tergantung kendali emosi dan rasa masing-masing. Jadi mengapa harus ribut?

Padahal, siapa tahu heboh yang meledak-ledak itu sebenarnya sengaja diciptakan oleh para produser untuk memunculkan kontroversi. Dengan begitu, poduknya jadi bahan pembicaraan banyak orang. Makin banyak dibahas, kian banyak yang penasaran, semakin besar peluang pasar yang tercipta. Ja! ***

Bandung, 07-13/02/03

17
Mar

Venus Boy, Siapa Mau?

venus-boy1.jpg

IKLAN itu tak mencolok. Terselip di antara deretan iklan ba­ris yang padat. Hanya dua baris-dua baris di bawah kop ‘Pijat.’ Bu­­nyinya pun tak provokatif sebagaimana iklan-iklan lain. “Pria Macho; 24 jam, telepon 08xx xxxxxx”. Satunya lagi berbunyi; “Tam­pan & Atletis, Jalan Anu, 24 jam tlp 08xx xxxxxx” atau ini, Ve­nus Boy, siaga 24 jam, 08xx xxxxxx,” dan seterusnya.

Saya hitung, ada enam pengiklan jasa ‘pijat’ istimewa ini. Mengapa ‘pijat’ saya kasih tanda petik? Ya, maklumlah. Sementara ini tak mungkin ada surat kabar yang berani membuat kop iklan baris “gigolo” misalnya. Tapi, apakah mereka yang mengiklankan itu memang berprofesi gigolo? Bisa ya, bisa juga tidak salah.

Atas bantuan seorang wanita –rekan sekerja– yang coba me­ne­leponi para juru pijat itu, arah perbincangan pada akhirnya me­mang burujung pada soal ranjang. Dua juru pijat yang terkena pan­cingan, sempat menyebut beberapa nama yang menurutnya adalah lang­ganan tetap. Entah benar, atau cuma pengakuan, tak begitu jelas.

Yang agak jelas tentunya iklim keterbukaan akhir-akhir ini te­lah membuka keberanian para lelaki yang punya profesi khusus memijat para perempuan, mengiklankan diri. Hal ini juga membu­kakan satu lagi fenomena sosial, bahwa di sebuah kota besar di In­donesia, kaum perempuan pun sudah tak sungkan lagi membiarkan dirinya dijamah lawan jenis dan untuk itu ia rela membayarnya.

“Hari biasa, cukup 30 dolar sejam, minimal dua jam,” ujar sa­lah seorang di antara tiga Venus Boys, saat dikontak rekan saya –sambil nyaris tak bisa menahan cekikik– yang wanita itu. Tem­­patnya, bisa di hotel (ia menyebut sebuah hotel yang cukup ter­kenal) bisa pula di rumah ‘pasien’. “Masnya lagi keluar kota kan?” kata Si Venus itu lagi. Bah, sudah tak percaya rupiah, sok tahu pula dia.

Katanya sih, ia sudah punya pelanggan tetap yang minta ‘di­urut’ saban Minggu. Karena itu, ia memasang tarif khusus jika di­panggil atau ‘digunakan’ pada hari tersebut. “Yaa, untuk tambahan beli viagra, kan?” celotehnya dengan nada agak lanji.
Katanya la­gi sih, saat ditelepon itu dia sedang memelihara perkutut, eh per­­kakasnya, setelah dua malam lalu kerja keras di tiga pelang­gan. Kontan saja wajah rekan saya –yang saya minta bantuan untuk menelepon– itu memerah, sementara mulutnya berkerut ke­lisut berusaha me­nahan semburan tawa.

Iklan seperti itu ternyata tak cuma saya jumpai di rurat ka­bar ternama di kota kelahiran saya ini. Tetapi juga pada sebuah surat kabar terbitan Jakarta dan terbitan Surabaya. Entahlah, pa­da surat kabar yang terbit di kota-kota lain. Tapi, menurut bi­sik-bisik rekan yang tahu betul alam remang-remang, prak­tek seperti di atas juga sudah terjadi di kota-kota di luar Jawa, bahkan sejak dua atau tiga tahun silam. “Cuma memang belum ada yang berani pasang ik­lan. Biasanya, iklan dari mulut ke mulut saja,” kata sang rekan.

Saya jadi teringat beberapa waktu lalu, ketika seorang teman yang baru pulang dari Darwin Australia membawa segepok surat kabar lo­kal. Pada kolom iklan baris dan iklan koloman, termuat iklan-ik­lan seperti di atas. Hanya saja mereka tampak lebih berani. Tak cuma mencantumkan nama dan nomor telepon, mereka juga memasang foto setengah badan, sekaligus tarif per jam.

Para lelaki, ada yang tampil mirip Rambo, ada juga yang me­ma­­merkan kekerempengan badannya, sedangkan para perempuan yang mengik­lankan diri rata-rata memasang foto mereka sangat atrak­tif, sensual dan hanya bisa ditandingi majalah porno. Mereka juga le­bih terbuka mengiklankan keterampilan khususnya dalam berolah ranjang.

“Anda jenuh? Teleponlah. Saya datang, dan kita bereskan se­muanya ditempat tidur,” tulis Camilla yang fotonya terpasang de­ngan buah dada menyembul mirip sepasang balon gas. Ia juga me­rinci ke­terampilan khusus apa saja yang siap diperagakan, eh di­prak­­tekannya pada pelanggan. Pembayaran? Beres. Bisa Master, Visa atau American Express!

Saya membayangkan, boleh jadi dalam beberapa tahun ke depan, ma­jalah dan surat kabar kita pun bisa saja memuat iklan seperti itu tidak lagi sembunyi-sembunyi seperti yang saya te­mukan pada surat kabar terbitan Bandung, Jakarta, dan Surabaya itu. Entahlah di kota seperti Banjarmasin. Saya berharap, jangan dululah. Ma­sih banyak cara lain yang lebih santun untuk melepas birahi di luaran, atau se­kadar untuk … selingkuh. Heheheh.

Tapi lambat laun, bukan tak mungkin fenomena seperti ini ju­ga merambah ke daerah-daerah yang masing-masing memiliki kota be­sar dan kota itu berkembang sebagaimana hukumnya sebuah ha­bitat metropol dengan berbagai gejala ikutannya, termasuk ber­ubahnya pola perilaku individu dan kelompok masyarakat peng­huninya.

Perilaku seksual, misalnya. Kini makin terbuka saja. Seorang wartawati di Bandung yang ‘iseng’ melakkan polling atas 30 perem­puan eksekutif di berbagai perusahaan di kota itu memperoleh gam­baran 18 di antaranya atau 60 persen, mengaku lebih dari se­kali ber­selingkuh sampai ke tempat tidur. Sisanya, mengaku se­sekali ber­selingkuh, dan kadang sampai bermain ranjang.

Sedangkan dari para ‘pria macho’ dan lelaki-lelaki ‘venus boy’, rekan saya wartawati, mendapat pengakuan bahwa para pelang­gannya rata-rat bersuami dan suaminya tergolong sukses dalam bis­nis maupun karir birokrat. Malah di antara ‘pria macho’ itu ada yang mengaku pernah dipertemukan dengan suami sang lang­ganan.

Pertanyaan yang kemudian timbul, harus seperti itukah pola pe­rilaku yang menyertai perkembangan kemajuan sebuah habitat hu­nian bernama metropol di Indonesia? Meski kecenderungan ke arah pola gaul dan pola hidup seperti itu sudah mulai tampak di bebe­rapa kota besar, saya yakin masih banyak orang yang akan keberatan bila perilaku seperti itu diumbar bebas, di­pamerkan secara terbuka.

Maklum, keterbukaan yang begitu deras melanda itu, bagi se­bagian bangsa kita masih diterima dan diterjemahkan setengah-se­tengah dengan berlindung di balik kedok ‘adat ketimuran’ yang ka­tanya tak mengizinkan hal-hal tertentu –yang bersifat sensitif– dibuka secara bebas.

Padahal, kalau kita lihat lagi ‘adat ketimuran’ yang kita agung-agungkan itulah yang sebenarnya lebih terbuka, jujur, dan le­bih bebas. Simak saja adat warga kita yang tinggal di tepi-tepi sungai besar. Dengan gampang kita melihat lekak-lekuk tubuh tetangga. Menerawang di balik kain basah, justru makin menrangsang imajinasi yang bukan-bukan. Laki atau perempuan sama saja. Dan kini kita teriak, hal-hal yang ter­buka seperti itu mengingkari adat ketimuran. Lho?

Bukankah nenek moyang kita baru mengenal busana secara ter­tutup justru setelah berkenalan dengan adat Barat? Bukankah ke­baya, gaun dan sebagainya merupakan serapan dari adat Barat yang selalu kita ang­gap sebagai buruk dan terlalu bebas itu? Bukan­kah adat ketimuran yang kita miliki dalam berbusana adalah cawat dan koteka. Bukankah perilaku seksual dan perkawinan yang se­karang ber­laku pun meru­pakan barang impor dari Barat, atau paling tidak dari Timur Tengah, Cina dan India?

Jadi, mengapa heran kalau kemudian sebagian di antara warga bangsa kita kembali ke habitat asalnya yang serba bebas itu? Bu­kankah sebagian kecil saudara-saudara kita masih bertahan de­ngan adat ketimurannya, pada habitat hidup yang merawat dan mem­be­sar­kannya di pedalaman Kalimantan, di Irian, bahkan di peda­laman Jawa?

Artinya, pola perilaku yang kini berkembang di sebagian masya­­rakat kota besar itu, sebenarnya sedang menuju ke arah ‘bu­daya asalnya’ yang serba terbuka, bebas, dan mudah-mudahan saja jujur, adil, dan demokratis.

Hehehe, kayak slogan pemilu saja. ***

 

Bandung, 03042000

17
Mar

Sang Dewi

sang_dewi_venus.jpg

IA adalah simbol cinta, kelembutan, dan kasih sayang. Lambang Sang Dewi yang hangat menggairahkan. Ya, Venus Sang Dewi Cinta memang hangat. Suhu tubuhnya rata-rata ‘hanya’ 460 derajat celcius! Dibanding Matahari, jelas Sang Dewi jauh lebih ‘dingin’.

Saban hari –tentu saja kala malam– Dewi Cinta ini selalu tampak cemerlang di langit. Bukan satu-satunya, memang, sebab entah berapa milyar benda serupa berpendar mengisi semesta raya.

Namun awal Juni tahun ini ada yang istimewa –meski dilihat dari fenomena alam sih, biasa-biasa saja– dengan Dewi Cinta itu. Ia melintas persis di antara Bumi dengan Matahari.

Gerhana, kira-kira seperti itulah. Hanya saja karena Venus ini jauh lebih kecil maka sosoknya tidak menghalangi semburan cahaya dan panas Sang Surya atas Bumi. Para ahli astronomi lebih suka menyebutnya sebagai transit, ketimbang eclips (gerhana).

Persisnya, Selasa 8 Juni 2004 antara pukul 11.30-17.00 (Wita), Sang Dewi melenggang di antara Bumi dan Matahari. Disebut istimewa –bagi penghuni Bumi– karena fenomena seperti ini hanya terjadi di tempat dan titik yang sama, dua kali setiap abad (tentu pula menurut hitungan waktu munusia bumi) dalam rentang 8 tahun sekali.

Artinya, jika penduduk Bumi tak sempat menyaksikannya pada hari Selasa 8 Juni 2004, sabar saja. Setidaknya masih bisa menunggu delapan tahun lagi sampai tahun 2012. Jika masih juga luput, ya lebih sabar lagi saja, karena Sang Dewi akan melintas kembali di titik yang sama seabad setelahnya! Hehehehe….

Lama? Pasti. Itu jika diukur dari waktu yang digunakan oleh penduduk Bumi. Waktu tak bisa dipisahkan dari ruang, demikian sebaliknya. Kerena itu, skala waktu atas kenyataan ruang akan sama dengan skala ru­ang atas kenyatan waktu.

Waktu yang kita kenal, tentu yang ber­ada pada ke­­nyatan ruang kita, Bumi. Sementara, semesta raya (langit dan sei­sinya) terdiri atas bermilyar-milyar gemintang berikut ben­da-benda yang melengkapi sistem tata suryanya.

Bumi, yang penduduknya mengenal konsep waktu lewat kepatuhan jadwal edar sang Bumi terhadap Matahari, cumalah setitik zarah atom jika dibanding dengan kenyataan semesta raya.

Toh dalam tata surya kita saja –Matahari berikut planet-planet yang mengedarinya– rentang waktu satu sama lain itu berbeda, ter­gantung pada jadwal edar mereka terhadap Sang Surya.

Kita di Bumi menghitung bahwa satu tahun terdiri atas 365 hari. Tapi jika Anda penduduk Jupiter –dan menggunakan ukuran waktu sebagimana di Bumi– maka setahun di sana sama dengan 12 tahun Bumi.

Di Saturnus lebih lama lagi, satu tahun sama dengan 29,5 tahun Bumi. Di Ura­nus sa­tu tahun setara dengan 84 tahun Bumi, dan setahun di Nep­tunus sama dengan 165 tahun Bumi. Malah di Pluto lebih lama lagi, seta­hun di sana sama dengan 248 tahun Bumi.

Tapi satu tahun di Merkurius sama dengan 88 hari bumi ka­­rena sekali orbit planet ini terhadap Matahari memakan waktu 88 hari (ukuran hari Bumi). Artinya, setahun di sana, sepermepat lebih ‘pendek’ dibandingkan dengan di Bumi.

Nah, Venus Sang Dewi Cinta itu lebih mencengangkan lagi bagi warga Bumi. Setahun –atau se­kali orbit mengelilingi Matahari– Venus sama de­ngan 225 hari Bumi. Se­dangkan rotasinya (perputaran pada poros­nya) sendiri berlangsung 234 hari Bumi. Artinya, satu hari Venus lebih lama dari setahun!

Mungkin karena keistimewaan ini pula Venus jadi salah satu benda angkasa yang menarik perhatian para pengamat sejak dahulu kala. Terakhir kali diketahui Venus melenggang di depan Matahari yang melotot garang adalah pada tahun 1882. Itu merupakan fenomena ulang yang terjadi delapan tahun sebelum 1882, yakni pada 1874.

venus_retro_station2.jpgvenus-phase1gif.jpg

Gerhana Venus pertama kali ditemukan seorang as­tronom Jerman, Johannes Kepler. Tahun 1627 Kepler mempre­diksi bahwa dalam kurun delapan tahun, yaitu 1631 dan 1639, terjadi gerhana Venus. Dan perhitungannya itu ternyata akurat.

Orang pertama yang menyaksikan ger­hana Venus adalah muridnya, seorang astronom Inggris, Jere­miah Horroks, tahun 1639. Kepler sendiri keburu meninggal sebelum membuktikan perhitungannya.

Ta­hun 1709, sebuah penelitian dan eksplorasi dilakukan atas pemunculan Sang Dewi di depan Matahari itu. James Cook memimpin ekspedisi mengintip noktah hitam Venus di depan Sang Surya di kawasan Pasifik Selatan.

Ngapain repot-repot ngintip titik hitam yang melintasi Matahari?

Itu dia.

Bagi para astronom –dan seharusnya siapa pun yang sadar pada keberadaannya di muka Bumi– fenomena langit tentu menarik perhatian karena Bumi cumalah satu titik di antara sebuah sistem (tatasurya), dan tatasurya kita ini pun hanya satru di antrara entah berapa miliar sistem sejenis yang terserak di semesta tanpa batas.

Venus dan saudara-saudaranya –Bumi plus Bulan, Mars, Merkurius, Neptunus, Urnaus, Yupiter, Pluto– dengan patuh ‘bertawaf’ mengelilingi Matahari yang hingga kini diyakini sebagai sumber kekuatan sistem tersebut.

Bagi Bumi, umpamanya, Matahari jelas merupakan sumber kehidupan, (bayangkan kalau Matahari padam!). Bagi planet lain pun, pasti ada maknanya. Hanya saja manusia belum tahu, dan untuk mencari tahu itulah kita mencoba mengamati berbagai gejala yang terjadi atas dan di dalam semesta.

Contoh kecil, jika pada satu sistem tatasurya — di antara entah berapa ratus, ribu, juta, sistem sejenis di alam semesta– ada Bumi dengan kehidupan di dalamnya, adakah kehidupan serupa di ‘bumi lain’ di sistem tatasurya lain?

Selama ini kita hanya tahu bahwa Matahari merupakan sebuah bintang di antara entah berapa miliar benda langit lain dalam cakrawala tanpa batas.

Untuk pertanyaan ini saja selama abad keempat sebelum Masehi, Aristoteles dan Epicurus selalu berbeda pendapat. Dan pertanyaan tersebut masih tetap belum terjawab selama 2.000 tahun kemudian.

Nah, dengan mengamati fenomena-frenomena yang terjadi di alam semesta –termasuk melintasnya Venus, misalnya– seperti itulah mahluk Bumi mencoba mencari jawaban, mengembangkan gagasan-gagasan baru untuk menjelajahi semesta pengetahuan tanpa batas.

Dari waktu ke waktu, di ruang bumi hingga ke ruang di luar bumi, jawaban itu dicari. Hanya soal waktu. Cepat atau lambat, tergantung pada ruang mana skala waktu itu berlaku, sebab skala ruang tertentu akan menentukan waktu tertentu pula.

Ya, manusia tulen tak akan pernah berhenti mencari.

Bukankah untuk itu kita hidup? ***

Bandung, 060604

11
Mar

Pil Kadal

OBAT apa yang manjur untuk kudis, kurap, panu, koreng, dan sejenisnya? Kalau soal itu ditanyakan pada tukang obat yang menggelar dagangan di terminal atai di emperan pasar kaget, jawabannya mungkin pil kadal.

Hiy!

Ya, maksudnya, pil yang dibuat dari kadal. Di beberapa daerah, reptil ini diyakini mengandung zat-zat penyembuh. Karena tak banyak yang sampai hati makan kadal mentah-mentah, atau kadal yang disate, digulai, dan lain-lain, maka tukang obat membuatnya sebagai ramuan.

Agar gampang dikonsumsi, ramuan itu dibentuk pil, kadang kapsul. Tentang apakah pil kadal itu manjur atau tidak, entahlah. Sebab, memang cuma berupa arang (entah betul-betul arang kadal, entah arang apa pula) yang diremukkan, lalu dicetak berbentuk butiran-butiran pil. Hitam. Mirip norit.

Bahwa ada orang yang merasa dikadalin karena penyakitnya tak kunjung sembuh meski sudah minum berbutir-butir pil kadal, ya salah sendiri. Berobat malah ke tukang obat jalanan di terminal.

Tapi kalau ada orang yang mendadak jadi rajin keluar masuk pesantren (dulu konon banyak santri sakit kulit), terminal dan pasar-pasar, menemui para santri, sopir dan pedagang yang sedang kerepotan menata ekonomi super mikronya, bisa dipastikan ia tidak sedang cari tukang obat penjual pil kadal.

Soalnya, ia sangat bugar. Urusan kesehatan, biasanya ia berurusan langsung dengan dokter pribadi. “Saya akan memperjuangankan kesejahteraan, sehingga mereka tidak akan kesulitan lagi bila ada anggota keluarga yang sakit. Begitu pula untuk biaya pendidikan anak‑anaknya, kalau saya terpilih,” begitu kira-kira kata sang tokoh.

Nah, jelas kan? Sekadar jani. Jual kecap. Mungkin malah cuma omong kosong untuk meraih simpati agar para santri, tua kampung, sopir, pedagang, warga kebanyakan, mendukung atau bahkan memilihnya saat ia beli –eh ikut– Pilkadal.

Benda macam apa pula Pilkadal?

kadal.jpgKata orang, pil yang ini sih bukan obat sakit kulit, melainkan –konon– obat mujarab bagi borok-borok demokrasi. Dengan Pilkadal, konon lagi, rakyat bisa langsung memilih kepala daerah mereka, sebagaimana ketika mereka memilih ketua rukun tetangga, rukun warga, atau kepala desa.

Itu kalau pemilihannya berlangsung jujur, adil, lurus, polos, tanpa tekanan, tanpa politik uang. Dan –sekadar diketahui– pola pemilihan kepala daerah secara langsung (entah itu bupati, entah itu gubernur) sangat membuka celah yang amat lebar bagi para pebisnis politik dan para politisi yang lebih suka membisniskan politik.

Kita tentu maklum, pemilihan kepala daerah secara langsung memerlukan dana sangat besar, mulai dari ongkos sosialisasi ketentuan, kampanye para calon, biaya penyelenggaraan, upah para penyelenggara, dan lain sebagainya.

Padahal pemerintah tidak cukup makmur untuk menggelontorkan dana tanpa batas bagi terselenggaranya demokrasi ala ketua RT ini pada daerah tingkat dua dan daerah tingkat satu.

Di Jawa Barat, misalnya. Hari-hari ini warga dan –terutama– para politisi sedang dilanda demam hebat untuk memperebutkan posisi nomor satu di pemerintahan provinsi. Selain itu, dalam waktu dekat beberapa daerah (baik tingkat I maupun tingkat II di seantero tanah air), juga menggelar pilkadal.

Pemerintah –pusat dan daerah– tentu saja sudah menyusun anggaran untuk membiayai perhelatan demokrasi ini. Namun sudah bisa dipastikan dana itu tidak akan mencukupi.

Lihat saja, daerah-daerah yang menyelenggarakan Pilkadal. Dari kas anggarannya sendiri, kalau dirata-rata hanya mampu menyiapkan dana Rp 2 milyar. Paling pol, Rp 5 milyar lah. Atau bisa lebih besar lagi, tergantung jumlah calon pemilih.

Nah, di sinilah celah itu terbuka. Orang atau pihak-pihak yang berkepentingan dengan kebijakan-kebijakan yang mungkin diambil oleh kepala daerah terpilih, tentu tak akan menyia-nyiakan celah itu.

Pihak-pihak yang selalu berlindung di balik bisnis “Spanyol” alias separo nyolong, pasti akan mengerahkan segala sumberdaya dan dananya agar kepala daerah terpilih merupakan orang yang tidak akan mengusik bisnis mereka.

Jika kalangan yang menguasai uang ini bisa mengongkosi seorang calon kepala daerah supaya terpilih, tentunya sang kepala daerah terpilih akan memihak mereka. Bagaimanapun, kebijakan mereka nanti tidak akan bisa terlepas dari “balas budi” sang pemodal.

Jika sudah sampai pada tahap demikian, semangat demokratisasi yang terkandung dalam pemilihan langsung kepala daerah ini, tentu akan sekadar jadi bungkus atau topeng yang akan membuat kita “seolah-olah” demokratis. Selebihnya, semata jadi ajang pemuas syahwat politik para petualang yang selalu haus kekuasaan.